Tangan-tangan Kotor

Masjid yang mula-mula dalam sejarah Islam  bukanlah Masjidil Haram yang terlektak di Makkah Al Mukarammah. Rasulullah saw. baru mendirikan masjid di Quba di luar Madinah, dalam perjalanan hijrah Beliau menjelang memasuki kota itu. Dan salat Jumat pertama yang diimami Rasulullah sendiri ternyata bukan di masjid, melainkan di sebuah lapangan terbukta yang dikenal dengan nama Wadi Ranuna.
Al Quran menyebutkan, “Sesungguhnya bangunan yang mula-mula sekali didirikan (untuk beribadah) bagi manusia adalah yang terletak di kota Makkah itu.” dan yang dimaksud dengan bangunan itu ialah Ka’bah, yang kini berada ditengah-tengah Masjidil Haram.

Sebutan Masjidil Haram baru diabadikan dalam peristiwa Isra Mi’raj yang dijalani Rasulullah satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, yaitu dalam surah al-Isra’ ayat 1, yang berbunyi, “Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.”
Jadi, kala itu, yang dikenal umat Islam sebagai Masjidil Haram adalah sebuah kubus batu yang berdiri tegar di tengah-tengah kota Makkah dengan beberapa bangunan tambahan di sekitarnya. Kubus batu itu sering disebut Baitul Atiq, atau Baitullah, dan yang amat melekat adalah nama tenarnya, Ka’bah.

Masjidil Haram sudah menjadi ajang perebutan sejak zaman dahulu karena, siapa yang berhasil menguasainya, dianggap sebagai yang paling berjaya.
Tahun 570 M Abrahah bertolak dari Yaman dengan pasukan bergajahnya menuju Makkah. Ia tidak akan menghancurkan Makkah, Ia tidak akan membinasakan penduduknya. Ia hanya berniat meruntuhkan Ka’bah agar kibal umat manusia dalam beribadah tidak lagi menuju ke sana, tetapi akan menghadap ke Sha’a, ibu kota Yaman. Makarnya gagal total. Dan ia tewas secara misterius beserta sebagian besar tentaranya.
Dalam usia 35 tahun, sebelum diangkat menjadi rasul, Rasulullah ikut bersedih menyaksikan keruntuhan Ka’bah akibat banjir besar. Tidak seorang pun berani memulai perbaikan Ka’bah karena takut akan kutukannya. Walid bin Mughirah selaku pemimpin pemelihara Ka’bah ragu-ragu untuk mengambil tanggung jawab. Sebab, di samping takut, belum tersedia bahan-bahannya dan juga tukang-tukangnya.

Kebetulan pada waktu itu di Jeddah terdampar sebuah kapal niaga milik saudagar besar bangsa Romawi bernama Baqum. Kapal itu berlayar dari Mesir tetapi dihempas badai di laut Jeddah. Walib bin Mughira atas persetujuan para pembesar Quraisy membeli kapal tersebut sekalian barang-barang yang diangkutnya berupa kayu, kapur, dan batu-batu. Baqum yang ternyata seorang ahli bangunan ditawari pekerjaan untuk membangun kembali Ka’bah yang sudah runtuh itu. Baqum tidak keberatan. Maka, dengan dibantu oleh seorang tukang kayu bangsa Qitbi (Mesir) yang sudah agak lama menetap di Makkah, dimulailah perbaikan Ka’bah.

Sesudah terbukti mereka tidak terlaknat karena pekerjaan itu, barulah orang-orang Quraisy berebut hendak membantu. Oleh Walid, agar tidak terjadi pertikaian antar kabilah, tiap-tiap suku diberi tugas masing-masing.
Namun, perselisihan akhirnya tidak bisa dihindarkan, yakni kalian akan memasang Hajar Aswad di tempatnya. Tiap kabilah merasa berhak mengerjakannya. Nyaris pedang-pedang tajam terhunus, dan darah tertumpah di Masjidil Haram. Untung ada Sang Terpercaya, Muhammad Al Amin. Ia membentangkan serban di tanah, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu wakil-wakil tiap kabilah dipersilahkan mengangkatnya bersama-sama. Maka Ka’bah pun tidak ternoda oleh pertarungan berdarah.

