Wanita Menor

Sabtu ini saya berangkat ke Tuban, ada pertemuan Wali Murid SDI Insan Kamil. Jam 8.30 saya baru dapat berangkat melalui Bungurasih, molor dari jadwal yang saya tetapkan, jam 06.00. Saya harus menyiapkan label undangan untuk teman-teman al-Haromain yang telah saya buat entah hilang kemana.

Naik bis Sinar Mandiri AC Ekonomi. Tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi. Bis berangkat dengan membawa penumpang seadanya tidak seperi hari-hari biasa yang menunggu sampai penuh.

Selama perjalanan, saya mencoba membaca beberapa buku yang telah saya siapkan. Setelah mendapat beberapa lembar, saya sedikit terusik dengan penumpang yang berada di sebelah kanan saya. Dua wanita paruh baya, mengobrol dengan suara terdengar hingga belakang bis. Berjilbab, yang satu sedikit lebih berumur ketimbang satunya. Yang satu lagi berdandan sedikit menor. Dan yang satu ini lebih banyak berbicara bahkan cenderung lebih menguasai pembicaraan. Ada saja yang mereka bicarakan. Mulai dari anak-anak mereka, bisnis yang dijalankan, hingga kasus eksekusi mati yang heboh akhir-akhir ini menghiasai seluruh media massa baik elektronik atau cetak. Sumarsih dan Sugeng, dua nama yang menjadi tenar.

Pikiran saya, paling juga 30 menit lagi mereka sudah berhenti mengobrol. Tapi pikiran saya meleset. Mereka berdua mengobrol terus seakan-akan tidak ada orang disekitarnya. saya mencoba mengalihkan keterusikan saya dengan ngobrol keras mereka dengan membaca buku terus hingga tanpa terasa saya telah melahap 1 buku.

Saya kaget, yang menor tadi berbicara lebih keras dari yang tadi, ternyata dia menerima telepon. Isi pembicaraan membuat saya jadi semakin mengerti kenapa wanita itu berdandan menor. Ternyata wanita itu adalah seorang salon dan sepertinya memiliki salon. Orang yang menelepon itu komplain mengenai bedak yang dia pakai membuat kulitnya menjadi ‘bendol-bendol’. Jadi semakin ramai deh pembicaraan mereka. Kapan bisa selesai mereka berbicara ditelepon. Semakin lama semakin keras.

Akhirnya masa itu datang. Wanita menor tersebut harus turun di perempatan Lamongan. Syukur, saya terbebas dari kebisingan orang mengobrol.

Ketika kedua wanita tersebut turun, saya mencoba mengamati kembali, ternyata memang bedak yang dipakai oleh wanita menor sangat tebal hingga warnanya melebihi warna kulitnya.[]

2 thoughts on “Wanita Menor

  1. setuju, tapi ada namunnya. niat kita yang harus ditata terlebih dahulu. dan tentunya jika dia seorang muslimah maka harus mencari tempat yang sesuai dengan syar’i. hal ini dapat kita lihat pada keluarga guru kita. beliau adalah sebaik-baik mengetahui tentang syara’ karena melalui beliau kita banyak belajar tentang syara’.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s