Terlalu Banyak Sandiwara

Seorang tukang kredit berhenti di pintu sebuah rumah. Seorang ibu keluar, menawar sebuah panci. Tukang itu berkata dengan tegas, “Harganya duapuluh ribu, bayar dua bulan”.
Si ibu mengomel, “Di toko hanya sepuluh ribu.” Yang sebetulnya, dia belum pernah lihat panci itu di toko.
Si tukang kredit menjawab, “Siapa bilang? tujuhbelas ribu harga toko.” Dalam hati, tukang kredit itu mengaku, “Saya ambil dari toko Bang Muin dengan harga duabelas ribu.”
Pada hari yang lain, ada seorang utusan dari daerah masuk ke sebuah kantor. Begitu sepi kantor itu. Hanya ada komputer yang berjejer dan penjaga setengah mengantuk. Utusan itu bertanya, “Ada Pak Kepala?”
“Sedang dinas luar, ” jawab penjaga. Padahal dia tahu kepala kantornya lagi mengurusi perusahaan pribadinya.
Utusan bertanya pula, “Pegawai yang lain?”
“Sama, dinas luar semua,” jawabnya ramah, meskipun hatinya sebal meladeni utusan yang cerewet itu.
Baik sang utusan maupun sang penjaga sama-sama sudah tahu bahwa kalau jam-jam begini semuanya sedang ngobyek. Tetapi, mereka sudah terbiasa dengan pura-pura tidak tahu, atau sama-sama tahu. Dan urusan itu pun bereslah.
Siang itu suami pulang terlambat. Istrinya bertanya, “Dari mana, Mas, jam segini baru pulang?”
“Ada transaksi di luar kota,” jawab sang suami. Kasihan betul istri itu, dia baru pulang dari steambath.
“Ayo, kita makan. Sesudah sarapan saya belum kemasukkan apa-apa lagi,” kata si istri. Andaikata tukang bakso mendengar, tukang itu akan berkata, “Sudah makan bakso.” Tukang mie ayam juga begitu. “Satu mangkok mie ayam sudah habis dimakannya.” Tukang gado-gado, tukang soto, tukang cendol, semuanya akan antri dengan jawaban yang sama. Pantas uang belanja pas melulu.
Rupanya anak perempuan mereka juga pulang terlambat. Bapaknya bertanya dengan garang. “Dari mana kamu? Keluyuran, ya?”
Anak itu menjawab manja, “Tidak, pa. Rini kan anak papa yang baik. Ada ulangan, sukar deh, soal-soalnya.”
Lalu bapak dan ibunya tidak peduli meskipun kalau diteliti rambut anaknya awut-awutan, dan ada bau anak laki-laki dipipinya. Pacaran sambil mengisap ganja dari sekolah adalah mode anak-anak tertentu di kota itu. Kalau bapak dan ibu Rini ingin tahu, datanglah sekali-kali ke taman-taman yang rimbun.
“Wahai, Saudara-saudara, kita sebagai warga negara yang baik harus patuh pada hukum, jujur di dalam mengemban amanah,” begitu awal pidato salah seorang Bapak dengan berapi-api. Semua hadirin mengangguk-anggukkan kepada setuju, setuju.
“Kita harus hidup prihatin, hidup sederhana.” Orang-orang berjas dan berdasi itu bertepuk tangan lagi, hebat, hebat.
Maka selesailah ceramah hari itu, ditutup dengan opor ayam dan bir. Waktu bubar, tampak mobil-mobil berjalan di pintu keluar. Marcedez, BMW, Audi, dan mobil-mobil mewah keluaran terakhir.
Tukang-tukang rokok di pinggir jalan ngedumel, tetapi kalau disapa, membalas dengan menunduk-nunduk dan kalau didatangi, cium tangan sambil membungkuk.
Malamnya ada musyawarah di masjid. Mereka sedang membicarakan bagaimana mengurus masjid-masjid yang telantar. Akhirnya diputuskan harus dibentuk suatu badan khusus yang mengurusi dan mengkoordinasikan masjid-masjid. Bubarlah musyawarah itu dengan hasil-hasil yang kongkret dan menggembirakan.
Giliran ada tarikan sumbangan buat masjid, alangkah bakhilnya anggota-anggota pengurus dan badan masjid itu. Jamaah berduyun-duyun menyumbang. Berdirilah masjid dengan megah. Ketua Badan Masjid berdiri di mimbar dengan bangga, “Wahai, Saudara-saudara, berkat keikhlasan kita semua, maka berhasillah cita-cita kita bersama.”
Jamaah terangguk-angguk sambil mengucapkan “alhamdulillah, syukur-syukur.” Besoknya di harian surat kabar foto ketua itu dimuat dengan gagahnya di halaman pertama, sementara jamaah hanya tampak kepalanya kecil-kecil.
Alanglah meratanya sandiwara di muka bumi ini. Dan yang menulis serta membaca tulisan ini?

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s