Di mana Alloh dalam Hati Kita?
January 30, 2010
Di mana Alloh dalam hati kita? Renungkan dan pikirkanlah kalimat ini. Karena Ali bin Abi Thalib ra. pernah menyifatkan keadaan para shalihin di zamannya dengan mengatakan, “azhumal khaliqu fii quluubihim, fashaghura maa duunahu fii a’yunihim,” sungguh keagungan Allah telah mendominasi dinding hati mereka. Karenanya, menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka, selain Allah. Mereka menjadi besar karena telah menyakini kebesaran dan keagungan Alloh swt. Jiwa mereka telah sibuk dengan hanya mengagungkan Allah swt. Sehingga mereka menjadi tidak takut kecuali karena Alloh, menjadi tidak tenang kecuali bila dekat kepada Alloh, menjadi tidak mempunyai tempat bergantung kecuali Alloh. Keagungan Alloh benar-benar telah merajai hati mereka.
Selalu begitu hebat dan mengagumkan keadaan hati para salafushalih dalam tingkat marifat mereka kepada Alloh swt. Subhanallah.
Di mana Alloh dalam hati kita? Seberapa dominan keagungan Alloh swt. Dalam hati kita? Alloh swt. Tak ingin hati kita dipenuh sesaki oleh keinginan nafsu dan ambisi dunia. Dahulu, ketika hati Nabi Ibrahim as. Terdominasi oleh kecintaanya kepada sang anak, Alloh memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Dahulu, ketika suatu saat Rasulullah dan para sahabatnya begitu memuliakan Baitul Haram dalam hati mereka, Alloh lalu memerintahkan mereka melakukan shalat menghadap Baitul Maqdis. Semua itu mengetahui kadar kecintaan mereka kepada Alloh lebih kuat, lebih dominan dan lebih besar daripada kecintaan mereka kepada Baitul Haram? Ketika jawabannya adalah iya, lalu Alloh mengembalikan lagi Baitul Haram kepada mereka dengan perintah-Nya. Ketika Ibrahim ternyata lebih mencintai Alloh, maka Alloh kembalikan lagi sang anak kepadanya dan memintanya untuk menyembelih kambing kibasy menggantikan posisi anaknya.
Di mana Alloh swt. dalam hati kita? Apakah yang mendominasi hati kita selama ini?
Apakah kita merasa gembira dan senang saat berdekatan dengan-Nya? Apakah kita selalu berusaha agar Alloh selalu bersama kita? Sejauh mana tingkat kesenengan dan kedamaian kita saat shalat, di saat kita bertemu dan bermunajat kepada-Nya? Seberapa sejuk dan teduhnya jiwa kita saat sujud di hadapan-Nya, karena saat sujud merupakan saat yang paling dekat antara kita dengan-Nya? Duhai, indahnya bila kita mengetahui firman Alloh swt.,”Aku bersama hamba-Ku di saat ia mengingat-Ku dan dua bibirnya menyebut-Ku…” (HR. Bukhari, Kitab at Tauhid)
Apakah kita menyediakan waktu sejenah di sepertiga malam terakhir untuk menikmati saat-saat kedekatan kita dengan-Nya? Di saat Alloh swt. mengatakan, “Apakah ada orang yang bertaubat yang Aku terima taubatnya. Adakah orang yang meminta ampun atas dosanya dan Aku ampuni dosanya. Adakah orang yang meminta dan Aku berikan pintanya…” (HR. Muslim I/265)
Bukankah orang yang mencintai sesuatu selalu menginginkan kesendirian bersama yang dicintainya? Adakah kecintaan kita kepada Alloh, juga memendam keinginan kita untuk sendiri bersama-Nya di waktu-waktu sunyi?
Bukankah orang yang mencintai selalu berusaha mencari ridha sesuatu yang dicintainya, meski ia harus menanggung kesempitan atau bahkan rasa sakit?
Sejauh manakah pengorbanan kita untuk-Nya? Apakah kita selalu berupaya dan bergegas mendekat tempat-tempat yang bisa membuat Alloh ridha kepada kita? Atau justru kita mendekati tempat-tempat kemurkaan-Nya hingga kita semakin jauh dari keridhaan-Nya. Tapi lalu kita memohon dan meminta keluasan rahmat-Nya, mengeluhkan ragam kesempitan, kesedihan dan kelemahan kita kepada-Nya. Mengetuk pintu kasih sayang-Nya dan berharap agar Alloh mau membukakannya untuk kita yang penuh dosa, banyak lalai dan berlumur kesalahan?
Dalam kitab Tarikh At Thabari disebutkan kisah seorang pemuda yang bersusah payah datang ke tempat yang Alloh ridhai, yakni hadir di perang Badar. Auf bin Al Harits bertanya pada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apa yang menjadikan Alloh swt. tertawa hamba-Nya?” Rasulullah menjawab, “Tangannya terbenam di tengah musuhnya tanpa pelindung” (maksudnya adalah orang yang maju ke medan perang tanpa baju besi). Mendengar ucapan itu, Auf bin Al Harits melucuti tubuhnya dari baju besi yang dikenakannya. Ia lalu maju ke tengah pertempuran hingga gugur sebagai syahid. (Tarikh At Thabari, 2/33)
Seberapa bagian semangat luar biasa indah milik Auf bin Al Harits itu ada dalam diri kita? Adakah di antara kita yang ingin menjadikan Alloh tertawa dengan kita? Adakah di antara kita yang begitu bersemangat mendekati tempat-tempat yang membuat Alloh senang, sebagaimana dilakukan Auf bin Al Harits dan para sahabat mulia selainnya.
Di manakah Alloh swt. dalam hati kita? Saat kita harus melewati sebuah peristiwa pahit dan menyakitkan hidup. Mampukah kita meraba kasih sayang Alloh swt. dalam setiap peristiwa pahit dan menyakitkan itu. Karena, “Sesungguhnya apapun yang datang dari Alloh itu adalah indah. Meskipun kita terkadang tak mampu melihat keindahan dalam musibah yang menimpa. Tapi itu tetap saja indah. Renungkanlah keindahan dalam musibah yang menimpa Nabi Musa as. Saat bersama Khidir. Bagaimana peristiwa kapal yang dibocorkan, seorang anak yang dibunuh dan rumah hampir roboh yang dibangun kembali. Semua itu musibah yang buruk dalam pandangan Nabi Musa as. Tapi saksikanlah betapa keindahan itu terbentuk sedemikian rupa dari ketetapan Alloh, setelah diketahui hakikat dan hikmah musibah itu semua?” (Ibnul Qayyim, Al Fawa-id)
Mari terus menerus berlatih agar jiwa kita benar-benar dipenuhi oleh cinta kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Kita sudah lama menjalani hidup. Tapi kita terlalu lama dibuai dunia. Kita harus berhenti sejenak di sini. Lalu bertanya kepada diri sendiri, “Di manakah Alloh dalam hati kita?” (Tim Redaksi)
Beramal Shalih di Ujung Usia
January 21, 2010
Memulai perbuatan baik, membiasakan diri beramal shalih, awalnya selalu berat. Sama seperti memutar sebuah roda, yang pasti memerlukan tenaga lebih besar saat putaran pertama. Tapi untuk putaran kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan akhirnya putaran roda itu bisa berjalan,bahkan tanpa memerlukan tenaga untuk memutarnya.
Bagaimana beratnya memulai bangun malam? Bagaimana beratnya memulai puasa sunnah? Atau bagaimana beratnya memulai melakukan sunnah sebelum atau sesudah shalat fardu? Bagaimana beratnya mengangkat kaki untuk melakukan shalat di awal waktu berjamaah di masjid? Bagaimana beratnya memulai membaca ayat-ayat Al-
Qur’an? Tapi yakinlah, semua itu selalu hanya akan terasa berat pada saat kita baru memulainya. Jika sudah dimulai kondisinya bahkan bisa berbalik, justru kita akan sulit meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik tadi. Tidak heran bila Umar bin Khattab ra. pernah mengatakan, “Saat hati seseorang bersih, maka ia tidak akan merasa puas membaca Al-Qur’an.”
