Dunia

Kepada para hawari-nya Nabi Isa as. pernah bertanya, “Siapakah d antara kalian yang sanggup mendirikan bangunan di atas buih yang mengapung di lautan?”

Mereka saling memandang dan tercetus sebuah kebingungan, “Siapa pula yang dapat melakukannya?”

“Tidak seorang pun,” jawab Nabi Isa. “Karena itu, jauhkanlah dirimu dari mencintai dunia secara berlebihan. Dan jangan kamu anggap dunia ini  sebagai negerimu yang sejati. Sebab dunia hanyalah tempat persinggahan dalam perjalanan jauh dan panjang menuju alam kejadian.”

Sementara itu, seorang sufi, Yunus bin Abil-‘Ala, terjaga dari tidurnya. Lalu dipanggilnya segenap murid dan keluarganya. Kepada mereka ia bercerita, “Aku melihat dalam tidurku semua yang kubenci dan kuncintai. Yang kita alami hari ini akan sirna sebagaimana peristiwa yang lalu tinggal kenangan belaka.”

Mereka pun tercenung. Tersentak hati mereka seraya berpikir, “Siapakah aku, apakah aku? Dari mana aku, dan akan kemana aku?” Tidak seorang pun yang mampu menjawabnya. Dan ketika menatap diri sendiri, kita pun makin tidak tahu siapakah “aku” ini sebenarnya. Bahkan kita kian sadar, ada sesuatu di luar diri kita, ada yang mengatur hidup dan nasib kita, sehingga terkadang kita tidak kuasa menolaknya. Dan “aku”? Apalah bedanya dengan yang kita tempati, dunia ini?

Barangkali karena itu tokoh sufi yang arif, Ibnu Qayim mengatakan,”Dunia ini ibarat bayanganmu sendiri. Ia meneduhi orang lain, tetapi kamu tetap terbakar matahari. Kamu kejar dia ke mana saja, ia terus menjauh kendati seolah dekat denganmu. Ia milikmu, namun tidak pernah menjadi satu denganmu.”

“Dunia ini terdiri atas tiga bagian.Yang sepertiga milik Alloh, yang sepertiga kepunyaan ulat-ulat dalam tanah. Cuma sepertiga yang menjadi hak manusia. Adapun yang milik Alloh ialah nyawanya. Yang kepunyaan ulat-ulat dalam tanah adalah jasadnya. Sedangkan yang menjadi hak manusia hanyalah amal perbuatannya.”

Sahabat Ibnu Mas’ud termasuk orang kaya. Tapi dia hanya mempunyai seorang anak, perempuan, yang kelak bakal menikdah dan penghidupannya ditanggung oleh suaminya. Karena itu Ibnu Mas’ud menganggap tidak perlu lagi lebih rajin mencari rezeki. Ia berusaha sekedar yang perlu saja. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan oleh perkataan Nabi Saw.:

“Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah kamu untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok pagi.”

Maka sejak itu Ibnu Mas’ud bekerja giat kembali sehingga hartanya bertambah banyak, sampai akhirnya ia tergolek di tempat tidur dalam keadaan sakit payah.

Karena merasa ajalnya sudah kian dekat, Ibnu Mas’ud berpesan kepada para sahabatnya, apabila ia meninggal dunia, hendaknya semua kekayaannya diserahkan untuk sedekah.

Niat Ibnu Mas’ud ini terdengar oleh Nabi Saw. Segera Beliau mendatanginya dan menanyakan kebenaran laporan para sahabatnya. Ibnu Mas’ud mengangguk tanda mereka tidak mengada-ada. Memang begitulah keinginannya, memberikan seluruh hartanya sebagai wakaf dan infak dan menyisakan sebagian bagi anak perempuannya.

Alasan sederhana dan mulia, yaitu bahwa ia percaya Tuhan tidak akan menyiakan-nyiakan anaknya ia yakin dan pasrah terhadap kemurahan Alloh.
Nabi waktu itu menyanggah, “Tidak, sahabatku. Menyedekahkan semua milikmu adalah tidak benar.” “Kalau begitu dua pertiganya akan saya sedekahkan,” ujar Ibnu Mas’ud.

“Dua pertiga masih terlalu besar,” bantah Nabi.

“Baiklah, setengahnya saja.”

Nabi melarang lagi,”Tidak. Setengahnya juga masih terlalu banyak.” Kemudian Nabi bersabda, “Menyedekahkan harta untuk Alloh cukup sepertiganya saja, selebihnya buat ahli warismu. Ingatlah, wahai sahabatku, meninggalkan seorang ahli waris dalam keadaan yang berkecukupan jauh lebih baik daripada meninggalkan dalam keadaan papa, sampai terpaksa harus menadahkan tangannya kepada orang lain.

Itulah yang diajarkan Islam mengenai harta dan dunia, yaitu keseimbangan dalam berbagai kepentingan. Sebaliknya, kita juga diingatkan agar tidak sampai terlalaikan oleh harta dan dunia sebagaimana tercantum dalam surat Fathir ayat 5:

“Wahai segenap umat manusia. Sesungguhnya janji Alloh itu pasti terbukti. Karena itu, janganlah kamu dilalaikan oleh kehidupan dunia. Dan jangan pula terlena oleh para penipu yang menjauhkan kamu dari Alloh.

Tetapi dunia ini memang indah. Sebab kata Alloh dunia ini tidak lebih hanyalah permainan. Dan siapakah yang bisa menyanggah bahwa permainan itu selalu menyenangkan? Siapa pula yang dapat membantah bahwa permainan acap kali meninabobokan meskipun kita tahu cuma kepalsuan?

Untuk itu seorang penyair menulis dalam renungannya:
“Sesungguhnya, di antara hamba-hamba Alloh ada orang-orang cendekia. Mereka menceraikan dunia dari hatinya sebab menyadari akan fitnah-fitnanya. Dihayatinya kehidupan dunia. Setelah yakin bahwa dunia itu bukan tanah airnya, dijadikannya dunia sebagai lautan, dan amal salehlah perahunya.”

Artinya para sufi mengajarkan, seperti Islam mengajarkan, agar terhadap dunia kita menganggapnya sebagai ladang untuk bercocok tanam agar kita mendapat bekal untuk menempuh perjalanan. Lantaran, seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw., manusia adalah penduduk asing di dunia ini, yang sewaktu-waktu bisa digebah dan harus meninggalkannya buat selama-lamanya.

Dalam surat Al-Kafhi Alloh melukiskan secara indah sekali, kendati memedihkan dan menggetarkan, tentang kehidupan di dunia ini:

“Berikanlah perumpamaan kepada manusia bahwa kehidupan dunia ini bagaikan air yang Kami curahkan dari langit, menumbuhsuburkan tanam-tanaman di muka bumi. Kemudian, tanam-tanaman itu akan kering berguguran diterbangkan oleh angin. Alloh mahakuasa atas segala-galanya.” (al-Kahfi: 5).

Namun, apakah kita harus membengkalaikannya? Menurut Imam Hasan al-Bashri, bahkan kita harus merebut dan menguasainya, mengolah dan menikmati hasilnya, sepanjang kita yakin akan kebenaran firman Alloh Swt. bahwa dunia adalah ladang untuk menanam pahala, bagi kesejahteraan kita di akhirat kelak.

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s