Amal Shaleh

sujud-01Kita sering mendengar kalimat amal shaleh dalam kehidupan sehari-hari. Amal shaleh, bagaimana sih sebenarnya. Apakah shalat bisa disebut amal shaleh? Puasa Ramadhan yang kita lakukan termasuk amal shaleh? Dan amal-amal ibadah kita yang lain juga amal shaleh? Apakah amal baik juga amal shaleh?

Kata shaleh menurut bahasa artinya lawan dari rusak yang berarti baik. Amal yang baik dengan sendirinya masih belum menjamin bahwa amal tersebut akan diterima Allah ta’ala sebab ia bisa jadi rusak. Contoh haji, shalat, dan shadaqah adalah amal baik. Tetapi, amal-amal itu dan amal-amal baik yang lain pelaksanaannya masih dimungkinkan dibarengi riya’, sum’ah, ujub, dan takabbur. Inilah rahasianya mengapa Allah ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,” dan bukannya berfirman: “Orang-orang yang beriman dan beramal baik.”

Amal shaleh bukanlah sekedar amal baik melainkan dia juga amal yang layak diterima (shâlihun lil qabûl) dan amal yang bebas dari kerusakan (khalisun min kulli fasâd). Ketika suatu amal layak diterima dan bebas dari kerusakan maka amal itu mesti sudah memenuhi kriteria-kriteria diterima yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Dan, ketika Nabi Muhammad sholallahu alaihi wassalam menyatakan bahwa jangan sampai meremehkan amal kebagusan, sekalipun hanya berseri muka saat berjumpa teman atau membuang aral dari jalan. Berarti kelayakan diterimanya amal bukan berdasarkan pada besar dan kecilnya amal itu dan bukan pula pada sedikit dan banyaknya. Lalu?

Kriteria utama diterimanya amal adalah ikhlas. Kisah perempuan pelacur yang memberi minum anjing ternyata amal ikhlasnya itu yang diterima Allah ta’ala. Sahabat Bilal bin  Rabah, suara sandalnya didengar Nabi sholallahu alaihi wassalam di surga sementara ia masih hidup. Ternyata, hal itu dikarenakan keikhlasan amalnya berupa shalat dua rakaat setiap kali selesai berwudhu. Sahabat Muawiyah bin Muawiyah, amal yang diridloi Allah ta’ala berupa bacaan surat Al Ikhlasnya di setiap shalat fardu. Semua contoh  ini membuktikan bahwa ikhlas adalah kriteria pokok diterimanya amal.

Ikhlas menuntut suatu amal dilakukan: 1) lillahi ta’ala (untuk Allah ta’ala semata), 2) dengan cara ittiba’ (mengikuti jalur syara’), dan 3) sebisanya dilakukan secara istiqomah. Insya Allah bila amal dilakukan lillahi ta’ala, secara istiqomah, dan dengan menyertakan ittiba’ maka amal itu akan bisa dinyatakan sebagai amal shaleh.

Setiap muslim seharusnya mempunyai amal shaleh yang diandalkan bakal diterima Allah ta’ala. Selanjutnya, amal shaleh menurut ittifaq (berwasilah) kepada Allah ta’ala seperti pernah dilakukan oleh tiga perantau dari bani Israil yang terjebak di dalam gua. Dengan bertawassul melalui amal-amal shalehnya, ketiga manusia muslim itu diberi Allah ta’ala jalan keluar dari gua yang tertutup itu.

Kebiasaan membaca Al Fatihah di setiap memulai acara dan sebagainya yang dilakukan oleh orang banyak itu tiada lain merupakan refleksi dari tawassul dengan amal shaleh. Bagaimana mungkin membaca Ummul Kitab itu bukan merupakan amal shaleh. Bukankah setiap hari seorang muslim beristiqomah membacanya minimal tujuh belas kali? Sekarang, tinggal apakah ia membacanya dengan ikhlas atau tidak.

Wallahu ‘alam.

Tagged with: ,
Posted in Al Islam
One comment on “Amal Shaleh
  1. safei muslim says:

    trimaksih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,101 other followers

%d bloggers like this: