Hikayat Ibrahim bin Adham

Ada yang menarik perhatian kami, ketika membaca buku ‘Obrolan Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa dan Ruh, karya Robert Frager’ di perjalanan kami ke Surabaya Sabtu lalu. Kisah Ibrahim bin Adham, dari kecil hingga pencarian Tuhannya sarat hikmah dan mencerminkan kehidupan kita sehari-hari. Robert, sang penulis buku itu berhasil mengambil makna serta pesan-pesan dari cerita tersebut dan diceritakan kembali kepada kita dengan bahasa yang mudah dicerna tanpa harus mengeryitkan dahi dan membaca berulang-ulang hingga paham. Kami cuplikan ‘Hikayat Ibrahim bin Adham’ satu bab sendiri di antara bab-bab yang lain. Agar tidak bosan, kami tampilkan dalam tiga tahap. Selamat mengikuti.

Di antara banyak tokoh sufi dan wali besar, saya sangat menyukai Ibrahim bin Adham. Sebagiannya karena mursyid saya pun menyukainya dan sering menceritakan kisah tentang dirinya. Adham, ayah Ibrahim, adalah seorang darwis miskin yang menetap di Belkh, sebuah pusat budaya dan ekonomi yang terletak di sepanjang Jalur Sutra yang kini termasuk wilayah utara Afghanistan. Adham tinggal di sebuah gua bersama seorang temannya yang merupakan hakim dan tabib hebat pada masanya.

Suatu hari Adham melihat seorang perempuan muda berdiri di atas balkon istana. Ketika matanya bersirobok dengan mata perempuan itu, Adham begitu terpesona sehingga jatuh pingsan. Saat sadar, ia memberi tahu temannya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku melihat seorang perempuan muda, lalu tiba-tiba aku kehilangan kesadaran. Kini, aku tidak bisa memikirkan apa pun. Bayangan dirinya terus melekat dalam benakku dan sepertinya, kini tidak ada satu pun yang lain dalam hidup ini yang bermakna bagiku.” Teman Adham merawat dirinya di dalam gua hingga kesehatannya pulih kembali.

Continue reading

Perpisahan Dalam Kesejukan

Dilingkari bukit-bukit kelabu, untaian busa yang mecah-mecah cuatan batu mendesaukan kidung alami di ujung jemari kakinya. Ia mengangkat kepala ketika angin senja mengantarkan jalur merah di kaki lazuardi. Matahari pelan-pelan bergulir, bersembunyi di balik gunung yang kekar itu, Gunung Slamet.

Syarfiah menghela nafas panjang. Sudah lama ia menanggung perasaan itu. Ia tidak tahu apa namanya. Dukacita, putus asa, ataukah sakit hati. Ia lebih suka tidak meresapinya. Sebab, meresapi perasaan itu menyebabkan malamnya menjadi sangat lama. Dan ia takut ditinggalkan matahari. Ia takut terkubur dalam impitan gelap yang tidak hanya menghitamkan kamarnya, juga hatinya.

Gadis itu mengenakan kainnya, lalu berdiri di atas riak air yang pernah sebening masa depannya. Tatkala ia belum mengenal Ferdinand. Sebentar lagi bedug maghrib akan bertalu-talu dari masjid Pesantren Sirandu. Dan ia harus shalat, berjajar dalam rangkaian shaf-shaf santri putri. Dulu alangkah damainya bersujud di hamparan sajadah seraya mengucap, “Maha Suci Tuhanku, yang begitu agung dengan puji syukur kepada-Nya.” Dulu alangkah tentram jiwanya manakala abahnya yang berdiri di muka sebagai imam mengalunkan suara Tuhan dengan syahdu. Semuanya berubah setelah lelaki yang simpatik itu menghuni ruang utama di dadanya.

“Engkau tidak cantik, Ifah. Engkau gadis paling sederhana yang pernah kukenal. Tapi, engkaulah gadis yang berhasil menaklukan kejanggalanku.”

Bukankah pernyataan ini menandakan kejujuran Ferdinand? Bukankah kejujuran ini menunjukkan ketulusannya?

“Aku takkan mendendam kalau akibat kenyakinan agama kita berbeda, cintaku kau tolak. Aku mengerti sepenuhnya. Tetapi, tolonglah Ifah. Beri aku tempat sedikit saja dalam kenanganmu.”

Syarifah memaksakan dirinya menapiskan kenangan akan kelembutan Ferdinand pada waktu kaki mungilnya menginjak batu-batu kecil di sepanjang pematang. Namun, kelembutan itu telah terpahat menembus keimanannya yang pernah padat. Dan manakala menara masjid mulai tersembul di tengah tebaran mega, Ifah pun dengan kesal bertanya, “Hai menaraku. Hai kubahku. Dendamkah yang kau pancarkan, ataukah damau yang kau sebarkan? Mengapa atas namamu aku harus merobek cinta sesama manusia yang ikhlas? Bukankah engkau mengdengungkan salam? Mengapa aku harus berpisah dengan kekasihku hanya karena bedugmu tidak sama dengan genta? Hanya karena kubahmu tidak sama dengan kapel?”

