Penjaga Hati

“Ada empat hal yang dapat menjaga hati: pertama, menjaga makanan yang dimakan; kedua, meluangkan waktu untuk ketaatan; ketiga, memelihara kehormatan; keempat, meninggalkan hal yang membuat kita lupa kepada Alloh.”

[Referensi: Al-Fath Al-Rabbani, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

Mengikuti Jejak Nabi Yunus as.

Salah satu Nama Alloh Yang Agung (Ismullah al-A’dzham) adalah Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin. Kalimat yang mudah diucapkan dan mudah dihafal. Adakah rahasia di dibalik doa “La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin”? Bagaimana mungkin satu doa seperti ini dapat menyelamatkan seseorang daripada musibah yang amat besar, seperti yang dialami Nabi Yunus as. ditelan oleh ikan paus?

Dalam perut ikan yang gelap-gelita itulah, Nabi Yunus menyadari kesalahannya melarikan diri dari misi dakwahnya, lalu banyak berdoa dan berzikir kepada Alloh dengan kalimah “La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin.

Maka dengan doa ini, Alloh berfirman:

“Maka Kami kabulkan permohonan doanya dan Kami selamatkan dia dari kesusahan yang menyelubunginya dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.” [al-Anbiya’ 21:88]

Seandainya Nabi Yunus tidak mengingati Alloh dengan doa tersebut, maka Alloh menyatakan: “Maka kalaulah dia bukan dari orang-orang yang sentiasa mengingati Alloh, tentulah dia akan tinggal di dalam perut ikan itu hingga ke hari manusia dibangkitkan keluar dari kubur.” [al-Shaffat 37: 142-143]

Barangsiapa yang membaca doa di atas dengan penuh keikhlasan dan mengakui dosa-dosanya, pasti Alloh akan memberinya pertolongan yang secepatnya, seperti disebutkan dalam firman Alloh sebagai berikut:

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan Demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiyaa: 88)

Rahasia Kalimat Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin.

Rahasia kalimat   adalah Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin sungguh amat besar. Setidaknya kami kemukakan tiga rahasia yang kami ketahui, yang sesungguhnya rahasia yang sebenarnya Alloh yang tahu.

Rahasia 1:   Rahasia pertama, perhatikan bahawa doa ini dibuka dengan kalimah tauhid “Tiada Tuhan melainkan Alloh”. Kalimah tauhid tidak sekadar bermaksud tiada tuhan yang berhak aku sembah melainkan Alloh, tetapi dalam konteks ini juga bermaksud tiada tuhan yang patut aku mengadu, mengharapkan keampunan dan menghajatkan keselamatan melainkan Alloh. Pembukaan seperti ini membuktikan kemantapan dan ketulenan tauhid Nabi Yunus di mana beliau tidak mengadu, merungut dan berharap kepada sesiapa dan apa jua melainkan kepada Alloh sahaja.  Ini merupakan manhaj para Rasul dan Nabi yang mesti kita ikuti.

Perhatikan – sebagai contoh lain – sikap Nabi Ayyub ketika beliau ditimpa penyakit. Beliau tidak mengadu kepada para doktor atau selainnya, tetapi mengadu kepada Alloh sahaja: Dan (sebutkanlah peristiwa) Nabi Ayyub, ketika dia berdoa merayu kepada Tuhannya dengan berkata: “Sesungguhnya aku ditimpa penyakit, sedang Engkaulah sahaja yang lebih mengasihani daripada segala (yang lain) yang mengasihani.” [al-Anbiya 21:83]

Rahasia 2:  Seterusnya Nabi Yunus mengucapkan: “Maha Suci Engkau (ya Alloh)”, bererti mensucikan Allah dari sebarang bentuk kezaliman atau penganiayaan. Lebih mendalam, Nabi Yunus menyucikan Allah bahawa apa yang menimpanya saat itu (ditelan oleh ikan paus) bukanlah merupakan satu bentuk penganiayaan oleh Allah ke atas dirinya.  Penyucian ini penting ditegaskan kerana kadangkala apabila ditimpa kesusahan, kita marah atau menyalahkan Alloh. Malah kita menuduh Alloh sebagai konon sengaja menganiaya diri kita. Maha Suci Alloh dari menganiaya manusia, tetapi manusialah yang menganiaya diri mereka sendiri:

