Biarkan Mereka Bebas Bertanya

Suka bertanya merupakan kredit poin bagi anak, yang akan mendidiknya menjadi pintar kelak

Ermi (bukan nama sebenarnya) sebenarnya anak yang mungil dan lucu. Rambut ikalnya yang selalu dikucir dua bergoyang-goyang setiap kali ia menggerak-gerakkan kepala. Bibirnya tek henti mengoceh dan tertawa diiringi mimik wajah menggemaskan.

Seperti juga saat itu, ketika Erni diajak ibunya bertamu ke rumah tetangga. Gadis kecil tiga tahunan itu tak mau duduk diam di kursi tamu. Ia terus berputar-putar sekeliling ruangan dan terus bertanya. Hampir setiap benda yang belum pernah dilihat, ia perhatikan akhirnya telontar pertanyaan, ini apa, bu?

Sekali dua kali, ibunya menyempatkan menjawab di sela-sela keasyikannya mengobrol. Tetapi pertanyaan Erni terus-menerus berulang untuk hampir setiap hiasan yang ada di ruangan tamu. Ini apa? Itu apa? Ini kok begini? Dan terus diulangnya. Ibu Erni tak lagi memperhatikan anaknya. Dibiarkannya Erni terus berceloteh sendiri, mengulang-ngulang kalimat pertanyaan tanpa ada jawaban.

Hingga akhirnya ibu pun membentak,”Sudah Erni…diam.Tak boleh bertanya-tanya terus begitu!” Kali ini Erni pun terdiam, dengan wajah ketakutan. Dan selanjutnya ia pun melamun melihat ke arah luar. Seseorang datang memasuki rumah dengan membawa alat pancing di tangan. Tentu saja Erni tertarik. Diperhatikannya benda aneh di tangan orang yang kini sedang berbasa basi dengan ibunya itu. Ibu yang sudah melihat gelagat dari tingah Erni segera berkata,”Ayo Erni, tidak usah banyak tanya. Itu tak baik.”
Erni Cuma diam dan kembali ke tempatnya semula dengan kesal. Ia semakin kesal saja sewaktu ibunya berkata kepada tuan rumah,”Maaf lho bu, anak saya ini memang nakal dan banyak sekali ngocehnya.”

Kalau Anda tanya mengapa ibu Erni melarang anaknya bertanya-tanya tentu akan menjawab,”Nanti kan memalukan. Bertamu kok terus tanya ini dan itu.” Tidak enak didengar dan tidak sopan.”

Setujukah Anda dengan pendapat ini? Seharusnya tidak. Tindakan ini jelas mematikan rasa ingin tahu anak. Coba saja lihat. Erni yang semula selalu tertarik memperhatikan barang baru, beberapa bulan setelah itu menjadi anak yang pasif. Tak peduli lagi pada situasi di sekitarnya walau kepadanya ditunjukkan barang aneh yang belum dikenalnya. Tindakan ibu yang selalu mencela kebiasaannya bertanya rupanya telah membuat Erni kehilangan gairah untuk bertanya dan bahkan memadamkan rasa ingin tahunya.
Orang yang mengerti dunia anak, semestinya tak perlu malu hanya karena anaknya suka bertanya ini dan itu. Itu peristiwa biasa dan wajar. Justru kita harus khawatir tatkala anak kita hanya duduk diam, menunduk dan memainkan ujung bajunya jika diajak ke tempat baru. Itu pertanda anak merasa tak punya keinginan untuk tahu lebih banyak.

Justru ini yang disebut kelemahan anak, kalau anak sesekali bertanya ini dan itu, bukan sebuah kejanggalan. Dan kalau anak sangat aktif bertanya seperti halnya Erni, tidak juga harus kita redam ingin tahunya itu. Bahkan anak seperti inilah yang punya kans untuk menjadi lebih pintar, karena begitu besar rasa ingin tahunya.

Kalau ibu Erni merasa kebiasaan bertanya seperti itu memalukan dan tidak sopan, semestinya hal itu dirundingkan dulu dengan Erni sebelum berangkat. Mengajak Erni berbicara baik-baik untuk mau mengerti, bahwa jika bertamu harus sopan, karena terus-menerus bertanya akan mengganggu pembicaraan dengan tuan rumah. Ibu bisa menjanjikan untuk menampung pertanyaan Erni kelak jika sudah usia bertamu.
Mengapa harus malu karena anak sering bertanya? Seharusnya Adan malah bangga dan bersyukur.Orang bisa pintar karena mempunyai rasa ingin tahu besar yang terpupuk sedari kecil. Kelak mereka akan aktif belajar tanpa harus diperintah.

Memupuk rasa ingin tahu anak, memang bukan hal yang mudah. