Jangan Lepaskan Kendalinya
November 11, 2009
Kita coba lihat ke belakang beberapa bulan lalu. Kenangan akan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah. Ketika itu sebagian kita mungkin mampu melakukan shalat malam hampir setiap perguliran hari. Mampu bangun di waktu sahur menyongsong fajar. Ketika di antara kita ternyata, bisa menyempatkan diri shalat berjamaah di masjid, lebih banyak ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Mampu lebih memperhatikan masalah keakhiratan, dan hadir di majlis dzikir. Mampu berinfak dan bersedekah lebih banyak. Mampu lebih banyak berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Mampu memelihara lidah, memelihara nafsu, dan memelihara diri dari dosa.
Bagaimana dengan kita ketika itu? Kita telah berusaha mengisi Ramadhan tersebut dengan amal-amal seperti yang di atas. Tetapi, kita tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari dzikir. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Qur’an, menyebut asma Alloh, atau menghibur hamba-hamba-Nya. Telinga kita, mata kita, lebih banyak digunakan dalam kerangka yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Seluruh anggota badan kita lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Alloh swt. Meski ketika itu kita berada di bulan penuh rahmat dan maghfirah.
Bagaimanapun sekarang bulan penuh rahmat dan ampunan itu telah lewat. Bulan turunnya Al-Qur’an yang penuh barakah dan limpahan pahala itu telah pergi. Meninggalkan kita di sini, memulai hari demi hari, sendiri. Semoga Alloh senantiasa menghimpun diri kita dalam kasih sayang-Nya. Jangan tinggalkan rutinitas yang pernah kita lakukan di bulan Ramadhan. Sebab, perbedaan antara orang shâdiq (benar) dengan orang yang kâdzib (bohong) menurut Imam Athillah As Sakandari dalam kitab Al Hikam adalah, “Apabila engkau ingin mengetahui perbedaan antara shâdiq dan kâdzib maka lihatlah ciri-cirinya. Ciri orang yang shâdiq adalah ia beramal terus menerus karena Alloh dalam berbagai situasi dan kondisi. Sementara orang yang kâdzib beramal satu atau dua hari, lalu jika berduyun-duyun orang datang menyambutnya maka ia teruskan amalnya. Tapi jika tidak, ia pun meninggalkan amalnya.”
Mari syukuri limpahan pertolongan dan bantuan Alloh swt. kepada kita hingga saat ini. Kita berusaha memiliki bekal dan mengendalikan nafsu makan dan minum selama satu bulan. Tujuannya tentu bukan agar kita siap hidup dalam keadaan lapar, tapi pada kemampuan kita mengatur nafsu makan. Orang yang terbiasa lapar akan bisa mengatur nafsu makan dan minumnya. Sementara ketidakmampuan mengendalilan nafsu makan dan minum, banyak menyebabkan orang melakukan kemaksiatan dan dosa.
Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu istirahat tidur. Tujuannya, bukan agar kita sedikit atau bahkan tidak tidur. Tapi agar kita mampu mengatur tidur sehingga tidak dikalahkan oleh rasa kantuk saat menjalankan kewajiban. “Membiasakan diri untuk tidak tidur bukan tujuan, tapi agar orang bisa menguasai dan mengendalikan tidurnya, sehingga ketika menunaikan kewajiban tidak dilalaikan oleh tidurnya,” demikian ujar Ibnu Athaililah.
Terkadang, ada orang yang jarang tidur tapi ternyata ia tak mampu bangun shalat shubuh di awal waktu. Tidak dapat mampu bangun sebelum fajar untu beristighfar dan tahajud. Begitulah.
Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu syahwat di bulan Ramadhan. Bukan untuk menghilangkan nafsu syahwat, tapi agar dalam diri kita muncul kemampuan mengontrol dan menahan nafsu syahwat. Sebab ketidakmampuan mengontrol dan mengendalikan nafsu syahwat telah banyak menenggelamkan orang dalam kubangan dosa yang sangat mengelisahkan.
