Ikhlas, Apa Itu?
April 19, 2009
Kemarin malam saya kedatangan seorang teman. Lama tidak berjumpa dengannya. Kami berbincang mengenai keluarga, pekerjaan, dakwah hingga makanan kesukaan masing-masing. Sampai pada saat perbincangan tentang ikhlas. “Mas, saya saat ini belajar ikhlas, namun saya belum menemukan ikhlas itu apa?” begitu dimulai membuka pertanyaan. “Saya buka literatur yang membahas tentang itu, mulai dari Quantum Ikhlas, Zona Ikhlas yang sampai berjilid-jilid, dan metode-metode ikhlas lain”, lanjutnya. “Ikhlas itu apa sih, bagaimana mewujudkan ikhlas dalam setiap amal ibadah dan perbuatan kita sehari-hari”, lanjutnya mengebu-gebu.
Saya berpikir sejenak. Ikhlas, satu kata penerapannya sangat sulit dikehidupan kita. Saya sendiri belajar, ya masih belajar menerapkan ikhlas disetiap amal ibadah dan perbuatan saya. Ikhlas yang saya dapatkan dari guru saya, Abi Ust. Ihya’ sangat sederhana dan itu menjadikan ikhlas yang saya terapkan. Walaupun belum sempurna. Abi Ust. Ihya’ memberikan makna ikhlas sangat simple dengan memberikan umpama:
“Kalau kamu menginginkan ikhlas disetiap perbuatan dan amal ibadah kamu berlakulah seperti orang membuang hajat (air besar)”
Ya, seperti orang membuat hajat (air besar). Orang membuang hajat (air besar) ingin segera berlepas dari itu. Ia ingin membuangnya dan tidak ingin meminta lagi. Ketika membuangpun ia tidak melihatnya. Ia tidak ingin ada orang yang sampai tercium baunya. Malu. Begitu ia keluar dari kamar mandi, ia sudah tidak mengingatnya lagi.
Itulah ikhlas. Demikian guru saya menjelaskan tentang ikhlas. Mampukah kita menerapkan disetiap perbuatan dan amal ibadah kita sehari-hari?
[]