“Kita menuju ke arah yang sama, Ifah. Mengabdi Tuhan. Dan Tuhanmu tidak berbeda dengan Tuhanku. Yang tidak sama cuma cara kita. Jadi, kenapa kita tidak mungkin menyatu? Di dunia kita menempuh jalan terpisah. Tetapi, karena tujuan kita sama, bukankah di alam keabadian kita bakal bertemu di kaki Tuhan yang sama?”

Oh! Betapa bijaknya pikiran Ferdinand. Pantas ia langsung terpikat oleh tatapan matanya yang tajam namun sejuk. Yaitu pada waktu sejumlah mahasiswa IKIP Pekalongan mengadakan riset ke beberapa sekolah lanjutan atas swasta di kotanya.

Ia baru kelas dua di SMA Patria. Tadinya ia bersekolah di SMA Negeri. Karena di sana para siswa putri dilarang berjilbab, ia pindah ke sekolah swasta. Oleh teman-temannya ia dijuluki “Gadis berkerudung biru”. Memang, ia selalu mengenakan jilbab panjang berwarna biru muda, menutupi sekujur rambut dan setengah badannya.
“Aku tidak melarangmu bersekolah umum, Ifah. Aku hanya meminta, lantaran engkau adalah putriku, seorang kiai yang memimpin sebuah pesantren, penampilanmu harus memperlihatkan siapa abahmu. Setuju?”
Itu saja yang diharapkan abahnya. Kiai Abdul Wahab, dari seorang putri tunggal yang amat disayangnya. Dan abahnya melepas kepergiannya ke Pemalang yang berjarak lebih dari 35 km dengan kampung kelahirannya tanpa curiga dan waswas. Sebab, abahnya percaya betul, sang putri takkan mengecewakan hatinya. Di tempat indekos pun, kalau Abahnya mengunjungi sebulan sekali, ia tak pernah bertanya-tanya apakah ia selalu shalat, apakah ia tidak lupa membaca doa seusai shalat. Abah begitu yakin akan kebaktiaannya kepada orang tua dan kepada agama.

Sampai akhirnya Ferdinand mengetahui nama dan alamatnya setelah bertanya kepada Pak Domingus, salah seorang gurunya, yang ternyata adalah abang kandung Ferdinand sendiri. Lalu terjadilah keindahan itu ketika esok petangnya Ferdinand bertamu ke tempat kostnya.
Ifah sebetulnya tidak menyangka bahwa kedatangan Ferdinand karena ingin berjumpa dengannya. Ia telah berusaha menentang gejolak jiwa remajanya dengan menjauhkan diri dari bererat-erat bersama teman-teman lelaki. Ia sadar sepenuhnya bahwa imannya belum sekuat jilbab yang dipakainya. Ia berkawan dengan mereka. Tetapi, ia selalu menghindar dari sekedar berkawan. Ia akan menutup pintu rapat-rapat jika dirasakannya salah satu di antara mereke hendak menjalin hubungan yang lebih jauh dari sekedar bersahabat biasa. Mungkin semua kawan lelakinya telah mengetahui hal ini hingga sampai saat itu tidak seorang pun yang berani menggodanya.

Karena itu ia terkejut ketika ibu kos berkata kepadanya, “Ifah, ada tamu.”

“Siapa, Bu?” Syarifah bertanya heran. Ia masih belum menduga, yang dimaksudkan tamu untuknya adalah Ferdinand.

“Katanya adik Pak Domingus, gurumu.”

Belum apa-apa ia sudah menggigil oleh berbagai sebab dan bayangan. Ia tahu yang datang pasti Ferdinand. Tetapi untuk apa? Kalau pemuda itu memperlihatkan simpatinya, apa yang harus dilakukannya? Tidakkah abahnya akan marah-marah jika suatu hari kelak ia pergi berdua dengan Ferdinand? Mampukah ia menolak cintanya andaikata Ferdinand bermaksud ke arah itu? Ia anak kiai, Ferdinand adik Domingus. Bagaimana cara mengatasinya?

Ifa sebetulnya tidak menyangka bahwa kedatangan Ferdinand karena ingin berjumpa dengannya. Ia telah berusaha menentang gejolak jiwa remajanya dengan menjauhkan diri dari bererat-erat bersama-sama teman lelaki. Ia sadar sepenuhnya bahwa imannya belum sekuat jilbab yang dipakainya. Ia berkawan dengan mereka. Tetapi, ia selalu menghindar dari sekedar berkawan. Ia akan menutup pintu rapat-rapat jika dirasakannya salah satu di antara mereka hendak menjalin hubungan lebih jauh dari sekedar bersahabat biasa. Mungkin semua kawan lelaki telah mengetahui hal ini hingga sampai saat ini tidak seorang pun berani menggodanya.

Dan ia belum dapat menentukan jawaban ketika dengan gemetar ia duduk di ruang tamu berhadapan dengan Ferdinand.

