Kendati belum ada pembuktian secara ilmiah, banyak orang menuturkan kiat sehat di masa tua melek di malam hari. Ada yang memuliaunya tanpa sengaja, karena terasa enak, dilanjutkan. Dampaknya ternyata bukan semata kesehatan fisik. Daya ingat lebih baik, alias tidak gampang pikun.

Beberapa tokoh dunia tercatat memelihara kebiasaan bangun jauh sebelum subuh. Hirohito biasa bangun pukul setengah tiga pagi untuk beberapa lama, kendati kemudian tidur kembali. Einstein mengaku, ilham hinggap di benaknya hingga ia menemukan teori relativitas karena seringnya dia bangun di malam hari meskipun hanya untuk melihat bintang dan melamun.

Proses ketuaan merupakan kepastian. Tapi tentu tak ada yang mengharapkan melewatinya sambil bersakit-sakit. Usia lanjut biasanya rawan berbagai macam penyakit seperti hepatitis, lumpuh, diabetes mellitus, stroke, batuk-batuk akibat paru-paru tidak normal, jantung, pikun, dan lainnya. Betapa banyak orang pikun yang tak mampu apa-apa sendiri, buang air sekalipun. Karena merasa jadi beban, akhirnya lebih banyak yang berdoa supaya dipercepat kematiannya.

Read the rest of this entry »

Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab mempunyai kebiasaan langka. Ia suka melakukan perjalanan malam untuk tafakkur, merenungkan kehidupan yang seharusnya dijalani dan senyatanya dialami, khususnya di negeri Islam yang ia pimpin. Karena kesibukannya denga tugas penghambaan dan kekhalifahan, perjalanannya harus diatur sedemikian rupa, dipilihnya sehabis shalatullail hingga menjelang subuh. Karena dua puluh empat jam harus ia bagi sedemikian rapi dan telitinya, hingga tiada yang terbuang percuma.

Suatu hari, di tengah perjalanan, Umar mendengar sayup suara perempuan dari arah rumah tepi jalan. Ia mendekat, ternyata dua wanita sedang berbincang serius, seorang ibu dan anaknya. Amirul Mukminin memasang telinga baik-baik., Rupanya sang ibu menyuruh anaknya mencampur susu yang hendak dijual dengan air. Alasannya, orang lain juga melakukan begitu juga. Tapi si anak menolak dengan tegas, karena ia yakin, meski Amirul Mukminin yang melarang perbuatan itu tidak melihat, Allah yang menciptakan Amirul Mukminin pasti menyaksikannya.

Read the rest of this entry »

Ketika Namrudz, tiran dzalim yang berdaulat penuh saat itu, pada klimaks kemarahannya setelah menyaksikan dengan kepalanya sendiri berhala-hala pujaan bangsanya dibantai habis oleh Ibrahim a.s., maka seluruh penduduk negeri diinstruksikan untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Ia kemudian memerintahkan serdadu dan algojonya membakar hidup-hidup si biang keladi, Ibrahim. Dengan wajah yang tenang, langkah yang tegap, dan sikap yang simpatik, Ibrahim melangkah menuju tiang eksekusi, tanpa penyesalan, tanpa permohonan amnesti atau grasi. Ia hanya berucap: Hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl.

Ucapan Ibrahim yang penuh kepasrahan diri disambut Allah dengan memberikan instruksi kepada api yang berkobar membumbung tinggi ke angkasa itu dengan qoul singkatnya:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Q.S. al-Anbiya’: 69. Read the rest of this entry »

Tempurung Buat Ibu dan Bapak

February 16, 2009

Tadinya mereka tidak terlalu rusuh dengan kehadiran ibu tua itu. Sebagai seorang anak yang merasa dilahirkan dari rahim ibunya, Hasan tidak tega membiarkan ibunya hidup terpisah semenjak bapak Hasan meninggal. Istrinya juga tidak keberatan, apalagi perempuan itu merasakan besar kegunaan mertunya di rumah. Ibu itu masih bisa membantu-bantu pekerjaan rumah tangganya sehingga tertolong sedikit meskipun dia tidak punya pembantu.

Namun semenjak hamilnya makin besar dan dilihatnya si ibu mertua tambah mendecing-decing batuknya, dadanya kian kempis dan pernah memuntahkan darah, Nazulah mulai bingung. Kalau ibu yang sakit paru-paru itu tidak segera diungsikan, maka ia kuatir penyakitnya akan menular dan membahayakan anaknya yang bakal lahir.

Maka, setelah merasa hampir dekat melahirkan, Nazulah berkata kepada sauminya,”Bang, sakit ibu ternyata penyakit menular. Jadi kita harus mencarikan jalan supaya anak kita jangan bergaul dengannya.”
Hasan kaget mendengar bicara istrinya. “Maksudmu?”
“Kita harus berpisah dari Ibu,” jawab Nazulah.

Read the rest of this entry »

Dua ekor berperilaku berbeda dalam menikmati kelezatan sepotong ikan asin. Yang satu duduk tenang melahap cepat-cepat, yang lain sambil gelisah bahkan lari terbirit ketakutan jika berpapasan dengan manusia, hingga tak dapat menikmati dengan nyaman. Kenapa demikian? Musababnya, kucing pertama merasa dirinya tidak bersalah. Ia memakan sepotong ikan asin pemberian tuannya. Sementara kucing kedua, gelisah karena ikan asin yang ia bawa lari adalah hasil curian.

Kucing tak memiliki kecerdasan akal dan jiwa layaknya manusia. Namun ia masih memiliki naluri yang sehat, yakni merasa tak tentram manakala melakukan tindakan salah. Lebih-lebih manusia.

