Hikmah

June 23, 2009

Sebagian dari tanda matinya hati adalah tidak merasa sedih apabila kamu meninggalkan suatu amal perbuatan baik dan tidak menyesal apabila kamu berbuat suatu pelanggaran dosa.

Ibnu Athoillah, Al-Hikam.

Mimpi

February 7, 2009

Sebelum di rumahnya ada tivi berwarna yang kreditannnya baru lunas sebelas bulan lagi, Boim tidak pernah habis pikir, mengapa Tuhan mengatakan, “Kalian telah dilenakan oleh berbanyak-banyak.” Sebab, ketika itu Boim sudah merasa cukup asal perutnya terisi, istrinya agak kenyang, dan kedua anaknya tidak menangis kelaparan. Barangkali lantaran pekerjaannya sebagai pedagang keliling telah menguras tenaganya sampai ludas, ia tidak pernah mempunyai waktu untuk bermimpi. Dan ia menikmati alangkah tenang kehidupannya meskipun rumahnya mirip gubuk gelandangan dan penghasilannya jauh dari mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Apalagi jika melihat istrinya pagi-pagi sudah bangun dan mencuci pakaian bertumpuk-tumpuk kepunyaan para pelanggan, sungguh tidak ada yang lebih mulia di dunia ini kecuali Rahimah. Ia selalu merasa rindu kepada istrinya, kepada kedua anaknya, walaupun sepulang kerja ia tidak pernah ke mana-mana. Lalu sambil menunggu mata terpejam, seraya berbincang-bincang di tempat tidur dengan Rahimah, ia mendengarkan uyon-uyon dari radio butut dua band peninggalan ayahnya. Oh, seakan dunia ini miliknya sendiri.

Read the rest of this entry »

Andaikata Lebih Panjang

January 5, 2009

Seperti yang telah biasa dilakukan Beliau, ketika salah satu sahabat meninggal dunia, Rasululloh ? mengantar jenazahnya sampai kuburan. Dan pada saat pulang, Beliau menyempatkan singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap tawakal dan sabar menerima musibah itu.

Kemudian Rasululloh bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?” Istrinya menjawab,”Saya mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal.”
“Apa yang dikatakannya?”
“Saya tidak tahu, ya Rasululloh, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul-maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”
“Bagaimana bunyinya?” desak Rasululloh.
Istri yang setia itu menjawab,”Suami saya mengatakan’Andaikata lebih panjang lagi….Andaikata yang masih baru….Andaikata semuanya….’ Hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya.

Read the rest of this entry »

Pernak-pernik di Musholla

December 24, 2008

Orang-orang itu memang baru bertobat dan sedang tekun belajar sholat. Mereka mulai mengerti bagaimana seharusnya mengerjakan sholat yang benar. Salah satu di antaranya baru hari itu ikut berjamaah dengan gurunya. Namanya Paul.

Ketika imam garuk-garuk kepada sesudah bangun I’tidal dari rukuk pada rakaat kedua karena digigit nyamuk, Paul pun ikut garuk-garuk kepala. Disangkanya mengikuti gerakan imam termasuk juga kalau imam garuk-garuk kepada ia harus turut melakukan yang sama.
Tentu saja perbuatan ini keliru. Maka makmum di sebelahnya mengingatkan,”Hai Paul. Tidak usah ikut garuk-garuk kepala.”
Makmum lainnya lalu menegur,”Kamu sembahyang kok ngomong. Batal.”
Makmum ketiga juga menyalahkan,”Kamu pun sudah batal.”

Read the rest of this entry »

Dunia

December 7, 2008

Kepada para hawari-nya Nabi Isa as. pernah bertanya, “Siapakah d antara kalian yang sanggup mendirikan bangunan di atas buih yang mengapung di lautan?”

Mereka saling memandang dan tercetus sebuah kebingungan, “Siapa pula yang dapat melakukannya?”

“Tidak seorang pun,” jawab Nabi Isa. “Karena itu, jauhkanlah dirimu dari mencintai dunia secara berlebihan. Dan jangan kamu anggap dunia ini  sebagai negerimu yang sejati. Sebab dunia hanyalah tempat persinggahan dalam perjalanan jauh dan panjang menuju alam kejadian.”

