Keberanian Yang Bijaksana

Kiai Haji Agus Salim adalah tokoh Islam kelas dunia. Ia sangat bangga menjadi warga bangsa Indonesia dan amat yakin dengan keislamannya. Pada waktu itu berkunjung ke Tokyo ia mengucapkan salam Islam

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” kepada yang orang-orang yang menyambut kedatangnya.
Sudah barang tentu sebagian pengikutnya bertanya keheranan, “Tidakkah haram hukumnya mengucapkan salam Islam kepada orang-orang non Islam?”

Kiai Haji Agus Salim menjawab, “Saya mengucapkan salam untuk mencari tahu apakah ada orang Islam di sini. Sebab hanya mereka yang beragama Islam dapat menjawab salam saya dengan fasih.”
Terbukti sangkaannya benar. Di antara mereka ada beberapa orang yang menjawab salamnya dengan tepat sehingga rombongannya merasa tenang karena mempunyai saudara seagama di negeri asing.

Pada waktu ia diundang mengadakan pertemuan dengan perdana menteri Inggris beserta pada anggota kabinetnya, Kiai Haji Agus Salim mengeluarkan sebatang rokok kretek yang terkenal keras baunya bagi orang-orang kulit putih. Ia menyundutnya, lalu mengisapnya dengan nikmat. Asapnya dikepuskan, mengepul memenuhi ruangan yang apik itu.

Semua orang Inggris yang berada di ruangan itu terbatuk-batuk. Sebagian di antara mereka mengutuk, “Bau apa ini?” Busuk sekali,” tujuannya menyindir rokok kretek yang inlander itu.
Kiai Haji Agus Salim dengan tangkas berkata, “Sengaja saya mengisap rokok kretek di depan Tuan-tuan, untuk mengingatkan bahwa karena daya tarik cengkih penyedap rokok ini Tuan-tuan telah menjajah negeri-negeri kami di Nusantara yang indah selama berabad-abad.

Maka orang-orang Inggris itu pun terdiam tidak dapat menyanggah lagi, dan membiarkan Kiai Haji Agus Salim serta rombongannya untuk menikmati rokok kretek yang dibawa dari Tanah Air.
Pada suatu rapat umum di Yogyakarta, di tengah masyarakat yang berjubel memadati lapangan, beberapa orang anggota Partai Komunis membuat gaduh dengan menyuarakan “embik…embik…” tatkala Kiai Haji Agus Salim sedang menyampaikan pidatonya. Tujuannya buat mengejek Kiai yang memelihara janggut panjang itu, mempersamakan Kiai Agus Salim dengan kambing melalui bunyi embik mereka.
Tanpa emosi Kiai lantas berkata, “Tuan-tuan, rapat ini rapat manusia. Karena itu, tidak layak apabila selain manusia diizinkan masuk kemari. Maka kepada para petugas, tolong diusir kambing-kambing yang bergerombol di sana, yang tadi ribut dengan suara embik mereka.”

Orang-orang komunis yang tadi menganggu terhenyak tidak dapat berkuti, lantaran bukan Kiai Haji Agus Salim yang jadi kambing malah mereka yang mendapat julukan kambing.
Dengan rasa malu yang sangat, mereka terpaksa menurut ketika disuruh petugas keamanan keluar dari lapangan, sehingga rapat itu berjalan dengan terbit sampai usai.

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s