<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bacalah...</title>
	<atom:link href="http://warungbaca.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warungbaca.wordpress.com</link>
	<description>Membaca, membaca dan membaca.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 22:01:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='warungbaca.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/28650af9e7bc6ac7279a43e36a9985c4?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bacalah...</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Jangan Lepaskan Kendalinya</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/11/11/jangan-lepaskan-kendalinya/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/11/11/jangan-lepaskan-kendalinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 21:56:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Hati]]></category>
		<category><![CDATA[al-hikam]]></category>
		<category><![CDATA[pasca puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Kita coba lihat ke belakang beberapa bulan lalu. Kenangan akan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah. Ketika itu sebagian kita mungkin mampu melakukan shalat malam hampir setiap perguliran hari. Mampu bangun di waktu sahur menyongsong fajar. Ketika di antara kita ternyata, bisa menyempatkan diri shalat berjamaah di masjid, lebih banyak ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=449&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kita coba lihat ke belakang beberapa bulan lalu. Kenangan akan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah. Ketika itu sebagian kita mungkin mampu melakukan shalat malam hampir setiap perguliran hari. Mampu bangun di waktu sahur menyongsong fajar. Ketika di antara kita ternyata, bisa menyempatkan diri shalat berjamaah di masjid, lebih banyak ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Mampu lebih memperhatikan masalah keakhiratan, dan hadir di majlis dzikir. Mampu berinfak dan bersedekah lebih banyak. Mampu lebih banyak berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Mampu memelihara lidah, memelihara nafsu, dan memelihara diri dari dosa.</p>
<p>Bagaimana dengan kita ketika itu? Kita telah berusaha mengisi Ramadhan tersebut dengan amal-amal seperti yang di atas. Tetapi, kita tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari dzikir. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Qur’an, menyebut asma Alloh, atau menghibur hamba-hamba-Nya. Telinga kita, mata kita, lebih banyak digunakan dalam kerangka yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Seluruh anggota badan kita lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Alloh <em>swt</em>. Meski ketika itu kita berada di bulan penuh rahmat dan maghfirah.</p>
<p>Bagaimanapun sekarang bulan penuh rahmat dan ampunan itu telah lewat. Bulan turunnya Al-Qur’an yang penuh barakah dan limpahan pahala itu telah pergi. Meninggalkan kita di sini, memulai hari demi hari, sendiri. Semoga Alloh senantiasa menghimpun diri kita dalam kasih sayang-Nya. Jangan tinggalkan rutinitas yang pernah kita lakukan di bulan Ramadhan. Sebab, perbedaan antara orang <em>shâdiq</em> (benar) dengan orang yang <em>kâdzib</em> (bohong) menurut Imam Athillah As Sakandari dalam kitab Al Hikam adalah, “Apabila engkau ingin mengetahui perbedaan antara <em>shâdiq</em> dan <em>kâdzib</em> maka lihatlah ciri-cirinya. Ciri orang yang <em>shâdiq</em> adalah ia beramal terus menerus karena Alloh dalam berbagai situasi dan kondisi. Sementara orang yang <em>kâdzib</em> beramal satu atau dua hari, lalu jika berduyun-duyun orang datang menyambutnya maka ia teruskan amalnya. Tapi jika tidak, ia pun meninggalkan amalnya.”</p>
<p>Mari syukuri limpahan pertolongan dan bantuan Alloh <em>swt</em>. kepada kita hingga saat ini. Kita berusaha memiliki bekal dan mengendalikan nafsu  makan dan minum selama satu bulan. Tujuannya tentu bukan agar kita siap hidup dalam keadaan lapar, tapi pada kemampuan kita mengatur nafsu makan. Orang yang terbiasa lapar akan bisa mengatur nafsu makan dan minumnya. Sementara ketidakmampuan mengendalilan nafsu makan dan minum, banyak menyebabkan orang melakukan kemaksiatan dan dosa.</p>
<p>Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu istirahat tidur. Tujuannya, bukan agar kita sedikit atau bahkan tidak tidur. Tapi agar kita mampu mengatur tidur sehingga tidak dikalahkan oleh rasa kantuk saat menjalankan kewajiban. “Membiasakan diri untuk tidak tidur bukan tujuan, tapi agar orang bisa menguasai dan mengendalikan tidurnya, sehingga ketika menunaikan kewajiban tidak dilalaikan oleh tidurnya,” demikian ujar Ibnu Athaililah.</p>
<p>Terkadang, ada orang yang jarang tidur tapi ternyata ia tak mampu bangun shalat shubuh di awal waktu. Tidak dapat mampu bangun sebelum fajar untu beristighfar dan tahajud. Begitulah.</p>
<p>Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu syahwat di bulan Ramadhan. Bukan untuk menghilangkan nafsu syahwat, tapi agar dalam diri kita muncul kemampuan mengontrol dan menahan nafsu syahwat. Sebab ketidakmampuan mengontrol dan mengendalikan nafsu syahwat telah banyak menenggelamkan orang dalam kubangan dosa yang sangat mengelisahkan.</p>
<p>Berdoalah dan selalu memperbanyak doa. Kita sangat membutuhkan bantuan dan kekuatan dari Alloh <em>swt</em>. dalam menjalani semua ini. Sejauh mana kadar perasaan kita dalam membutuhkan Alloh, sejauh itulah jenjang kedekatan kita kepada Alloh. Perasaan butuh kepada Alloh bergerak pararel dengan jenjang kedekatan seorang hamba kepada-Nya. Setiap kali rasa fakir dan kebutuhan kepada Alloh semakin kuat, setiap itu pula bertambah perasaan kita terhadap makna <em>lâ haula wa lâ quwwata illâ billah</em>. Tidak ada daya upaya untuk menghindar maksiat terhadap Alloh kecuali dengan pertolongan-Nya. Tidak ada daya untuk tetap taat kepada Alloh, kecuali dengan pertolongan-Nya Tidak ada gerak, tidak ada diam kecuali dengan pertolongan-Nya.</p>
<p>Mari lebih mendekat kepada Alloh dengan memperbanyak berdoa. Doa adalah bentuk praktis dari rasa membutuhkan. Doa adalah suasana jiwa paling puncak dari seseorang yang menyakini bahwa Alloh Maha Kaya dan Maha Pemberi Yang Menguasai. Bukankah ibadah shalat yang kita laksana seluruhnya berisi doa? Hanya Alloh sajalah yang bisa membimbing dan memberi kekuatan batin untuk kita sehingga tetap sabar menunaikan berbagai kewajiban dalam hidup.</p>
<p>“Ya Alloh, para pengemis tengah berhenti di pintu-Mu. Orang-orang fakir tengah berlindung di hadapan-Mu. Perahu orang-orang miskin tengah berlabuh pada tepian lautan kemurahan-Mu dan keluasan-Mu , berharap dapat singgah  di halaman kasih-Mu dan anugerah-Mu. Tuhanku, jika di bulan mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang yang menjalankan puasa dan shalat malamnya dengan penuh keikhlasan, maka siapa lagi yang akan menyayangi pendosa yang kurang beribadah, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan.”</p>
<p>“Ya Alloh jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang taat, maka siapa lagi yang akan mengasihi orang yang durhaka. Sekiranya Engkau hanya akan menerima orang-orang yang banyak amalnya saja, maka siapa lagi yang akan menerima orang yang sedikit amalnya. Ilahi, bantulah orang-orang yang berpuasa. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam. Selamat sejahteralah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang berlumuran dosa. Sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan maaf-Mu. Ampuni dosa-dosa kami dengan kasih-Mu, wahai yang paling Pengasih dari segala yang mengasihi.”</p>
