Banyak hal yang indah berbau religius hanya kita jumpai di bulan Ramadhan. Tarawih, tadarrus Al-Qur’an dan tentunya menahan lapar dan dahaga yang kita rindukan. Di desa apalagi listrik belum masuk sangat kental nuansa religius Ramadhan. Riuh rendah anak-anak bertarawih dan suara tadarrus mereka bagaikan lebah mengema seantero desa.

Apakah kita termasuk yang merindukan kehadiran dan suasana religius di bulan Ramadhan? Jika ya, inilah keindahan bulan yang sangat kita rindukan itu sedang bersama kita. Inilah detik demi detik waktu, kita lalui bersamanya. Inilah masa-masa bahagia, masa-masa semakin dekatnya jiwa bersama Alloh, masa-masa kedamaian hati yang belum tentu kita temui saat ia tidak bersama kita lagi.

Hiruplah dalam-dalam udara malam-malamnya.Hiruplah dalam-dalam udara sahurnya, Kita kini sedang berada pada hari-hari perpisahan yang sangat memilukan. Perpisahan dengan bulan mulia yang telah hadir bersama seluruh keindahan dan keistimewaannya bersama kita. Perpisahan dengan bulan terindu yang keutamaanya tak dapat dikalahkan oleh apapun yang terindah dalam hidup.

Jika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah dalam bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang melakukan ibadah wajib di bulan selain Ramadhan. Dan barangsiapa melakukan ibadah wajib di bulan Ramadhan maka ia seperti orang yang melaksanakan 70 ibadah wajib di selain bulan Ramadhan.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Maka, berpisah dengan bulan ini berarti kita meninggalkan kesempatan meraih pahala kebaikan yang berlipat-lipat.

Read the rest of this entry »

Kepompong Ramadhan #8

Betapa indahnya hidup ini, bila kita memiliki fasilitas duniawi yang membuat kita leluasa melakukan amal-amal shalih. Betapa nikmatnya hari-hari yang kita lewati, jika amal-amal taat yang kita inginkan bisa terlaksana tanpa hambatan kesulitan dalam hidup. Duhai senangnya andai kita bisa menebar kebaikan dan kesenangan kepada banyak orang yang memerlukan bantuan, karena kita sudah tidak terhimpit oleh beban kekurangan harta.

Kita tidak sedang membahas bahwa kata ‘bila’,’jika’ dan ‘seandainya’ yang membuat kita melambungkan khayalan, adalah kata-kata dari setan. Tapi kita tengah membicarakan bahwa bagaimanapun kata-kata ini ada dan mungkin juga kerap terlintas dalam benak pikiran kita. Karena, memang indah dan nikmat membayangkan banyak keinginan duniawi kita tercapai. Apalagi bila keinginan-keinginan duniawi itu diletakkan dalam kerangka ingin melakukan amal-amal shaleh dan menyebarkan kebaikan kepada orang banyak. Kita merasakan sulit mengecap keindahan beribadah tanpa kecukupan materi yang memang kita perlukan. Hati kita akan sempit, jiwa kita gelisah, jika kebutuhan-kebutuhan duniawi kita tak terpenuhi. Itulah kehidupan. Itulah dunia kita.

Ingin sekali bila kita berada dalam keadaan sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallhu ‘alahi wasalam, “Tidak mengapa kekayaan bagi orang  yang bertakwa pada Alloh. Tapi kesehatan bagi orang yang bertakwa pada Alloh adalah lebih baik daripada kekayaan. Dan jiwa yang baik termasuk nikmat yang paling besar.” (HR. Bukhari). Atau juga sabdanya yang disampaikan Amr bin Ash. “Ni’mal maalu shaalih lil mar-I shaalih.” (HR. Bukhari). Sebaik-baik harta yang baik adalah milik orang baik.

Semoga Alloh subhana wata’ala memujudkan keinginan-keinginan baik itu. Semoga Alloh subhana wata’ala memberi kekuatan kita untuk bertahan, tidak terhempas dan tidak terjerat oleh tarikan kuat dunia hingga menyebabkan kita letih menaiki tangga-tangga akhirat. Karena kita juga mengetahui nilai dan harga dunia ini. Rasulullah shallallhu ‘alahi wasalam pernah melewati seonggok bangkai kambing yang sudah berbau dan menjijikan. “Dunia tidak lebih baik dari bangkai ini,” kata beliau. Pada kali yang lain, Rasul juga pernah mengatakan bahwa harga dunia tak lebih dari sayap seekor nyamuk. Apa nilai bangkai binatang yang baunya sudah menusuk hidung dan dagingnya sudah membusuk? Apa harga sayap seekor nyamuk? Tapi seperti itulah Rasulullah mengibaratkan dunia yang kita hidup di dalamnya sekarang ini.

Dunia ini adalah tangga kita menuju akhirat. Ia adalah terminal persinggahan yang akan mengantarkan kita pada akhirat. Ia adalah sawah ladang untuk panen di saat kita berada di alam akhirat. Ia adalah bagian dari fase-fase hidup yang harus dilewati sebelum kita sampai ke akhirat. Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan kita menyikapi kondisi hidup di dunia secara wajar. Meski dunia harganya tak lebih dari seonggok bangkai dan sayap nyamuk, tapi menyikapi dunia dengan benar juga termasuk nilai-nilai yang diajarkan.

Bacalah catatan sejarah yang ditinggalkan para salafushalih tentang sikap mereka menyiasati duni. Sa’ad bin Musayyib seorang tokoh generasi Tabi’in yang disegani karena kedalaman ilmunya, saat menjelang wafat ia meninggalkan banyak dinar. Menjelang meninggal ia mengatakan, “Ya Alloh, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku mengumpulkan harta tidak lain untuk memelihara agamaku, untuk menyambung persaudaraanku, memelihara kehormatanku, menunaikan hutangku. Tak ada kebaikan bagi orang yang mengumpulkan harta kecuali untuk memelihara kehormatannya, menyambung silaturahmi, menunaikan hutang dan melindungi agamanya.” Tak berlebih juga jika Sufyan Ats Tsauri ra. Mengatakan, “Harta pada zaman ini adalah senjata bagi orang beriman.” (Mausu’ah Rasa-il Ibnu Abi Duniya, 2/42)

Sa’id bin Musayyib bukanlah orang kaya raya. Ia hanya seorang pedagang yang kebetulan memiliki sejumlah harta benda menjelang wafatnya. Perkataan Sa’id bin Musayyib menandakan bagaimanapun ia tetap memendam gelisah karena memiliki harta benda dunia itu. Karenanya ia mengadukan doa pada Alloh seperti yang dikatakannya itu.

Begitu juga dengan Malik bin Dinar. Suatu ketika ia membeli beberapa jenis kurma yang agak banyak. Orang-orang yang melihatnya heran, karena Malik bin Dinar dikenal sebagai orang yang banyak beribadah dan biasanya sangat minim perhatiannya dalam soal makanan. Seseorang bertanya padanya, “Apakah ini wahai Abu Yahya –panggilan untuk Malik bin Dinar-? Ia menjawab, “Ini adalah puasa dan untuk shalat.” (Mausu’ah Rasa-il Ibnu Abi Duniya, 2/45)

Ada pula sikap salafushalih yang lain dalam menyikapi harta dunia. Thalhah bin Ubaidillah suatu saat memasuki rumahnya dengan muka sedih. Istrinya Sa’ad binti Auf bertanya, “Apa yang membuat murung?” Thalhah menjawab, “Aku mengumpulkan banyak harta.” Istrinya yang sudah banyak mengenal karakter dan sifat Thalhah mengatakan, “Kalau begitu kirim dan bagi-bagilah harta itu kepada kaummu.” Thalhah segera keluar rumah dan membagi-bagikan hartanya itu kepada kaumnya. Thalhah bin Ubaidillah memang terkenal orang yang sangat dermawan. Istrinya bercerita, bahwa pernah dalam satu hari Thalhah membagi-bagikan sekitar 100 ribu dirham. Istrinya mengumpulkan uang itu di bahan pakaian yang dikenakan Thalhah hingga akhirnya bagian tengah pakaiannya sobek karena terlalu berat. (Mausu’ah Rasa-il Abi Duniya, 2/46)

Tapi kita tak ingin ada harta kita menetes untuk melawan keridhaan-Nya. Jangan sampai ada bagian kecil dari rizki Alloh itu menjadi bagian dari kedurhakaan kita kepada-Nya. Karena prinsip kita adalah seperti perkataan Sa’id bin Jabir saat ditanya apa yang dimaksud menyia-nyiakan harta. Sa’id mengatakan, “Menyia-nyikan harta adalah jika Alloh memberi rizki harta yang halal lalu engkau infakkan untuk yang diharamkan Alloh.”

Berusahalah terus, bekerja. Sebab di sana ada sebagian nafas ibadah kita.[]

Kepompong Ramadhan #7

Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan muslim)

“Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang”. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati untuk itu anda hendaknya telah berhenti dari makan dan minum beberapa menit sebelum terbit fajar, agar anda tidak ragu-ragu. Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur” (HR. Al Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi)

Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci. Manfaatkan bulan ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan di dalamnya, yakni membaca Al Quran.

“Sesungguhnya Jibril alaihis salam selalu menemui Nabi shallallahu alaihi wa salllam untuk membacakan Al Quran baginya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu)

Dan pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita. Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al Bukhari)

Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab yang sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, ia jangan anda hadapi dengan perbuatan serupa. Nasehatilah dia dan tolaklah dengan cara yang lebih baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kamu berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. (HR. Al Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan)

Ucapan itu dimaksudkan agar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya. Disamping, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.

Hendaknya anda selesai dari puasa dengan membawa takwa kepada Allah, takut dan bersyukur kepada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya. Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah takwa, sebab Allah berfirman: “Agar kamu bertakwa”(Al-Baqarah: 183).

Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

“Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa”.

Hendaknya makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram pada selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang haram. Perbanyaklah bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika di bulan Ramadhan.

Ucapkanlah Bismillah ketika kamu berbuka seraya berdo’a:

“Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Semoga Alloh SWT selalu memberkahi dan meridloi jalan hidup kita semua, amin yaa robbal’aalamiin.

Satu Agama Samawi

August 23, 2010

Seri Kepompong Ramadhan #6

Ada perbedaan yang besar antara nabi atau rasul dengan filosof besar atau tokoh masyarakat terkemuka. Filosof besar memiliki sekte dan alirannya sendiri. Itulah sebabnya di dunia ini selalu ada sekian banyak aliran filsafat. Sedang para nabi, mereka justru saling membenarkan atau memperkuat dan tidak pernah bertentangan. Seandainya seorang nabi hidup di zaman dan lingkungan nabi yang lain, dia tentu akan mendakwahkan juga norma hukum dan norma perilaku yang didakwahkan oleh nabi yang lain itu. Al-Qur’an suci dengan tegas menyatakan bahwa nabi-nabi itu merupakan satu rangkaian tunggal. Nabi-nabi sebelumnya meramalkan nabi-nabi belakangan, dan nabi-nabi belakangan mengakui dan menerima nabi-nabi sebelumnya.

Al-Qur’an menyebut agama Ilahi (samawi) yang dibawa para nabi tersebut adalah Islam, dan menggambarkannya sebagai suatu proses berkelanjutan sejak dari Nabi Adam as hingga terakhir, Nabi Muhammad saw. Istilah Islam merupakan kata yang paling baik, cocok, dan indah untuk menggambarkan karakter agama Allah swt ini. Itulah sebabnya dalam Al-Qur’an suci dinyatakan:

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. ” (Q.S. Ali Imran: 19)

Read the rest of this entry »

Seri Kepompong Ramadhan #5

Menurut Ali bin Abi Thalib ra., sabar dibagi menjadi tiga macam; yaitu (1). Sabar dalam ketaatan, yakni menahan kesusahan dan kesukaran dalam mengerjakan amal ibadah, (2). Sabar dari kemaksiatan, yaitu menahan diri dari mengerjakan kemasiatan, kemungkaran dan kedurhakaan, (3) sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan, yaitu tabah, tidak mengeluh serta tidak berputus asa atas musibah dan berbagai penderitaan yang menimpanya.

Tanda seseorang dikatakan sabar adalah tidak mengeluh atas sesuatu yang menimpanya, ikhlas dan ridha dalam menjalankankan ketaatan kepada Alloh subhana wata’ala serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama.Itulah yang disebut dengan shobrun jamil (sabar yang indah). Sabar ketika dinina pribadinya yang akan memunculkan ghodlob (marah)nya, sabar ketika dikaruniai harta melimpah dengan mendistribusikan harta tersebut kepada yang hak, sabar dalam kemiskinan adalah tidak mengeluh serta menahan diri dari meminta-minta, sabar dalam dakwah adalah tetap berpegang teguh dan istiqomah dalam menyampaikan kebenaran Islam tanpa harus menggadaikan dirinya dengan jabatan, harta dan popularitas, sabar dalam musibah adalah tidak mengungkapkan keluh-kesahnya serta ridha terhadap apa yang telah menimpanya.

Berbagai macam bentuk sabar tersebut tampaknya terkandung dalam hikmah puasa. Oleh karena itu, bulan romadlon disebut dengan bulan kesabaran. Di sana dibutuhkan aktifitas batin atau ruhiyah yang kuat untuk menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa atau dapat merusak pahalanya. Kita dituntut untuk menahan diri dari memandang yang tidak halal, menahan diri dari ucapan yang dusta, kotor dan dapat menyakitkan orang lain, menahan diri dari melangkahkan kaki kepada tempat-tempat maksiat, menahan diri dari aktifitas yang tidak bermanfaat, menahan diri dari perasaan hasud, dengki, su’udhon, ujub dan sombong.

Read the rest of this entry »

Arus Dunia Itu Begitu Kuat

August 19, 2010

Seri Kepompong Ramadhan #4

Tak satupun orang yang mau merugi. Tak mungkin ada orang yang senang memperoleh kesengsaraan dan penderitaan. Apalagi bila kerugian, kesengsaraan dan penderitaan itu sifatnya abadi dan selama-lamanya. Tak ada juga orang yang mau menolak kesempatan hidup senang dan penuh kenikmatan. Apalagi bila keuntungan, kesenengan dan kenikmatan itu bersifat abadi.

Ya. Inilah yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim, “Bagaimana orang yang berakal mau menjual surga dan segala isinya dengan nafsu syahwat yang kenikmatannya hanya sebentar?”

Alangkah indahnya komentar seorang zahid, Yahya bin Mu’adz tentang hal ini saat ia mengatakan, “Pembangkangan terhadap Alloh itu tidak mulia dan mengutamakan dunia atas akhirat itu adalah tidak bijaksana.” Maksudnya adalah karena orang yang hina dan bodoh selalu melihat pada masalah syahwat saja, tapi tidak pada akibat yang ditimbulkannya.

Jangan terjebak jatuh mengikuti daya tarik duniawi yang memang sudah sangat menggiurkan itu. Ingatlah, bahwa yang akan lenyap itu disegerakan pemberiannya oleh Alloh subhana wata’ala. Dunia ini tidak abadi, dan orang yang memilihnya dengan mengabaikan keakhiratan, bisa aja diberikan oleh Alloh sebagai kenikmatannya. Tapi hal itu akan berakibat mengharamkan kelezatan akhirat yang abadi.

Syaikh Muhammad Al Maraghi menafsirkan firman Alloh subhana wata’ala surat Al Isra ayat 18 yang artinya, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya kehidupan di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”

Berkata Al Maraghi, bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah orang yang menginginkan dunia dengan segera. “Untuk dunia ia bekerja dan berusaha, untuk dunia ia berharap, tapi ia tidak yakin dengan hari akhir. Ia tidak berharap pahala, tidak takut pada hukuman Alloh atas apa yang dikerjakannya. Alloh subhana wata’ala akan berikan bagiannya di dunia sebagaimana Alloh kehendaki dari keluasan rezeki, dan keluasan penghidupan. Kemudian Alloh tempatkan dia di akhirat, di neraka jahannam dalam kondisi tercela karena ia sedikit bersyukur dan karena keburukan amalnya.” (Tafsir Al Maraghi: 5/27)

Read the rest of this entry »

Ujian Iman

August 14, 2010

Seri Kepompong Ramadhan #3

Pada suatu hari seorang ayah menyembelih kambing untuk aqiqoh anak bungsunya, disaksikan sendiri oleh istri dan anak-anaknya. Sehari kemudian, setelah selesai hajatannya, ayah tersebut berangkat ke Baghdad untuk berniaga.

Keluarga itu termasuk yang paling rukun dan serasi di antara keluarga-keluarga lainnya. Anak-anaknya patuh dan taat kepada orang tua. Yang sulung, seorang gadis, baru berusia dua belas tahun. Adiknya laki-laki, saat itu menjelang enam tahun. Nomornya tiganya juga laki-laki, sedang memasuki usia tiga tahun. Sedangkan yang bungsu masih menyusu kepada ibunya.

Sungguh bahagia kehidupan keluarga itu, seolah kegembiraan tak kan pergi dari rumah mereka. Namun, alangkah malangnya nasib keluarga tersebut. Ibu setengah tua itu berjalan tergogoh-gopoh menuju rumah Imam Hasan Al-Basri seraya air matanya mengucur deras. Dengan tersedu-sedu ia minta izin untuk menghadap, disambut sang Imam dengan penuh iba dan tanda tanya.

Read the rest of this entry »

Seri Kepompong Ramadhan #2

Tak terasa dua hari telah berlalu dalam menghirup udara di bulan Ramadhan. Kita telah merasakan kembali hari-hari bahagia penuh penghambaan,kebersamaan, kedekatan, ketundukan, kekhusyuan pada Alloh yang Maha Rahman, Yang Maha Rahim.

Dalam suasana seperti itu, terasa sekali kesenjangan batin, yang tercipta, yang kita lakukan sendiri. Setelah 11 bulan kita berpisah dengan Ramadhan, terlalu banyak amal ibadah  yang kita tinggalkan, selama 11 bulan lamanya kita telah menyia-nyiakan waktu. Banyak kebaikan yang telah tersemai dalam Ramadhan setahun lalu. Makin lama makin kering dan kini nyaris mati. Kita tenggelam dalam arus kesibukan dan belenggu keinginan yang tak akan pernah selesai dan tak ada ujungnya.

Syukurilah bila kita masih kembali bisa bersama-sama mencapai indahnya hari-hari di bulan suci. Merasakan kembali kedamaian dan kesejukan hati yang sulit dilukiskan di malam-malam Ramadhan. Keindahan makan sahur bersama, nikmatnya menahan makan minum di siang hari bersama, dan kelezatan buka bersama. Subhanallah…Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kebahagiaan kata Rasulullah. Yakni saat berbuka dan saat bertemu Rabbnya. Inilah saat kita menebus semua kelalaian dan kekurangan.

Mari bersimpuh, tunduk, khusyu’ dan menangis ke hadirat-Nya.

Perbanyaklah mohon ampun kepada-Nya. Inilah saat Alloh Yang Maha Pengampun membuka pintu taubat dan maghfirah. Saat Alloh Yang Maha Rahmah mencurahkan kasih sayang-Nya yang tak terbilang. Saat Alloh subhana wata’ala Yang Maha Pemurah menebar pahala amal shalih tanpa batas. Inilah saatnya kita mendekatkan diri pada Alloh dan memperbanyak permohonan ampun atas khilaf. Alloh sungguh-sungguh Maha Penerima taubat.

Read the rest of this entry »

Amal-amal Batin

August 11, 2010

Seri Kepompong Ramadhan #1

Terkadang kebosanan dan kejenuhan menyergap kita dalam berusaha memelihara amal-amal yang kita lakukan sehari-hari. Terasa berat dan tidak bersemangat lagi untuk meneruskan amal shalih yang telah terukir dalam hidup. Padahal amal shalih itu seharusnya menambah kuat energi pelakunya untuk terus melakukan lebih banyak lagi keshalihan. Semestinya amal-amal ketaatan itu sejatinya membuat hidup kita lebih indah dan kita lebih bersemangat.

Hasan Al Basri rahimahullah memberi nasihat tentang kenapa amal-amal shalih dan ketaatan itu suatu saat bisa tidak memberi pengaruh dan menambah semangat pelakunya. “Carilah kemanisan hidup ini dalam tiga perkara, dalam shalat, dalam dzikir dan dalam membaca Al-Qur’an” demikian beliau berucap. “Jika kalian tidak dapat mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa pintunya dalam keadaan tertutup,” lanjut beliau.

Imam Hasan Al Basri mengatakan hal itu, tentu karena beliau sudah mengecap kenikmatan hidup yang diperoleh dari tiga perkara itu. Beliau tentu sudah mengalami bagaimana hidup menjadi indah dan penuh semangat dengan tiga amal itu. Dan beliau juga mengerti, ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan amal-amal yang seharusnya memberi kenikmatan, menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Itulah kondisi ‘pintu tertutup’ yang beliau maksud.

Pintu tertutup itu adalah pintu hati yang ditutup oleh pemiliknya sendiri. Al Basri mengibaratkan dzikir kepada Alloh adalah pintu lebar dan besar, yang selalu terbuka dan menghubungkan antara Alloh dan hamba-Nya. Pintu itu akan terbuka selama tidak ditutup sendiri oleh hamba-Nya dengan kelalaiannya.

Mungkin, suasana seperti inilah yang terjadi pada diri kita. Yang merasa sulit mendapatkan ‘tenaga’ dari amal-amal shalih yang kita lakukan. Yang merasa susah mendapatkan ruh yang hidup tatkala melakukan amal shalih. Yang justru merasa berat menumbuhkan rasa ‘dekat’ dengan Alloh melalui amal-amal ibadah.

Banyak keadaan yang menyebabkan hal demikian, antara lain kita lalai, tidak melihat unsur batin dalam mengerjakan amal-amal ketaatan. Kita melakukan ibadah pada kulitnya saja, tidak sampai menghayati isinya. Kita melakukannya hanya sebatas gerakan-gerakan saja, tanpa menghadirkan hati, perasaan, dan pikiran kita di sana. Lalu, amal-amal ibadah kita menjadi kering.

Read the rest of this entry »

Selembar Bulu Mata

September 18, 2009

Adalah taubat yang dapat mengikis habis segala dosa. Taubat yang dimaksud adalah penyesalan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan semula. Biasanya dikenal dengan istilah taubat nasuha. Artinya, kadang-kadang taubat terucapkan dengan lisan, karena hanya bergema di dalam jiwa. Karena Alloh Maha  Penyayang, taubat dengan cara itu pun bisa diterima.

Pernah seorang musafir tersesat di tengah belantara. Ia mencari-cari jalan keluar tak dijumpainya. Maka dengan lemah lunglai ia beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. Keledainya ditambatkan pada salah satu ranting yang menjulur ke tanah. Ia tertidur. Ketika bangun, keledai itu sudah tidak berada di tempatnya. Sedangkan semua bekal perjalanan, termasuk uang, selimut, makanan, dan air minum berada di punggung keledai itu. Ia mencarinya ke sana-kemari. Sampai petang tidak ditemukannya. Ia terus mencari. Hingga jauh malam. Karena lelah dan mengantuk, ditambah perutnya yang sudah kelaparan, ia terjatuh di bawah pohon dan setengah pingsan. Ia merasa ajalnya kian mendekat. Namun, ketika tiba-tiba ia agak siuman, tahu-tahu keledainya telah berdiri di mukanya. Alangkah gembiranya musafir itu. Seolah-olah ia hidup lagi setelah mati. Diciuminya keledai itu seraya berkata, “Ya Alloh, Engkau adalah hambaku, dan aku adalah Tuhan-Mu.”

Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.