Kemudahan dan Jalan Keluar

NUTRISI HATI

Jika bertakwa kepada Alloh, niscaya kalian mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Dengarlah firman Alloh, “Barang siapa bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga.” (Al-Thalaq (65): 2 dan 3) Ayat ini menutup pintu kebergantungan pada sebab, pintu orang-orang kaya dan penguasa, tetapi membuka pintu tawakkal kepada Alloh. Dengan demikian, orang yang bertakwa selalu diberi kemudahan dan jalan keluar dari segala kesulitan.

(Referensi: Al-Fath Al-Rabbani, karya: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

Dampak Negatif Dosa

NUTRISI HATI

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Lima belas di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:

(1). Terhalang dari ilmu yang haq (benar / lurus). Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik Rahimahullahu, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i.

Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini,

“Aku memandang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar 15 dampak negatif dari dosa. Ini adalah yang kedua:

(2). Terhalang dari beroleh rezeki dan urusannya dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan rezeki dan memudahkan urusan seorang hamba

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya);

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

(QS. Ath-Thalaaq [65] : 2-3).

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

(QS. Ath-Thalaq [65] : 4).

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

(3). Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya, sebagaimana jauhnya pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.

(4). Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tandanya di mata si hamba. Terus demikian, hingga tampak di wajahnya yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

(5). Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa, sekalipun badannya tampak kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.

(6). Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahannya, sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya.

Mengapa demikian?

Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hatinya hidup. Sementara, orang yang hatinya mati walaupun masih berjalan di muka bumi, hakikatnya ia telah mati.

Oleh karenanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan orang kafir adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:

“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.”

(QS. An-Nahl [16] : 21).

Dengan demikian, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti, umurnya tidak lain adalah waktu-waktu kehidupannya yang dijalani karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menghadap kepada-Nya, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu, tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat, berarti hilanglah hari-hari kehidupannya yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:

“Aduhai kiranya dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.”

(QS. Al-Fajr [89] : 24).

(7). Satu maksiat akan mengundang maksiat lainnya, sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf:

“Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelakunya akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain.

Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata, ‘Lakukan pula aku.’

Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut, maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungannya, kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan….”

(8). Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat, hingga pada akhirnya keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

(9). Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat, hatinya tidak lagi (tidak sensitif/peka) merasakan jeleknya perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba, ia tidak akan dimaafkan, sebagaimana Sabda dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa sallam:

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosanya kecuali orang-orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukannya tersebut[2] namun di pagi harinya ia berkata pada orang lain, “Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabbnya menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan (tabir) Allah yang menutupi dirinya.”

(HR. Al-Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 7410).

(10). Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

– Perbuatan HOMOSEKSUAL adalah warisan kaum Luth.

– Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan menguranginya, adalah warisan kaum Syu’aib.

– Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun. Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

(11). Maksiat merupakan sebab dihinakannya seorang hamba oleh Rabbnya.
Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.

“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.”

(QS. Al-Hajj [22] : 18).

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormatinya karena kebutuhan mereka terhadapnya atau mereka takut dari kejelekannya, namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

(12). Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa, pada akhirnya ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggapnya kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullahu dalam Shahih-nya (no. 6308) menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

(13). Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya, sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahayanya telah padam, akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata:

“Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali, karena orang yang hadir akalnya tentunya akan menghalangi dirinya dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala, di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.

(14). Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati, hingga ia termasuk orang-orang yang lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya);

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”

(QS. Al-Muthaffifin [83] : 14).

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa (bertumpuk-tumpuk) hingga mati hatinya.”

(15). Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosanya, ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang-orang yang beriman, yang suka bertaubat, yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya);

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, seraya berucap, ‘Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar’.”

{QS. Ghafir (Al-Mu’min [40] ): 7-9}.

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang kami ringkaskan dari kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu hal. 85-99.

Semoga dapat menjadi peringatan. Setiap hari kita tenggelam dalam kenikmatan yang dilimpahkan oleh Ar-Rahman. Nikmat kesehatan, keamanan, ketenangan, rezeki berupa makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Belum lagi nikmat iman bagi ahlul iman. Sungguh, dalam setiap tarikan nafas, ada nikmat yang tak terhingga. Namun sangat disesali, hanya sedikit dari para hamba yang mau bersyukur:

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.”