Berdoalah dan selalu memperbanyak doa. Kita sangat membutuhkan bantuan dan kekuatan dari Alloh swt. dalam menjalani semua ini. Sejauh mana kadar perasaan kita dalam membutuhkan Alloh, sejauh itulah jenjang kedekatan kita kepada Alloh. Perasaan butuh kepada Alloh bergerak pararel dengan jenjang kedekatan seorang hamba kepada-Nya. Setiap kali rasa fakir dan kebutuhan kepada Alloh semakin kuat, setiap itu pula bertambah perasaan kita terhadap makna lâ haula wa lâ quwwata illâ billah. Tidak ada daya upaya untuk menghindar maksiat terhadap Alloh kecuali dengan pertolongan-Nya. Tidak ada daya untuk tetap taat kepada Alloh, kecuali dengan pertolongan-Nya Tidak ada gerak, tidak ada diam kecuali dengan pertolongan-Nya.
Mari lebih mendekat kepada Alloh dengan memperbanyak berdoa. Doa adalah bentuk praktis dari rasa membutuhkan. Doa adalah suasana jiwa paling puncak dari seseorang yang menyakini bahwa Alloh Maha Kaya dan Maha Pemberi Yang Menguasai. Bukankah ibadah shalat yang kita laksana seluruhnya berisi doa? Hanya Alloh sajalah yang bisa membimbing dan memberi kekuatan batin untuk kita sehingga tetap sabar menunaikan berbagai kewajiban dalam hidup.
“Ya Alloh, para pengemis tengah berhenti di pintu-Mu. Orang-orang fakir tengah berlindung di hadapan-Mu. Perahu orang-orang miskin tengah berlabuh pada tepian lautan kemurahan-Mu dan keluasan-Mu , berharap dapat singgah di halaman kasih-Mu dan anugerah-Mu. Tuhanku, jika di bulan mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang yang menjalankan puasa dan shalat malamnya dengan penuh keikhlasan, maka siapa lagi yang akan menyayangi pendosa yang kurang beribadah, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan.”
“Ya Alloh jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang taat, maka siapa lagi yang akan mengasihi orang yang durhaka. Sekiranya Engkau hanya akan menerima orang-orang yang banyak amalnya saja, maka siapa lagi yang akan menerima orang yang sedikit amalnya. Ilahi, bantulah orang-orang yang berpuasa. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam. Selamat sejahteralah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang berlumuran dosa. Sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan maaf-Mu. Ampuni dosa-dosa kami dengan kasih-Mu, wahai yang paling Pengasih dari segala yang mengasihi.”
Kendali hawa nafsu yang pernah kita upayakan untuk memilikinya jangan dilepas. Hawa nafsu itu ada kendalinya, jangan biarkan dia lepas dengan liar kembali. Ingatlah selalu perkataan seorang salafusshalih, “Pangkal segala maksiat, kelalaianm dan syahwat adalah ridha terhadap nafsu. Sedangkan sumber ketaatan, kesadaran, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang, adalah tidak adanya keridhaan terhadap nafsu.”[]
Kebahagian itu Ada di Sini
October 24, 2009
Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syaikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, “Orang-orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (ubudiyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya’. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.” Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul karena semakin besarnya tuntutan kesempurnaan dalam diri seseorang. “Semakin tinggi tuntunan dalam hatimu, maka semakin kecillah kamu memandang dirimu sendiri. Dan akan semakin mahal harga yang harus ditunaikan untuk memperoleh tuntutan hatimu itu.”
Maka, janganlah hentikan perenungan dan muhasabah diri kita masing-masing. Sungguh banyak lubang yang harus kita waspadai di tengah hidup yang penuh fitnah dan tipu daya ini.
Manusia, diciptakan dalam keadaan susah payah. Memang itulah ketentuan Alloh swt. Al-Qur’an menyinggung masalah ini dalam firman-Nya, “Laqad khalaq nal insaana fii kabad.” “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan kabad (susah payah). (QS. Al Balad: 4). Kata ‘kabad’ dalam kamus Mu’jma Al Washit didefinisikan dengan kata masyaqqah wa ‘ana artinya kesulitan dan kesusahan. Ya, sulit dan susah. Itulah yang pasti akan menghiasi hidup semua.
Amalan di Bulan Syawal
September 28, 2009
Konspirasi Syetan dan Nafsu
September 24, 2009
Ada suasana yang hilang setelah Ramadhan berlalu. Ibadah yang dilaksanakan di bulan suci itu terasa mudah dan mengasyikkan tiba-tiba terasa berat untuk ditunaikan. Sebaliknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat kok justru terasa ringan, bahkan menyenangkan? Ada apa gerangan?
Setidak-tidaknya ada dua hal penyebabnya. Pertama, pasca Ramadhan belenggu syetan telah dilepas oleh Alloh. Selama Ramadhan syetan memang dibelenggu hingga ruang geraknya sangat terbatas atau malah tidak bisa bergerak sama sekali. Syetan yang kegiatan utamanya menggoda dan membujuk manusia, saat itu berdiam diri. Manusia berkesempatan untuk berlaku baik seperti pengendara yang sedang menjalankan mobilnya di jalan yang mulus. Mudah dan menyenangkan. Perjalanannya tidak diwarnai tanjakan-tanjakan yang berarti. Jebakan-jebakan maut juga jarang dijumpai. Itulah gambaran orang yang melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Kini hambatan-hambatan itu telah dipasang kembali.
Selembar Bulu Mata
September 18, 2009
Adalah taubat yang dapat mengikis habis segala dosa. Taubat yang dimaksud adalah penyesalan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan semula. Biasanya dikenal dengan istilah taubat nasuha. Artinya, kadang-kadang taubat terucapkan dengan lisan, karena hanya bergema di dalam jiwa. Karena Alloh Maha Penyayang, taubat dengan cara itu pun bisa diterima.
Pernah seorang musafir tersesat di tengah belantara. Ia mencari-cari jalan keluar tak dijumpainya. Maka dengan lemah lunglai ia beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. Keledainya ditambatkan pada salah satu ranting yang menjulur ke tanah. Ia tertidur. Ketika bangun, keledai itu sudah tidak berada di tempatnya. Sedangkan semua bekal perjalanan, termasuk uang, selimut, makanan, dan air minum berada di punggung keledai itu. Ia mencarinya ke sana-kemari. Sampai petang tidak ditemukannya. Ia terus mencari. Hingga jauh malam. Karena lelah dan mengantuk, ditambah perutnya yang sudah kelaparan, ia terjatuh di bawah pohon dan setengah pingsan. Ia merasa ajalnya kian mendekat. Namun, ketika tiba-tiba ia agak siuman, tahu-tahu keledainya telah berdiri di mukanya. Alangkah gembiranya musafir itu. Seolah-olah ia hidup lagi setelah mati. Diciuminya keledai itu seraya berkata, “Ya Alloh, Engkau adalah hambaku, dan aku adalah Tuhan-Mu.”
Yang Berjubah Belum Tentu Saleh
September 16, 2009
Tatkala Nabi Daud as. sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud as., tetapi Nabi Daud as. tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia terus menyampaikan pelajarannya tanpa melirik sedikit pun kepada tamu yang baru tiba itu.
Laki-laki tersebut lantas mengerjakan sembahyang sesuai dengan syariat yang berlaku pada waktu itu. Setelah lama sekali melaksanakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa.
Nabi Daud as. tetap melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberi kesempatan kepada tamu itu untuk berkenalan, atau para muridnya mengambil perhatian kepadanya. Maka semua murid Nabi Daud as. merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap Nabi Daud as. tidak memberikan contoh yang baik.
Menjaring Kedalaman
September 13, 2009
Tatkala Alloh berfirman, “Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka,” sebagaimana tercantum dalam surat Al-Fath ayat 11, kita pun terhenyak tidak mengerti, mengapa Alloh mempunyai tangan? Padahal Ia suci dari kesamaan dengan makhluk-Nya? Bukankah dengan demikian Alloh telah menodai citra kemaha-tunggalan-Nya sendiri?
Tentu saja apabila kita menyerap firman itu melalui penalaran manusia, dan tidak bertolak dari jiwa tauhid yang menyakini akan tidak serupanya Alloh dengan semua makhluk-Nya. Namun, kalau kita kembali kepada akidah tauhid, sudah pasti kita akan tahu bahwa tangan Alloh yang dimaksud-Nya tidak seperti tangan kita.
