Sabda Rasulullah shollallahu alaihi Wasallam

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ اَحَدُكُمْ اْلمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَاِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ اَللَّهُمَّ اَحْيِنِي مَاكَانَتِ اْلحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي اِذَا كَانَتِ اْلوَفَاةُ خَيْرًالِى.

 Janganlah seseorang diantara kamu mengharap-harapkan mati disebabkan penderitaan menimpanya. Jika dia harus mengharapkannya, maka hendaklah dia berdoa:  “ Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.

Tahrij Hadist

Hadist diatas diriwayatkan oleh Imam At Turmudzi  II : 223. dari sahabat Ali bin Hujrin dari Ismail bin Ibrahim dari Abdul Aziz bin Suhaibin dari Anas bin Malik. Hadist diatas juga diriwayatkan dalam kitab shohih Bukhori dan Shohih Imam Muslim.

Makna Hadist

Hadist ini sebagai dalil yang menunjukkan larangan mengharapkan kematian disebabkan bala bencana atau ujian dari Allah. Kesusahan dunia ataupun penderitaan hidup, baik takut kepada musuh, sakit yang tak kunjung sembuh dan lain sebagainya, tidak boleh disesali dengan rasa cemas dan mengeluh (berkeluh kesah). Karena hal ini mengandung indikasi tidak adanya keridhaan dan kesabaran atau kerelaan menerima cobaan. (Subulus salam, 2:185).

Mengharap-harap mati merupakan salah bentuk keluhan yang jarang dialami orang. Keluhan ini sebagai gambaran isi hati yang dirundung derita yang tak kunjung sirna. Keluh kesah dalam jiwa manusia adalah wajar, karena sifat ini salah satu fitrah manusia atau sifat negatif manusia. Sifat ini mempunyai kehendak yang dimotori oleh setan. Sifat keluh kesah ini sama sekali tidak boleh dituruti kehendaknya. Ia akan senantiasa menggambarkan ketidakberdayaan dalam mengarungi kehidupan jauh dari nilai-nilai kesabaran dan kepribadian yang qona’ah. Jika diikuti kemauannya maka stres dan putus asa akan selalu menghantuinya. Allah swt. mensinyalir sifat negatif ini dalam firman-Nya:

اِنَّ اْلِانْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا. اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا. وَاِذَا مَسَّهُ اْلخَيْرُ مَنُوْعًا.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan (keuntungan) ia amat kikir (QS. Al Ma’arij : 19-21)

Firman-Nya lagi dalam surat Al Fajr : 15-16 yang artinya:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberinya kesenangan, maka dia berkata “Tuhanku telah memuliakanku”. Dan apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata:” Tuhanku menghinakanku”.

Indikasi mendasar diantara isyarat firman Allah diatas, hendaknya manusia menyadari diri bukan menyesali dan menghinakan diri. Memahami dan menganalisa sifat keluh kesah yang berkisar dalam jiwanya. Sehingga hasil analisa jiwa tersebut mencapai titik kesimpulan yang menegaskan bahwa sifat negatif ini merupakan penyakit jiwa yang harus secepatnya mendapatkan perawatan dan pengobatan.

Berikut ini antara lain terapi untuk mengantisipasi keluh kesah yang melebihi kadarnya:

1.      Sabar dan sadar

Salah satu pengertian sabar adalah menerima cobaan yang datang dari Allah swt kemudian diiringi dengan keihlasan dan ketabahan serta usaha yang maksimal. Sementara sadar artinya memahami dan menghayati terhadap kondisi yang dialami. Memahami bahwa berkeluh kesah hanya pelampiasan yang sia-sia. Menghayati bahwa apa yang sedang dirasakana adalah kafarat (penebus) segala kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat.

Kesadaran ini pun dapat memberikan pengaruh yang kuat bagi jiwa yang sedang dicoba, kontrol terhadap sesuatu yang mengganggunya. Akhirnya kesabaran yang didukung penuh oleh kesadaran ini mampu membentengi lekuh kesah yang tidak berarti sama sekali.