“Mengganggu?” ucap pemuda itu.
Ifah cuman menggeleng sambil mencoba tersenyum.
Semenjak kita berkenalan kemarin, saya tidak dapat mencegah keinginan untuk menemuimu. Saya sangat tertarik oleh penampilan dan ketenanganmu. Mau, bukan berkawan dengan Ferdinand?

Sudah tentu tidak sopan jika tidak mengangguk. Dan nyatanya, ia tidak bisa membantah, hatinya berbunga-bunga dengan ucapan yang terus terang itu. Dan seolah ada sebuah kekuatan tersembunyi yang tiba-tiba mendorongnya untuk berkata, “Gombal, ah.”

Ifah terkejut, ia merasa keceplosan omong. Mengapa ia berani berkata seperti itu? Bukankah Ferdinand adik Pak Domingus? Tetapi, justru kebalikannya. Ucapan yang pendek tadi telah membuka lembaran baru yang tidak pernah diharapkannya, sebab ia anak seorang kyai. Lembaran itu ialah keakraban dengan seorang lelaki. Dan, lelaki itu adalah Ferdinand, adik Pak Domingus.

“Tuh, belum apa-apa sudah berani _nggombalin_ orang,” kilah Ferdinand. Pura-pura cemberut. “Eh nggak apa, deh. Yang _nggombalin_ cewek cakep ini.”

_”Gombal_ lagi,” potongnya. Padahal hatinya ingin buru-buru lari ke kamar untuk bercermin, apakah betul ia seorang gadis yang cantik? Apakah tidak berdusta kesan Ferdinand?

Itulah awal yang indah, yang disusul dengan hari-hari indah berikutnya. Hubungan antara Ifah dan Ferdinand kiat rapat dari waktu ke waktu. Bahkan Ifah sudah mau diajak menonton film berdua. Dan malam minggu lalu Ifah pulang larut malam dengan rambut agak kusut. Pintu pagar sudah dikunci. Sebab peraturan di rumah kos Bu Haji Manan menetapkan, pada hari-hari sekolah anak-anak harus sudah berada di rumah jam sembilan malam. Hari Ahad atau hari-hari libur lainnya anak-anak diberi keleluasaan sampai pukul sepuluh malam. Lebih dari itu tidak diijinkan masuk lagi.

Ifah sangat ketakutan. Telah sepuluh menit ia memencet bel, belum nampak tanda-tanda pintu pagar bakal dibukakan. Kalau sampai Bu Haji tidak memberi hati kepadanya, mau tidur di mana dia?

Untunglah, dengan kesadaran seorang lelaki yang bijaksana, Ferdinand dengan setia menunggunya. Malam di sekitar Kampung Kedemangan Kulon itu lebih lenggang daripada kawasan lain di Pemalang. Sebab kampung itu terkenal sebagai pemukiman kaum santri.

Ifah melihat beberapa jendela menyalakan lampu sebentar untuk mengintip, siapa gerangan yang jam sebelas malam baru pulang. Demikian juga Bu Haji pada waktu akhirnya terpaksa keluar dari kamar tidur menuju ke pintu pagar. Dengan sepasang mata yang tersembunyi di balik kaca mata minus 2,5 ia mengawasi Ifah dari balik pintu berkisi-kisi itu.

“Siapa?” Bu Haji bertanya curiga.

Gemetar Ifah mendengar pertanyaan Bu Haji. Bukan kepada siapa sikap Bu Haji yang ia tahu tidak akan berani mendampratnya dengan kasar karena Bu Haji amat menghormati ayahnya, melainkan kepada sesuatu yang tadinya tidak terpikir sama sekali. Yaitu, berita yang bakal diterima ayahnya di kampung dan betapa sedihnya Abah menerima berita itu. Bahwa anak perempuan yang dipercayainya telah melanggar peringatannya agar tidak berlebihan dalam bergaul dengan lelaki.

“Saya Bu, Syarifah,” jawab gadis itu sepelan angin musim kering.

“Syarifah?” ulang Bu Haji seakan tidak yakin atas pendengarannya sendiri. “Larut betul kamu pulang? Dari mana? Dengan siapa?”

Ifah belum menyahut ketika Ferdinand maju ke depan dan berkata merendah, “Dengan saya, Bu Haji. Ifah tadi saya ajak menghadiri pesta pernikahan seorang teman di Pelutan. Ifah tidak bersalah, Bu. Saya yang memaksanya untuk menunggu sampai resepsi selesai.”

“Oh, ya sudah. Ayo, masuk!”

Jawaban Bu Haji yang diucapkan seraya membukan pintu ini memang amat pendek dan tanpa teguran. Namun, Ifah mencium suasana yang lebih hitam daripada malam tanpa bulan itu. Dan Ifah kian gemetar pada waktu membiarkan Ferdinand menaiki kembali sepeda motornya, menghilang di tikungan dekat masjid.

Kegelisahan itu dikemukannya kepada Ferdinand ketika keesokan harinya mereka bertemu di warung makan Podomoro sesuai dengan janji sebelumnya.

“Engkau takut, Ifah?” ucap Ferdinand setelah Syarifah menceritakan firasat buruk yang dirasakannya semalam.

Gadis itu cuma menunduk. Ia ingin menangis sekarang saja di depan Ferdinand, mendahului menangis yang bakal tertumpah di muka kebijakan abahnya. Ia lebih suka menangis karena takut ditinggalkan Ferdinand daripada menangis karena menyadari kasih sayang abahnya yang tulus. Tetapi, ia tidak bisa menangis sekarang. Ia hanya bisa memain-mainkan jarinya di atas piring gado-gado yang belum disentuhnya.

“Aku nanti akan menghadap abahmu langsung. Aku akan menyatakan bahwa engkau tidak berdosa, bahwa semua ini akulah yang memulainya,” ujar Ferdinand yang terdengar di telinga Ifah begitu jantan, namun ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi abahnya. Yang jelas saat ini tidak dapat berkata apa-apa, bahkan berpikir pun ia tidak mampu. Ia hanya membisu hingga turun dari sepeda motor Ferdinand di depan tempat kostnya.

Dan ternyata Ferdinand betul-betul seorang ksatria. Ia berani mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukan dan diucapkannya. Tanpa sepengetahuan Ifah dan tanpa menunggu lampu hijau dari gadis itu, Ferdinand telah berangkat ke Pesantren Sirandu. Lalu dengan mengangkat dadanya yang berdebar kencang ia meminta waktu untuk menjumpai Kyai Abdul Wahab.

Rupanya Bu Haji, induk semang tempat Ifah kost, bertindak cukup bijaksana. Ia bukan wanita tua yang mulutnya gampang bocor. Buktinya, hubungan Ifah dan Ferdinand yang kian rapat belum tercium oleh Kyai.

Rupanya Bu Haji, induk semang tempat Ifah kost, bertindak cukup bijaksana. Ia bukan wanita tua yang mulutnya gampan g bocor. Buktinya, hubungan Ifah dan Ferdinand yang kian rapat belum tercium oleh Kyai.

“Silahkan duduk,” ucap Kyai menerima kedatangan Ferdinand dengan ramah. “Anak dari mana?”

Ferdinand hampir tidak punya nyali menatap mata Kyai Abdul Wahab. Pandangannya begitu tajam dan lembut. Seolah pasangan matanya adalah telaga paling bening di tengah keresahan dunia sekitarnya. Termasuk keresahan yang kini menghuni perasaan Ferdinand.

Sesudah dikuat-kuat hatinya, barulah Ferdinand bisa membuka suara.

“Saya kuliah di Pekalongan. Tetapi, tiap Sabtu sampai Minggu malam tinggal di Pemalang.

“Memang asli dari Pemalang?” tanya Kyai kurang paham. Sebab kali ini Ferdinand sendiri juga merasa, perkataannya tidak sejelas layaknya ucapan seorang calon guru lepasan IKIP.

Ferdinand menggeleng, “Saya kelahiran Medan. Abang saya kebetulan tinggal di Pemalang.”

“Oh,” ujar Kyai, tanpa meneruskannya dengan pertanyaan yang kurang sopan, misalnya ‘ada perlu apa kamu datang kemari?’ Hanya ‘oh’ saja yang terdengar hingga Ferdinand dengan kesadaran sendiri berkata:
“Nama saya Ferdinand. Saya mencintai Syarifah, dan Syarifah mencintai saya. Hanya saja kami berbeda agama.”

Kalau Kyai terperanjat sampai terhenyak dari kursinya adalah wajar, meski tidak nampak pada wajahnya yang merah padam. Mengingat Syarifah adalah anak satu-satunya. Akan tetapi, Ferdinand sendiri pun terkejut oleh keberaniannya mengungkapkan masalah yang bagi orang lain barangkali harus tetap disembunyikan. Dan ia bangga atas kenekatannya itu. Sebab, ia merasa berada di tempat yang benar.

Kyai tidak salah tingkah. Sepasang matanya masih juga bening bagaikan telaga di tengah keresahan dunia sekitarnya. Tatapannya tetap tajam dan lembut, tidak berapi-api seperti neraka membakar orang kafir. Dan suara Kyai terasa begitu dalam menyelusupi relung dada Ferdinand ketika ia berkata:

“Nak Ferdinand. Aku menghargai keterusteranganmu. Itu membuktikan cintamu suci, hatimu jujur. Cinta adalah sesuatu yang paling luhur yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia sehingga kita tidak hidup memperturutkan naluri belaka. Karena itu ingin kuingatkan, bahwa cinta tidak sama dengan hasrat untuk bersatu jasmani. Cinta adalah hubungan hati dengan hati yang melahirkan kesediaan berkorban demi keutuhan cinta.”

Maksud Kyai, apakah saya harus mengorbankan agama saya?” ucap Ferdinand berdebar-debar. Kalau jawabannya ‘ya’, apa yang harus kulakukan. Padahal aku anak seorang pendeta. Begitu yang terasakan di hati Ferdinand. Mana yang harus dipilihnya? Agama atau Syarifah?

