Tak Cukup Hanya Otak dan Otot

Mendatangkan Perkenan dan Ridha Allah swt.  dengan memperbanyak berdzikir

Perjalanan Nabi-Nabi dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah, sarat dengan kisah luar biasa. Keajaiban ini telah terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Pendukung misi tauhid ini rata-rata harus menghadapi tirani dhulumat yang memiliki kekuatan dan kekuasaan luar biasa baik dari segi persenjataan, pasukan, maupun posisi. Peristiwa luar biasa yang sulit diterima oleh logika standard, sering terjadi. Tetapi kenyataannya begitu. Logis tidak logis, tetapi itu yang terjadi, yang harus diterima apa adanya.

Barangkali tidak ada salahnya, agar menjadi bahan renungan bagi kita, bagaimana pesawat tempur Amerika yang sudah dirancang sedemikian canggih, dengan program yang begitu matang serta pasukan andal kelas dunia yang terlatih, ternyata justru bertabrakan sendiri hingga operasinya gagal total. Sulit dipercaya kalau dikatakan bahwa itu adalah berkat doa pasukan malam Irak -barangkali- di tengah malam. Walaupun akhirnya dinasti Saddam jatuh juga, toh kita tidak tahu apakah Saddam telah mendzalimi rakyat Irak hingga ia harus merasakan turun dari tahta kekuasaan dan berakhir di tiang gantungan. Kita juga ingat beberapa tahun yang lalu bangkrut dan bubarnya Negara adikuasa Uni Sovyet. Tidak mustahil hal itu karena peperangan dengan para mujahidin Afghanistan. Soviet yang kewalahan akhirnya berlanjut menjadi kebangkrutan dan bubar. Mungkin secara logika sulit diterima, tetapi itu tidak mustahil. Bukankah banyak hal mustahil yang terjadi juga atas ijin Allah swt.

Di sinilah terlihat bagaimana dahsyatnya peranan dzikir yang nampaknya begitu luar biasa adalah hal yang sesungguhnya masih sangat wajar. Dibandingkan dengan peristiwa yang lebih fantastis lagi dan telah berlalu sebagai saksi sejarah, hal ini nampak biasa saja. Yang menjadi masalah sekarang bagaimana kita meyakini hal itu, dan lebih penitng bagaimana mempraktekannya dengan lebih baik lagi. Sehingga kita masih akan sempat melakukan hal-hal yang berarti bagi umat manusia di dunia ini, khususnya bagi umat Islam. Kalau mungkin bahkan mewujudkan sesuatu yang dianggap mustahil oleh orang lain.

Dengan penuh keyakinan, asal persyaratannya dipenuhi Insya Allah setiap saat bisa terjadi keajaiban. Dengan mengurangi dan kalau perlu membabat habis Thaga’ dalam diri, kita akan sepenuhnya menggantungkan harapan kepada Allah swt. Tidak lagi mengagungkan kemampuan otak, mendahulukan yang serba rasional, dan seterusnya. Sepenuhnya bergantung maunya Allah swt.

Kita memang terbiasa yang serba rasional, sehingga potensi dzikir dan doa seperti terabaikan. Tidak pernah diasah, tidak pernah dipertajam sama sekali. Akibatnya terpendamlah kekuatan ini sekain lama, tanpa ada program secara serius untuk memperolehnya dan memanfaatkannya.

Atau mungkin sekain lama hanya dianggap sekedar ibadah buat kepentingan diri sendiri? Kekuatan yang lahir juga untuk kepentingan diri sendiri, atau paling-paling untuk hal-hal yang sifatnya sangat sederhana, seperti untuk mengobati penyakit tertentu, untuk melacak barang hilang dan lain-lain. Terkadang mereka dapat julukan dukun atau julukan-julukan khas lainnya.

Padahal sesungguhnya dalam sejarah yang kita lihat sebagaimana Nabiyullah Musa as. menghadapi Fir’aun dan bagaimana Nabiyullah Ibrahim as. menghadapi Namrud. Bagaimana Nabiyullah Muhammad saw. menghadapi Abu Jahal cs, menghadapi Roma dan Persia, mungkin tidak terpikir kalau semua itu dapat terjadi karena kekuatan iman yang dirawat dan dikembangkan serta dicairkan antara lain dalam bentuk dzikir. Sehingga dalam pertarungan budaya dan peradaban saat ini, apa salahnya juga orang diajak menoleh sejenak mengamati persoalan dzikir kita, sudah sejauh mana kita melakukan dzikir yang bisa melahirkan kondisi yang menguntungkan posisi dan kondisi serta potensi kita ke dalam

Perlu jiwa besar untuk tidak usah dan tidak perlu malu-malu mengaku kalau kita pun secara tidak sadar telah terjebak atau paling tidak terpengaruh cara memandang dan berfikir ala orang-orang yang tidak berkaidah. Kita telah menempatkan akal dan rasio begitu hebat dan dominan, sehingga hal-hal yang sesungguhnya merupakan senjata andalan kita selama ini tidak digubris, apalagi diupayakan.

Akibatnya kita masih terus menerus menjadi bulan-bulanan, dikerjain orang. Sementara kita seperti hanya tahu marah dan ngamuk, dongkol dan jengkel, dan setelah itu puas. Kita tidak dapat mengambil langkah antisipasi yang konsepsional dalam mencekal sesuatu yang tidak kita inginkan. Nampaknya selama ini kita rata-rata hanya reaktif terhadap aksi yang ada, tidak aktif berinisiatif yang antisipatif proyektif

Makin hari rasanya kita makin tidak ditakuti, makin tidak disegani. Apalagi kita memang sudah berhasil diadu lantaran jarang tidak saling beda pendapat dan paham. Seolah-olah berbenturan dan berkelahi antar kita sendiri sudah merupakan ciri khas yang menandai keberadaan kita selama ini dan menjadi pegangan pihak lain dalam menilai dan mengukur kita.

Kita akui bahwa tidak seorangpun di antara kita yang tidak menginginkan perubahan nasib dan keadaan. Akan tetapi hal itu memang bukan persoalan gampang kalau kita hanya mengandalkan otak, apalagi otot saja. Mutlak diperlukan keterlibatan Allah swt., dan salah satu cara mengundang keridhaan-Nya adalah -maaf ini lagi-lagi tidak ilmiah- antara lain dengan cara berdzikir.

Wallôhu a’lam.

2 thoughts on “Tak Cukup Hanya Otak dan Otot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s