Amalan di Bulan Syawal

September 28, 2009

Konspirasi Syetan dan Nafsu

September 24, 2009

Ada suasana yang hilang setelah Ramadhan berlalu. Ibadah yang dilaksanakan di bulan suci itu terasa mudah dan mengasyikkan tiba-tiba terasa berat untuk ditunaikan. Sebaliknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat kok justru terasa ringan, bahkan menyenangkan? Ada apa gerangan?

Setidak-tidaknya ada dua hal penyebabnya. Pertama, pasca Ramadhan belenggu syetan telah dilepas oleh Alloh. Selama Ramadhan syetan memang dibelenggu hingga ruang geraknya sangat terbatas atau malah tidak bisa bergerak sama sekali. Syetan yang kegiatan utamanya menggoda dan membujuk manusia, saat itu berdiam diri. Manusia berkesempatan untuk berlaku baik seperti pengendara yang sedang menjalankan mobilnya di jalan yang mulus. Mudah dan menyenangkan. Perjalanannya tidak diwarnai tanjakan-tanjakan yang berarti. Jebakan-jebakan maut juga jarang dijumpai. Itulah gambaran orang yang melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Kini hambatan-hambatan itu telah dipasang kembali.

Read the rest of this entry »

Kemarin secara iseng saya mencoba memasukkan keyword “jasad utuh” digoogle dan hasilnya saya menemukan artikel mirip dengan kisah kaum Nabi Luth as. Pompeii. Ya Pompeii nama sebuah kota di Italia yang mengalami kehancurang seperti kaum nabi Luth as. Berikut tulisannya yang saya ambil dari harunyahya.com setelah memasukkan keyword Pompeii digoogle untuk pencarian lebih lanjut. Pencarian tidak hanya web tetapi images untuk mengetahui gambar-gambar tentang Pompeii. Hasilnya? Cobalah nanti anda akan tahu sendiri.

Pompeii, Kisah Nabi Luth as. Jilid 2

Alqur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah):

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al-Faathir, 35:42-43).

Begitulah, “…sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah…”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.

Read the rest of this entry »

Tingkatan Dunia

June 4, 2009

Dunia itu memiliki 3 tingkatan; tingkatan pertama dunia yang mendatangkan pahala; tingkatan kedua, dunia yang menyebabkan hisab (perhitungan); tingkatan ketiga, dunia yang membaca azab (siksa).[]

Amal Shaleh

May 16, 2009

sujud-01Kita sering mendengar kalimat amal shaleh dalam kehidupan sehari-hari. Amal shaleh, bagaimana sih sebenarnya. Apakah shalat bisa disebut amal shaleh? Puasa Ramadhan yang kita lakukan termasuk amal shaleh? Dan amal-amal ibadah kita yang lain juga amal shaleh? Apakah amal baik juga amal shaleh?

Kata shaleh menurut bahasa artinya lawan dari rusak yang berarti baik. Amal yang baik dengan sendirinya masih belum menjamin bahwa amal tersebut akan diterima Allah ta’ala sebab ia bisa jadi rusak. Contoh haji, shalat, dan shadaqah adalah amal baik. Tetapi, amal-amal itu dan amal-amal baik yang lain pelaksanaannya masih dimungkinkan dibarengi riya’, sum’ah, ujub, dan takabbur. Inilah rahasianya mengapa Allah ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,” dan bukannya berfirman: “Orang-orang yang beriman dan beramal baik.”

Amal shaleh bukanlah sekedar amal baik melainkan dia juga amal yang layak diterima (shâlihun lil qabûl) dan amal yang bebas dari kerusakan (khalisun min kulli fasâd). Ketika suatu amal layak diterima dan bebas dari kerusakan maka amal itu mesti sudah memenuhi kriteria-kriteria diterima yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Dan, ketika Nabi Muhammad sholallahu alaihi wassalam menyatakan bahwa jangan sampai meremehkan amal kebagusan, sekalipun hanya berseri muka saat berjumpa teman atau membuang aral dari jalan. Berarti kelayakan diterimanya amal bukan berdasarkan pada besar dan kecilnya amal itu dan bukan pula pada sedikit dan banyaknya. Lalu?

Kriteria utama diterimanya amal adalah ikhlas. Kisah perempuan pelacur yang memberi minum anjing ternyata amal ikhlasnya itu yang diterima Allah ta’ala. Sahabat Bilal bin  Rabah, suara sandalnya didengar Nabi sholallahu alaihi wassalam di surga sementara ia masih hidup. Ternyata, hal itu dikarenakan keikhlasan amalnya berupa shalat dua rakaat setiap kali selesai berwudhu. Sahabat Muawiyah bin Muawiyah, amal yang diridloi Allah ta’ala berupa bacaan surat Al Ikhlasnya di setiap shalat fardu. Semua contoh  ini membuktikan bahwa ikhlas adalah kriteria pokok diterimanya amal.

Ikhlas menuntut suatu amal dilakukan: 1) lillahi ta’ala (untuk Allah ta’ala semata), 2) dengan cara ittiba’ (mengikuti jalur syara’), dan 3) sebisanya dilakukan secara istiqomah. Insya Allah bila amal dilakukan lillahi ta’ala, secara istiqomah, dan dengan menyertakan ittiba’ maka amal itu akan bisa dinyatakan sebagai amal shaleh.

Setiap muslim seharusnya mempunyai amal shaleh yang diandalkan bakal diterima Allah ta’ala. Selanjutnya, amal shaleh menurut ittifaq (berwasilah) kepada Allah ta’ala seperti pernah dilakukan oleh tiga perantau dari bani Israil yang terjebak di dalam gua. Dengan bertawassul melalui amal-amal shalehnya, ketiga manusia muslim itu diberi Allah ta’ala jalan keluar dari gua yang tertutup itu.

Kebiasaan membaca Al Fatihah di setiap memulai acara dan sebagainya yang dilakukan oleh orang banyak itu tiada lain merupakan refleksi dari tawassul dengan amal shaleh. Bagaimana mungkin membaca Ummul Kitab itu bukan merupakan amal shaleh. Bukankah setiap hari seorang muslim beristiqomah membacanya minimal tujuh belas kali? Sekarang, tinggal apakah ia membacanya dengan ikhlas atau tidak.

Wallahu ‘alam.

Seri Siroh Nabawiyah: Sang Terpuji
Sekilas tentang Kehidupan Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad Saw. lahir pada hari Senin di bulan Rabi al-Awwal tahun Gajah. Ada yang mengatakan pada tanggal dua, ada yang mengatakan pada tanggal tiga dan ada pula yang mengatakan tanggal dua belas. Pendapat yang terakhir adalah yang paling masyhur di kalangan ulama.

Hari Senin adalah hari yang penuh berkah. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (bin Hanbal), Ibnu ‘Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. lahir pada hari Senin, diangkat menjadi nabi pada hari Senin, berangkat hijrah dari Makkah ke Madinah pada hari Senin, dan mengangkat Hajar Aswad pada hari Senin juga.” Sementara riwayat yang lain mengatakan bahwa beliau lahir dalam keadaan sudah berkhitan dan tali pusarnya putus.

Pada malam kelahirannya terjadi keajaiban dan keanehan, antara lain: banyak berhala yang jatuh ambruk dari tempatnya berdiri.

Rumah Tempat Kelahiran NabiPada saat kelahirannya tampak cahaya terang benderang di cakrawala hingga menyinari istana-istana di negeri Syam.

Istana Kisra (Maharaja Persia) mengalami kegoncangan hebat hingga tiang-tiang penyangganya berjatuhan. Sedangkan api sesembahan kaum Majusi di Persia mendadak padam pada malam itu, padahal selama lebih dari 1000 tahun sebelumnya tidak pernah padam. Bersamaan dengan itu surut pula air danau. (bersambung)

Jejak-Jejak Insan Kamil

March 12, 2009

Nabi Muhammad Saw.Agama Islam diakui sebagai agama yang istimewa. Ia dideklarasikan sebagai agama paripurna yang mereduksi dua agama langit sebelumnya. Ia unggul dan tidak ada yang menggunguli. Ia tidak dibatasi oleh waktu, tempat, atau jenis masyarakat. Agama langit yagn diturunkan dari Allah Swt. ini berciri khas lurus, besar, agung, sempurna, abadi, dan universal. Allah Swt. berfirman yang artinya:

Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Q.S. Al Maidah: 3

Agama yang agung dan sempurna ini tentu hanya mampu dibawa oleh seorang utusan yang agung dan sempurna pula. Mustahil ia dibawa oleh manusia yang lemah, cacat, dan kerdil. Di sinilah secara reflek kita mengakui bahwa Rasulullah Muhammad Saw. sebagai pembawa agama tersebut adalah manusia istimewa, tiada banding, sempurna segala-galanya. Tanpa cela. Seakan-akan beliau produk khusus bukan seperti kebanyakan manusia. Ibarat bebatuan, beliau adalah intan. Maka pantas beliau menyandang predikat Insan Kamil (sosok manusia yang sempurna). Dalam syair dikatakan:

Engkau diciptakan bebas dari segala cela. Seakan-akan engkau diciptakan seperti apa yang engkau kehendaki.

Read the rest of this entry »

Problem serius para mahasiswi yang merasa keliru memilih jurusan.

Nurul memang tak lebih seorang mahasiswi. Kuliah tingkat akhir pada jurusan Teknik Fisika di sebuah perguruan tinggi negeri, gadis manis berjilbab ini sedang bingung. Apa pasal? Seorang pria telah datang melamar, mengajaknya hidup berumah tangga seperti akhir-akhir ini diidamkannya! Lantas apa yang membuatnya bingung? Tak lain adalah syarat yang diajukan sang jejaka, bahwa kelak Nurul harus 100% menjadi ibu rumah tangga. Tak usah payah ikut bekerja mencari nafkah, yang lebih utama adalah mengurus rumah, melayani suami, dan yang terpenting mendidik anak-anaknya. Nurul bergidik membayangkan semua itu. Bukannya karena tidak setuju, tetapi lantaran ia tidak yakin, bisakah ia memenuhi harapan suaminya kelak.  Nurul memang bukan tipe wanita karir, bukan pula tipe wanita materialis. Dia sadar sepenuhnya, bahwa tugas utama wanita memang mengurus keluarga dan membina keturunan. Bahkan sebagai aktivis masjid kampus, ia sempat menyuntikkan pendapat ini kepada adik-adik kelas lewat keahliannya berbicara di podium.

Kalau Nurul memilih jurusan Teknik Fisika, ia sadar bahwa ia telah salah pilih. Tetapi karena sudah terlanjur, jurusan yang tergolong ‘keras’ inipun ditempuhnya hingga kini. Setumpuk keraguan masih membalut erat di hati Nurul. Bisakah ia menjadi ibu rumah tangga yang baik kelak? Selama ini ia belum pernah merasa mencintai pekerjaan masak-memasak. Bertahun-tahun hidup di kost, Nurul selalu menggantungkan pilihan menu sehari-hari pada makanan rantangan yang di pasangnya 2 kali sehari. Bahkan jika saatnya ia pulang kampung, pekerjaan yang membuatnya jengkel adalah membantu ibu memasak di rumah. Beramis-amis menyisik ikan sering membuatnya merasa mual. Menggoreng ikan bandeng yang selalu memercik-mercikkan minyakpun membuatnya sebal. Sekedar menghaluskan bumbu dan memarut kelapa saja sudah membuatnya mengomel tak sabar, yang namanya sayur lodehpun ia tak tahu bumbunya. Sementara lidahnya terasa tak lagi peka merasakan asin tidaknya masakan. Lantas bagaimana? Nurul amat takut betapa tersiksanya kelak,  tatkala ia harus berjam-jam berada di dapur yang amat menyebalkan.

Read the rest of this entry »

Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab mempunyai kebiasaan langka. Ia suka melakukan perjalanan malam untuk tafakkur, merenungkan kehidupan yang seharusnya dijalani dan senyatanya dialami, khususnya di negeri Islam yang ia pimpin. Karena kesibukannya denga tugas penghambaan dan kekhalifahan, perjalanannya harus diatur sedemikian rupa, dipilihnya sehabis shalatullail hingga menjelang subuh. Karena dua puluh empat jam harus ia bagi sedemikian rapi dan telitinya, hingga tiada yang terbuang percuma.

Suatu hari, di tengah perjalanan, Umar mendengar sayup suara perempuan dari arah rumah tepi jalan. Ia mendekat, ternyata dua wanita sedang berbincang serius, seorang ibu dan anaknya. Amirul Mukminin memasang telinga baik-baik., Rupanya sang ibu menyuruh anaknya mencampur susu yang hendak dijual dengan air. Alasannya, orang lain juga melakukan begitu juga. Tapi si anak menolak dengan tegas, karena ia yakin, meski Amirul Mukminin yang melarang perbuatan itu tidak melihat, Allah yang menciptakan Amirul Mukminin pasti menyaksikannya.

Read the rest of this entry »

Ketika Namrudz, tiran dzalim yang berdaulat penuh saat itu, pada klimaks kemarahannya setelah menyaksikan dengan kepalanya sendiri berhala-hala pujaan bangsanya dibantai habis oleh Ibrahim a.s., maka seluruh penduduk negeri diinstruksikan untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Ia kemudian memerintahkan serdadu dan algojonya membakar hidup-hidup si biang keladi, Ibrahim. Dengan wajah yang tenang, langkah yang tegap, dan sikap yang simpatik, Ibrahim melangkah menuju tiang eksekusi, tanpa penyesalan, tanpa permohonan amnesti atau grasi. Ia hanya berucap: Hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl.

Ucapan Ibrahim yang penuh kepasrahan diri disambut Allah dengan memberikan instruksi kepada api yang berkobar membumbung tinggi ke angkasa itu dengan qoul singkatnya:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Q.S. al-Anbiya’: 69. Read the rest of this entry »