Kyai tersenyum. Oh, senyumnya itu, sungguh tidak menyembunyikan apa-apa kecuali keikhlasan dan kebersihan jiwa. Dengan kepala agak menggeleng-geleng Kyai berujar:

“Nak Ferdinand. Agama yang dipeluk dengan keyakinan adalah mustika hidup paling mahal. Tidak sesuatu pun di dunia ini yang paling berharga untuk ditukar dengan agama. Termasuk nyawa. Nak Ferdinand sudah matang. Engkau telah menduduki bangku kuliah katamu tadi? Sedangkan Syarifah baru di sekolah lanjutan atas. Kumohon kepadamu, berilah pengertian bahwa Islam tidak menghalangi cinta di antara manusia yang saling berbeda agama selama cinta itu tidak bercampur pamrih. Tetapi, kalau cinta akan diterjemahkan dengan perkawinan atau hubungan badan, maka Islam, sebagaimana agamamu juga Ferdinand, telah mengatur tata cara dan hukum-hukumnya. Bukankah kalau kau tanyakan kepada pendeta, perkawinan itu seharus dilakukan di antara pasangan yang seagama, bukan? Nah, Ferdinand. Cintailah anakku sebagaimana anakku mencintaimu. Tapi, kuharapkan cintamu itu tulus tanpa mengharapkan hubungan badan atau perkawinan, sepanjang engkau menyakini kebenaran agamamu dan Syarifah menyakini kebenaran agamanya. Kupercayakan hal ini kepadamu untuk memberikan kesadaran terhadap anakku, Syarifah.”

Ferdinand tertunduk. Ia bisa mengerti. Dan, ia makin hormat kepada Kyai Abdul Wahab. Ia menyesal telah mencurigai para Kyai dan agama yang mereka peluk. Ia tidak tahu sebelumnya bahwa di dalam agama itu tercantum sebuah diktum, “bagimu agamamu, bagiku agamaku.” “Hingga semua ucapakan Kyai Abdul Wahab itulah yang kemudian dikemukakan secara jujur kepada Syarifah setelah gadis itu kembali ke Pemalang dari kepulangannya dua hari sesudah Ferdinand menghadap Kyai.

Syarifah menangis. Bukan oleh perpisahannya yang harus terjadi dengan Ferdinand, melainkan kebimbangannya kepada Abah dan ketinggian agamanya. Ia telah salah paham terhadap keyakinannya sendiri. Mungkin lantaran sikap atas nama Islam dari sementara umat Islam yang sebenarnya tidak Islami.

Alhamdulillah, ketika sekarang Syarifah meletakkan keningnya di sajadah dalam shalat Isya menjelang shalat tarawih 20 rakaat, ia sudah bisa memperoleh ketentraman hati berhadapan dengan Tuhan yang dicintainya.

“Ya, Alloh. Ampunilah keragu-raguanku selama ini. Terimalah aku di bawah kedamaian-Mu. Bimbinglah ak agar dalam mencintai manusia tidak mengikis cintaku kepada-Mu. Karena tidak ada cinta yang melebihi keagungan cinta-Mu kepada segenap mahluk. Aamiin.”

*Tamat*

Mushala Reyot Di Tempat Mesum

Di depan sebuah mushala reyot, setelah selesai pengajian jam sembilan malam, dua orang laki-laki masih menyempatkan diri berbincang-bincang.

Yang duduk di tangga mushala seorang guru agama tua yang biasa dipanggil Mubaligh atau Kyai. Namanya sendiri Ahmad Subhi, berasal dari sebuah kampung santri, Moga. Ayahnya seorang ulama besar bernama Kyai Haji Muhammad Yasir, pemimpin pesantren Al-Fudlala. Nasib telah melemparkannya ke daerah lampu merah di Pemanukan. Rupanya takdir mengabulkan cita-citanya untuk membimbing orang-orang terbuang.

Sedangkan yang duduk pada sebatang pohon yang tumbuh merebah ialah Agus, salah seorang muridnya yang setia. Tadinya Agus merupakan jagoan di lembah hitam itu. Ia memang sudah ditakuti semenjak tinggal di Kuningan. Setelah insaf, Agus berubah menjadi manusia baru, jauh sekali dengan keadaannya dulu.

“Sebelum Rajab, surau kita sudah harus diperbaiki, Kyai,” kembali Agus berkata dengan penuh semangat.

“Itulah harapan saya. Tapi kita mesti maklum, Agus sekarang hidup lagi susah. Koran bilang akibat resesikan?” jawab Kyai perih.

“Si Raswi kemarin mau menyumbang lima ratus ribu, katanya lebihan simpanan sebulan. Saya tolak Kyai.”

“Lho, mengapa?”

“Uangnya tidak halal. Hasil menjual badannya kepada hidung belang.”