“Dan tiadalah Kami menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” [al-Nahl 16:118]

Rahasia 3:  Tanpa keberatan, tanpa alasan yang berlapik-lapik, Nabi Yunus terus mengaku kesalahannya dengan berkata: “Sesungguhnya aku adalah daripada orang-orang yang menganiaya diri sendiri.” Nabi Yunus tidak terus meminta ampun kepada Alloh, sebaliknya memilih cara yang lebih lembut, beradab lagi merendah diri, yakni dengan mengakui kesalahan dirinya sendiri.  Selain itu Nabi Yunus sedar bahawa kesusahan yang menimpanya saat itu, iaitu ditelan oleh ikan paus, merupakan kesan daripada kesalahan dirinya sendiri yang melarikan diri dari tugas dakwah yang Alloh amanahkan kepadanya. Merupakan sesuatu yang sedia dimaklumi bahawa salah satu faktor seseorang itu ditimpa kesusahan dan kesulitan ialah kerana dosa-dosa hasil dari kesalahan yang pernah dia lakukan sendiri. Alloh menyatakan hakikat ini: “Dan apa jua yang menimpa kamu dari sesuatu kesusahan, maka ia adalah disebabkan apa yang kamu lakukan (dari perbuatan-perbuatan yang salah dan berdosa) dan (dalam pada itu) Allah memaafkan sebahagian besar dari dosa-dosa kamu.” [al-Shura 42:

Cara Mengamalkan kalimat Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin 

Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’I, Al-Hakim dalam kitab “Nawadirul Ushul”, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Al Bazzar, Ibnu Mardawiyah dan Al-Baihaqi dalam kitab “Asy-Syu’ab” dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Doa Nabi Yunus as. ketika ia sedang berada di dalam perut ikan adalah kalimat Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimiin. Siapa pun dari seorang muslim yang mengucapkan doa tersebut, pasti Alloh akan menolongnya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Sa’ad ra. berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

Ada nama Alloh Yang Agung yang jika disebutkan ketika seorang sedang berdoa, maka doa dan permohonannya akan dikabulkan, yaitu doa yang pernah disebutkan oleh Nabi Yunus Ibnu Matta as. Tanyaku, “Ya Rasulullah, apakah doa itu khusus untuk Nabi Yunus, ataukah untuk kami juga?” Sabda Beliau shallallahu ‘alahi wasalam, “Apakah kamu tidak mendengar firman Alloh : Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” Itulah salah satu syarat dari Alloh bagi siapapun yang mohon pertolongan kepada-Nya.”

Ibnu Mardawiyah dan Ad-Dailami meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Kalimat di atas merupakan ucapan para nabi kepada Alloh. Kalimat itu pernah diucapkan oleh Nabi Yunus as ketika berada di dalam kegelapan perut ikan.”

Ibnu Abi Haitan meriwayatkan dari Al Hasan ra. katanya :

Nama Alloh yang jika disebutkan dalam doa seseorang, maka doanya akan dikabulkan, yaitu kalimat  Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimiin.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqqash ra. bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

Maukah kalian aku tunjukkan nama Alloh Yang Maha Agung ( _Ismullah al-A’dzham_ ) yang pernah diucapkan oleh Nabi Yunus as, yaitu kalimat Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimiin. Siapapun dari seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut ketika ia dalam sakitnya sebanyak 40 kali, kemudian ia mati dalam sakitnya itu, maka ia diberi pahala sebagai orang yang mati syahid. Jika ia diberi kesehatan kembali, maka dosa-dosanya telah diampunkan oleh Alloh. (Ad-Duur Manshur, 4/334)

Kalimat tersebut mempunyai kemujaraban tertentu, seperti yang dikatakan oleh orang-orang shaleh bahwa siapapun yang mengucapkan kalimat tersebut sebanyak 40 kali sesudah shalat Subuh selama empat puluh hari berturut-turut tanpa terputus seharipun, maka semua hajatnya akan dikabulkan.

Adapula yang mengatakan bahwa siapapun yang membacanya 1000 kali setiap hari untuk kepentingan agama dan dunianya, maka ia akan mendapat keuntungan yang luar biasa dengan izin Alloh.

