Waduuhhh!!!

July 31, 2008

Pipis dek kene wae yo nakkk….ora popo (kencing di sini saja nak, tidak apa-apa). Kalimat yang meluncur dari ibu si anak membuat saya terbangun dari tidur saya. Kantuk yang tidak dapat saya tahan sejak bis yang saya tumpangi meninggalkan daerah bundar Gresik. Bagaimana tidak bangun, di dalam bis kok kencing. Walaupun yang kencing anak balita namun kencingnya kan sudah terhukumi najis. Buru-buru saya merapat ke arah jendela bis, takut terkena air kencingnya.

Wis nak, dang pipis, ora opo-opo (sudahlah cepat kencing, ndak apa-apa). Kalimat menyuruh tersebut meluncur lagi. Namun anak tersebut tetap tidak kunjung kencing. Mungkin dia takut karena tadi sedikit saya pletoti. Ternyata mujarab. Si anak tidak jadi kencing hingga dia turun di perbatasan Gresik – Lamongan.

Ayak-ayak wae. Emangnya bis juga toilet.[]

Kontrakdiksi

July 31, 2008

Karena kemarin libur Isro’ Mi’roj, saya dan Iman, anak saya yang nomor dua pulang ke Surabaya. Dan seperti biasanya, ibunya anak-anak menjemput saya di terminal Jayabaya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya melihat ada kejanggalan ketika motor kami berhenti di traffic light adtyawarman, dekat gedung KPU Surabaya. Saya melihat motor tua Yamaha 70 atau disebut Yamaha robot mengeluarkan asap yang banyak dari knalpotnya. Hampir semua tipe motor yang memakai system 2 tak pasti mengeluarkan asap putih. Tentu saja, asap ini cukup mengganggu kami yang tepat di belakangnya dan juga mengganggu pengendara yang lain yang tidak jauh dari motor tersebut. Ada hal kontrakdiksi dari Yamaha itu. Kami yang berada di belakang motor tersebut menghirup asap dari knalpotnya, sedangkan pengendara motor itu memakai masker penutup muka. Mengapa dia tidak ingin menghirup asap knalpot dari motor orang lain namun motornya mengeluarkan asap begitu banyak untuk pengendara lain?

Aneh. Asap orang lain tidak mau dihirup namun asap dari motor sendiri dibiarkan keluar sedemikian banyak.[]

Organ Tunggal

July 31, 2008

2 hari yang lalu saya terhenyak oleh tayangan berita Trans TV. Konser organ tunggal di Indramayu ini menampilkan penyanyi dangdut. Bukan nyanyiannya yang jadi masalah, penyanyinya yang jadi biang kerok penghumbar nafsu syahwat. Menyanyi dangdut dengan baju yang sangat minim. Ditambah lagi goyangan yang erotis membuat yang menonton adrenalinnya memuncak. Celakanya lagi, penontonnya tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga ada di antara mereka. Anak-anak ini tidak hanya menonton dengan konsentrasi tinggi tapi juga diajak joget dengan gaya

joget yang tidak biasa, maaf kalau terlalu vulgar, joget erotis yang diperagakan anak-anak ini.

Organ tunggal ini sering dikontrak untuk acara hajatan pernikahan, sunat, bahkan pilkada tidak ketinggalan ikut-ikutan. Goyangan mereka tambah ‘hot’ jika saweran mereka juga tambah banyak dan besar. Benar-benar gila. Bisa-bisa telanjang mereka lakukan jika uangnya cocok.

Ketika repoter TV tersebut menanyakan alasan penyanyi organ tunggal berani melakukan hal tersebut. Mereka menjawab, “Saya butuh uang dan profesi ini sangat gampang mendapatkan uang dengan jumlah yang besar.” Ah, ternyata uang. Uang memang dapat membuat segalanya berubah. Teman jadi musuh. Saudara saling bunuh membunuh. Bahkan anak membunuh orang tuanya hanya gara-gara tidak diberi uang.

Uang memang telah menjadi Tuhan bagi manusia, sejak Nabi Adam. Hanya bajunya saja yang berubah dari waktu ke waktu tapi intinya tetap sama. Uang.

Semoga Alloh menjaga dan menyelamatkan generasi keluarga kita dari fitnah dunia ini.Amiin.[]