Mantera Mengusir Pencuri

April 16, 2009

Merasa sudah kehabisan cara untuk menyadarkan masyarakat sekitarnya agar tidak lagi mempercayai tahayul-tahayul dan syirik, seorang kyai mengumpulkan mereka lantasa berkata, “Sudara-saudara, apakah saudara-saudara ingin agar rumah kalian selamat tidak dimasuki pencuri?”
“Ingin…” jawab yang hadir.
“Saya punya mantera yang manjur, yaitu kata-kata keramat yang dapat membuat takut pencuri,” ujar kyai. “Maukah Saudara-saudara menghafalnya?”
“Mau…!”
“Ayo kita baca ramai-ramai: “Hong Wilaheng Kejebreng Gombreng.”
Orang-orang pun dengan gembira menghafalkan kalimat mantera yang aneh itu.

Kemudian kyai melanjutkan, “Manteranya memang gampang, tetapi harus dikerjakan dulu syaratnya, yaitu Saudara-saudara harus datang lagi kemari membawa ayam panggang dan nasi, tiap orang satu ekor dan sebakul nasi putih.”

Karena mereka sudah begitu mendalam mempercayai kesaktian jimat-jimat, maka keesokan harinya mereka menyerahkan semua syarat yang diminta itu kepada kyai. Orang alim itu menyuruh beberapa muridnya agar seluruh bawaan mereka diserahkan dan dibagikan kepada para penghuni sebuah panti asuhan anak-anak terlantar.

Sesudah itu kyai berkata pula, “Nah, sekarang syaratnya sudah terpenuhi. Kini tinggal mendengarkan bagaimana cara-cara mengamalkan mantera itu. Hong Wilaheng Kejebreng Gombreng harus dibaca sesudah isya sambil mengelilingi rumah tiap malam.”
“Berapa kali keliling?”
“Terserah kemampuan masing-masing,” jawab sang kyai.
“Apa betul-betul manjur itu?” tanya mereka ragu-ragu.
Kyai menyahut, “Manjur sekali, asalkan kalian membacanya keras-keras sambil mengitari rumah dari jam sembilan malam hingga jam 4 pagi.”

Mendengar penjelasan kyai tadi, masyarakat mulai ribut karena tata cara mengerjakannya begitu berat. Tentu saja pencuri tak akan berani masuk sebab melaksanakan tata cara itu sama halnya dengan meronda rumah sendiri sepanjang malam. Kalaupun ada pencuri masuk, jelas ia pencuri tolol atau nekat.[]

Sendau Gurau Nabi saw.

April 1, 2009

Seorang nenek lanjut usia datang kepada Nabi saw. Dengan sedih dan khawatir ia berkata, “Ya Rasulullah, apakah saya dapat masuk surga?”
Nabi mengerutkan kening, lalu dengan suara sungguh menyesal dia menjawab, “Maaf, Nek, di surga tidak ada orang tua”.
Maka nenek-nenek itupun menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya sebagai orang tua. Tetapi Nabi cepat menyambung ucapannya, “Maksud saya bukan nenek tidak akan masuk surga”.
“Jadi?”
“Nenek bakal masuk surga, tetapi di sana nenek akan muda lagi”, ucap Nabi melegakkan.
Maka nenek tua itu pun tertawa gembira membayangkan nasibnya yang akan jadi perawan kembali di surga. Begitulah cara Nabi bercanda. Sekedar menyegarkan suasana, namun tetap menjaga agar selorohnya dapat membahagiakan orang lain, bukan menyakiti atau menyinggungnya.

[]

Kikir

March 17, 2009

Sudah lama pengemis itu berdiri di depan sebuah rumah gedung yang mirip istana. Karena merasa terganggu, yang punya rumah menyuruh pelayannya untuk mengusir pengemis tersebut. Tetapi pengemis tersebut tidak bergeming dari tempatnya. Ia menjawab, “Saya datang tidak untuk disuruh pergi begitu saja, Saya datang untuk bertemu yang punya rumah ini. Saya adalah tamu, dan tamu harus dihormati, kalau tidak mau didatangi tamu, jangan bikin rumah ditepi jalan”.

Read the rest of this entry »

Seorang penunggang kuda yang masih muda belia tampak begitu kelelahan dan kehausan. Karena itu, tatkala tiba di suatu wadi yang bening airnya dengan tanaman rindang di sekelilingnya, penunggang kuda itu menghentikan kudanya dan turun di tempat tersebut.

Ia berbaring, lalu meletakkan sebuah bungkusan di sampingnya. Matahari sangat terik, namun di situ amat teduh, sehingga ia jatuh tertidur pulas tanpa disengaja. Ia tidur lelap setelah memuaskan dahaganya dengan menghirup air bening di wadi tersebut.
Ketika ia terjaga, matahari mulai agak condong. Padahal ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit keras. Nampaknya ia anak orang yang kaya-raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah dan kudanya yang mahal.

Pemuda itu terkejut sekali menyadari hari telah menjelang sore. Maka dengan tergesa-gesa ia melompat ke punggung kudanya. Bungkusannya tertinggal sebab ia hanya berpikir untuk segera tiba di rumah, akan menunggui ibunya yang sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal dibunuh orang beberapa tahun berselang.

Read the rest of this entry »