“Ah,” desah Kyai. “Tidak boleh begitu, Gus. Biarpun dia seorang wanita pelacur, kita tidak patut menganggap semua uangnya itu najis. Siapa tahu dengan dia menyumbang mushala, hatinya tergugah untuk bertobat.”

Ketika Kyai Ahmad Subhi tengah menegur sikap Agus tersebut, tiba-tiba Raswi muncul sambil berlari ketakutan. Mukanya sembab, dan dikeningnya ada benjolan kebiru-biruan. Dari ujung mulutnya menetes darah segar.

Kyai cepat bangkit dan bertanya, “Ada apa, Raswi? Kenapa?”

Raswi menjawab terpatah-patah, “Lindungilah saya, Kyai.”

“Jangan kuatir, Raswi. Usap darahmu dengan kain serbanku ini.”

Waktu Kyai menyerahkan serban yang melilit di lehernya, Raswi mundur seperti orang ketakutan. Wajahnya pucat bagaikan bertemu dengan neraka di depan matanya tatkala ia menjerit: Tidak, Kyai, Tidak! Serban itu suci. Biarlah darah saya tetap mengucur, darah perempuan berdosa, daripada harus menodai serban Kyai.”

“Jangan begitu, Raswi. Usap darahmu, pakailah surban ini.”

Raswi mendekat, tetapi masih ketakutan.” saya takut kualat, Kyai, takut tertimpa laknat karena mengotori surban Kyai.”

Kyai tersenyum. “Engkau keliru, Raswi. Alloh tidak pernah melaknat hamba-Nya, betapapun jahat hamba-Nya itu. Alloh hanya melaknat perbuatan jahatnya. Manusia tetap suci dan terhormat,” sahut Kyai menyakinkan. “Katakan, Raswi, apa yang terjadi?”

Raswi terdiam beberapa lama. Setelah dengan gemetar mengusap darahnya dengan surban Kyai, sambil terisak-isak ia lantas berkata, “Waktu saya hendak masuk rumah, Ipang, tangan kanan Mat Banco, sudah berada di dalam Kyai. Matanya merah, mulutnya bau alkohol. Ia mendekap saya, dan mau memperkosa. Saya berontak.

Saya dipukulnya. Untung saya dapat lolos sesudah ia saya lempar dengan batu, mengenai kepalanya. Ia tambah marah. Ia menghunus pisau dan mengejar saya.”

Bagaimana kelanjutan cerita ini? Akankah Raswi selamat dari kejaran Ipang. Ikuti cerita selanjutnya!

Jangan Pernah Meratapi Dunia

 

#SanguTuru

Aneh! Mengapa manusia berani durhaka kepada Alloh dan mengapa pula mereka bisa mengingkari nikmat-Nya?

Setiap orang yang menyadari pendeknya umur dunia, tak seberapa harta perbendaharaannya, keburukan perlakuannya dan kecepatannya dalam mengubah keadaan para penghuninya, maka ia tidak akan pernah bersedih atas sesuatu yang berhubungan dengannya dan tidak akan berputus asa atas apa yang hilang darinya. Karena itu, janganlah bersedih dan berputus asa atas apa yang hilang dari dunia; sesungguhnya kita memiliki alam lain yang lebih mulia, kekal, besar, dan indah dari yang kita tempati saat ini, yaitu alam akhirat. Bersyukurlah kepada Alloh, karena engkau telah percaya dengan adanya Hari Pertemuan dengan Yang Maha Esa, sementara wanita-wanita selainmu tidak mengakui adanya hari yang dijanjikan ini. Beruntunglah mereka yang percaya terhadap hari itu dan bersiap-siap untuk menyongsongnya. Celakalah mereka yang lemah imannya dan melupakan hari itu karena terbuai oleh istana, rumah, harta, dan perhiasannya yang tidak berharga itu!

Apa gunanya istana, rumahm dan perhiasan tanpa keimanan? Apakah arti kedudukan dan pangkat tanpa disertai ketakwaan? Kalau tahta, istana dan perniagaan dapat membeli kebahagiaan, tentu kita tidak akan melihat pada konglomerat, para penguasa, dan saudagar kaya yang merasa hidup sengsara dan selalu mengeluh selalu diliputi kegelisahan dan kerisauan.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Kemudahan dan Jalan Keluar

NUTRISI HATI

Jika bertakwa kepada Alloh, niscaya kalian mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Dengarlah firman Alloh, “Barang siapa bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga.” (Al-Thalaq (65): 2 dan 3) Ayat ini menutup pintu kebergantungan pada sebab, pintu orang-orang kaya dan penguasa, tetapi membuka pintu tawakkal kepada Alloh. Dengan demikian, orang yang bertakwa selalu diberi kemudahan dan jalan keluar dari segala kesulitan.

(Referensi: Al-Fath Al-Rabbani, karya: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

Dampak Negatif Dosa

NUTRISI HATI

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Lima belas di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:

(1). Terhalang dari ilmu yang haq (benar / lurus). Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik Rahimahullahu, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i.

Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini,

“Aku memandang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar 15 dampak negatif dari dosa. Ini adalah yang kedua:

(2). Terhalang dari beroleh rezeki dan urusannya dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan rezeki dan memudahkan urusan seorang hamba

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya);

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

(QS. Ath-Thalaaq [65] : 2-3).

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

(QS. Ath-Thalaq [65] : 4).

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

(3). Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya, sebagaimana jauhnya pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.

(4). Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tandanya di mata si hamba. Terus demikian, hingga tampak di wajahnya yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

(5). Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa, sekalipun badannya tampak kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.

(6). Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahannya, sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya.

Mengapa demikian?

Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hatinya hidup. Sementara, orang yang hatinya mati walaupun masih berjalan di muka bumi, hakikatnya ia telah mati.

Oleh karenanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan orang kafir adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:

“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.”

(QS. An-Nahl [16] : 21).

Dengan demikian, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti, umurnya tidak lain adalah waktu-waktu kehidupannya yang dijalani karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menghadap kepada-Nya, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu, tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat, berarti hilanglah hari-hari kehidupannya yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:

“Aduhai kiranya dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.”

(QS. Al-Fajr [89] : 24).

(7). Satu maksiat akan mengundang maksiat lainnya, sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf:

“Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelakunya akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain.

Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata, ‘Lakukan pula aku.’

Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut, maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungannya, kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan….”

(8). Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat, hingga pada akhirnya keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

(9). Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat, hatinya tidak lagi (tidak sensitif/peka) merasakan jeleknya perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba, ia tidak akan dimaafkan, sebagaimana Sabda dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa sallam:

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosanya kecuali orang-orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukannya tersebut[2] namun di pagi harinya ia berkata pada orang lain, “Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabbnya menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan (tabir) Allah yang menutupi dirinya.”

(HR. Al-Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 7410).

(10). Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

– Perbuatan HOMOSEKSUAL adalah warisan kaum Luth.

– Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan menguranginya, adalah warisan kaum Syu’aib.

– Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun. Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

(11). Maksiat merupakan sebab dihinakannya seorang hamba oleh Rabbnya.
Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.

“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.”

(QS. Al-Hajj [22] : 18).

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormatinya karena kebutuhan mereka terhadapnya atau mereka takut dari kejelekannya, namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

(12). Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa, pada akhirnya ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggapnya kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullahu dalam Shahih-nya (no. 6308) menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

(13). Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya, sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahayanya telah padam, akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata:

“Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali, karena orang yang hadir akalnya tentunya akan menghalangi dirinya dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala, di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.

(14). Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati, hingga ia termasuk orang-orang yang lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya);

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”

(QS. Al-Muthaffifin [83] : 14).

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa (bertumpuk-tumpuk) hingga mati hatinya.”

(15). Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosanya, ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang-orang yang beriman, yang suka bertaubat, yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya);

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, seraya berucap, ‘Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar’.”

{QS. Ghafir (Al-Mu’min [40] ): 7-9}.

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang kami ringkaskan dari kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu hal. 85-99.

Semoga dapat menjadi peringatan. Setiap hari kita tenggelam dalam kenikmatan yang dilimpahkan oleh Ar-Rahman. Nikmat kesehatan, keamanan, ketenangan, rezeki berupa makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Belum lagi nikmat iman bagi ahlul iman. Sungguh, dalam setiap tarikan nafas, ada nikmat yang tak terhingga. Namun sangat disesali, hanya sedikit dari para hamba yang mau bersyukur:

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.”

(QS. Saba’ [34] : 13).

Kebanyakan dari mereka mengkufuri nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Atau malah mempergunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat dan berbuat dosa kepada Ar-Rahman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kepada mereka banyak kebaikan namun mereka membalasnya dengan kejelekan.

Demikianlah keadaan manusia, setiap harinya selalu berbuat dosa. Kita pun tak luput dari berbuat dosa, baik karena tergelincir ataupun sengaja memperturutkan hawa nafsu dan bisikan setan yang selalu menggoda. Amat buruklah keadaan kita bila tidak segera bertaubat dari dosa-dosa yang ada dan menutupinya dengan berbuat kebaikan. Karena perbuatan dosa itu memiliki pengaruh yang sangat jelek bagi hati dan tubuh seseorang, di dunianya ini maupun di akhiratnya kelak.

Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab.

Al-Muhlikat (Perusak) ke-2: Congkak dan Sombong.

Pojok “Ngaji Yuk!”