Adapula yang membacanya setiap sesudah shalat Witir sebanyak 40 kali. Pokoknya siapapun yang selalu mengucapkan kalimat tersebut, maka segala kesulitannya akan mendapat jalan keluar.

Doa Nabi Yunus ini adalah salah satu doa dan dzikir dari persoalan yang membelit kita. Kita dianjurkan untuk sering membacanya, lebih-lebih di saat kita mengalami kesulitan.  Ada kisah menarik tentang hal ini, dikisahkan teman kami sewaktu dia berhaji. Berikut kisahnya:

Siang itu, 8 Dzulhijjah, para jamaah haji yang berada di Mekkah mulai bergerak menuju Arafah. Meskipun wuquf baru dilaksanakan keesokan harinya, namun jamaah haji sudah diberangkatkan satu hari sebelumnya. Jarak antara Mekkah dan Arafah tidaklah jauh. Paling-paling 7 km, yang dapat ditempuh dalam waktu tidak berapa lama. Namun, kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan dapat menyebabkan perjalanan menuju Arafah tidak secepat yang kita duga. Ditambah lagi, dengan kemampuan sopir yang tidak menguasai medan. Tidak sedikit, bus baru tiba keesokan harinya. Pemerintah Arab Saudi tidak ingin mengambil risiko besar, karena wuquf adalah rukun haji yang paling penting. Jamaah haji yang tidak wuquf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka hajinya tidak sah. Oleh karena itu, jamaah haji diberangkatkan satu hari sebelum prosesi wuquf, agar pada saat wuquf, mereka benar-benar sudah berada di bumi Arafah.

Saat itu, saya dan 80 orang jamaah haji berada di dalam bus yang diberangkatkan menuju Arafah. Saya duduk di bangku paling depan, sambil memandu para jamaah haji. Suara talbiyah bergema sepanjang jalan menuju Arafah. Berulang kali, bus yang kami tumpangi berputar-putar di jalan yang sama. Saya ikut memberi panduan kepada sopir untuk mengambil rute yang seharusnya. Buat saya, sopir tidak kenal rute-jalan itu masalah biasa. Saya sering mengalaminya di kala musim haji. Maklum, mereka bukan penduduk asli Saudi Arabia. Mereka biasanya datang dari Mesir, Palestina, Syiria, dan Turki. Bahkan, dari identitas mereka yang saya baca, mereka baru menginjakkan kakinya di Mekkah beberapa hari yang lalu. Jadi, wajar saja kalau mereka sering kesasar. Untuk itu, biasanya sopir ditemani oleh satu orang dari maktab, yang ikut memandu perjalanan.

Bus yang kami tumpangi makin jauh dari arah Arafah. Jamaah mulai tahu bahwa sopir sudah salah jalan. Mereka mulai gelisah. Saya berusaha menenangkan mereka. Saya sadarkan mereka bahwa mereka sedang berihram. Saya ingatkan mereka jangan sampai keluar dari mulut mereka kalimat-kalimat yang tidak sepantasnya, karena itu akan merusak ihram mereka. Saya katakan bahwa ini adalah ujian untuk menguji kesabaran kita dalam menjalankan perintah Allah ta’ala. Saya mengajak semua jamaah untuk membaca istighfar. Sepanjang jalan, saya selingi ucapan talbiyah dengan istighfar. Saya pun teringat dengan doa Nabi Yunus ketika berada di perut ikan,  _‘La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzhalimin’._  Saya juga meminta jamaah untuk membaca doa itu. Doa itu pun kami baca berulang-ulang. Suasana di dalam bus menjadi syahdu. Suara talbiyah, istighfar, dan doa Nabi Yunus terdengar tulus keluar dari mulut-muluh jamaah. Mereka begitu khusyu’. Sepertinya semua jamaah tidak mampu menahan tetesan air mata. Terdengar suara isak-tangis kecil. Alhamdulillah, doa kami menembus Arsy! Allah ta’ala, menghilangkan kegelisahan kami. Bus kami mulai berada di jalur yang benar menuju Arafah. Kami pun menjadi lega, manakala bus kami sudah memasuki kawasan Arafah yang dipenuhi dengan kemah-kemah.