Begitulah, jika suatu amal sudah menjadi rutin, maka perasaan tidak puas seperti yang dikatakan Umar bin Khattab tadi, berarti orang itulah yang justru merasakan tidak nyaman jika harus meninggalkan amal-amal ibadah yang biasa dilakukannya. Subhanallah.
Alloh swt. dan Rasulullah saw. Ternyata juga sangat memuji orang yang merutinkan amal-amal shalih. Sesuatu yang paling disesali Rasulullah adalah bila waktunya terbuang sia-sia. Bila ia lupa mengingat Alloh, maka penyesalan dan keperihan hatinya melebihi kegundahan hati orang yang kehilangan harta.
Ibumu, Kunci Surgamu
December 21, 2009
Al-Qamah sedang meregang nyawa. Wajahnya mengernyit menahan nyeri sedang badannya tak kuasa lagi ditegakkan. Lidahnya tiba-tiba menjadi kaku Tak sedikitpun kata-kata dapat terucap, hanya helaan nafas dan sesekali suara mendesis yang keluar dari bibirnya.
Para sahabat keheranan, mengapa Al-Qamah dalam sekarat mautnya tak mampu mengucapkan kalimat tauhid sedikitpun padahal ia termasuk sahabat yang cukup taat beribadah? Beberapa dugaan pada sahabat yang negative tentang tidak sedikitpun Al-Qamah tidak satupun terbukti, kecuali bahwa ia pernah menyakiti hati ibunya. Setelah ditemukan sebabnya, Rasulullah mengirim utusan guna menghadap ibu Al-Qamah di desa untuk mengabarkan keadaan ini.
Di hadapan ibu yang renta itu, Rasulullah saw. Memohon maaf bagi Al-Qamah tetapi ditolak dengan tegas. Ibu itu menceritakan, betapa Al-Qamah telah tega mengusir dirinya dari rumah. Demi memperturutkan kemauan istrinya, ia tega menyakiti hatinya.
Jangan Coba Langkahi Kodrat
November 30, 2009
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” QS. Al-An’am: 116
Begitu perlu dan pentingnya manusia merambah jalan hidup di atas jalur yang didesain oleh Alloh. Karena Dia sebagai arsitek tunggal alam semesta pasti tahu benar bagaimana seharusnya setiap komponen alam meniti fungsi dan keberadaannya. Agak tak jauh berbeda dengan seperangkat alat komputer. Yang memberikan aturan cara kerja dan penggunaannya adalah desainernya sendiri.
Manusia terlalu mulia bila dibandingkan dengan komputer. Seorang pakar berpendapat, kepala manusia adalah peralatan tercanggih di antara komputer yang canggih. Sehingga untuk membuat komputer secanggih kepala manusia itu, diperlukan perangkat sebesar bola bumi? Itu sama dengan sebuah ketidakmungkinan.
Bau Surga
November 22, 2009
Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud Nabu bersabda bahwa Beliau menyebutkan bahwa bau surga itu bisa di cium dengan jarak perjalanan 40 tahun.
Tentu saja perjalanan 40 tahun ini ukuran pada masa itu (Masa Nabi) dimana perjalanan masih menggunakan unta maupun kuda. Dulu Nabi pernah melakukan haji dengan menempuh jarak Makkah ke Madianah dalam waktu 10 hari sedangkan jarak Makkah ke Madinah 450 km. Berarti dalam satu hari beliau menempuh jarak 45 km.
1 Hari = 45 km.
1 Tahun = 360 hari.
360 hari x 40 tahun = 14.400 hari.
14.400 hari x 45 km = 648.000 km.