Tahun 10 H Nabi Muhammad membawa pasukannya sebanyak 10.000 orang lebih memasuki kota Makkah. Namun demi menjaga kesucian Masjidil Haram, mereka diperintahkan untuk tidak menghunus senjatanya. Mereka menyeru, “Al yaum yaumul marhamah. Hari ini adalah hari kasih sayang.” Tentara Islam berhasil menaklukan kaum musyrikin dengan damai. Kemudian mereka berduyun-duyun ke Masjidil Haram. Terdengar suara hingar-bingar, seolah-olah Ka’bah diruntuhkan. Ternyata tidak. Ka’bah tetap suci, sebab yang dihancurkan adalah berhala-hala batu yang menodai kesucian Ka’bah.

Sejak itulah Masjidil Haram mulai dibangun setahap demi setahap sampai akhirnya Mas’a (tempat sa’i) yang dulunya terbuka menentang matahari, dengan batu dan kerikil yang panas di atasnya, dan terletak di luar Masjidil Haram, kini sudah menyatu dengan masjid tersebut, bertingkat dua, tertutup dalam ruangan yang sejuk dan teduh, dengan alas marmer yang dingin.

Tetapi bukan berarti, tidak ada yang berusaha mengotori Masjidil Haram.
Tahun 65 H (685 H) Abdul Malik bin Marwan menaiki jabatan khalifah menggantikan ayahnya, Marwan bin Hakam dari dinasti Umayyah, yang berkedudukan di Damaskus. Sedangkan Makkah berada di bawah kekuasaan Abdullah bin az-Zubair yang mengklaim dirinya sebagai khalifah Tanah Hijaz. Maka Abdul Malik memerintahkan Hajjaj bin Yusuf untuk menaklukan Abdullah bin az-Zubair dengan menyerbu kota Suci Makkah. Terjadilah pertempuran sengit yang memakan banyak korban. Malahan Ka’bah terbakar di tengah huru-hara itu. Dan Masjidil Haram porak poranda.

Penodaan kekudusan Ka’bah terjadi pula pada tahun 317 H. Abu Thahir Sulaiman al-Jabani naik tahta. Ia bernafsu hendak menjadi yang paling berkuasa. Dari pusat pemerintahnya di Bahrien ia memerintahkan tentaranya menyerbu Makkah. Pintu Ka’bah dilepas dan dirampasnya. Hajar Aswad dicopotnya lalu dibawa ke Bahrein dan berada di sana selama 22 tahun.

Pembunuhan atas imam shalat di Masjidil Haram juga beberapa kali terjadi. Tidak saja pada tahun 1979 ketika sekitar 500 orang bersenjata menyerbu Masjidil Haram dipimpin oleh orang-orang yang mengaku Imam Mahdi. Namanya Muhammad Abdullah al-Qahtani. Sebagian mengatakan ia berasal dari kelompok Khariji di Afrika Utara, dengan pengikut-pengikutnya yang berdatangan dari kaum Syi’ah di Iran dan Yaman. Tanggal 22 November Masjidil Haram dibebaskan tentara pemerintah dari para penyerbu. Sebanyak 660 orang tewas dari kedua belah pihak, para teroris dan tentara pemerintah, selain korban-korban yang tidak berdosa, di antaranya termasuk Imam shalat yang tertembak dari belakang. Meskipun akhirnya kaum teroris itu tertangkap atau terbunuh, Masjidil Haram mengalami kerusakan yang cukup parah.

Namun, jauh sebelumnya, pada tahun 1930, seorang jamaah haji dari Yaman telah membunuh imam pada waktu memimpin shalat. Lalu, sesudah Jumat berdarah berkecamuk di Makkah pada musim haji tahun 1987 yang lalu, apakah masjidil Haram dengan Ka’bahnya akan masih mengalami bencana demi bencana lagi?
”Yang jelas, adalah kewajiban segenap umat Islam untuk memelihara kekudusan dan kedamaiannya, sesuai dengan firman Allah, ”Wa man dakhalahu kana amina. Barangsiapa yang masuk di dalamnya, ia akan aman tenteram.”

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s