<p>Kendali hawa nafsu yang pernah kita upayakan untuk memilikinya jangan dilepas. Hawa nafsu itu ada kendalinya, jangan biarkan dia lepas dengan liar kembali. Ingatlah selalu perkataan seorang salafusshalih, “Pangkal segala maksiat, kelalaianm dan syahwat adalah ridha terhadap nafsu. Sedangkan sumber ketaatan, kesadaran, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang, adalah tidak adanya keridhaan terhadap nafsu.”[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/449/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=449&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/11/11/jangan-lepaskan-kendalinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebahagian itu Ada di Sini</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/10/24/kebahagian-itu-ada-di-sini/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/10/24/kebahagian-itu-ada-di-sini/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 22:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Hati]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syaikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, “Orang-orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (ubudiyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya’. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.” Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul karena semakin besarnya tuntutan kesempurnaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=447&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syaikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, “Orang-orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (<em>ubudiyah</em>), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya’. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.” Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul karena semakin besarnya tuntutan kesempurnaan dalam diri seseorang. “Semakin tinggi tuntunan dalam hatimu, maka semakin kecillah kamu memandang dirimu sendiri. Dan akan semakin mahal harga yang harus ditunaikan untuk memperoleh tuntutan hatimu itu.”</p>
<p>Maka, janganlah hentikan perenungan dan muhasabah diri kita masing-masing. Sungguh banyak lubang yang harus kita waspadai di tengah hidup yang penuh fitnah dan tipu daya ini.</p>
<p>Manusia, diciptakan dalam keadaan susah payah. Memang itulah ketentuan Alloh <em>swt.</em> Al-Qur’an menyinggung masalah ini dalam firman-Nya, <em>“Laqad khalaq nal insaana fii kabad</em>.” “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan kabad (susah payah). (QS. Al Balad: 4). Kata ‘kabad’ dalam kamus Mu’jma Al Washit didefinisikan dengan kata <em>masyaqqah wa ‘ana </em>artinya kesulitan dan kesusahan. Ya, sulit dan susah. Itulah yang pasti akan menghiasi hidup semua.</p>
<p><span id="more-447"></span></p>
<p>Jangan merasa heran dengan kenyataan hidup. Jangan heran dengan terpaan masalah hidup. Sudah terlampau banyak firman Alloh <em>swt.</em> dan petunjuk Rasulullah <em>saw.</em> yang menuntun kita untuk memahami realitas itu. Hidup itu memang tempat kita ditempa, diuji dengan semua keadaannya. “Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Begitulah Alloh berfirman dalam surat Al Anbiya ayat 35.</p>
<p>Banyaknya peringatan Al-Qur’an tentang kehidupan adalah agar kita tidak kaget dengan bencana, musibah, dan ragam masalah hidup. Orang yang telah mengetahui sebelum merasakan sesuatu yang berat, tentu akan lebih ringan tatkala ia merasakannya. Orang yang belum mengetahui sesuatu yang sulit pasti akan terkejut dan merasa terlalu payah saat ia mengalami kesulitan. Begitulah.</p>
<p>Abu Sa’id Al Khudri <em>ra.</em> dahulu pernah menjenguk Rasulullah <em>saw.</em> saat beliau menderita demam, menjelang wafatnya.  “Kuletakkan tanganku di badan beliau. Aku merasakan panas di tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini.” Rasul mengatakan, “Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?” Rasul mengatakan, “Orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, adalah sampai salah diuji seorang mereka diuji tidak mendapatkan apapun kecuali mantel yang dikumpulkan. Tapi, bila seorang di antara mereka diberi ujian kesenangan, adalah sebagaimana salah seorang di antara kalian senang karena kemewahan.”</p>
<p>Kita pasti ingin hidup bahagia, jauh dari kesulitan dan kesedihan. Tak ada masalah yang memberikan. Ya, kita semua ingin bahagia. Dan kebahagiaan hidup yang sejati itu, hanya bisa dicapai melalui kedekatan kepada Alloh, melalui amal-amal ibadah dan kesalihan. Hanya itu jalannya.</p>
<p>Coba renungkan, bagaimana kondisi hati, ketika kita melakukan aktivitas ibadah kepada Alloh <em>swt.</em> Renungkan juga, bagaimana suasana kalbu saat kita melakukan ibadah shalat yang dilakukan dengan berjamaah. Gembirakah? Senangkah? Bercahayakah? Jawabannya, iya. Pasti. Dengarlah, bagaimana bunyi doa yang dianjurkan oleh Rasul <em>saw.</em> untuk dibaca kala kita melangkah ke masjid, “Ya Alloh, jadikanlah di dalam hatiku cahaya. Di dalam ucapanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya. Jadikanlah pada penglihatanku cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya dan dari bawahku cahaya. Ya Alloh berikanlah kepadaku cahaya, dan jadikanlah aku cahaya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)</p>
<p>Cahaya itu yang akan menerangi jiwa. Jiwa yang bercahaya pasti akan merasakan kebahagian dan ketenangan. Itulah inti kehidupan yang sering dilupakan manusia. Mungkin oleh kita juga. Kita banyak yang mencari-cari suplai kebahagian dari sumber yang tidak memiliki kebahagian yang memberi ketenangan. Kita sering menggantungkan kebahagian dari keadaan dan kondisi yang sebenarnya tidak menyusupkan kebahagian yang menentramkan hati.</p>
<p>Ibnul Qayyim mengistilahkan keadaan rasa bahagia dan tenang dalam jiwa dengan istilah<em> rahmah bathiniyah </em>(kasih sayang batin), yang Alloh berikan kepada hamba-Nya yang melakukan ketaatan. Kasih sayang batin itu adalah sentuhan perasaan dalam hati seseorang, yang mendapat musibah berupa ketenangan dan ketentraman. Tidak resah dan tidak khawatir. Perhatikan kata-katanya menggambarkan keadaan seseorang yang mendapat kasih sayang batin itu, “Seorang hamba bisa justru menjadi sangat sibuk merasakan kasih sayang-Nya, saat ia menghadapi penderitaan yang berat. Dia berpikir seperti itu, karena yakin bahwa itu adalah pilihan terbaik yang ditetapkan kepada-Nya.”</p>
<p>Di sinilah hakikat kebahagiaan hidup, yang kita cari.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/447/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=447&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/10/24/kebahagian-itu-ada-di-sini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amalan di Bulan Syawal</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/28/amalan-di-bulan-syawal/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/28/amalan-di-bulan-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 06:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[
Tatkala takbir bergema di malam hari raya, maka selesailah sudah sebulan berpuasa. Datangnya Syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berhasil menunaikan ibadah puasa sepanjang Ramadan. Ia merupakan lambang kemenangan umat Islam, hasil dari “peperangan” melawan musuh dalam jiwa yang terbesar yaitu hawa nafsu.
