Amalan di Bulan Syawal
September 28, 2009
Konspirasi Syetan dan Nafsu
September 24, 2009
Ada suasana yang hilang setelah Ramadhan berlalu. Ibadah yang dilaksanakan di bulan suci itu terasa mudah dan mengasyikkan tiba-tiba terasa berat untuk ditunaikan. Sebaliknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat kok justru terasa ringan, bahkan menyenangkan? Ada apa gerangan?
Setidak-tidaknya ada dua hal penyebabnya. Pertama, pasca Ramadhan belenggu syetan telah dilepas oleh Alloh. Selama Ramadhan syetan memang dibelenggu hingga ruang geraknya sangat terbatas atau malah tidak bisa bergerak sama sekali. Syetan yang kegiatan utamanya menggoda dan membujuk manusia, saat itu berdiam diri. Manusia berkesempatan untuk berlaku baik seperti pengendara yang sedang menjalankan mobilnya di jalan yang mulus. Mudah dan menyenangkan. Perjalanannya tidak diwarnai tanjakan-tanjakan yang berarti. Jebakan-jebakan maut juga jarang dijumpai. Itulah gambaran orang yang melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Kini hambatan-hambatan itu telah dipasang kembali.
Selembar Bulu Mata
September 18, 2009
Adalah taubat yang dapat mengikis habis segala dosa. Taubat yang dimaksud adalah penyesalan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan semula. Biasanya dikenal dengan istilah taubat nasuha. Artinya, kadang-kadang taubat terucapkan dengan lisan, karena hanya bergema di dalam jiwa. Karena Alloh Maha Penyayang, taubat dengan cara itu pun bisa diterima.
Pernah seorang musafir tersesat di tengah belantara. Ia mencari-cari jalan keluar tak dijumpainya. Maka dengan lemah lunglai ia beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. Keledainya ditambatkan pada salah satu ranting yang menjulur ke tanah. Ia tertidur. Ketika bangun, keledai itu sudah tidak berada di tempatnya. Sedangkan semua bekal perjalanan, termasuk uang, selimut, makanan, dan air minum berada di punggung keledai itu. Ia mencarinya ke sana-kemari. Sampai petang tidak ditemukannya. Ia terus mencari. Hingga jauh malam. Karena lelah dan mengantuk, ditambah perutnya yang sudah kelaparan, ia terjatuh di bawah pohon dan setengah pingsan. Ia merasa ajalnya kian mendekat. Namun, ketika tiba-tiba ia agak siuman, tahu-tahu keledainya telah berdiri di mukanya. Alangkah gembiranya musafir itu. Seolah-olah ia hidup lagi setelah mati. Diciuminya keledai itu seraya berkata, “Ya Alloh, Engkau adalah hambaku, dan aku adalah Tuhan-Mu.”
Yang Berjubah Belum Tentu Saleh
September 16, 2009
Tatkala Nabi Daud as. sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud as., tetapi Nabi Daud as. tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia terus menyampaikan pelajarannya tanpa melirik sedikit pun kepada tamu yang baru tiba itu.
Laki-laki tersebut lantas mengerjakan sembahyang sesuai dengan syariat yang berlaku pada waktu itu. Setelah lama sekali melaksanakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa.
Nabi Daud as. tetap melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberi kesempatan kepada tamu itu untuk berkenalan, atau para muridnya mengambil perhatian kepadanya. Maka semua murid Nabi Daud as. merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap Nabi Daud as. tidak memberikan contoh yang baik.
Menjaring Kedalaman
September 13, 2009
Tatkala Alloh berfirman, “Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka,” sebagaimana tercantum dalam surat Al-Fath ayat 11, kita pun terhenyak tidak mengerti, mengapa Alloh mempunyai tangan? Padahal Ia suci dari kesamaan dengan makhluk-Nya? Bukankah dengan demikian Alloh telah menodai citra kemaha-tunggalan-Nya sendiri?
Tentu saja apabila kita menyerap firman itu melalui penalaran manusia, dan tidak bertolak dari jiwa tauhid yang menyakini akan tidak serupanya Alloh dengan semua makhluk-Nya. Namun, kalau kita kembali kepada akidah tauhid, sudah pasti kita akan tahu bahwa tangan Alloh yang dimaksud-Nya tidak seperti tangan kita.
Begitu pula seandainya kita menerjemahkan bahagia kesufian yang selalu bersayap dengan bahasa kaum awam. Kita akan terjerumus ke dalam salah paham dan naik pitam. Sebab kaum sufi kadang-kadang berbicara dengan pendalaman hati sehingga tidak terungkapkan dengan bahasa lisan sepanjang bahasa lisan itu ditafsirkan dalam citra harfiah.
Yang Lebih Besar dari Samudera, Bumi, Langit dan Dosa
September 8, 2009
Kisah ini diceritakan oleh penyair Jalaluddin Rumi, penyair besar dan sufi dari Parsi yang hidup di Abad ke-13. Cerita ini ada dalam kumpulan karyanya, Masnawi. Yang ditulisnya sampai pujangga itu wafat pada umur 67 tahun.
Kisah alegoris itu berjudul ; Nabi Musa dan Tukang Cuci. Begini ceritanya:
Pada suatu malam, ketika Nabi Musa shalat, dia berdoa meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan orang yang paling kejam dan jadi sumber kemarahan orang banyak.
Keinginan itu dikabulkan Tuhan. Dia mesti pergi ke tepi sungai besok pagi-pagi sekali. Dan orang pertama yang dijumpainya besok itulah orang paling kejam.
Nabi Musa subuh-subuh telah sampai di batang air. Dia menanti, lalu muncul seorang tukang cuci, pendek gemuk orangnya, menggiring keledai. Di punggung keledai itu bertumpuk cucian basah dan berat. Lelaki itu memukuli keledainya dengan tongkat, berkali-kali dan keras seraya berteriak memaki-maki. Tampangnya sungguh kriminal, matanya merah bekas bertanggang larut malam dan mulutnya bau arak. Wajahnya nampak penuh nafsu dan garang.
Kagum Dunia, Lupa Akhirat
September 7, 2009
“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat (as-sama’aaddun ya) dengan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syetan, dan kami sediakan siksa neraka yang menyala-nyala.” (67: 5)
Langit dunia artinya langit yang dekat. Kehidupan dunia artinya kehidupan yang dekat. Memang arti addun-ya menurut ayat di atas ialah ‘dekat’, akhirat artinya akhir. Kehidupan akhirat artinya kehidupan tahap akhir yang jaraknya cukup jauh dari sekarang.
Alloh mengabarkan bahwa bintang-bintang adalah hiasan yang letaknya di langit pertama (dekat). Mafhumnya, Alloh tak menghiasi langit kedua sampai langit ketujuh dengan bintang-bintang itu.
Banyak manusia terpesona dan terkagum-kagum menyaksikan gemerlap bintang yang terlihat dengan mata yang telanjang. Jumlahnya kira-kira tiga ribu buah. Padahal dibalik taburan gemerlap itu, jutaan bahkan miliaran bintang menghuni angkasa langit pertama. Sedikit manusia yang menyakini bahwa di balik tiga ribu itu, terdapat miliaran rahasia yang lain.
Bencana
September 3, 2009
Ketika gempa mengguncang sebuah daerah dan hampir seluruh penghuninya binasa, salah seorang yang selamat bertanya kepada Imam Abu Laits, “Mengapa malapetaka menimpa kami, wahai Tuan Guru? Padahal masyarakat kami sebagian besar beriman kepada Alloh?”
“Karena kalian telah menikahi mayat-mayat, dan anak-anak kalian dilahirkan dari rahim mayat-mayat,” jawab Abu Laits dengan pedih.
“Saya tidak paham, Tuan Guru. Terangkanlah.”
Abu Laits lalu membacakan surah An-Nur ayat 2 dan menjelaskan, “Kaum perempuan di kampungmu adalah para pezina. Dan tidak patut orang-orang beriman menjadikan mereka sebagai istrinya. Sebab, yang pantas mengawini perempuan pezina hanya lelaki pezina juga, atau orang musyrik. Lihatlah apa yang berlangsung di daerahmu sebelum gempa terjadi. Mereka, meskipun sudah menjadi istri yang sah, masih tetap melakukan kegemarannya, berzina dengan lelaki mana saja yang mereka minati.”
Surga ataukah Neraka
September 1, 2009
Orang-orang Khawarij yang mengagungkan pendapat akal bertanya kepada Imam Hanafi, “Di muka terbaring dua sosok jenazah. Yang satu jenazah seorang pria yang mati akibat terlalu banyak menenggak minuman keras. Yang lainnya adalah mayat seorang wanita yang mati bunuh diri setelah merasa dirinya hamil di luar nikah. Ia seorang pezina yang nista. Bagaimanakah nasib mereka di akhirat kelak menurut pendapat Tuan?”
Imam Hanafi balik bertanya, “Nasib macam mana yang Saudara-saudara maksudkan?”
Kaum Khawarij itu menjawab, “Ya. Bagaimanakah kelanjutan perjalanan mereka sesudah mati?”
Imam Hanafi masih juga berkilah, “Apakah kedua orang mendiang itu beragama Yahudi?”
“Tidak,” sahut orang-orang Khawarij.
“Apakah mereka beragama Nasrani?”
“Tidak, “ sanggah mereka dengan tegas.
“Atau mungkin mereka beragama Majusi, penyembah api?”
“Tidak juga.”
“Jadi, beragama apakah mereka?” desak Imam Hanafi.