2.      Istiqomah dan Optimisme

Istiqomah dan optimisme mendorong orang untuk tahan banting, tidak mengenal takut apalagi putus asa. Baginya tidak ada kata kalah, patah hati, hancur apalagi mengeluh. Istiqomah dapat menjaga eksistensi keberlangsungan iman dan Islam seseorang mukmin, tidak akan surut diterjang maut sekalipun. Ia akan selalu berpegang teguh dengan akidahnya sebagai wujud bahwa dirinya memenuhi janji dan syahadat yang diikrarkannya. Apabila istiqomah dan optimisme ini mampu terpatri dalam hati maka konsekwensinya adalah timbulnya rasa ridho dan syukur serta ketenangan.

3.      Sholat dan Doa

Sholat, di samping sarana yang menghubungkan langsung antara hamba dan kholiqnya, juga sebagai penolong dan alat kontrol. Dengannya, kesabaran terhadap segala musibah dan bahaya yang senantiasa hadir sebagai ujian atas keimanan ini akan dirasakannya sebagai sarana untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Dan ini dapat dirasakan oleh mereka yang shalatnya sejalan dengan anjuran dan ukuran Rasulullah saw. serta dibarengi keihlasan dan kekhusu’an yang mantap. Adapun doa merupakan isyarat permohonan seorang hamba kepada Rabnya atas segala yang ditimpakan-Nya. Doa ini merupakan salah satu barometer ibadah yang paling efektif dan kongkrit dan sebagai artikulasi ketergantungan, kehinaan, kepatuhan dan kerendahan diri kepadaNya. Jika dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Rasulullah maka doa merupakan obat fisik sekaligus mental manusia. Berkaitan dengan ini, dalam fathul bari, Ibnul Hajar setelah beliau membantah yang mengingkari pengobatan dengan doa, berkata “…dan sesungguhnya tidak ada yang mengingkari keagungan doa ini kecuali mereka yang hatinya buta. Sebab telah banyak hadist shahih yang menguatkan statemen ini (berobat dengan doa). Terlebih lagi berobat dengan doa itu terdapat kegunaan yang multi dimensi dibanding berobat dengan yang lainnya. Dalam berdoa terdapat unsur tawadhu’ dan merendahkan diri kepada Allah swt. menahan bencana dengan kekuatan doa identik menangkal serangan panah dengan periasai.

Wallahu a’lam bis showab.

Balas Dendam

January 5, 2012

Rehat Sejenak bersama Suroboyoan

Wonokairun mlaku mlaku nang TP ijenan katene mejeng, dandane mbois gak gelem kalah ambek ABG. Pas katene mulih dhadhak dirampok nang parkiran. Kuabeh amblas, bronpit disikat, dompet amblas, klambi diplorot kari kampesan thok. Wonokairun ngguondhok pol, toleh-toleh mbrebes mili nang tengah embong. Wonokairun nyobak nyegat taksi, ambek njelasno lek mari dirampok. Wonokairun janji mbayar taksine nang omah. Tibake supir taksine iku gak percoyo, sombong poll, gak gelem nolong blas malah ngilokno.

Read the rest of this entry »

Masihkah Jahiliyah?

January 4, 2012

Catatan Awal Tahun

Sayidina Ali Karramallohu Wajha-hu berpendapat, “Annaasu hamaj” (manusia itu liar). Dipandang dari pendapat menantu Rosululloh ini kiranya tak berlebihan bila manusia disebut tak berbeda jauh dengan binatang. Manusia dan binatang sama-sama liar, tak beraturan, buas, dan ganas. Binatang itu tak akan membedakan makanan halal atau haram yang ditelannya. Binatang juga tidak memandang perilakunya sah secara hukum atau batil. Binatang pun tampak tidak mengindahkan nilai-nilai adab kesopanan.