(QS. Saba’ [34] : 13).

Kebanyakan dari mereka mengkufuri nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Atau malah mempergunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat dan berbuat dosa kepada Ar-Rahman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kepada mereka banyak kebaikan namun mereka membalasnya dengan kejelekan.

Demikianlah keadaan manusia, setiap harinya selalu berbuat dosa. Kita pun tak luput dari berbuat dosa, baik karena tergelincir ataupun sengaja memperturutkan hawa nafsu dan bisikan setan yang selalu menggoda. Amat buruklah keadaan kita bila tidak segera bertaubat dari dosa-dosa yang ada dan menutupinya dengan berbuat kebaikan. Karena perbuatan dosa itu memiliki pengaruh yang sangat jelek bagi hati dan tubuh seseorang, di dunianya ini maupun di akhiratnya kelak.

Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab.

Al-Muhlikat (Perusak) ke-2: Congkak dan Sombong.

Pojok “Ngaji Yuk!”

Dan termasuk penyakit hati yang paling besar dan bersifat merusak adalah sombong. Adapun sombong termasuk sifat-sifat setan. Allah Ta’ala berfirman tentang iblis yang dilaknat, yang artinya

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. al-Baqarah: 34)

Dan orang sombong dibenci Allah Ta’ala, seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. an-Nahl: 23)

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman: 18)

Sombong dan membanggakan diri termasuk sifat-sifat orang yang takabbur. Dan orang yang takabbur adalah orang yang tertutup hatinya, karena Allah telah mengunci hatinya. Seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (QS. Ghafir: 35)

Dan orang yang takabbur dipalingkan dari tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. (QS. al-A’raf: 146)

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Sombong adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Maka barangsiapa yang merebut salah satunya, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih mereka dan Ibnu Majjah, dan lafadz hadits darinya)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Ketika ada seseorang yang sombong dari umat sebelum kalian yang menyeret sarungnya, maka Allah membenamkamnya ke dasar bumi sehingga orang tersebut bergejolak di dalamnya sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, an-Nasa’i, dan lainnya)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya masih terdapat sifat sombong sebesar biji atom, lalu seorang laki-laki bertanya, “ Wahai Rasulullah, orang tersebut senang memakai pakaian dan sandal yang bagus.” Rasulullah menjawab, ‘Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Indah dan senang dengan keindahan, sombong adalah menolak sesuatu yang benar dan menghina manusia.’ (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

yakni memandang rendah mereka dan meremehkan mereka. Maka barang siapa merasa sombong di dalam hatinya dan dia kagum dengan dirinya sendiri serta memandang rendah dan meremehkan manusia, maka orang itu termasuk orang yang takabur yang dibenci Allah Ta’ala.

Sifat sombong hanya terdapat di dalam hati, namun tanda-tanda yang menunjukkan sifat sombong dapat terlihat di sisi bagian luar, antara lain senang duduk di muka orang-orang, menampakkan kesombongan di depan para manusia, senang maju ke depan dalam majelis-majelis, berjalan dengan angkuh dan sombong, gengsi jika pendapatnya ditolak meskipun pendapatnya sesat, dan tidak mau menerima pendapat orang lain (meskipun benar), serta meremehkan orang-orang muslim yang lemah dan miskin.

Termasuk tanda-tanda zhahir yang menunjukan kesombongan antara lain menilai dirinya baik dan senang memujinya, membanggakan dirinya dengan bapak-bapaknya yang menjadi orang-orang shalih dan mulia, membanggakan dirinya dengan nasab.

Semua itu dicela dan dipandang sangat buruk. Dan sungguh sebagian dari anak-anak orang-orang yang baik (para ulama’) diuji dengan sifat-sifat tersebut yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pemikiran dan pengetahuan tentang hakikat-hakikat agama.