Inilah dia hari bagi umat Islam melaksanakan konsep idul fitri yang dimaksudkan kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=441&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span id="more-441"></span></p>
<p>Tatkala takbir bergema di malam hari raya, maka selesailah sudah sebulan berpuasa. Datangnya Syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berhasil menunaikan ibadah puasa sepanjang Ramadan. Ia merupakan lambang kemenangan umat Islam, hasil dari “peperangan” melawan musuh dalam jiwa yang terbesar yaitu hawa nafsu.</p>
<p>Inilah dia hari bagi umat Islam melaksanakan konsep idul fitri yang dimaksudkan kembali kepada fitrah. Dengan tibanya idul fitri, umat Islam seolah-olah baru kembali dengan hati dan jiwa yang bersih. Bayangkanlah keadaan umat Islam ketika itu: keadaan baru kembali seperti sehelai kain putih, bersih dan suci dari segala kotoran. Inilah keberhasilan dan kegembiraan bagi mereka yang berjuang mendapatkan keridaan Allah. Fitrah tersebut haruslah dipelihara. Kesuciannya tidak harus dicemari, harus dijadikan dorongan untuk meneruskan perjuangan dalam melaksanakan ibadah dan meraih ganjaran pahala lebih besar pada bulan-bulan seterusnya.</p>
<p>Datangnya Syawal menandakan tibanya satu lagi peluang besar bagi umat Islam untuk melipat gandakan pahala yang diraih sebelumnya. Di antara amalan-amalan yang dapat dilaksanakan adalah seperti:</p>
<p><strong>Bertakbir Mengagungkan Kebesaran Allah </strong></p>
<p>Jika dalam bulan Ramadan umat Islam diperintahkan berpuasa dan dijanjikan pengampunan dan pembebasan dari siksaan api neraka, maka apabila tiba Hari Raya, Allah memerintahkan hamba-Nya agar bertakbir mengagungkan kebesaranNya, serta bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.</p>
<p>Kemenangan yang diraih itu tidak akan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah. Maka sudah sewajarnya hambaNya memperbanyakkan zikir, takbir, tahmid dan tasbih kepada Tuhannya serta bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.</p>
<p>Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 185 yang artinya : “Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Dia beri petunjuk kepadamu, dan agar kamu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan.”</p>
<p><strong>Puasa Enam Hari di Bulan Syawal </strong></p>
<p>Selain dari bertakbir, bertahmid dan bertasbih umat Islam dianjurkan agar berpuasa enam hari di bulan Sayawal. Rasulullah s.a.w. bersabda yang artinya: <em>“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan kemudian ia berpuasa pula enam hari pada bulan Syawal adalah seperti berpuasa sepanjang masa.”</em> <strong>(HR. Muslim)</strong><br />
Hadis tersebut menjelaskan bahawa salah satu keistimewaan di bulan Syawal ialah peluang berharga untuk orang-orang yang mengejar nikmat dan kemurahan Allah sepanjang hidup yaitu puasa enam hari.</p>
<p>Ganjaran pahala diberikan oleh Allah kepada mereka yang berpuasa enam di bulan ini seperti ganjaran pahala kepada yang berpuasa sepanjang masa. Ganjaran yang begitu tinggi nilainya diberikan oleh Allah untuk hambaNya. Ini adalah setimpal dengan keikhlasan umat Islam dalam melaksanakannya, dengan memperhatikan dimana kebanyakan manusia tidak dapat melakukannya disebabkan keadaan sekeliling mereka lebih menguji keimanan seseorang yang menunaikan puasa di waktu kemeriahan Hari Raya.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=441&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/28/amalan-di-bulan-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konspirasi Syetan dan Nafsu</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/24/konspirasi-syetan-dan-nafsu/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/24/konspirasi-syetan-dan-nafsu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 02:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[syetan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Ada suasana yang hilang setelah Ramadhan berlalu. Ibadah yang dilaksanakan di bulan suci itu terasa mudah dan mengasyikkan tiba-tiba terasa berat untuk ditunaikan. Sebaliknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat kok justru terasa ringan, bahkan menyenangkan? Ada apa gerangan?
Setidak-tidaknya ada dua hal penyebabnya. Pertama, pasca Ramadhan belenggu syetan telah dilepas oleh Alloh. Selama Ramadhan syetan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=437&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada suasana yang hilang setelah Ramadhan berlalu. Ibadah yang dilaksanakan di bulan suci itu terasa mudah dan mengasyikkan tiba-tiba terasa berat untuk ditunaikan. Sebaliknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat kok justru terasa ringan, bahkan menyenangkan? Ada apa gerangan?</p>
<p>Setidak-tidaknya ada dua hal penyebabnya. Pertama, pasca Ramadhan belenggu syetan telah dilepas oleh Alloh. Selama Ramadhan syetan memang dibelenggu hingga ruang geraknya sangat terbatas atau malah tidak bisa bergerak sama sekali. Syetan yang kegiatan utamanya menggoda dan membujuk manusia, saat itu berdiam diri. Manusia berkesempatan untuk berlaku baik seperti pengendara yang sedang menjalankan mobilnya di jalan yang mulus. Mudah dan menyenangkan. Perjalanannya tidak diwarnai tanjakan-tanjakan yang berarti. Jebakan-jebakan maut juga jarang dijumpai. Itulah gambaran orang yang melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Kini hambatan-hambatan itu telah dipasang kembali.</p>
<p><span id="more-437"></span></p>
<p>Yang kedua, pada waktu yang bersamaan kendali nafsu mulai kita kendorkan, bahkan ada yang dilepas sama sekali. Akibatnya sudah dapat diduga, kemaksiatan kembali merajalela.</p>
<p>Dasar memang nafsu. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Dzat Yang Menciptakannya, nafsu itu selalu cenderung pada kerusakan dan kerendahan.</p>
<p><em>“…Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku…” </em><strong>QS. Yusuf: 53.</strong><em></em></p>
<p>Apalagi sifatnya nafsu itu seperti anak kecil, sekali dituruti akan minta kedua, ketiga, dan seterusnya. Ketagihan atau mabuk kepayang. Sekali disusui, maunya tak lepas-lepas. Sekali diajak main, mintanya main terus-terusan. Sekali jajan, jadinya keterusan. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Sesungguhnya nafsu itu seperti anak kecil. Kalau dibiarkan, akan tetap menyusu selama-lamanya.”</p>
<p>Masih ditunjang lagi dengan sifatnya yang tak pernah puas dan tak pernah kenyang. Menuruti kemauannya bukan berarti menghentikan permintaannya, justru sebaliknya. Sekali diberi hati dia akan merogoh rempolo. Ibarat orang minum air garam, semakin diminum semakin membuat kehausan.</p>
<p>Barangkali pembaca pernah atau sampai sekarang masih termasuk penghisap rokok. Apa yang kita rasakan pada saat pertama kali melakukannya? Kita akan bersepekat untuk menjawab, mual-mual dan membuat kepala pusing. Ketika itu kita memang hanya coba-coba, &#8216;Sesekali tidak mengapa, barangkali begitu pikiran kita. Tapi setelah dicoba dan hasilnya juga sangat negatif apakah kemudian berhenti dan tidak ingin mengulanginya? Tidak, buktinya sampai sekarang kita masih merokok. Jutaan bungkus rokok habis kita hisab setiap bulan.</p>
<p>Lebih parah lagi, bila nafsu sudah menguasai diri kita, perhitungan lain tidak digunakan, kecuali kepuasan nafsu saja. Otak yang sehat tiba-tiba harus tunduk pada kemauan.</p>
<p>Tengok tingkah laku seorang ayah yang mana mungkin ini terjadi pada diri kita. Seorang ayah menyuruh anaknya beli rokok, sementara dia tahu bahwa anaknya baru saja menangis minta dibelikan makanan. Tindakannya memancing amarah dan dendam anaknya. Ada yang malah berprinsip lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Urusan keluarga nomor dua,  yang pertama adalah rokok.</p>
<p>Sebenarnya Ramadhan yang lalu bisa dijadikan sebagai latihan untuk tidak merokok. Siang hari yang biasanya berbatang-batang rokok habis terhisab, saat itu ditinggalkan. Kenyataan juga membuktikan bahwa saat itu kita tetap juga sehat, tidak pusing-pusing, dan tetap bisa berpikir waras.</p>
<p>Ramadhan telah mematahkan argumentasi para pecandu rokok yang berpikiran bahwa tanpa rokok hidup menjadi sepi dan sepoh. Seorang seniman terkadang merasa tanpa rokok inspirasinya tak bakal muncul, pikirannya tiba-tiba mandek. Yang penulis juga begitu. Betulkah? Ramadhan kemarin sudah kita jalani. Hasilnya sudah juga kita rasakan. Yang jelas argumentasi itu terlalu dibuat-buat sebagai hasil rekayasa nafsu.</p>