Maka, atas keliarannya ini manusia dituntut untuk mewujudkan berdirinya suatu institusi yang berperan mengarahkannya, membimbingnya, membinanya, dan mempersatukannya. Bersamaan dengan itu manusia pun menegakkan peraturan atau hukum yang menjamin kebaikannya yang dipatuhi dan ditaati. Institusi yang harus ada itu dalam sejarah Islam dikenal dengan Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah (pemerintahan Islam) sementara peraturan atau hukumnya ialah pera-turan atau perundang-undangan Islam.

Read the rest of this entry »

Seri:  Sang Terpuji

Kondisi tubuh yang sehat dan kuat, di samping ketabahan hati, bersatu padu dalam diri Nabi SAW. Itulah sifat kejantanan yang amat sempurna.

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Jarir, demikian Ibnu Abi Hatim dan Al-Baihaqy serta Abi Nuam dan Al-Bukhary, kesemuanya meriwayatkan dari Jabir yang mengisahkan pengalamannya menjelang hari-hari perang Khandaq, yang penuh diliputi oleh suasana ketakutan. Jabir berkata, “Kami sedang giat-giatnya menggali parit untuk pertahanan kota Madinah. Lalu muncullah batu besar dalam parit yang sedang digali beramai-ramai. Kami datang melaporkan kepada Nabi SAW dan beliau segera bangun, lalu turun ke dalam parit. Sedang perutnya lapar diikat dengan batu, sebab tiga hari kami tidak makan apa pun. Maka dengan cangkul di tangannya, dipecahkan batu besar itu. Dan dalam sekejap mata, jadi tumpukan tanah yang tumpah berserakan.

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa para sahabat tidak datang melapor kepada Nabi SAW, melainkan setelah berusaha sekuat tenaga memecah batu yang keras dan besar itu. Bahkan sudah banyak linggis dan cangkul yang dipergunakan, menjadi patah dan rusak.

Read the rest of this entry »

Kisah Hizqil

November 24, 2011

Allah Ta’ala berfirman :

Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedang mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati. Maka Allah berfirman kepada mereka,” Matilah kalian.” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. ( QS. Al Baqarah 243)

Muhammad bin Ishaq menceritakan, dari Wahab bin Munabbih,” Ketika Khalin bin Yofana kembali kepangkuan Ilahi, yaitu setelah Yusya’, maka semua urusan Bani Israil diserahkan kepada Hizqil bin Budzi, yaitu putera Al ‘Ajuz, yang ia telah mendoakan kaumnya yang telah disebutkan Allah didalam kitabNya.”

Read the rest of this entry »

Bershuhbah dalam Takwa

November 13, 2011

Suatu hari Habib Muhammad bin Hadi Shohib Tuhfah al Asyraaf menyalakan lampu, seraya beliau berkata: “Ini ada-lah cahaya lahiriah. Jika lampu ini pa-dam, kita tidak bisa melihat apa-apa dan kita akan berada dalam kegelapan. Adapun cahaya batin adalah cahaya di dalam hati yang dinya-lakan oleh perasan cinta dan ‘irfan (makrifat). Cinta dan ‘irfan diperoleh karena selalu taat kepada Alloh Yang Maha Pengasih. Dalam diri orang yang memiliki cahaya ini akan muncul karomah. Kita ini bukannya berusaha mencari karomah-karomah, tetapi malah mematikan cahaya di dalam hati dengan banyak melakukan maksiat dan sedikit berbuat taat…” (Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdur-rahman Assegaf : Kisah dan Hikmah, dari manuskrip Tuhfah al Asyraaf   I:284,  Nasihat Ke-7, Hal. 122).