Jadi gambaran bau surga itu bisa di cium dengan jarak 648.000 km Subhanalloh. Sedangkan dalamnya neraka itu diibaratkan apabila kita menjatuhkan suatu barang maka barang itu akan sampai ke dasar neraka dengan menempuh jarak 70 tahun. Masya Alloh. Semoga hati kita selalu dan selalu terbuka untuk medapatkan hidayah dan petunjuk sehingga kita bisa di mudahkan oleh Alloh untuk melakukan suatu kebaikan Amin.[]
Jangan Lepaskan Kendalinya
November 11, 2009
Kita coba lihat ke belakang beberapa bulan lalu. Kenangan akan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah. Ketika itu sebagian kita mungkin mampu melakukan shalat malam hampir setiap perguliran hari. Mampu bangun di waktu sahur menyongsong fajar. Ketika di antara kita ternyata, bisa menyempatkan diri shalat berjamaah di masjid, lebih banyak ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Mampu lebih memperhatikan masalah keakhiratan, dan hadir di majlis dzikir. Mampu berinfak dan bersedekah lebih banyak. Mampu lebih banyak berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Mampu memelihara lidah, memelihara nafsu, dan memelihara diri dari dosa.
Bagaimana dengan kita ketika itu? Kita telah berusaha mengisi Ramadhan tersebut dengan amal-amal seperti yang di atas. Tetapi, kita tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari dzikir. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Qur’an, menyebut asma Alloh, atau menghibur hamba-hamba-Nya. Telinga kita, mata kita, lebih banyak digunakan dalam kerangka yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Seluruh anggota badan kita lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Alloh swt. Meski ketika itu kita berada di bulan penuh rahmat dan maghfirah.
Kebahagian itu Ada di Sini
October 24, 2009
Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syaikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, “Orang-orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (ubudiyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya’. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.” Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul karena semakin besarnya tuntutan kesempurnaan dalam diri seseorang. “Semakin tinggi tuntunan dalam hatimu, maka semakin kecillah kamu memandang dirimu sendiri. Dan akan semakin mahal harga yang harus ditunaikan untuk memperoleh tuntutan hatimu itu.”
Maka, janganlah hentikan perenungan dan muhasabah diri kita masing-masing. Sungguh banyak lubang yang harus kita waspadai di tengah hidup yang penuh fitnah dan tipu daya ini.
Manusia, diciptakan dalam keadaan susah payah. Memang itulah ketentuan Alloh swt. Al-Qur’an menyinggung masalah ini dalam firman-Nya, “Laqad khalaq nal insaana fii kabad.” “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan kabad (susah payah). (QS. Al Balad: 4). Kata ‘kabad’ dalam kamus Mu’jma Al Washit didefinisikan dengan kata masyaqqah wa ‘ana artinya kesulitan dan kesusahan. Ya, sulit dan susah. Itulah yang pasti akan menghiasi hidup semua.
Amalan di Bulan Syawal
September 28, 2009
Konspirasi Syetan dan Nafsu
September 24, 2009
Ada suasana yang hilang setelah Ramadhan berlalu. Ibadah yang dilaksanakan di bulan suci itu terasa mudah dan mengasyikkan tiba-tiba terasa berat untuk ditunaikan. Sebaliknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat kok justru terasa ringan, bahkan menyenangkan? Ada apa gerangan?
Setidak-tidaknya ada dua hal penyebabnya. Pertama, pasca Ramadhan belenggu syetan telah dilepas oleh Alloh. Selama Ramadhan syetan memang dibelenggu hingga ruang geraknya sangat terbatas atau malah tidak bisa bergerak sama sekali. Syetan yang kegiatan utamanya menggoda dan membujuk manusia, saat itu berdiam diri. Manusia berkesempatan untuk berlaku baik seperti pengendara yang sedang menjalankan mobilnya di jalan yang mulus. Mudah dan menyenangkan. Perjalanannya tidak diwarnai tanjakan-tanjakan yang berarti. Jebakan-jebakan maut juga jarang dijumpai. Itulah gambaran orang yang melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Kini hambatan-hambatan itu telah dipasang kembali.