<p>Nafsu adalah musuh kita dari dalam, sementara syetan dari luar. Syetan akan masuk ke dalam diri kita manakala nafsu telah membuka jalannya. Bila syetan telah masuk ke dalam diri kita, maka penyebarannya bagai darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Virus ini lebih gawat dari HIV yang menyerang para penderita AIDS.</p>
<p>Apalagi syetan berkekuatan penuh, dengan dukungan bala tentara yang patuh dan disiplin. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung. Ada yang berbentuk jin, ada pula yang berjasad manusia.</p>
<p>Bila syetan sudah masuk ke dalam diri manusia, kemudian merayap ke mata, maka dibuat indah seluruh pandangan maksiat. Ada wanita lewat di depannya, birahi tergerak. Mata melotot atau malah berkedip-kedip memberi isyarat. Mulut pun ikut memberi andil, menyapa atau sekedar iseng ngomong apa saja. Kakinya disuruh mendekatkan anggota tubuh lainnya. Bahkan tangannya juga mulai beraktivitas. Bila demikian sempurnalah tugas syetan.</p>
<p>Siapakah wanita tadi? Jika dia memang sengaja tampil dengan pakaian yang aduhai, jalan dengan lenggak-lenggok penuh sexy, parfum dan make-upnya dipasang aksi, maka tak diragukan lagi bahwa dia adalah tentara syetan. Dialah sukarelawan syetan.</p>
<p>Antara  dia dan syetan yang asli tidak ada bedanya, sama-sama menggoda iman manusia. Dalam bahasa Al-Qur&#8217;an disebut <em>yuwaswisu fii shuduurin-naas.</em></p>
<p>Inilah media yang paling ampuh, sejak dulu hingga kini. Syetan akan berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan atau lebih tepatnya mengeksploitir wanita, sementara nafsu mereka terus dibuat haus dan bertambah haus. Targetnya jelas, kalau tidak jadi syetan, ya jadi sukarelawannya. Kalau itu juga belum berhasil, ya asal mengiyakan saja.</p>
<p>Kalau benteng pertahanan iman yang dimiliki seseorang tidak kuat, pasti jebol. Kalau Alloh tidak secara intensif terlibat dalam membendung serangan syetan dan bala tentaranya, dapat dipastikan ambruk, rata dengan tanah. Mati atau jadi tawanan syetan adalah alternatifnya.</p>
<p>Siapa yang berani berkata dirinya bebas dari syetan? Umar bin Khatthab yang bergelar al-Faruq pun belum terbebas dari gangguannya. Memang banyak yang menyebut bahwa syetan sangat takut dekat dengannya, tapi apakah demikian juga bala tentara dan sukarelawannya? Buktinya, Umar tak lepas dari berbuat khilaf dan dosa.</p>
<p>Jangankan Umar, Nabi Yusuf as. yang nyata-nyata nabi hampir saja terjebak perangkap syetan. Kalau bukan pertolongan Alloh, tentu saja tawaran Zulaikha, wanita cantik jelita itu diterimanya. Tapi dasar masih ada iman, sehingga Nabi Yusuf as. mampu berkata, &#8220;Saya takut Alloh.&#8221;</p>
<p>Apalagi kita yang bukan apa-apa. Tetapi jangan putus asa. Yang penting kita sadari dan waspadai kehebatan serangan syetan sembari kita memohon perlindungan Alloh swt. []</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=437&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/24/konspirasi-syetan-dan-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selembar Bulu Mata</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/18/selembar-bulu-mata/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/18/selembar-bulu-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 23:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepompong Ramadhon]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Adalah taubat yang dapat mengikis habis segala dosa. Taubat yang dimaksud adalah penyesalan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan semula. Biasanya dikenal dengan istilah taubat nasuha. Artinya, kadang-kadang taubat terucapkan dengan lisan, karena hanya bergema di dalam jiwa. Karena Alloh Maha  Penyayang, taubat dengan cara itu pun bisa diterima.
Pernah seorang musafir tersesat di tengah belantara. Ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=433&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Adalah taubat yang dapat mengikis habis segala dosa. Taubat yang dimaksud adalah penyesalan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan semula. Biasanya dikenal dengan istilah taubat nasuha. Artinya, kadang-kadang taubat terucapkan dengan lisan, karena hanya bergema di dalam jiwa. Karena Alloh Maha  Penyayang, taubat dengan cara itu pun bisa diterima.</p>
<p>Pernah seorang musafir tersesat di tengah belantara. Ia mencari-cari jalan keluar tak dijumpainya. Maka dengan lemah lunglai ia beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. Keledainya ditambatkan pada salah satu ranting yang menjulur ke tanah. Ia tertidur. Ketika bangun, keledai itu sudah tidak berada di tempatnya. Sedangkan semua bekal perjalanan, termasuk uang, selimut, makanan, dan air minum berada di punggung keledai itu. Ia mencarinya ke sana-kemari. Sampai petang tidak ditemukannya. Ia terus mencari. Hingga jauh malam. Karena lelah dan mengantuk, ditambah perutnya yang sudah kelaparan, ia terjatuh di bawah pohon dan setengah pingsan. Ia merasa ajalnya kian mendekat. Namun, ketika tiba-tiba ia agak siuman, tahu-tahu keledainya telah berdiri di mukanya. Alangkah gembiranya musafir itu. Seolah-olah ia hidup lagi setelah mati. Diciuminya keledai itu seraya berkata, “Ya Alloh, Engkau adalah hambaku, dan aku adalah Tuhan-Mu.”</p>
<p><span id="more-433"></span>Telah terpeleset lidahnya tanpa sadar. Seharusnya ia mengatakan, “Ya Alloh, Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu.” Tetapi ucapan terbalik itu sama sekali saking meluapnya kegembiraan hatinya. Dan begitulah gambaran yang diperumpamakan oleh Nabi saw. mengenai kegembiraan Alloh menyambut hamba-Nya yang bertaubat sampai seperti musafir yang tersesat dan kehilangan keledainya namun ditemukannya kembali. Dan karena berkesangatan suka citanya itu hingga tersandung lidahnya mengucapkan kalimat yang terputar balik.</p>
<p>Itulah kemurahan Alloh. Bahkan ada yang lebih hebat lagi. Konon di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Alloh sedang diadili di hadapan Tuhan. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia bersikeras membantah.</p>
<p>“Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”</p>
<p>“Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat.</p>
<p>Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yang kaumaksudkan? Di sini tidak ada siapa-siapa kecuali aku dan suaramu.”</p>
<p>“Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.</p>
<p>Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yang memandangi.”</p>
<p>“Disusul oleh telinga, “Saya yang mendengarkan.”</p>
<p>Hidungpun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.”</p>
<p>Bibir mengaku, “Saya yang merayu.”</p>
<p>Lidah menambah, “Saya yang mengisap.”</p>
<p>Tangan meneruskan, “Saya yang meraba dan meremas.”</p>
<p>Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”</p>
<p>“Nah, kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu,” ucap malaikat.</p>
<p>Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu.</p>
<p>Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyon-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya:</p>
<p>“Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”</p>
<p>“Silahkan,” kata malaikat.</p>
<p>“Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertaubat, walapun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya,  selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan taubat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.&#8221;</p>
<p>Konon, dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut dibebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar suara bergaung kepada penghuni surga: “Lihatlah. Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=433&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/18/selembar-bulu-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Berjubah Belum Tentu Saleh</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/16/yang-berjubah-belum-tentu-saleh/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/16/yang-berjubah-belum-tentu-saleh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 08:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepompong Ramadhon]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Daud]]></category>
		<category><![CDATA[sinagog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Tatkala Nabi Daud as. sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud as., tetapi Nabi Daud as. tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia terus menyampaikan pelajarannya tanpa melirik sedikit pun kepada tamu yang baru tiba itu.