Nasihat Habib Muhammad bin Hadi ini sangat berhubungan erat sekali dengan penempatan semangat diri kita yang seyogyanya pada setiap saat selalu ditingkatkan. Terlebih lagi ketika kita sedang memasuki bulan-bulan Haji ini, dimulai dari Syawwal,  Dzul Qa’dah, dan diakhiri pada Dzul Hijjah, kita harus berupaya membenahi diri dengan semangat ketaatan yang baik. Ketaatan yang baik kiranya dapat diben-tuk oleh lingkungan yang kondusif, dan salah satunya adalah membangun sistem shuhbah (pertemanan) di sekitar kita. Sebab, disadari atau tidak, diri manusia pada fitrahnya sangat menginginkan kebebasan memilih (hurriyyah al ikhtiyaar), menentukan jalan hidupnya sendiri, apakah hendak berbuat baik ataukah berbuat buruk? Alloh Ta’ala telah berfirman:

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Alloh. Sesung-guhnya Alloh adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 91 : 30)

Read the rest of this entry »

Shalawat

October 26, 2011

Kalam Habib Ahmad Bin Zein Al Habsyi:

“Dalam satu shalawat terpendam 40 faedah. Diantaranya, Menghapus dosa, mengusir kesumpekan, menuntaskan cita-cita, memercik kabar gembira akan syurga sebelum ajal tiba, membersihkan dirì, menanggung keselamatan dari kecamuk hari kiamat, mengharumkan majelis, menafikan kefakiran dan sifat kikir, mengukuhnya langkah kala di atas sirath, mengenyahkan kekeringan, menabur berkah pada raga- umur dan amal. Memantik Rahmat Allah dan rasa cinta dari Nabi SAW, menghidupkan nurani, dan memancing hidayah Ilahi.”

“Walhasil, Faedah Shalawat tak terbilang, dunia maupun ukhrawi. Tak terhitung, betapa sering Allah membukakan pintu Hajat, melonggarkan keruwetan, dan melipatkan anugerah dg Shalawat. Shalawat adalah amalan Istimewa dan penuh berkah. Ia adalah penjamin rasa aman dari murka Allah dan Neraka Nya. Ia adalah pelantar kesucian amal dan ketinggian derajat. Ia adalah perniagaan yang takkan pernah merugi.” []

Jika usia Anda saat ini misalkan telah mencapai dua puluh lima tahun, adakah selintas pertanyaan dalam benak Anda ada berapa jum’at yang telah terlewati, dan seberapa kuat ketika itu kemauan Anda untuk mengutamakannya lebih dari hari-hari yang lain dalam beribadah?

Bukankah hari jum’at dipilih Alloh sebagai hari terbaik umat manusia di saat terbit matahari. Pada hari itu Adam as. diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu juga ia dikeluarkan darinya untuk mengadakan perjalanan panjang di dunia, melahirkan para nabi dan utusan Alloh, orang-orang saleh dan para kekasih-Nya yang mulia, dan menurunkan generasi manusia. Dan kiamat pun tak akan datang menjelang kecuali pada hari jum’at. (HR. Tirmidzi)

Keutamaan hari jum’at dapat diraih diantaranya dengan menjaga waktu-waktu tertentu yang Alloh berikan keistijabahan di dalamnya bagi siapa saja yang memanjatkan doa. Sabda Rosululloh saw. :

إِنَّ فِى الْجُمُعَةِ سَاعَةً لاَ يَسْأَلُ اللهَ الْعَبْدُ فِيْهَا شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللهُ إِيَّاهُ

Sesungguhnya pada hari jum’at ada saat dimana seorang hamba tidak meminta sesuatupun kepada Alloh kecuali apa yang ia pinta akan diberikan oleh-Nya.” (HR. Tirmidzi)

Lalu kapankah saat yang dimaksud itu, disinilah ulama’ berbeda pendapat dalam menentukannya. Hadits yang diriwayatkan Abu Musa berbunyi:

مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ اِلَى أَنْ تَقْضَو الصَّلاَةُ

Di saat antara duduknya imam sampai sholat usai dilaksanakan.”