La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin  (Tidak ada tuhan selain-Mu. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku ini sudah berlaku zalim).

Ringan diucapkan, mudah dihafal, dan berefek bagi kehidupan kita. Adakah alas an untuk menunda mengamalkannya?

Wallahu ‘alam.

(Referensi Kitab Abwabul Faraj, karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani)

Keadilan Alloh untuk Seorang Penggembala

Seorang pemuda yang masih belia tampak begitu kelelahan dan kehausan. Maka tatkala tiba di disuatu oase yang bening airnya dengan tanaman rindang disekelilingnya, Penunggang Kuda itu menghentikan kudanya dan turun ditempat tersebut. Ia berbaring, lalu meletakkan sebuah bungkusan disampingnya.

Matahari sangat terik, namun disitu amat teduh, sehingga tanpa sengaja ia tertidur pulas setelah memuaskan dahaganya dengan meminum air bening di oase tadi.

Ketika ia terjaga, matahari mulai condong. Ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit keras. Tampaknya ia anak seorang yang kaya raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah dan kudanya yang mahal. Dengan tergesa-gesa ia melompat ke punggung kuda dan bungkusannya tertinggal karena ia hanya berpikir untuk segera tiba dirumah menunggui ibunya yang sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal dibunuh orang beberapa tahun yang lalu.

Tidak lama setelah ia meninggalkan tempat tersebut, seorang penggembala lewat ditempat tersebut. ia terkesima melihat ada sebuah bungkusan kain tergeletak dibawah pohon. Diambilnya bungkusan itu, lalu dibawanya pulang kegubuknya yang buruk.

Alangkah gembiranya hati si anak gembala tersebut tatkala melihat bungkusan tersebut ternyata isinya emas dan perak yang sangat berharga. Ia yatim piatu dan masih kecil sehingga penemuan itu di anggapnya merupakan hadiah baginya.

Tak berapa lama, seorang kakek yang sudah bungkuk berjalan terseok-seok melalui oase tadi. Karena kelelahan ia beristirahat di bawah pohon yang rimbun. Belum sempat ia

melepas lelah, anak muda penunggang kuda yang tertidur sebelumnya dibawah pohon tadi datang hendak mengambil bungkusan yang tertinggal.

Tatkala ia sampai, alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat bahwa dipohon tersebut tidak lagi menemukan bungkusan kain. Yang nampak hanyalah seorang kakek. Maka

pemuda itu dengan suara keras bertanya kepada si kakek, “Mana bungkusan yang tadi disini ?”

“Saya tidak tahu,” jawab kakek dengan gemetar.

“Jangan bohong !” bentak si Pemuda.

“Sungguh, waktu saya tiba disini, tidak ada apa-apa kecuali kotoran kambing”. jawab si kakek.

“Kurang ajar ! Kamu mau mempermainkan aku ? Pasti engkau yang mengambil bungkusanku dan menyembunyikan di suatu tempat .. Ayo kembalikan !”

“Bungkusan itu baru kuambil dari kawan ayahku sebagai warisan yang telah dititipkan ayahku kepadanya untuk diserahkan kepadaku kalau aku sudah dewasa, yaitu sekarang

ini. Kembalikan !” lanjut si Pemuda

“Sumpah tuan, saya tidak tahu,” sahut kakek tersebut makin ketakutan.

“Kurang ajar ! Bohong ! Ayo serahkan kembali. Bila tidak ,tahu rasa nanti” hardik Pemuda tadi.

Karena kakek itu tidak tahu apa-apa, maka ia tetap bersikeras tidak melihat bungkusan tersebut. Si Pemuda tidak bisa dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Dicabutnya

pedang pendek dari pinggangnya dan akhirnya kakek tadi di bunuhnya. Setelah itu ia mencari kesana-kemari mencari bungkusan yang ia tinggalkan. Akan tetapi tidak ditemukan. Setelah itu ia naik ke punggung kuda dan memacunya ke rumahnya dengan perasaan marah dan kecewa.

Berita ini ditanyakan kepada Nabi Musa oleh salah seorang muridnya. “Wahai Nabiyullah, bukankah cerita tersebut justru menunjukan ketidak adilan Alloh ?”

