Mahligai Sakinah

Di antara yang membedakan antara orang beriman dan orang-orang yang sekuler adalah keluasaan wawasan berpikir. Bagi mereka yang beriman, maka jangkauan pemikirannya jauh ke depan, melampaui batas rasional. Mereka percaya tentang surga neraka, tentang akhirat, dan sebagainya. Namun tidak demikian dengan orang-orang sekuler. Kaum kafir ini tak bakal bisa menerima konsep itu, karena letaknya di luar jalur pemikirannya yang serba empiris dan rasional.

Itulah sebabnya, soal yang hina di kalangan kita macam kumpul kebo, bukan masalah bagi mereka. Prinsip yang dianut adalah suka sama suka. Pokoknya tidak merugikan kepentingan tetangga. Malah menurut perhitungan mereka, langkah ini jauh lebih efisien dan praktis. Bila suatu saat mengalami kejenuhan bisa pindah dengan mudah, tanpa repot dengan urusan tetek bengek hukum.

Pernikahan dianggap menghambat kebebasan, sedangkan kumpul kebo tidak apa-apa asal tidak hamil.

Orang yang beriman berbeda potret dengan orang kafir. Bagi mereka, pernikahan adalah sunnah Rasul dan merupakan peristiwa sakral. Sebelum akad nikah, sepasang insan berlainan jenis haram bersentuh pegang dan pandang, apalagi bersentuh kelamin.

Karena sudut pandangnya berbeda, sering terjadi benturan antara kedua golongan itu. Orang sekuler menghendaki free love dan free sex dalam pergaulan laki-laki dan perempuan. Namun kita menghendaki kesucian dalam bercinta dan aktivitas seksual, yaitu lewat pernikahan. Islam tak bersimpati pada mereka yang berpendirian ‘anti nikah, lebih-lebih terhadap pada mereka yang berfalsafah hidup: “buat apa menikah, jika kepuasaan birahi dapat diperoleh di tempat pelacuran dan dari kalangan wanita yang ikhlas menyerahkan kehormatannya”.

Paham free sex bagi kita cukup keji dan sangat menjijikan.Karena tujuan perkawinan bukan hanya semata-mata melampiaskan gejolak birahi, tetapi dengan akad nikah itu kita akan bina mahligai rumah tangga sakinah, pendorong juang fi sabilillah. Kita akan peroleh putra yang shalih, tambatan hati penenang sukma. Dan kita akan persiapkan generasi mendatang sesuai harapan Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Di sinilah letak beda antara manusia dan binatang. Syahwat binatang tanpa terbimbing akal, sehingga ia lampiaskan birahi itu kepada siapapun, tanpa rasa tanggung jawab. Seperti ayam jago, yang bebas tanpa batas. Bertengger dari satu punggung betina ke punggung betina lainnya. Bahkan kadang punggung ibu dan anaknya sendiri. Entah sampai kapan, yang jelas ia tak mengenal lagi anak-anaknya yang lahir dari betina-betina yang pernah dinodainya.

Itulah tabir kehidupan free sex. Secara moral tidak bertanggung jawab, kecuali hanya menimpakan beban derita kepada wanita, dan manusia umumnya.

“Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. QS. Muhammad: 12.

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s