Dengan anugerah Allah swt. berupa kepekaan jiwa, manusia akan dengan mudah dan segera meyadari apa yang dirasakan salah dalam tingkahnya, untuk kemudian beralih kepada yang benar. Amatlah disayangkan manusia yang tak segera mengubah langkahnya padahal menyadari kekeliruannya. Dan lebih disayangkan lagi mereka tidak sempat mengasah kepekaannya sehingga tidak mampu menyadari kekhilafannya. Orang yang demikian kalah unggul dihadapan kucing, bahkan jauh lebih hina daripadanya, bal hum adhallun…(7: 179). Merekalah orang-orang yang perlu dikasihani dan diberi santunan. Hakekatnya mereka hidup tidak tenang, resah, dan menderita, namun tak menyadarinya.

Read the rest of this entry »

Buta 40 Tahun

February 10, 2009

Syaqiq Al Bulkhi berkata, “Barangsiapa mengadu kepada selain Alloh atas musibah yang menimpanya maka selamanya ia tidak akan menemukan di dalam ketaatannya sebuah kemanisan”. Al Ahnaf berkata, “Mataku mengalami kebutaan hampir empat puluh tahun, tapi aku tidak bilang-bilang siapa pun”.

[]

Mimpi

February 7, 2009

Sebelum di rumahnya ada tivi berwarna yang kreditannnya baru lunas sebelas bulan lagi, Boim tidak pernah habis pikir, mengapa Tuhan mengatakan, “Kalian telah dilenakan oleh berbanyak-banyak.” Sebab, ketika itu Boim sudah merasa cukup asal perutnya terisi, istrinya agak kenyang, dan kedua anaknya tidak menangis kelaparan. Barangkali lantaran pekerjaannya sebagai pedagang keliling telah menguras tenaganya sampai ludas, ia tidak pernah mempunyai waktu untuk bermimpi. Dan ia menikmati alangkah tenang kehidupannya meskipun rumahnya mirip gubuk gelandangan dan penghasilannya jauh dari mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Apalagi jika melihat istrinya pagi-pagi sudah bangun dan mencuci pakaian bertumpuk-tumpuk kepunyaan para pelanggan, sungguh tidak ada yang lebih mulia di dunia ini kecuali Rahimah. Ia selalu merasa rindu kepada istrinya, kepada kedua anaknya, walaupun sepulang kerja ia tidak pernah ke mana-mana. Lalu sambil menunggu mata terpejam, seraya berbincang-bincang di tempat tidur dengan Rahimah, ia mendengarkan uyon-uyon dari radio butut dua band peninggalan ayahnya. Oh, seakan dunia ini miliknya sendiri.

Read the rest of this entry »

Shalat, Dzikir Paling Utama

February 7, 2009

 Kualitas iman bisa diukur dari shalatnya

Sulit dimengerti, kenapa banyak orang melaksanakan shalat dengan begitu tergesa-gesa. Kecepatannya super, sementara itu telah dilakukannya sekian lama. Kenapa tidak ada usaha meningkatkan kualitas shalat itu dengan mencoba sedikit pelan sehingga dapat menghayati makna segala doa yang diucapkan?

Bagaimana mungkin bisa mempertajam doa kalau tidak didukung oleh semua instrument dalam diri baik pikiran, perasaan, hati serta jiwa? Bukankah pemahaman dan penghayatan terhadap isi doa itu merupakan permulaan dari munajat seseorang?

Lebih sulit lagi bila shalatnya memang terlalu cepat. Pengalaman berkata, sedang ditahan agar lebih pelan sedikit dari yang lazim saja masih cukup direpotkan oleh gangguan dan rayuan setan; sekali-sekali pikiran masih lepas dan sempat ke mana-mana. Kadang bahkan bisa terkaget-kaget setelah sekian lama pikiran dibawa ke jalur lain, dan baru kita sadar belakangan. Tetapi itu masih lumayan bila shalat dilaksanakan dengan penuh ketenangan. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Tetapi bagaimana bila –saking cepatnya- kita baru sadar di saat shalat hampir usai?

Read the rest of this entry »

Orang Bakhil

February 5, 2009

Suatu malam ketika Aisyah menjahit diwaktu sahur,tiba-tiba jarumnya hilang sedang lampu mati. Kemudian datang Nabi, tiba-tiba tempat itu terang benderang dengan sinar beliau sehingga Aisyah menemukan kembali jarumnya hilang. “Alangkah terangnya wajahmu, wahai Rasulullah!” puji Aisyah. Celakalah orang yang tidak dapat melihatku.” Aisyah bertanya, “Siapakah orang yang tidak dapat melihat engkau?” “Orang bakhil!” “Siapakah orang yang bakhil itu?” “Aisyah! Dialah orang yang tidak membaca sholawat jika mendengar namaku disebut!”

Ujian Masuk Surga

February 4, 2009

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” Surah al Mulk: 1-2


Tak ada satupun makhluk manusia yang berangan-angan dan bercita-cita ingin menjadi manusia sewaktu belum terlahir kedunia. Ia lahir dan hidup bukan atas inisiatif dan kehendaknya sendiri. Ia lahir, tiba-tiba bernafas, menghirup udara segar, tiba-tiba seorang ibu sudah siap merawatnya hingga dewasa, seluruh tubuhnya dilengkapi dengan organ-organ yang amat diperlukan dalam hidupnya, dan fasilitas hidup berupa alam dan dimanfaatkan.

Jika semua itu bukan atas inisiatif dan kehendak manusia, lantas siapa yang berinisiatif dan berkehendak atas hidup manusia didunia ini?

Read the rest of this entry »