Begitu pula seandainya kita menerjemahkan bahagia kesufian yang selalu bersayap dengan bahasa kaum awam. Kita akan terjerumus ke dalam salah paham dan naik pitam. Sebab kaum sufi kadang-kadang berbicara dengan pendalaman hati sehingga tidak terungkapkan dengan bahasa lisan sepanjang bahasa lisan itu ditafsirkan dalam citra harfiah.
Yang Lebih Besar dari Samudera, Bumi, Langit dan Dosa
September 8, 2009
Kisah ini diceritakan oleh penyair Jalaluddin Rumi, penyair besar dan sufi dari Parsi yang hidup di Abad ke-13. Cerita ini ada dalam kumpulan karyanya, Masnawi. Yang ditulisnya sampai pujangga itu wafat pada umur 67 tahun.
Kisah alegoris itu berjudul ; Nabi Musa dan Tukang Cuci. Begini ceritanya:
Pada suatu malam, ketika Nabi Musa shalat, dia berdoa meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan orang yang paling kejam dan jadi sumber kemarahan orang banyak.
Keinginan itu dikabulkan Tuhan. Dia mesti pergi ke tepi sungai besok pagi-pagi sekali. Dan orang pertama yang dijumpainya besok itulah orang paling kejam.
Nabi Musa subuh-subuh telah sampai di batang air. Dia menanti, lalu muncul seorang tukang cuci, pendek gemuk orangnya, menggiring keledai. Di punggung keledai itu bertumpuk cucian basah dan berat. Lelaki itu memukuli keledainya dengan tongkat, berkali-kali dan keras seraya berteriak memaki-maki. Tampangnya sungguh kriminal, matanya merah bekas bertanggang larut malam dan mulutnya bau arak. Wajahnya nampak penuh nafsu dan garang.
Kagum Dunia, Lupa Akhirat
September 7, 2009
“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat (as-sama’aaddun ya) dengan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syetan, dan kami sediakan siksa neraka yang menyala-nyala.” (67: 5)
Langit dunia artinya langit yang dekat. Kehidupan dunia artinya kehidupan yang dekat. Memang arti addun-ya menurut ayat di atas ialah ‘dekat’, akhirat artinya akhir. Kehidupan akhirat artinya kehidupan tahap akhir yang jaraknya cukup jauh dari sekarang.
Alloh mengabarkan bahwa bintang-bintang adalah hiasan yang letaknya di langit pertama (dekat). Mafhumnya, Alloh tak menghiasi langit kedua sampai langit ketujuh dengan bintang-bintang itu.
Banyak manusia terpesona dan terkagum-kagum menyaksikan gemerlap bintang yang terlihat dengan mata yang telanjang. Jumlahnya kira-kira tiga ribu buah. Padahal dibalik taburan gemerlap itu, jutaan bahkan miliaran bintang menghuni angkasa langit pertama. Sedikit manusia yang menyakini bahwa di balik tiga ribu itu, terdapat miliaran rahasia yang lain.
Bencana
September 3, 2009
Ketika gempa mengguncang sebuah daerah dan hampir seluruh penghuninya binasa, salah seorang yang selamat bertanya kepada Imam Abu Laits, “Mengapa malapetaka menimpa kami, wahai Tuan Guru? Padahal masyarakat kami sebagian besar beriman kepada Alloh?”
“Karena kalian telah menikahi mayat-mayat, dan anak-anak kalian dilahirkan dari rahim mayat-mayat,” jawab Abu Laits dengan pedih.
“Saya tidak paham, Tuan Guru. Terangkanlah.”
Abu Laits lalu membacakan surah An-Nur ayat 2 dan menjelaskan, “Kaum perempuan di kampungmu adalah para pezina. Dan tidak patut orang-orang beriman menjadikan mereka sebagai istrinya. Sebab, yang pantas mengawini perempuan pezina hanya lelaki pezina juga, atau orang musyrik. Lihatlah apa yang berlangsung di daerahmu sebelum gempa terjadi. Mereka, meskipun sudah menjadi istri yang sah, masih tetap melakukan kegemarannya, berzina dengan lelaki mana saja yang mereka minati.”