Read the rest of this entry »

Keberanian Yang Bijaksana

December 1, 2008

Kiai Haji Agus Salim adalah tokoh Islam kelas dunia. Ia sangat bangga menjadi warga bangsa Indonesia dan amat yakin dengan keislamannya. Pada waktu itu berkunjung ke Tokyo ia mengucapkan salam Islam

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” kepada yang orang-orang yang menyambut kedatangnya.
Sudah barang tentu sebagian pengikutnya bertanya keheranan, “Tidakkah haram hukumnya mengucapkan salam Islam kepada orang-orang non Islam?”

Read the rest of this entry »

Uzlah Kaum Hawa

November 26, 2008

Petang itu, selepas menunaukan shalat ashar Rasulullah saw. duduk-duduk di dalam masjid bersama sejumlah sahabat. Tiba-tiba terdengar hentakkan kaki-kaki unta menjejak tanah di luar masjid. Seperti tergesa-gesa unta itu dihentikan mendadak. Lalu penunggangnya melompat sigap dan langsung memburu ke dalam masjid.

Read the rest of this entry »

Buta

November 22, 2008

Buta

Buta

Tersebut dalam tarikh ada seorang raja bernama Bahram, Ia berhati lembut dan budiman sehingga rakyatnya cinta kepadanya, Penduduk hidup makmur, tidak ada yang berbuat curang atau mencuri karena semua kebutuhan mereka terpenuhi. Raja sendiri belum pernah menjumpai seorang pun yang hidup kekurangan.
Pada suatu hari raja ingin melakukan peninjauan pribadi secara tersamar. Ia berangkat sendirian menaiki kudanya yang dihiasi pelana indah dengan ronce-roncenya berujung emas.
Di suatu padang ia ingin buang air kecil. Tatkala ia sudah turun dari kudanya, ia bingung hendak diikat di mana binatang tunggakannya itu lantaran tidak ada sebatang phon pun yang berdiri, semua hanya berisi rumput yang menghijau.

Read the rest of this entry »

Terlalu Banyak Sandiwara

November 21, 2008

Seorang tukang kredit berhenti di pintu sebuah rumah. Seorang ibu keluar, menawar sebuah panci. Tukang itu berkata dengan tegas, “Harganya duapuluh ribu, bayar dua bulan”.
Si ibu mengomel, “Di toko hanya sepuluh ribu.” Yang sebetulnya, dia belum pernah lihat panci itu di toko.
Si tukang kredit menjawab, “Siapa bilang? tujuhbelas ribu harga toko.” Dalam hati, tukang kredit itu mengaku, “Saya ambil dari toko Bang Muin dengan harga duabelas ribu.”
Read the rest of this entry »

Yah…Iman pulang saja!?

October 15, 2008

Kalimat itu muncul di hari kedua dia mengikuti ujian sisipan di sekolahnya. Sedikit terkejut. Tidak biasanya dia seperti ini. Bahkan tadi pagi dia semangat sekali mengikuti ujian, malamnya memang dia belajar dengan saya hingga larut. Seakan tentara maju perang, amunisi yang dibawa lengkap. Kelengkapan inilah yang membuat dia bersemangat sekali.

Tepat jam 9.30 pagi itu dia berkata seperti di atas. Saya sudah mengira, pasti dia tidak banyak yang bisa dijawab soal-soal yang dihadapinya. Setelah bertanya kesana kemari.”Dibujuk dengan bermacam-macam barulah ia mengeluarkan uneg-unegnya. “Soal yang keluar tidak ada dibuku semua yah!” demikian ia berujar. Iman tidak bisa mengerjakan, hanya separo, bahasa jawanya tuh susah banget”, lanjut iman.

Saya sudah memahami, Iman lagi dilanda stres akibat ujian yang tidak dapat ia jawab dengan baik. Apalagi soal-soal yang muncul tidak pernah ia jumpai di saat belajar di kelas maupun di buku yang menjadi pegangan belajar.

Saya telepon umminya agar membujuk dia tetap mau ikut ujian hingga selesai.

Iman, sing sabar yo leh.