Barangsiapa membanggakan diri atas manusia dengan nasab dan bapak-bapaknya, maka hilanglah barokah bapak-bapaknya darinya. Sebab, bapak-bapaknya tidak membanggakan diri dan sombong atas manusia. Jika bapak-bapaknya melakukan kesombongan dan membanggakan diri, maka pastilah keutamaan mereka sia-sia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Barangsiapa memperlambat amalnya (bermalas-malasan), maka nasabnya tidak akan mempercepatnya. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Wahai Fatimah putri Muhammad, wahai Shofiyyah bibi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak kuasa menolak dari Allah siksa neraka atas kalian. Maka belilah diri kalian sendiri dari neraka. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Tidak ada keutamaan bagi orang kulit putih melebihi orang kulit hitam, dan tidak ada keutamaan bagi orang Arab melebihi orang ‘ajam ( selain Arab), kecuali hanya dengan taqwa kepada Allah Ta’ala. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari debu. (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Sungguh telah berakhir kesombongan kaum-kaum atas bapak-bapaknya atau sungguh mereka lebih hina menurut Allah Ta’ala daripada kecoa. (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan at-Tirmidzi )

Keutamaan dan kemuliaan disebabkan oleh takwa, bukan disebabkan oleh nasab.

Seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS. al-Hujarat: 13)

Jika ada seseorang yang paling bertakwa, paling alim, dan paling banyak ibadahnya di antara manusia, kemudian dia menyombongkan diri atas para manusia, maka Allah Ta’ala akan menyia-nyiakan ketakwaannya dan menghilangkan pahala ibadah-ibadahnya. Lalu bagaimana dengan orang bodoh yang banyak berbuat dosa serta menyombongkan diri dengan memakai ketakwaan dan kebaikan

orang lain, yaitu bapak-bapak dan kakek-kakeknya? Apakah ini bukan merupakan kebodohan yang besar dan ketololan yang menakutkan? Dan sesungguhnya semua kebaikan itu berada di dalam tawadhu’, khusyu’, dan tunduk atau merendahkan diri kepada Allah Ta’ala.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Barangsiapa merendahkan diri kepada orang-orang mukmin karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya. Dan barang siapa sombong kepada orang-orang mukmin, maka Allah akan menjatuhkannya. (Diriwayatkan oleh at-Thabarani)

Dan sesungguhnya cinta agar dirinya tidak dikenal, serta benci kemasyhuran adalah termasuk akhlak orang-orang mukmin yang shalih. Dan ridha dengan hal-hal yang rendah dari suatu majelis, pakaian, makanan, dan seluruh harta dunia itu juga termasuk akhlak orang-orang mukmin yang shalih.

Maka, berpeganglah pada akhlak-akhlak tersebut, wahai orang mukmin.

Bersambung.

(Referensi kitab Qul Hadzihi Sabili, karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani)

 

Al-Muhlikat (Perusak) dan Al-Munjiyat (Penyelamat Amal)

Pojok “Ngaji Yuk!”

Ketahuilah bahwa akhlak yang tercela dan tingkah laku yang dibenci itu banyak jumlahnya. Dan begitu juga akhlak yang terpuji dan tingkah laku yang dicintai yang mana bagi seorang muslim hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak dan tingkah laku tersebut, juga banyak jumlahnya.

Dan sungguh al-Imam Hujjatul Islam (Imam al-Ghazali) telah membahas secara sempurna semua hal tersebut di dalam pertengahan yang kedua dari kitab “Ihya’ Ulumuddin” dalam menerangkan akhlak yang merusak dan yang menyelamatkan. Perkataan Imam al-Ghazali dalam hal ini adalah sesuatu yang dijadikan pegangan dan referensi, karena kesempurnaan beliau di dalam ilmu ibadah, zuhud, dan ma’rifat. Dan karena sesungguhnya beliau dalam hal ini telah mengumpulkan perkataan orang-orang shalih dan guru-guru tarekat.

Orang-orang sepeninggal Imam al-Ghazali mengikuti jejak-jejak beliau dan mengambil cahaya-cahaya keilmuan beliau, yaitu orang-orang yang menekuni ilmu di bidang ini, yang terdiri dari ulama dan orang-orang shalih dari berbagai daerah dan negara seperti Syaikhul Islam al-Imam Abdullah bin ‘Alawy al-Haddad pengarang kitab an-Nashaih ad-Diniyyah. Seperti halnya orang yang mengikuti jejak-jejak beliau dan mengambil cahaya-cahaya keilmuan beliau, yaitu orang yang memiliki sisi keilmuan yang kuat di bidang ini serta mampu menyelami dan melihat rahasia-rahasia di jalan Allah.

Al-Muhlikat (Perusak Amal)

Adapun hal-hal yang dapat merusak hati, yang menjadi kewajiban bagi seseorang untuk membersihkan dan menghindarkan hatinya dari hal-hal tersebut jumlahnya banyak. Dan saya akan menyebutkan hal-hal yang pokok dan paling penting. Di antaranya adalah,

  1. Ragu-ragu terhadap agama

Di antara penyakit hati yang paling besar adalah ragu-ragu terhadap agama. Langkah pertama dalam membersihkan hati dari penyakit ragu terhadap agama yaitu wajib bagi manusia untuk membersihkan dan mensucikan hatinya dari hinanya sifat ragu kepada Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan akhirat. Maka sesungguhnya keraguan tersebut di akhirat termasuk penyakit hati yang paling besar yang dapat merusak.

Langkah kedua yaitu membersihkan hati dari keraguan yang secara khusus dapat membahayakan ketika sakaratul maut, dan terkadang mengantarkan (semoga Allah Ta’ala melindungi kita) dari meninggal dalam keadaan su’ul khotimah.

Terkadang sebagian manusia diuji dengan keraguan ini. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi seseorang yang mendapati keraguan ini untuk menyimpan di dalam hati dan jiwanya sehingga menyebabkan dirinya bertemu dengan Allah dalam keadaan ragu. Bahkan, wajib baginya untuk bersungguhsungguh dalam menghilangkan dan menyingkirkan keraguan itu dari dirinya dengan kadar kemampuannya.

Dan termasuk ragu-ragu kepada Allah Ta’ala adalah meyakini Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tidak sepantasnya. Berupa hal-hal yang melawan kesucian Allah Ta’ala.

Dan termasuk ragu-ragu terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meyakini hal-hal yang tidak pantas bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu hal-hal yang meniadakan kesempurnaan sifat ma’sumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itu seperti meyakini sesuatu yang mengeluarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari batas kemanusiaan kepada batas ketuhanan, atau meyakini sesuatu yang menyamakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia biasa di setiap hal tanpa adanya sesuatu keistimewaan. Kedua-duanya adalah keyakinan yang sesat.

Adapun hal yang paling bermanfaat dalam menghilangkan sifat ragu adalah bertanya kepada ulama yang mengerti tentang Allah Ta’ala dan agama-Nya, yaitu orang-orang yang mempunyai keyakinan dan takut kepada Allah Ta’ala, serta zuhud kepada dunia.

Jika tidak menemukan salah satu di antara mereka, maka kajilah kitab-kitab karangan mereka tentang ilmu tauhid dan keyakinan. Dan saya tidak mengartikan keraguan manusia terhadap pikiran-pikiran dan bisikan-bisikan hati didalam masalahmasalah keimanan, dengan sesuatu yang telah diketahui kesesatannya. Dan manusia itu menemukan hatinya tetap teguh berlawanan dengan pikiran-pikiran tersebut, serta hatinya benci dan berpaling dari hal-hal itu. Maka sesungguhnya hal itu adalah bisikan-bisikan hati. Cukup bagi seseorang untuk membenci, berpaling, dan minta perlindungan Allah Ta’ala dari bisikan-bisikan tersebut.

Bersambung.

(Referensi kitab Qul Hadzihi Sabili, karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani)

Dampak Negatif Dosa (4)

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar 15 dampak negatif dari dosa. Ini adalah yang keempat:

(4). Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tandanya di mata si hamba. Terus demikian, hingga tampak di wajahnya yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

Bersambung.

Dampak Negatif Dosa (2)

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar 15 dampak negatif dari dosa. Ini adalah yang kedua:

(2). Terhalang dari beroleh rezeki dan urusannya dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan rezeki dan memudahkan urusan seorang hamba

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya);

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

(QS. Ath-Thalaaq [65] : 2-3).

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

(QS. Ath-Thalaq [65] : 4).

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

Bersambung.