Kagum Dunia, Lupa Akhirat
September 7, 2009
“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat (as-sama’aaddun ya) dengan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syetan, dan kami sediakan siksa neraka yang menyala-nyala.” (67: 5)
Langit dunia artinya langit yang dekat. Kehidupan dunia artinya kehidupan yang dekat. Memang arti addun-ya menurut ayat di atas ialah ‘dekat’, akhirat artinya akhir. Kehidupan akhirat artinya kehidupan tahap akhir yang jaraknya cukup jauh dari sekarang.
Alloh mengabarkan bahwa bintang-bintang adalah hiasan yang letaknya di langit pertama (dekat). Mafhumnya, Alloh tak menghiasi langit kedua sampai langit ketujuh dengan bintang-bintang itu.
Banyak manusia terpesona dan terkagum-kagum menyaksikan gemerlap bintang yang terlihat dengan mata yang telanjang. Jumlahnya kira-kira tiga ribu buah. Padahal dibalik taburan gemerlap itu, jutaan bahkan miliaran bintang menghuni angkasa langit pertama. Sedikit manusia yang menyakini bahwa di balik tiga ribu itu, terdapat miliaran rahasia yang lain.
Bencana
September 3, 2009
Ketika gempa mengguncang sebuah daerah dan hampir seluruh penghuninya binasa, salah seorang yang selamat bertanya kepada Imam Abu Laits, “Mengapa malapetaka menimpa kami, wahai Tuan Guru? Padahal masyarakat kami sebagian besar beriman kepada Alloh?”
“Karena kalian telah menikahi mayat-mayat, dan anak-anak kalian dilahirkan dari rahim mayat-mayat,” jawab Abu Laits dengan pedih.
“Saya tidak paham, Tuan Guru. Terangkanlah.”
Abu Laits lalu membacakan surah An-Nur ayat 2 dan menjelaskan, “Kaum perempuan di kampungmu adalah para pezina. Dan tidak patut orang-orang beriman menjadikan mereka sebagai istrinya. Sebab, yang pantas mengawini perempuan pezina hanya lelaki pezina juga, atau orang musyrik. Lihatlah apa yang berlangsung di daerahmu sebelum gempa terjadi. Mereka, meskipun sudah menjadi istri yang sah, masih tetap melakukan kegemarannya, berzina dengan lelaki mana saja yang mereka minati.”
Surga ataukah Neraka
September 1, 2009
Orang-orang Khawarij yang mengagungkan pendapat akal bertanya kepada Imam Hanafi, “Di muka terbaring dua sosok jenazah. Yang satu jenazah seorang pria yang mati akibat terlalu banyak menenggak minuman keras. Yang lainnya adalah mayat seorang wanita yang mati bunuh diri setelah merasa dirinya hamil di luar nikah. Ia seorang pezina yang nista. Bagaimanakah nasib mereka di akhirat kelak menurut pendapat Tuan?”
Imam Hanafi balik bertanya, “Nasib macam mana yang Saudara-saudara maksudkan?”
Kaum Khawarij itu menjawab, “Ya. Bagaimanakah kelanjutan perjalanan mereka sesudah mati?”
Imam Hanafi masih juga berkilah, “Apakah kedua orang mendiang itu beragama Yahudi?”
“Tidak,” sahut orang-orang Khawarij.
“Apakah mereka beragama Nasrani?”
“Tidak, “ sanggah mereka dengan tegas.
“Atau mungkin mereka beragama Majusi, penyembah api?”
“Tidak juga.”
“Jadi, beragama apakah mereka?” desak Imam Hanafi.
Sang Penghuni Langit
August 31, 2009
Bagi Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khatthab, pesan Rasulullah saw. itu menimbulkan teka-teki dan rasa ingin tahu. Siapakah sebenarnya Uwais Al-Qarni yang disebut sebagai penghuni langit itu?
“Jangan lalai kalau kalian berjumpa dengan dia, mintalah doa dan istighfar kepadanya. Sebab ia bukan penduduk bumi. Ia salah seorang penghuni langit.” Demikian wasiat Rasulullah. “Perhatikanlah tanda putih di tengah telapak tangannya.”
Mengapa sekeras itu beliau berpesan? Kemuliaan apa yang dimiliki Uwais Al-Qarni?
Kejadiannya bermula ketika mereka berdua bersama para sahabat lainnya baru kembali dari medan perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Begitu tiba di rumah, Rasulullah segera mendatangi istrinya, Aisyah, dan bertanya, “Apakah ada seseorang dari Yaman yang mencari aku?”
Kecerdikan Orang Kecil (2)
August 29, 2009
Pada kisah terdahulu diceritakan sekelumit kecerdikan orang kecil yang tidak punya ilmu, harta, maupun kekuasaan. Otaknya bisa berputar lancar dalam keadaan terpaksa untuk mencari keselamatan dan jalan keluar.
Sama seperti yang dialami oleh seseorang jamaah haji dari Sunda di Tanah Suci Makkah. Ia tersesat ketika hendak tawaf mengitari Ka’bah. Ia telah mencari-cari, di manakah Masjidil Haram. Mau bertanya-tanya ia hanya bisa berbahasa Sunda. Padahal dari tadi tidak dijumpainya orang sekampung.
Alangkah gembiranya orang Sunda itu ketika bertemu dengan jamaah lain yang kulitnya sama. Disangkanya orang itu berasal sedaerah dengannya. Maka dengan bahasa Sunda yang lancar ia bertanya:
“Punten. Palih mana nu bade ka Masjidil Haram?” Maksudnya menanyakan arah menuju Masjidil Haram.
Kecerdikan Orang Kecil (1)
August 27, 2009
Abu Nawas diminta memberikan ceramah di hadapan pembesar negeri. Semua sudah tahu para pembesar negeri tersebut suka memeras rakyat kecil dengan berbagai sumbangan wajib dan upeti-upeti terselubung. Yaitu jika rakyat memerlukan wewenang mereka untuk menyelesaikan suatu urusan.
Dalam ceramahnya, Abu Nawas lantas bercerita:
“Pada suatu ketika beberapa negara mengadakan pertandingan. Yang ikut bertanding adalah wakil-wakil dari negara Hitam, Putih, Bule, Kuning, dan juga negara kita. Pertandingannya sendiri sebetulnya tidak istimewa. Hanya memeras handuk basah. Siapa yang berhasil mengocokan air paling banyak dari handuk yang hampir kering itu, dialah yang menang.
Majulah orang Hitam yang terkenal kuat-kuat. Ia mengangkat handuk itu, lalu memerasnya sekuat tenaga. Namun, hasilnya Cuma beberapa tetes air.
Sekarang giliran orang Putih yang termasyhur kesaktiannya. Ternyata air yang keluar dari handuk itu juga hanya sedikit.
Orang Bule yang tersohor sombong pun demikian pula kesudahannya. Walaupun ia sudah berkutat sampai berkeringat, handuk itu cuma mengeluarkan beberapa titik air.
Tibalah saatnya orang Kuning yang bangsanya menguasai dua pertiga dunia dengan kecerdikan dan kekuatannya. Memang, orang kuning boleh saja merajalela di jalan-jalan, di pasar-pasar, dan di istana orang-orang berpangkat. Namun, ketika ia memeras handuk yang setengah kering itu, air yang mengucur juga tidak banyak. Hanya beberapa ciprat saja.
Maka majulah wakil negara kita. Orangnya kecil , kerempeng, pucat pasi, hingga para wakil negara lainnya mencibirkan bibir. Mana mungkin orang sekurus itu dapat menandingi mareka?
Tetapi, sungguh mencengangkan. Walaupun ketika mengangkat handuk itu wakil negara kita tersebut sudah keberatan, pada waktu memerasnya air yang keluar banyak sekali, sampai timbul banjir di mana-mana.
“Dengan takjub lawan-lawannya bertanya serempak, ‘Sangat mengherankan. Bagaimanakah Tuan yang kecil dan kurus dapat memeras handuk itu sampai airnya melimpah ruah?”
“Sambil membusungkan dada, wakil negara kita itu lantas menjawab, ‘Wahai Tuan-tuan. Tentu saja tak kan bisa menandingi saya dalam pertandingan memeras handuk ini. Sebab di negara saya, soal peras-memeras memang merupakan kebiasaan sehari-hari, di mana-mana.’ “
Mendengar ceramah Abu Nawas tersebut para pembesar negeri yang sering melakukan pemerasan itu tertunduk. Mereka merasa malu dan berjanji tak kan mengulangi perbuatan buruk itu lagi.[]
Kejujuran Berdarah
August 26, 2009
Dalam suatu perangkap yang curang, Khubaib bin Adi ditangkap orang-orang suku Huzail bersama lima sahabat lainnya yang ditegaskan oleh Rasulullah untuk menjalankan dakwah di lingkungan kaum Badui, atas permintaan suku Huzail sendiri.
Khubaib kemudian dijual oleh orang-orang Huzail kepada kaum Quraisy di Makkah. Di bawah pimpinan Abu Sufyan, pemuka kaum Quraisy, diputuskan daam rapat untuk menjatuhkan hukuman mati atas Khubaib.
Jauh-jauh sebelum pelaksanaan eksekusi, Khubaib sudah sudah diberi tahu, dengan tujuan agar Khubaib menangis-nangis memohon keringanan hukuman. Dengan demikian, orang-orang musyrik bisa menyebarkannya kepada masyarakat luas agar nama pengikut Rasulullah jatuh di mata umum.
Kebajikan dan Kesabaran
August 23, 2009
Lelaki itu betul-betul seorang pejahat kambuhan. Ia belum pernah berbuat baik sejak kecil. Tetapi, pada suatu hari ia terkesan oleh cerita Nabi saw. tentang seorang dermawan yang diterima ibadahnya lantaran bila bersedekah, diberikannya kepada sampah masyarakat, atau orang yang tercela sifatnya.
Kata Nabi, “Orang itu tidak putus-putusnya berderma. Dan selalu didahului niat pada malam sebelumnya. Pertama-tama ia berkata akan bersedekah kepada pencuri, pencopet, atau perampok. Maka setelah tiba waktunya, ia pun mendatangi rumah mereka satu persatu, dan diberikannya sedekah yang memadai. Tentu saja masyarakat geger. Mereka saling kasak kusuk. “Masakan pencuri dibaik-baiki?” Tetapi si dermawan malah mengucap, “Terpujilah nama Alloh bagi pencuri.” Malam berikutnya ia berkata, “Besok akan aku bersedekah kepada para pelacur.” Itu pula yang dilakukan keesokan harinya.
Datanglah Engkau Wahai Ramadhan
August 22, 2009
Selama bulan Ramadhan ini, saya akan menampilkan tulisan-tulisan setiap harinya. Insya Alloh. Ikuti terus.
========
Datanglah Engkau Wahai Ramadhan
Saya punya tetangga, orangnya masih muda, rumahnya gedung bertingkat, mobilnya ada empat, istrinya cantik, badannya tinggi besar dan sehat walafiat. Tetapi, tiap kali datang bulan Ramadhan, ia tidak pernah puasa karena takut jatuh sakit walaupun dalam catatan kelurahan, tercantum agamanya Islam.
Saya juga ada tetangga, seorang kakek, umurnya sudah enam puluh lima tahun, rumahnya gubuk reyot, masuk gang becek, pekerjaannya sebagai tukang becak. Namun, tiap kali datang bulan Ramadhan, ia menyambutnya dengan gembira, dan sambil mengayuh becak seharian ia tetap menjalankan ibadah puasa.
Apa yang terjadi kemudian?
Pompeii, Kisah Nabi Luth Jilid 2
August 16, 2009
Kemarin secara iseng saya mencoba memasukkan keyword “jasad utuh” digoogle dan hasilnya saya menemukan artikel mirip dengan kisah kaum Nabi Luth as. Pompeii. Ya Pompeii nama sebuah kota di Italia yang mengalami kehancurang seperti kaum nabi Luth as. Berikut tulisannya yang saya ambil dari harunyahya.com setelah memasukkan keyword Pompeii digoogle untuk pencarian lebih lanjut. Pencarian tidak hanya web tetapi images untuk mengetahui gambar-gambar tentang Pompeii. Hasilnya? Cobalah nanti anda akan tahu sendiri.
Pompeii, Kisah Nabi Luth as. Jilid 2
Alqur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah):
“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al-Faathir, 35:42-43).
Begitulah, “…sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah…”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.
Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.