Laki-laki tersebut lantas mengerjakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=430&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tatkala Nabi Daud as. sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud as., tetapi Nabi Daud as. tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia terus menyampaikan pelajarannya tanpa melirik sedikit pun kepada tamu yang baru tiba itu.</p>
<p>Laki-laki tersebut lantas mengerjakan sembahyang sesuai dengan syariat yang berlaku pada waktu itu. Setelah lama sekali melaksanakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa.</p>
<p>Nabi Daud as. tetap melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberi kesempatan kepada tamu itu untuk berkenalan, atau para muridnya mengambil perhatian kepadanya. Maka semua murid Nabi Daud as. merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap Nabi Daud as. tidak memberikan contoh yang baik.</p>
<p><span id="more-430"></span></p>
<p>Pria berjubah bersih tersebut kedengaran menangis tersedu-sedu ketika berdoa panjang sekali. Sesudah itu ia berdiri, lalu keluar dari sinagog tempat peribadatan mereka setelah meminta diri dengan mengucapkan salam. Namun Nabi Daud as. tetap tidak menaruh hormat sama sekali. Semua murid Nabi Daud as. sangat iba melihat nasib tamu yang malang barusan.</p>
<p>Maka sesudah Nabi Daud as. mengakhiri pelajaran tentang akhlak yang baik, salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan:</p>
<p>“Wahai Nabiyullah. Saya ingin bertanya.”</p>
<p>“Tanyalah,” jawab Nabi.</p>
<p>“Bukankah engkau mengajarkan kepada kami untuk menghormati tamu?”</p>
<p>“Betul.”</p>
<p>“Tapi mengapa engkau tadi tidak memperlihatkan akhlak terpuji kepada tamu?”</p>
<p>“Sebab dia tidak tahu budi pekerti. Apakah kalian tidak ingat bagaimana caranya memasuki suatu majelis tatkala guru sedang mengajar? Mula-mula kaki kanan melangkah terlebih dahulu sebagai tanda menghormati sinagog kita. Kemudian tidak seharusnya dia mengucapkan salam, melainkan langsung duduk dan ikut mendengarkan.”</p>
<p>“Barangkali dia belum tahu tata caranya?”</p>
<p>“Tapi jubah dan surbannya menunjukkan seolah-olah dia orang alim, bukan? Apakah pantas kalau dia orang alim tidak mengetahui sopan santun memasuki tempat peribadatan dan tempat mengajar?” sanggah Nabi Daud as. “Orang seperti itulah yang akan menjatuhkan agama kita, karena tidak sesuai antara penampilan dengan sikapnya.”</p>
<p>“Tapi tadi dia sembahyang lama sekali,” sahut si murid.</p>
<p>“Itulah tanda kepalsuannya. Ia hanya ingin memamerkan kesalehannya, padahal dia bukan orang baik. Ia sembahyang buat kita, tidak buat Tuhan.”</p>
<p>“Ia berdoa panjang sambil menangis.”</p>
<p>“Apakah doa panjang menjamin keikhlasan? Bukankah Tuhan lebih menyukai doa yang khusyuk dan yakin? Kalau ia ingin menangis, tidak selayaknya di depan kita. Menangislah yang sedih di depan Tuhan ketika sendirian, dalam sembahyang malam pada waktu makhluk lain tengah lelap dan tidak melihat tangisannya.”</p>
<p>“Wajahnya mulus sekali seperti orang yang ikhlas. Pakaiannya serba putih melambangkan warna hatinya. Apakah ia bukan orang yang takwa?”</p>
<p>“Takwa tidak dilihat dari rupanya, juga tidak dilihat dari pakaiannya. Tuhan hanya melihat hati manusia, dan dinilai dari perbuatannya, sesuai atau tidak dengan syariat dan adab agama. Manusia tidak dihargai dari bungkusnya, melainkan dari isinya, dari mutu kemanusiaannya.”</p>
<p>Dengan penjelasan tersebut mengertilah murid-murid Nabi Daud as. bagaimana seharusnya menghayati agama dengan menjalankan semua ketentuannya, tidak sekedar membangga-banggakan melalui ucapan dan pernyataan.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/430/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=430&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/16/yang-berjubah-belum-tentu-saleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjaring Kedalaman</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/13/menjaring-kedalaman/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/13/menjaring-kedalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 05:45:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepompong Ramadhon]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Nawas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Tatkala Alloh berfirman, “Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka,” sebagaimana tercantum dalam surat Al-Fath ayat 11, kita pun terhenyak tidak mengerti, mengapa Alloh mempunyai tangan? Padahal Ia suci dari kesamaan dengan makhluk-Nya? Bukankah dengan demikian Alloh telah menodai citra kemaha-tunggalan-Nya sendiri?
Tentu saja apabila kita menyerap firman itu melalui penalaran manusia, dan tidak bertolak dari jiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=427&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tatkala Alloh berfirman, “Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka,” sebagaimana tercantum dalam surat Al-Fath ayat 11, kita pun terhenyak tidak mengerti, mengapa Alloh mempunyai tangan? Padahal Ia suci dari kesamaan dengan makhluk-Nya? Bukankah dengan demikian Alloh telah menodai citra kemaha-tunggalan-Nya sendiri?</p>
<p>Tentu saja apabila kita menyerap firman itu melalui penalaran manusia, dan tidak bertolak dari jiwa tauhid yang menyakini akan tidak serupanya Alloh dengan semua makhluk-Nya. Namun, kalau kita kembali kepada akidah tauhid, sudah pasti kita akan tahu bahwa tangan Alloh yang dimaksud-Nya tidak seperti tangan kita.</p>
<p>Begitu pula seandainya kita menerjemahkan bahagia kesufian yang selalu bersayap dengan bahasa kaum awam. Kita akan terjerumus ke dalam salah paham dan naik pitam. Sebab kaum sufi kadang-kadang berbicara dengan pendalaman hati sehingga tidak terungkapkan dengan bahasa lisan sepanjang bahasa lisan itu ditafsirkan dalam citra harfiah.</p>
<p><span id="more-427"></span></p>
<p>Dengarlah ucapan Abu Nawas yang bijak ketika ia hendak memohon ampunan Alloh. Ia mengatakan, “Tuhanku, tidaklah aku ini pantas menjadi penghuni surga.“ Berhentilah kita di sini. Apa yang terkesan? Abu Nawas adalah orang yang sombong, berani menentang kurnia Alloh yang menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang beriman. Mengapa ia tidak berkata, “Tuhanku, masukanlah aku ke dalam surga-Mu”, sambil beribadah dan beramal saleh?”</p>
<p>Lalu Abu Nawas melanjutkan ucapannya, “Tetapi, aku tidak kuat menghadapi api neraka.” Bagaimana pula orang alim itu? Seharusnya ia cukup mengatakan, “Tuhanku, janganlah Kau masukkan aku ke dalam neraka,” sambil menghindari maksiat dan menjauhi dosa.</p>
<p>Baru kita memahami kerendahan hatinya tatkala membaca ucapan berikutnya, “Maka terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun terhadap dosa yang besar.” Mengapa begitu?</p>
<p>“Saya sudah mendatangi semua tabib dan dukun yang tersohor untuk mencarikan obat buat suami saya. Tetapi, tidak ada yang berhasil. Tolonglah Tuan, bagaimana caranya agar batuk suami saya bisa reda,” ujar perempuan itu.</p>
<p>Abu Nawas berpikir sejenak. Kemudian ia memberikan segelas air bening kepada wanita tersebut. “Minumkan air ini kepada suamimu.”</p>
<p>“Apakah hanya dengan air ini batuk suami saya akan sembuh?” tanya wanita agak ragu-ragu.</p>
<p>“Pasti sembuh,” jawab Abu Nawas seolah ia mempunyai kuasa untuk menyembuhkan penyakit.</p>
<p>Maka sambil membungkuk-bungkuk tanda berterimakasih, wanita itu membawa air tersebut pulang ke rumahnya, dan meminumkannya kepada suaminya.</p>
<p>Beberapa minggu kemudian, perempuan itu datang lagi kepada Abu Nawas seraya marah-marah, “Setelah menghabiskan air pemberian Tuan, suami saya bukannya sehat kembali, bahkan meninggal dunia. Tuan pembohong licik.”</p>
<p>Abu Nawas terdiam. Sesudah wanita yang tengah berbela sungkawa itu kelihatan tenang lagi, Abu Nawas berkata, “Maaf, Bu. Soal mati itu bukan wewenang saya. Sebab ajal berada di tangan Alloh. Saya cuma menyatakan, dengan meminum air saya, penyakit batuk suami ibu pasti sembuh.”</p>
<p>“Tapi  nyatanya suami saya meninggal dunia.” sergah si wanita.</p>
<p>“Sabar dulu, Bu,” ujar Abu Nawas. “Setelah suami Ibu meninggal, apakah ia masih batuk?”</p>
<p>“Tidak. Mana ada orang mati bisa batuk!”</p>
<p>“Nah. Itulah maksud saya. Batuknya sembuh, bukan? Adapun akhirnya suami ibu meninggal dunia, begitulah memang akhir hidup setiap insan. Saya dan Ibu pun bakal meninggal, bagaimana pula seorang Abu Nawas dapat mencegah kematian kalau takdir Alloh telah menentukan ajalnya?”</p>
<p>Sudah tentu, hanya orang-orang yang beriman kuat saja yang mampu menjaring kedalaman ucapan para bestari.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=427&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/13/menjaring-kedalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Lebih Besar dari Samudera, Bumi, Langit dan Dosa</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/08/yang-lebih-besar-dari-samudera-bumi-langit-dan-dosa/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/08/yang-lebih-besar-dari-samudera-bumi-langit-dan-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepompong Ramadhon]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Musa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini diceritakan oleh penyair Jalaluddin Rumi, penyair besar dan sufi dari Parsi yang hidup di Abad ke-13. Cerita ini ada dalam kumpulan karyanya, Masnawi. Yang ditulisnya sampai pujangga itu wafat pada umur 67 tahun.
Kisah alegoris itu berjudul ; Nabi Musa dan Tukang Cuci. Begini ceritanya:
Pada suatu malam, ketika Nabi Musa shalat, dia berdoa meminta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=422&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kisah ini diceritakan oleh penyair Jalaluddin Rumi, penyair besar dan sufi dari Parsi yang hidup di Abad ke-13. Cerita ini ada dalam kumpulan karyanya, Masnawi. Yang ditulisnya sampai pujangga itu wafat pada umur 67 tahun.</p>
<p>Kisah alegoris itu berjudul ; Nabi Musa dan Tukang Cuci. Begini ceritanya:</p>
<p>Pada suatu malam, ketika Nabi Musa shalat, dia berdoa meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan orang yang paling kejam dan jadi sumber kemarahan orang banyak.</p>
<p>Keinginan itu dikabulkan Tuhan. Dia mesti pergi ke tepi sungai besok pagi-pagi sekali. Dan orang pertama yang dijumpainya besok itulah orang paling kejam.</p>
<p>Nabi Musa subuh-subuh telah sampai di batang air. Dia menanti, lalu muncul seorang tukang cuci, pendek gemuk orangnya, menggiring keledai. Di punggung keledai itu bertumpuk cucian basah dan berat. Lelaki itu memukuli keledainya dengan tongkat, berkali-kali dan keras seraya berteriak memaki-maki. Tampangnya sungguh kriminal, matanya merah bekas bertanggang larut malam dan mulutnya bau arak. Wajahnya nampak penuh nafsu dan garang.</p>
<p><span id="more-422"></span></p>
<p>Nabi Musa puas dan pulanglah ia.</p>
<p>Malam itu, ketika shalat Nabi Musa memohon kepada Tuhan agar dipertemukan dengan hamba-Nya yang shaleh, hamba-Nya yang dikaruniai rahmat dan ampunan-Nya. Tuhan menyuruhnya pergi ke tepi sungai itu juga, pagi-pagi lagi.</p>
<p>Keesokan subuh Musa mengulang kepergiannya ke tepiannya.</p>
<p>Musa terperanjat melihat lelaku kemarin subuh itu kembali. Tetapi kali ini si Tukang cuci pakaian itu tidak membawa tongkat pelecut keledai lagi. Beban cucian di punggung keledainya nampak ringan. Dia menepuk-nepuk leher keledainya dengan sayangnya. Dia berjalan menundukkan kepala, menyebut nama Allah.</p>
<p><em>Allah, Allah, Allah, </em>gumamnya.<br />
Air mata menetes-netes di pipinya.<br />
Musa sangat heran.</p>
<p>Dia cari rumah tukang cuci itu, ketemu. Musa bertemu istri si Tukang cuci. Sang Nabi berkata, bahwa dia heran melihat perubahan sifat begitu cepat terjadi pada lelaki itu. Musa bertanya mengapa. Apa gerangan pergolakan batin si Tukang cuci yang merubah wataknya secara dramatik itu?</p>
<p>Sang istri berceritalah:</p>
<p>Sampai dengan dua hari yang silam, suaminya sudah tigapuluh tahun lamanya, menjadi orang yang kejam, suka menipu, judi, minum, kata-kata kasar, dan dibenci masyarakat. Jadi dua hari yang lalu, sepulang mencuci di tepi sungai, dia keletihan. Sambil capek dia memaki-maki istrinya yang menyediakan sarapan. Sesudah kenyang, dia tidur-tiduran dan istrinya memijit-mijit kakinya. Sambil memijit kakinya itu, air mata si istri bertetesan. Sang Suami bertanya, mengapa dia menangis.</p>
<p>Kata istrinya, &#8220;Aku ingin bertanya kepadamu.&#8221;</p>
<p>Jawab suami, &#8220;Bertanyalah.&#8221;</p>
<p>Tanya istri lagi, &#8220;Benda apa yang paling besar?&#8221;</p>
<p>Jawab suami, &#8220;Bumi.&#8221;</p>
<p>Tanya si istri lagi, &#8220;Yang lebih besar dari Bumi?&#8221;</p>
<p>Jawab suami, &#8220;Samudera raya.&#8221;</p>
<p>Tanya si istri pula, &#8220;Yang lebih besar dari samudera raya?&#8221;</p>
<p>Jawab suami, &#8220;Langit.&#8221;</p>
<p>Tanya si istri terus, &#8220;Yang lebih besar dari langit?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba lelaki kejam itu menggigil, jawabnya, &#8220;Dosa-dosaku.&#8221;</p>
<p>Tanya si istri lagi, &#8220;Yang lebih besar dari dosa-dosamu?&#8221;</p>
<p>Jawab suami sambil tersedu, <em>&#8220;Keampunan Tuhan.&#8221;</em></p>
<p>Lelaki itu menangis dan meratap. Tersedu-sedu.</p>
<p>&#8220;Sejak itu,&#8221; demikian sang istri menutup kisahnya, &#8220;Suami saya selalu menyebut asma Allah.Ia menyesali dosa-dosanya. Pipinya basah karena dilinangi air mata. Dia pergi berkeliling sekarang, minta maaf kepada semua keluarga dan handai taulannya.&#8221; []</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/422/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=422&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/08/yang-lebih-besar-dari-samudera-bumi-langit-dan-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kagum Dunia, Lupa Akhirat</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/07/kagum-dunia-lupa-akhirat/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/07/kagum-dunia-lupa-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 00:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepompong Ramadhon]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat (as-sama’aaddun ya) dengan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syetan, dan kami sediakan siksa neraka yang menyala-nyala.” (67: 5)
Langit dunia artinya langit yang dekat. Kehidupan dunia artinya kehidupan yang dekat. Memang arti addun-ya menurut ayat di atas ialah ‘dekat’, akhirat artinya akhir. Kehidupan akhirat artinya kehidupan tahap akhir yang jaraknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=419&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat (as-sama’aaddun ya) dengan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syetan, dan kami sediakan siksa neraka yang menyala-nyala.”</em> (67: 5)</p>
<p>Langit dunia artinya langit yang dekat. Kehidupan dunia artinya kehidupan yang dekat. Memang arti addun-ya menurut ayat di atas ialah ‘dekat’, akhirat artinya akhir. Kehidupan akhirat artinya kehidupan tahap akhir yang jaraknya cukup jauh dari sekarang.</p>
<p>Alloh mengabarkan bahwa bintang-bintang adalah hiasan yang letaknya di langit pertama (dekat). Mafhumnya, Alloh tak menghiasi langit kedua sampai langit ketujuh dengan bintang-bintang itu.</p>
<p>Banyak manusia terpesona dan terkagum-kagum menyaksikan gemerlap bintang yang terlihat dengan mata yang telanjang. Jumlahnya kira-kira tiga ribu buah. Padahal dibalik taburan gemerlap itu, jutaan bahkan miliaran bintang menghuni angkasa langit pertama. Sedikit manusia yang menyakini bahwa di balik tiga ribu itu, terdapat miliaran rahasia yang lain.</p>
<p><span id="more-419"></span>Ternyata benar di balik yang nampak mata, tersimpan miliaran yang jauh lebih mempesona. Diketemukan bintang-bintang yang ukurannya jauh lebih besar daripada matahari, dengan jarak miliaran kali lebih jauh. Sementara cahaya matahari saja dengan kecepatan seperti itu untuk mencapai bumi membutuhkan waktu sekitar delapan menit. Dapat dibayangkan berapa jauh  jarak antara bintang itu, hingga sejumlah astronom dibuat gemas dan penasaran.</p>
<p>Memahami kehidupan bintang tentu berbeda dengan memahami kehidupan manusia. Namun di sisi kehidupan tertentu ada persamaannya, yaitu menyangkut rahasia di balik apa yang nampak. Orang enggan membayangkan bahwa di atas langit dengan berbagai hiasan itu masih ada langit kedua, ketiga hingga ketujuh, bahkan masih ada Sidratul Muntaha, mustawaa, dan seterusnya yang hanya Alloh yang mengetahuinya.</p>
<p>Bila bersulit-sulit memahami fenomena alam saja enggan, maka bagaimana mau memahami fenomena manusia yang permasalahannya lebih rumit? Kebanyakan manusia memandang hidup hanyalah apa yang bisa mereka rasakan dan saksikan di sekitar diri mereka sendiri.</p>
<p><em>“Dan mereka berkata: &#8220;Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa&#8221;, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”</em> (45: 14)</p>
<p>Firman Alloh itu merupakan gambaran pola pandang orang-orang kafir tulen. Mereka mengingkari sama sekali keberadaan alam akhirat. Pandangan seperti ini besar pengaruhnya pada model kehidupan sehari-hari, karena bagi mereka tidak jadi soal melakukan dosa-dosa bear semacam zina, asalkan secara pragmatis menimbulkan kesenangan dunia dan kenikmatan hidup. Mereka dibebani perasaan berdosa, karena aqidah mereka mendukungnya. Mereka bilang, bila diakhirat kelak mendapatkan sanksi berat, itu urusan nanti. Yang penting bagaimana hari ini bisa enjoy. Aqidah yang terakhir ini dimiliki orang-orang kafir yang masih sedikit agak mempercayai adanya alam akhirat. Sejumlah orang muslim munafik juga dekat sekali dengan paham semacam itu.</p>
<p>Mereka bisa mempercayai bahwa Alloh senantiasa mengawasi hamba-Nya, tapi di saat yang sama mereka bisa pula bercumbu rayu dengan wanita bukan mahram di tempat khalwat. Mereka bisa, sehabis menangis tersedu-sedu sambil mencoba menyesali dan beristigfar, tetapi gilirang berikutnya, dosa besar itu masih lagi mereka lakukan.</p>
<p>Kekuatan apakah yang bisa menjebol aqidah dalam dada seseorang, sehingga mereka yang dulunya aktivis pejuang Islam, sekarang jadi biasa meninggalkan sholat lima waktu, malah berjalin akrab khamar dan zina?</p>
<p>Jawabannya sederhana, karena mereka berani mencoba-coba bergaul dengan syetan di lingkungan yang tidak Islami. Secara otomatis, pelan tapi pasti, pelan tapi pasti, Alloh yang pernah dekat dengan mereka, mereka jauhi. Semula mereka dekat dengan berita-berita akhirat sehingga enggan melakukan dosa. Tetapi setelah bersahabat dengan masyarakat syetan, mareka lebih banyak membaca dan mendengar berita-berita dunia. Pengaruhnya besar sekali. Mereka tertarik dengan berita itu dan ingin menjadi pelaku berita. Di saat itu pada sholatnya tak ada lagi sisa kekhusyu’an. Sibuk berbaur dan berhura-hura dengan teman-teman syetannya, dan mereka merasakan nikmat. Maka perasaan dosa pun beralih menjadi rasa gembira bila melakukan berbagai tindak pelanggaran. Sekalipun terkadang timbul perasaan rasa sesal, lumuran dosa itu terulang lagi di saat lain.</p>
<p>Muslim munafik itu patut disantuni dengan sejumlah belas kasih oleh muslim beriman. Ajaklah mereka ke jalan mustaqim yang pernah mereka tapaki. Jika tak mau, itu urusan mereka, dan segeralah kita santuni diri kita sendiri agar jangan ikut-ikutan melakukan apa yang mereka kerjakan. Berdzikirlah kepada Alloh. Baca Al Quran, dan pahami maknanya. Sebab siapa saja mudah sekali menjadi seperti mereka, manakala tadarrus Al Quran tersaingi oleh tadarrus majalah-majalah hiburan.</p>
<p>Al Quran tahu benar bagaimana perimbangan berita tentang Alloh dan berita tentang manusia, berita tentang akhirat dan berita tentang dunia. Sungguh beda dengan bacaan-bacaan dunia yang hanya memburu pembacanya senang, terhibur, di samping mendapatkan informasi-informasi penting dalam kehidupan ini. Mereka tak merasa perlu bertanggungjawab apakah para pembacanya kelak di akhirat bahagia atau tidak, karena hari ini adalah urusan hari ini.</p>
<p>Dunia…kau begitu akrab dengan penghunimu. Sampai-sampai saudara kembarmu yang bernama akhirat kehilangan jutaan pengagum dan pecinta. <em>Wallahu a’alam</em>.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=419&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/07/kagum-dunia-lupa-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bencana</title>
		<link>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/03/bencana/</link>
		<comments>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/03/bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 09:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepompong Ramadhon]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Laits]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungbaca.wordpress.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Ketika gempa mengguncang sebuah daerah dan hampir seluruh penghuninya binasa, salah seorang yang selamat bertanya kepada Imam Abu Laits, “Mengapa malapetaka menimpa kami, wahai Tuan Guru?  Padahal masyarakat kami sebagian besar beriman kepada Alloh?”