Dan termasuk penyakit hati yang paling besar dan bersifat merusak adalah sombong. Adapun sombong termasuk sifat-sifat setan. Allah Ta’ala berfirman tentang iblis yang dilaknat, yang artinya

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. al-Baqarah: 34)

Dan orang sombong dibenci Allah Ta’ala, seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. an-Nahl: 23)

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman: 18)

Sombong dan membanggakan diri termasuk sifat-sifat orang yang takabbur. Dan orang yang takabbur adalah orang yang tertutup hatinya, karena Allah telah mengunci hatinya. Seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (QS. Ghafir: 35)

Dan orang yang takabbur dipalingkan dari tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. (QS. al-A’raf: 146)

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Sombong adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Maka barangsiapa yang merebut salah satunya, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih mereka dan Ibnu Majjah, dan lafadz hadits darinya)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Ketika ada seseorang yang sombong dari umat sebelum kalian yang menyeret sarungnya, maka Allah membenamkamnya ke dasar bumi sehingga orang tersebut bergejolak di dalamnya sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, an-Nasa’i, dan lainnya)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya masih terdapat sifat sombong sebesar biji atom, lalu seorang laki-laki bertanya, “ Wahai Rasulullah, orang tersebut senang memakai pakaian dan sandal yang bagus.” Rasulullah menjawab, ‘Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Indah dan senang dengan keindahan, sombong adalah menolak sesuatu yang benar dan menghina manusia.’ (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

yakni memandang rendah mereka dan meremehkan mereka. Maka barang siapa merasa sombong di dalam hatinya dan dia kagum dengan dirinya sendiri serta memandang rendah dan meremehkan manusia, maka orang itu termasuk orang yang takabur yang dibenci Allah Ta’ala.

Sifat sombong hanya terdapat di dalam hati, namun tanda-tanda yang menunjukkan sifat sombong dapat terlihat di sisi bagian luar, antara lain senang duduk di muka orang-orang, menampakkan kesombongan di depan para manusia, senang maju ke depan dalam majelis-majelis, berjalan dengan angkuh dan sombong, gengsi jika pendapatnya ditolak meskipun pendapatnya sesat, dan tidak mau menerima pendapat orang lain (meskipun benar), serta meremehkan orang-orang muslim yang lemah dan miskin.

Termasuk tanda-tanda zhahir yang menunjukan kesombongan antara lain menilai dirinya baik dan senang memujinya, membanggakan dirinya dengan bapak-bapaknya yang menjadi orang-orang shalih dan mulia, membanggakan dirinya dengan nasab.

Semua itu dicela dan dipandang sangat buruk. Dan sungguh sebagian dari anak-anak orang-orang yang baik (para ulama’) diuji dengan sifat-sifat tersebut yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pemikiran dan pengetahuan tentang hakikat-hakikat agama.

Barangsiapa membanggakan diri atas manusia dengan nasab dan bapak-bapaknya, maka hilanglah barokah bapak-bapaknya darinya. Sebab, bapak-bapaknya tidak membanggakan diri dan sombong atas manusia. Jika bapak-bapaknya melakukan kesombongan dan membanggakan diri, maka pastilah keutamaan mereka sia-sia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Barangsiapa memperlambat amalnya (bermalas-malasan), maka nasabnya tidak akan mempercepatnya. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Wahai Fatimah putri Muhammad, wahai Shofiyyah bibi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak kuasa menolak dari Allah siksa neraka atas kalian. Maka belilah diri kalian sendiri dari neraka. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Tidak ada keutamaan bagi orang kulit putih melebihi orang kulit hitam, dan tidak ada keutamaan bagi orang Arab melebihi orang ‘ajam ( selain Arab), kecuali hanya dengan taqwa kepada Allah Ta’ala. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari debu. (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Sungguh telah berakhir kesombongan kaum-kaum atas bapak-bapaknya atau sungguh mereka lebih hina menurut Allah Ta’ala daripada kecoa. (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan at-Tirmidzi )

Keutamaan dan kemuliaan disebabkan oleh takwa, bukan disebabkan oleh nasab.

Seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS. al-Hujarat: 13)

Jika ada seseorang yang paling bertakwa, paling alim, dan paling banyak ibadahnya di antara manusia, kemudian dia menyombongkan diri atas para manusia, maka Allah Ta’ala akan menyia-nyiakan ketakwaannya dan menghilangkan pahala ibadah-ibadahnya. Lalu bagaimana dengan orang bodoh yang banyak berbuat dosa serta menyombongkan diri dengan memakai ketakwaan dan kebaikan

orang lain, yaitu bapak-bapak dan kakek-kakeknya? Apakah ini bukan merupakan kebodohan yang besar dan ketololan yang menakutkan? Dan sesungguhnya semua kebaikan itu berada di dalam tawadhu’, khusyu’, dan tunduk atau merendahkan diri kepada Allah Ta’ala.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Barangsiapa merendahkan diri kepada orang-orang mukmin karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya. Dan barang siapa sombong kepada orang-orang mukmin, maka Allah akan menjatuhkannya. (Diriwayatkan oleh at-Thabarani)

Dan sesungguhnya cinta agar dirinya tidak dikenal, serta benci kemasyhuran adalah termasuk akhlak orang-orang mukmin yang shalih. Dan ridha dengan hal-hal yang rendah dari suatu majelis, pakaian, makanan, dan seluruh harta dunia itu juga termasuk akhlak orang-orang mukmin yang shalih.

Maka, berpeganglah pada akhlak-akhlak tersebut, wahai orang mukmin.

Bersambung.

(Referensi kitab Qul Hadzihi Sabili, karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani)