Portable Ubuntu
May 27, 2009

Ubuntu
Ubuntu, distro Linux yang menempati rangking pertama di distrowatch.com. Banyak distro yang merujuk kepadanya di antaranya Linux Mint, Kubuntu, Edubuntu, dll. Portable Ubuntu merupakan turunan Ubuntu. Keistimewaan distro ini adalah berjalan di flashdisk. Itulah mengapa disebut portable. Hebatnya lagi, untuk menjalankan Portable Ubuntu tidak perlu keluar Windows. Ya, Portable Ubuntu berjalan pada desktopnya Windows.
Portable Ubuntu dibuat oleh Claudio Cacsar Sa¡nchez Tejeda menggunakan bantuan CoLinux (Cooperative Linux). Telah diketahui CoLinux adalah virtual machine, semacam Qemu.
Setelah Satu Bulan
May 26, 2009
Hari ini saya berangkat ke Tuban setelah istirahat satu bulan. Bedrest saran dokter. Darah tinggi saya mencapai angka 200. Masih terasa bekasnya. Perjalanan Surabaya-Tuban lumayan jauh, 2 jam perjalanan.
Begitu juga dengan Iman anak saya. Dia libur sekolah juga satu bulan. Tadi siang, sesampainya disekolah, dia langsung diserbu teman-temannya. Kangen mungkin ya.
Semoga Allah ta’ala selalu memberikan kesehatan kepada saya, agar dapat berbuat yang lebih kepada umat.
Al Muwatho’
May 23, 2009
Al Muwatho’ adalah kitab hadits Nabi saw. yang disusun oleh Imam Malik. Selain berbiacara tentang hadits, Al Muwatho’ mempunyai karomah yang lain. Apa itu? Simak cerita berikut ini yang saya dan keluarga besar alami.
Minggu kemarin keluarga besar kami dibuat deg-degan menanti kelahiran keponakan kami. Anak dari adik saya. Lima hari adik saya menunggu di rumah bidan. Sejak pembukaan kedua kandungannya dia diharuskan menginap di sana. Diperkirakan besoknya lahir. Manusia berencana, Allah ta’ala berkehendak lain. Si jabang bayi tidak lahir.
Segala upaya dilakukan, mulai dari adik memohon maaf ke semua saudara, dan juga ke ayah dan juga membaca doa-doa yang diberikan saudara kami. Namun, jabang bayi tetap bertahan di dalam perut ibunya. Ayah sudah mulai panik. Beliau mengajak saya berkunjung ke kediaman Abi Ihya’. Namun, hari itu adalah hari Kamis, beliau masih berada di Pujon. Di putuskan besok, hari Jumat berkunjung ke sana, apabila jabang bayi belum lahir.
Kamis siang, adik saya yang lain berkunjung ke rumah, meminjam peralatan tukang dan tangga. Dia tidak sendirian, datang bersama tetangga sebelahnya. Saya ceritakan masalah adik saya yang hamil tersebut.
“Khi, kenapa ya adik saya susah melahirkan. Sudah lima hari dia di rumah bidan. Semua doa sudah dibaca dan dia juga sudah memohon maaf”, tanya saya kepada teman adik saya itu. “
Dia menangkap kekhawatiran saya seraya menjawab, “Punya kitab Al Muwatho?”
“Ada, saya dapatkan kitab itu dari Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki”, jawab saya.
“Bawa kitab itu ke adik kamu, letakkan di atas kandungannya. Bacakana al Fatihah untuk Imam Malik dan Abuya Sayyid Muhammad. InsyaAllah jabang bayinya lahir”, lanjut dia.
“Cuman begitu saja?” tanya saya.
“Ya, saya mendengar dari murid-murid Abuya Sayyid Muhammad berkata seperti itu. Abuya Sayyid Muhammad yang bertutur langsung kepada murid-muridnya. Ketika istri saya hamil kemarin saya lakukan hal itu. Alhamdulillah, anak saya lahirnya cepat”, jawab teman adik saya.
Segera saja saya ambil kitab Al Muwatho’ di dalam lemari buku. Saya berikan ke suami adik saya. Sehabis Isya’ dia ke rumah bidan. Diletakkan kitab Al Muwatho’ di atas kandungan adik saya. Dia membaca al Fatihah di tujukan ke Imam Malik dan Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki. Jam 1.30 malam, telepon saya berdering. Dari suami adik saya. Dia memberitahu bahwa anaknya sudah lahir, perempuan. Alhamdulillah.
Saya bersyukur kepada Allah ta’ala lantaran wasilah karomah kitab Al Muwatho’ adik saya terhindar menunggu lebih lama lagi.
Pengalaman ini saya ceritakan kepada guru saya, Abi Ihya’. Beliau membenarkan karomah kitab Al Muwatho’. Bahkan beliau bercerita ada muridnya posisi bayi nyunsang tidak normal ketika akan melahirkan. Beliau ambil kitab Al Muwatho’ dan diletakkan di atas kandungan. Selanjutnya dibacakan al Fatihah untuk Imam Malik dan Abuya Sayyid Muhammad. Masya Allah, posisi bayi yang tadinya nyunsang kembali ke posisi normal. Subhanallah.
Maha Suci Allah ta’ala dan semua kehendak Allah ta’ala.
[]
Para Wali Abdal
May 20, 2009
Bumi tidak akan sunyi dari empat puluh orang yang senantiasa tekun beribadah laksana kholilulloh Nabi Ibrahim as. Sebab mereka itu, kita diberikan hujan. Karena mereka pula, kita diberikan bantuan. Manakala mati satu di antara mereka, Allah ta’ala menggantinya dengan yang lain. (Sayyid Muhammad Alawi, Mafahim: 99).
Amal Shaleh
May 16, 2009
Kita sering mendengar kalimat amal shaleh dalam kehidupan sehari-hari. Amal shaleh, bagaimana sih sebenarnya. Apakah shalat bisa disebut amal shaleh? Puasa Ramadhan yang kita lakukan termasuk amal shaleh? Dan amal-amal ibadah kita yang lain juga amal shaleh? Apakah amal baik juga amal shaleh?
Kata shaleh menurut bahasa artinya lawan dari rusak yang berarti baik. Amal yang baik dengan sendirinya masih belum menjamin bahwa amal tersebut akan diterima Allah ta’ala sebab ia bisa jadi rusak. Contoh haji, shalat, dan shadaqah adalah amal baik. Tetapi, amal-amal itu dan amal-amal baik yang lain pelaksanaannya masih dimungkinkan dibarengi riya’, sum’ah, ujub, dan takabbur. Inilah rahasianya mengapa Allah ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,” dan bukannya berfirman: “Orang-orang yang beriman dan beramal baik.”
Amal shaleh bukanlah sekedar amal baik melainkan dia juga amal yang layak diterima (shâlihun lil qabûl) dan amal yang bebas dari kerusakan (khalisun min kulli fasâd). Ketika suatu amal layak diterima dan bebas dari kerusakan maka amal itu mesti sudah memenuhi kriteria-kriteria diterima yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Dan, ketika Nabi Muhammad sholallahu alaihi wassalam menyatakan bahwa jangan sampai meremehkan amal kebagusan, sekalipun hanya berseri muka saat berjumpa teman atau membuang aral dari jalan. Berarti kelayakan diterimanya amal bukan berdasarkan pada besar dan kecilnya amal itu dan bukan pula pada sedikit dan banyaknya. Lalu?
Kriteria utama diterimanya amal adalah ikhlas. Kisah perempuan pelacur yang memberi minum anjing ternyata amal ikhlasnya itu yang diterima Allah ta’ala. Sahabat Bilal bin Rabah, suara sandalnya didengar Nabi sholallahu alaihi wassalam di surga sementara ia masih hidup. Ternyata, hal itu dikarenakan keikhlasan amalnya berupa shalat dua rakaat setiap kali selesai berwudhu. Sahabat Muawiyah bin Muawiyah, amal yang diridloi Allah ta’ala berupa bacaan surat Al Ikhlasnya di setiap shalat fardu. Semua contoh ini membuktikan bahwa ikhlas adalah kriteria pokok diterimanya amal.
Ikhlas menuntut suatu amal dilakukan: 1) lillahi ta’ala (untuk Allah ta’ala semata), 2) dengan cara ittiba’ (mengikuti jalur syara’), dan 3) sebisanya dilakukan secara istiqomah. Insya Allah bila amal dilakukan lillahi ta’ala, secara istiqomah, dan dengan menyertakan ittiba’ maka amal itu akan bisa dinyatakan sebagai amal shaleh.
Setiap muslim seharusnya mempunyai amal shaleh yang diandalkan bakal diterima Allah ta’ala. Selanjutnya, amal shaleh menurut ittifaq (berwasilah) kepada Allah ta’ala seperti pernah dilakukan oleh tiga perantau dari bani Israil yang terjebak di dalam gua. Dengan bertawassul melalui amal-amal shalehnya, ketiga manusia muslim itu diberi Allah ta’ala jalan keluar dari gua yang tertutup itu.
Kebiasaan membaca Al Fatihah di setiap memulai acara dan sebagainya yang dilakukan oleh orang banyak itu tiada lain merupakan refleksi dari tawassul dengan amal shaleh. Bagaimana mungkin membaca Ummul Kitab itu bukan merupakan amal shaleh. Bukankah setiap hari seorang muslim beristiqomah membacanya minimal tujuh belas kali? Sekarang, tinggal apakah ia membacanya dengan ikhlas atau tidak.
Wallahu ‘alam.
Nikmat Itu
May 9, 2009
“Pergunakanlah (rebutlah) masa sehatmu (dengan amal-amal shaleh) untuk bekal (antisipasi) masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal (antisipasi) masa matimu.” HR. Bukhari.
Hadits tersebut akrab sekali terdengar ditelinga kita. Berulang-ulang kali diucapkan setiap khutbah Jumat, majelis taklim. Namun, saya baru benar-benar merasakan kebenaran hadits tersebut tiga minggu terakhir. Ya tiga minggu akibat darah tinggi saya 200 dan harus istirahat total. Tentunya saya tidak dapat melakukan update blog saya. Akibat dari itu, mulut saya tidak dapat berkumur dan mata saya berair terus dan kelopak mata tidak dapat tertutup sempurna. Ditambah lagi saya saat ini menjalani terapi wajah sebelah kanan dikarenakan darah tinggi yang saya alami berakibat syaraf ketujuh mengalami kelumpuhan. Alis sebelah kanan tidak dapat naik sesempurna sebelah kiri. Meringis dan mencucu (bahasa Jawa) terlihat lucu. Tidak seimbang antara kiri dan kanan.
Kenikmatan berkumur ketika wudhu sementara ini tidak dapat saya rasakan. Saya kangen merasakan berkumur kembali. Kenikmatan memejamkan mata secara sempurna tidak lagi mampir disetiap tidur saya. Oh, betapa nikmatnya tidur dengan mata tertutup sempurna.
Nikmat memang akan terasa setelah hilang dari sisi kita. Nikmat mata. Nikmat kaki. Dan nikmat organ tubuh yang lain baru terasa bila tidak lagi berfungsi. Cobalah rasakan nikmat mata, dengan memejamkan mata sekarang selama dua menit. Gelap. Apalagi dibayangkan kita bila kita tidak dapat melihat seterusnya. Apakah kita siap menerima keadaan tersebut? Saya jadi teringat seorang jamaah subuh dimasjid jami’ di dekat kontrakan di kota Tuban. Orang itu kedua matanya buta, tetapi dia tidak pernah absen shalat jamaah subuh. Selalu duduk dishaf terdepan menunggu adzan subuh. Lalu, kemana perginya orang-orang yang memiliki mata sempurna, menatap dunia penuh dengan warna-warni? Tidak salah satu mensyukuri nikmat dengan berbuat amal saleh? Bukankah datang ke masjid shalat berjamaah itu amal saleh?
Semoga saya dapat mengambil hikmah dari semua ini, saya masih bersyukur kepada Alloh Ta’ala beristigfar dan merenungi ke belakang perjalanan hidup yang tersisa ini. Amin.
“Dan jadikanlah kami hambu-Mu yang pandai bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu, memuji atas nikmat-Mu itu. Ya, Alloh sempurnakanlah nikmat-nikmat untuk kami, ya Alloh sebagaimana telah Engkau berikan kepada kami nikmat itu, maka tambahkanlah. Tiada kehidupan hakiki kecuali kehidupan akhirat.”
“Ya, Alloh ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, anak-anak kami, guru-guru kami, saudara-saudara seagama kami, sahabat-sahabat karib kami, orang-orang yang mencintai kami karena Engkau, orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kami, dari kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, wahai Tuhan yang mengatur alam semesta.” []