“Karena kalian telah menikahi mayat-mayat, dan anak-anak kalian dilahirkan dari rahim mayat-mayat,” jawab Abu Laits dengan pedih.
“Saya tidak paham, Tuan Guru. Terangkanlah.”
Abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=416&subd=warungbaca&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika gempa mengguncang sebuah daerah dan hampir seluruh penghuninya binasa, salah seorang yang selamat bertanya kepada Imam Abu Laits, “Mengapa malapetaka menimpa kami, wahai Tuan Guru?  Padahal masyarakat kami sebagian besar beriman kepada Alloh?”</p>
<p>“Karena kalian telah menikahi mayat-mayat, dan anak-anak kalian dilahirkan dari rahim mayat-mayat,” jawab Abu Laits dengan pedih.</p>
<p>“Saya tidak paham, Tuan Guru. Terangkanlah.”</p>
<p>Abu Laits lalu membacakan surah An-Nur ayat 2 dan menjelaskan, “Kaum perempuan di kampungmu adalah para pezina. Dan tidak patut orang-orang beriman menjadikan mereka sebagai istrinya. Sebab, yang pantas mengawini perempuan pezina hanya lelaki pezina juga, atau orang musyrik. Lihatlah apa yang berlangsung di daerahmu sebelum gempa terjadi. Mereka, meskipun sudah menjadi istri yang sah, masih tetap melakukan kegemarannya, berzina dengan lelaki mana saja yang mereka minati.”</p>
<p><span id="more-416"></span></p>
<p>“Tapi mengapa Tuan katakan, mereka adalah mayat-mayat?”</p>
<p>“Bacalah surah An-Nur ayat sebelumnya. Para pezina yang tidak mau bertobat dari dosanya wajib dihukum dera seratus kali. Dan orang-orang yang telah menikah, tetapi masih melakukan zina, harus dihukum rajam sampai mati. Bukankah artinya istri-istri kalian adalah mayat-mayat? Sebab, setelah berkeluarga, mereka masih juga menjalankan dosa besar itu? Hukuman rajam tersebut telah dijelaskan oleh Umar bin Khattab dalam salah satu pidato kenegaraannya sesudah beliau diangkat menjadi khalifah.”</p>
<p>Lelaki yang dalam musibah gempa itu telah kehilangan istri dan anak-anaknya tadi merenung lama, lantas bertanya, “Andaikata ada daerah lain yang seperti itu, apakah Alloh juga akan menghukumnya?”</p>
<p>“Tidak,” jawab Abu Laits. “Merekalah yang menghukum diri sendiri. Kecuali jika mereka berhenti dari perbuatan zinanya. Sebab tiada dosa yang tak diampuni selain menyekutukan Alloh. Dan ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Peringatan ini sudah bergaung sejak beradab-abad yang lalu. Dan tiap kali malapetaka turun beruntun, seharusnya masing-masing kita memandang ke dalam dan bertanya, apakah aku termasuk salah satu penyebabnya? Itulah yang diharapkan Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq pada waktu ia berkata: “Hitung-hitunglah dirimu sebelum kalian diperhitungkan.”</p>
<p>Memang, pada hakikatnya, Tuhan Yang Pengasih hanya menebarkan rahmat dan karunia, bukan bencana dan luapan murka. Adalah manusia sendiri yang telah berbuat aniaya sehingga mereka layak mendapat siksa. Dalam surah Ar-Rum ayat 41 Alloh berfirman:</p>
<p>“Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan karena ulah tangan-tangan manusia juga supaya mereka merasakan sebagian kecil dari akibat perbuatan mereka itu. Mudah-mudahan mereka mau kembali (ke jalan Alloh).”</p>
<p>Celakanya, macam-macam ulah manusia yang bsia mengundang datangnya bencana. Antara lain ialah jika keadilan terbengkalaikan, dan kelaliman merajalela seperti tatkala seorang gadis ningrat tertangkap basah mencuri seuntai kalung emas. Namanya Fathimah al Mahzumi, kemenakan Panglima Khalid bin Walid. Para sahabat berniat mendiamkan saja kasus itu atas pertimbangan yang “manusiawi”, kalau-kalau keluarganya yang bermartabat tinggi itu malu dan jatuh pamornya. Tatkala Rasululloh saw. mendengarnya, beliau marah bukan kepalang dan bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya Alloh telah menghancurkan umat sebelum kalian sebab, bila di antara mereka ada tokoh terhormat mencuri, dibiarkan saja; tetapi, kalau rakyat kecil yang melakukannya, ia dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.”</p>
<p>Bencana juga akan menimpa apabila masyarakat telah terbius oleh kemewahan harta sampai berkecamuk persaingan dan sikut menyikut tanpa tenggang rasa.</p>
<p>Alkisah, Abu Ubaidah bin Jarrah baru pulang dari Bahrain membawa hasil pajak penduduk setempat untuk dibagikan kepada masyarakat Madinah sebagai imbalan pemerintah pusat yang melindungi dan menjaga keamanan negeri Bahrain. Hasil pajak itu lalu diserahkan kepada Rasululloh yang akan membagikannya secara adil.</p>
<p>Berita ini dengan cepat tersebar di segenap pelosok Madinah. Maka pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, masyarakat sudah berduyun-duyun mendatangi masjid Nabawi untuk menunaikan sholat subuh bersama Nabi.</p>
<p>Selesai shalat, Nabi berdiri dan dengan trenyuh berkata, “Aku sudah menduga, yang berjamaah pagi ini pasti jauh lebih banyak dari kemarin karena kalian telah mendengar kedatangan Abu Ubaidah dengan membawa harta yang besar jumlahnya.”</p>
<p>Masyarakat tertunduk malu. Kebisuan mereka menunjukkan tuduhan Rasululloh memang benar, bahwa kedatangan mereka ke masjid bukan bertujuan ikhlas hendak beribadah, melainkan karena mengharapkan pembagian harta. Melihat perubahan sikap itu, Rasululloh lantas bersabda:</p>
<p>“Bergembiralah kalian, dan renungkanlah apa sesungguhnya yang menyebabkan kalian bergembira demi Allah. Bukan kemiskinan kalian yang mengkhawatirkan perasaanku. Sebaliknya, aku justru ngeri seandainya kemewahan dunia telah kalian peroleh, sebagaimana pernah dialami oleh umat sebelum kalian. Maka pada waktu itu kalian akan saling mementingkan diri sendiri, seperti juga diperbuat oleh mereka. Lalu sifat itu akan menghancurkan kamu, sama halnya dengan sifat yang serupa telah membinasakan mereka.”[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungbaca.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungbaca.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungbaca.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungbaca.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungbaca.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungbaca.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungbaca.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungbaca.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungbaca.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungbaca.wordpress.com/416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungbaca.wordpress.com&blog=2924979&post=416&subd=warungbaca&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungbaca.wordpress.com/2009/09/03/bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>