Orangtua bisa belajar dari kesalahannya dan melakukan yang lebih baik lagi untuk menolong anaknya tumbuh menjadi anak yang baik. Caranya antara lain:

Mendengarkan anak.

Luangkan waktu untuk betul-betul mendengarkan anak. Tataplah mata dan rasakan apa yang mereka katakan. Biarkan mereka tahu bahwa anda selalu membuka mata, hati dan pikirkan buat mereka.

Bicaralah dengan anak.
Bicaralah selalu dengan mereka mengenai apa pun. Katakan pula kebenaran seberapa pun sulitnya untuk melakukan itu.

Ajarkan nilai-nilai baik dan buruk.
Sudah menjadi tanggung jawab orangtua untuk membangun moral dasar yang lebih tinggi pada diri anak. Berikan lewat contoh-contoh perbuatan.

Beri perhatian.

Ciptakan kesempatan untuk fokus pada anak dan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Keterlibatan dan kehadiran anda dalam beraktivitas dan bermain amat penting bagi anak.

Didik anak dengan pikiran, jiwa dan raga.
Orangtua sebagai guru pertama bagi anak punya kewajiban dan kesempatan membentuk tahapan pembelajaran anak. Tak hanya kognitifnya tapi juga emosi dan spiritualnya.

Ciptakan keluarga yang harmonis.
Kestabilan dalam keluarga merupakan faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Jadi jagalah keharmonisan keluarga dan atas masalah dengan cara yang sehat.

Beri perlakuan dan kesempatan yang adil pada anak.
Penuhi kebutuhan anak sesuai kebutuhannya secara adil. Juga beri kesempatan pada anak untuk berkembang dengan lebih baik.[]

Suka bertanya merupakan kredit poin bagi anak, yang akan mendidiknya menjadi pintar kelak

Ermi (bukan nama sebenarnya) sebenarnya anak yang mungil dan lucu. Rambut ikalnya yang selalu dikucir dua bergoyang-goyang setiap kali ia menggerak-gerakkan kepala. Bibirnya tek henti mengoceh dan tertawa diiringi mimik wajah menggemaskan.

Seperti juga saat itu, ketika Erni diajak ibunya bertamu ke rumah tetangga. Gadis kecil tiga tahunan itu tak mau duduk diam di kursi tamu. Ia terus berputar-putar sekeliling ruangan dan terus bertanya. Hampir setiap benda yang belum pernah dilihat, ia perhatikan akhirnya telontar pertanyaan, ini apa, bu?

Read the rest of this entry »

Catatan Tentang Bermain

October 30, 2008

Adigium yang acap kali digunakan dalam pembelajaran anak usia dini adalah: “Bermain Sambil Belajar “

Kaidah bermain haruslah menjadi titik bahas khusus, karena setiap permainan tidak selalu berkonsekuensi pada pembelajaran, ada kemungkinan permainan justru membuat habit (perilaku) jelek pada diri anak. Berikut beberapa terminologi yang dapat digunakan oleh seorang-orang yang aktif pada ranah pembinaan anak usia dini terkait dengan perimainan.


Ciri-ciri bermain:

  • Memiliki kualitas pura-pura
  • Memiliki motivasi intrinsic
  • Lebih menekankan proses di banding hasil akhir
  • Bebas memilih
  • Diwarnai emosi positif

Tujuh syarat bermain:

  • Harus mengembangkan seluruh aspek anak
  • Seimbang antara bermain out door- indoor
  • Mainan tak membedakan jenis kelamin
  • Sesuai dengan usia
  • Ruang aman dan nyaman
  • Mainan harus aman
  • Ada orang tua yang terlibat

Mainan harus aman:

  • Tak boleh ada bagian yang mudah tertelan
  • Tak tajam dan berujung runcing
  • Catnya tak beracun [non toksin]
  • Tak menjepit
  • Tak menimbulkan api

 

Ragam stimulasi yang diharapkan dari mainan:

  • Stimulasi Fisik
  • Stimulasi Kognisi
  • Stimulasi Motorik
  • Stimulasi Sosial
  • Stimulasi Emosi

 

Manfaat jika anak bermain balok:

  • Motorik halus anak makin terlatih
  • Daya imajinasi makin berkembang
  • Mengenal konsep warna, bentuk, dan tekstur, juga konsep besar-kecil, atas bawah
  • Memahami konsep keteraturan/urutan
  • Melatih kesabaran anak

 

Manfaat jika anak bermain puzzle:

Anak yang kemampuan visualnya tinggi, bisa dengan mudah menyusun potongan-potongan puzzle menjadi gambar yang utuh

 

Manfaat jika anak Meronce

  • Mengembangkan ketrampilan motorik halus
  • Melatik konsentrasi
  • Belajar mengelompokkan bentuk, warna dan Jenis
  • Mengasah kreativitas dengan kemampuan mengkombinasi


Manfaat jika anak bermain Bentuk dan Warna

Memperkenalkan berbagai bentuk akan mempermudah anak untuk memahami lingkungannya. Misal : “nak tolong ambilkan gelas di atas meja bundar di kamar Ibu”

[]