Imam Ahmad dan Ishaq berpendapat setelah ashar sampai terbenamnya matahari sebagaimana hadits riwayat Abdulloh bin Salam. Diantaranya lagi pendapat yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Dzar, Salman, Abu Lubabah, dan Sa’d bin Ubadah, yakni ketika sholat mulai ditegakkan sampai usai. Imam Baihaqi menganggap kuat hadits riwayat Abu Musa, dan pendapatnya didukung oleh Imam Nawawi. Sebagian lagi berpendapat bahwa waktunya terbatas pada salah satu dari dua riwayat tersebut, dimana hadits yang satu dan lainnya tidak saling bertentangan, karena dimungkinkan Nabi saw. sama-sama menyampaikannya, tapi pada waktu yang berbeda (lihat Tuhfatul Ahwadzi II/17-616). Sedangkan Ibnu Az Zamlakani, tokoh madzhab Syafi’i, berpendapat bahwa waktunya adalah bersifat pilihan, yakni memilih salah satu dari keduanya yang lebih disukai. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari menyebutkan empat puluh lebih pendapat ulama’ tentang saat yang dimaksud tersebut, dan tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang kuat adalah yang didasarkan pada haditsnya Abu Musa dan Abdulloh bin Salam.

Dari uraian tersebut sebenarnya yang terpenting adalah munculnya keinginan kuat untuk mencari peluang kebaikan pada hari jum’at, sedangkan kapan saat terbaik itu, Alloh lebih mengetahui terhadap rahasia-Nya. Kita dituntut untuk senantiasa mendapatkan peluang tersebut, setidaknya ada celah untuk mengintip waktu istijabah yang Alloh berikan dengan mengambil pijakan pada hadits diatas. Wallohu A’lam!

Visi Pendidikan Islam

September 27, 2011

Syekh Musthofa Al-Gholayain menyitir semboyan: “Di tangan kamu (wahai para pemuda) urusan masa depan bangsa dan di telapak kakimu pula kehidupan bangsa itu.” Ungkapan ulama Mesir yang produktif ini menggambarkan bahwa maju mundurnya suatu bangsa tidak lepas dari keberadaan pemuda (manusia berumur 15-40 tahun). Jika pemuda di suatu bangsa kuat maka bangsa itu kelak akan maju dan beradab. Sebaliknya bila pemudanya lemah-lemah maka kelak menjadi lemahlah bangsa tersebut.

Bila generasi di suatu bangsa yang diharapkan sebagai penerus sudah bergaul akrab dengan narkotika dan obat-obatan terlarang, bergaya hidup foya-foya, dan berbudaya membuang-buang waktu di satu sisi dan di sisi lain dekadensi (kemerosotan) moral mendominasi diri mereka, maka agaknya bisa diprediksi apa akibat yang tidak lama akan menimpa bangsa itu.

Read the rest of this entry »

Hari-hari Bahagia

September 22, 2011

Ini adalah hari-hari bahagia. Kebahagiaan yang dating beriring ombak keharuan yang menggetarkan jiwa. Kebahagiaan yang dating bersama perenungan. Kebahagiaan yang menenggelamkan kita pada lautan istighfar, permohonan ampun terhadap segala salah dan dosa. Ya. Bahagia. Karena kini kita berada di bulan Sya’ban. Dan tidak lama lagi kita akan dihadiri bulan yang sangat dirindukan, bulan  suci, bulan penuh hamparan barokah, bulan penuh ampunan, bulan ibadah, bulan jihad, bulan Ramadhan. “Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban. Dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Terlalu cepat dan bahkan nyaris tak terasa bila kita kini telah memasuki kembali bulan Sya’ban. Bulan yang menjadi bulan ibadah istimewa bagi Rasulullah selain bulan Ramadhan. Imam An Nasai meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Usamah bin Zaid ra. berkata pada Rasul saw. “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Rasul saw. Bersabda, “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat semua amal kepada Rabbul Alamin. Dan aku suka untuk diangkat amalan aku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An Nasai. Lihat Shahih Targhib wat Tarhib / 425)

Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.