“Maksudmu ?” tanya Nabi Musa.

“Kakek itu tidak berdosa tetapi menanggung malapetaka yang tidak patut diterimanya. Sedangkan si anak gembala yang mengantungi harta tadi malah bebas tidak mendapatkan balasan yang setimpal”.

“Menurutmu Tuhan tidak adil ?” ucap Nabi Musa terbelalak.

“Masya Alloh. Dengarkan baik-baik latar belakang ceritanya”. Kemudian Nabi Musa pun bercerita.

“Ketahuilah, dahulu ada seorang petani hartawan dirampok semua perhiasan harta benda miliknya oleh dua orang bandit yang kejam. setelah berhasil merampok, harta itu dibagi dua oleh perampok tersebut. Dalam pembagian harta rampokan tersebut terjadi kecurangan oleh salah seorang bandit yang tamak sehingga harta rampokkan tersebut dikuasainya sendiri setelah membunuh kawannya. Bandit yang tamak itu adalah kakek yang di bunuh oleh pemuda tadi. Sedangkan bandit yang dibunuh oleh kakek itu adalah ayah dari pemuda yang membunuh kakek tadi. Disini berarti nyawa di bayar nyawa. Sedangkan petani yang hartawan itu adalah ayah dari si pemuda gembala tadi yang mengambil bungkusan kain tadi. Itulah keadilan Tuhan. Harta kekayaan telah kembali kepada yang berhak dan kejahatan dua bandit tadi telah memperoleh balasan yang setimpal. Meskipun peristiwanya tidak berlangsung tepat pada masanya”.

Refleksi Hikmah:

Marilah kita melihat sejenak ke belakang. Ke masa lalu. Apakah kita pernah melakukan sebuah kesalahan ? Minta maaf lah. dan carilah ridho dari orang yang pernah kita dzalimi. Mungkin bukan kita yang akan merasakan dampak buruk kesalahan kita. bisa jadi anak kita ataupun cucu cucu kita.

Apapun yang sudah kita lakukan entah itu adalah sebuah kebaikan ataupun sebuah keburukan. Pasti akan ada balasan yang setimpal bagi para pelakunya.

Seseorang Bersama Orang Yang Dicintainya

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, seseorang mendatangi Rasulullah lalu bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang mencintai kaum, tetapi tidak bersama mereka (di akhirat)?” Rasulullah menjawab, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.” (Muttafaq ‘Alayhi).

Kisah berikut adalah kisah cinta yang luar biasa dari seorang anak kecil kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam.

Terjadi satu kisah dizaman Syeikh Abdurrahman Ad-Diba’i. Ketika sedang berkumpul dengan orang di kota Zabid (ujung kota Yaman) untuk berziarah ke makam Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam di kota Madinah.

Jarak perjalanannya membutuhkan waktu selama 2 minggu. Ketika rombongan tadi hendak bergerak ke kota Madinah datang seorang anak kecil sekitar 8 tahun, wahai syeikh aku hendak ikut ziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam.

Tapi permintaan anak kecil itu tidak diizinkan oleh syeikh, karena kau nanti membuat susah, orang hendak ke sini kau hendak kesana. Lalu syeikh bertanya kepada anak kecil itu, kenapa kau sangat ingin ikut. Lalu anak itu berkata wahai syeikh percayalah “Aku sangat rindu dengan Rasulullah”. Namun dijawabnya, ‘Sudahlah kau tetap tak boleh ikut.’

Maka berjalanlah rombongan tadi. Setibanya di kota Madinah tepatnya dimakamnya Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam, terkejutlah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba’i karena melihat anak kecil itu ada dihadapannya.

‘Wahai anak kecil, dari mana kau datang. Bagaimana kau bisa ikut.’

‘Ketika kalian berangkat, aku masuk dalam kotak/peti ikut bersama rombongan ziarah ke makam Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam.’

‘Kata Syeikh aku tidak heran kalau kau masuk peti, tapi selama 2 minggu kau makan dan minum dari mana, tidak makan dan tidak minum.”

‘Wahai syeikh sungguh aku dilupakan dari makan dan minum karena sangat rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam’.

Anak kecil tadi pun bertanya; ‘Wahai syeikh apakah benar tanah ini pernah di pijak Rasulullah?’

Kata syeikh ‘ya’. Kemudian anak tersebut mengambil tanah itu lalu diciumnya tanah tersebut, terus anak kecil itu tiba-tiba roboh seakan-akan pingsan.

Rupanya anak kecil itu telah wafat. Anak kecil itu di kebumikan di luar kota Madinah karena orang luar. Kemudian kesemuanya terus mengerjakan umrah.

Saat pulang, syeikh teringat kepada anak tadi, lalu datang menziarahi makam anak itu. Ketika syeikh melihat keadaan makam itu, menjadi bingung. Karena kubur itu diluar kota Madinah tapi berangsur-angsur bergeser masuk kota Madinah mendekati makam Sayyidina Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Maka menangislah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba’i. Sampai sekarang makam tersebut masih ada dan makam tersebut ada di seberang Masjid Nabawi.

‘Wahai anak kecil betapa hebat dan mulianya engkau, sewaktu kecil kau rindu hendak ziarah ke makam Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, dan sewaktu kau wafat kau juga rindu kepada Rasulullah…’

Syeikh Abdurrahman Ad-Diba’i pun menangis di dalam rumahnya “Aku ini adalah seorang imam tapi aku malu melihat kecintaan seorang anak yang sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam. Dan sang Imam pun menulis riwayat perjalanan anak kecil tersebut di Maulidnya.

Hebatnya cinta anak kecil kepada Habibana Sayyidina Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam.

Bila Usia Telah Sampai 40 tahun

Alloh Ta’ala berfirman :

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa : “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS. Al-Ahqaf : 15).

Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya…

Bila usia 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Alloh dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan, semakin memperbanyak bersyukur…

Bila usia 40 tahun, maka meningkatnya minat seseorang terhadap agama, sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Dimana banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia…

Bila usia 40 tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karir dan kekayaan finansial. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat. Bahkan tak hanya memikirkan dirinya semata, tapi juga nasib anak istrinya, seperti ujung doa indah ayat di atas “…dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku…”

Bila usia 40 tahun, maka akan sulit dirubahnya kebiasaan pada usia-usia sesudahnya. Jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, mungkin, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut…

Bila usia 40 tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna…

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka”

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab :

“Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Alloh, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Alloh”

Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata :

“Kaum salaf, apabila diantara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan sholat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya” (Ihya Ulumiddin IV/410).

Imam Malik rahimahullah berkata :

“Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasinya untuk meningkatkan ibadah dan ilmu)” (At-Tadzkiroh hal 149).

Muhammad bin Ali bin al-Husain rahimahullah berkata :

“Apabila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka berserulah penyeru dari langit : “Waktu berpulang semakin dekat, maka siapkanlah perbekalan”

An-Nakha’i rahimahullah berkata :

“Sebelumnya mereka menggapai dunia, di saat menginjak usia 40 tahun mereka menggapai akhirat” (At-Tadzkaroh al-Hamduniyah VI/11).

Wahai saudaraku, lalu bagaimana dengan diri kita?

Kyai Hamid dan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).” (Qs. Al-Isra’: 78)

Kisah ini diceritakan oleh pelaku sendiri, Hasan Thobroni, salah satu murid Kyai Hamid Pasuruan. Hasan termasuk rajin berjamaah subuh di musalla Salafiyah. Tapi suatu kali, dia absen. Dia terbangun kesiangan. Rupanya Kyai Hamid tahu. Besoknya ditanya.

“Ke mana kemarin?”

Kerinan (kesiangan), Yai,” jawabnya.

“Izinkan, ya, saya membangunkan kamu.”

“Inggih.”

Sejak itu tiap menjelang subuh beliau datang ke rumah Thobroni, mengetuk pintu. Biasanya Thobroni langsung membuka pintu dengan tergopoh-gopoh, sembari membetulkan sarungnya yang kedodoran. “Mandi saja sana, tak usah bersalaman.” kata beliau sambil mengisyaratkan dengan tangannya. “Sepertinya beliau tahu kalau saya sedang junub kenang Thobroni, tersenyum.

Shalat Subuh berjemaah di masjid memiliki keutamaan yang sangat besar. Beliau mengibaratkannya dengan emas banding kreweng, pecahan genteng yang tidak ada harganya lagi.

Ketika Hasan Thobroni tidak dapat lagi berjamaah Subuh di musolla Salafiyah karena bekerja sebagai satpam di perusahaan Otobis Cipto. Maklumlah, Thobroni bekerja di sana dari pukul 8 malam sampai pukul 8 pagi. “Wah emas diganti kereweng, ” kata beliau.

Lain lagi cerita Su’udi, sowan ke rumah Kyai Hamid untuk berkonsultasi soal pekerjaan. Maklum, Su’udi sudah berkeluarga, sudah punya anak pula, tapi pekerjaan belum terpegang.

“Saya ingin matur ke Yai soal pekerjaan,” katanya.

Kyai Hamid bertanya, “Bekerja apa kamu?”

Mboten priso, nopo tirose Romo Yai (Tidak tahu, terserah apa kata Kyai Hamid). Bekerja apa saja, kalau itu Yai yang dawuh (menyuruh), insha Alloh akan saya laksanakan.”

“Oh, begitu shalatlah subuh berjemaah.”

Sa’ba’danipun shalat subuh jamaah niku, dalem mados ma’isyah dos pundi (Setelah shalat subuh berjamaah, saya cari rezeki bagaimana)?”

“Shalat subuh berjamaah!” tegas Kyai Hamid.

Su’udi masih belum puas. “Kados dalem nyukani nafakah teng anak istri, kados pundi (Bagaimana saya memberi nafkah kepada anak istri)?”

Shalat subuh jamaah! Gak usah takon wis, shalat subuh jamaah. Gak usah suwe-suwe, Nak. Setengah tahun ae rasakan. Lek koen akehan melarate karo enake, Yai ilokno. Siap aku. Diilokno koen siap aku, sukur koen ngelaksanakno shalat subuh jamaah. Wis gak usah takon maneh, muleh! (Shalat subuh jamaah! Tak usah bertanya lagi, shalat subuh berjamaah. Tak usah lama-lama, Nak, setengah tahun saja, setelah itu rasakan. Kalau kami lebih banyak susahnya dibanding enaknya, caci maki aku. Siap aku. Aku siap kamu caci maki asal kamu shalat subuh berjemaah. Sudah, tak usah bertanya lagi, pulang!)” Su’udi langsung mengkeret, tak berani bertanya lagi, lalu dia berpamitan.

Kyai Hamid berani berkata begitu karena beliau sangat yakin apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasalam:

“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

Hajjaj ibn Yusuf, seorang panglima yang terkenal kejam pada Dinasti Umayah, kalau hendak menghajar orang, dia bertanya lebih dulu, “Apa kamu tadi shalat berjamaah?” Kalau orang itu menjawab ya, dia akan mengurungkan niatnya karena khawatir dia akan berbuat dhalim kepada orang yang berada dalam tanggungan Alloh.

Nabi memang memberi tekanan tersendiri pada perintah berjamaah dalam shalat subuh dan isya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

Dan juga,

“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)

Maka wajar jika Teuku Umar (panglima perang Aceh) meminta para pejuangnya berkumpul persis ba’da subuh, karena ia hanya ingin berjuang bersama orang-orang yang memiliki semangat pengorbanan, yang jiwanya dipenuhi kesungguhan di  atas rata-rata kebanyakan orang lainnya. Mereka yang tak bangun subuh, bukan saja tertinggal tak ikut berjuang, melainkan memang tak dibutuhkan sama sekali dalam perjuangan karena dianggap tak bersungguh-sungguh.

Semangat dan kesungguhan yang diperoleh dari kebiasaan shalat subuh, bisa kita terapkan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan. Seberat apapun masalah, pasti ada jalan keluarnya. Masalahnya adalah, apakah kita memiliki semangat dan kesungguhan diatas rata-rata untuk mencari jalan keluarnya? Jika belum, mungkin ada baiknya kita mulai dengan sama-sama memperbaiki subuh kita. Mau?

Karena Ukuran Kita Tak Sama

“seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi”

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, “Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

“Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

“Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

“Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

“Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.

Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta,
Salim A. Fillah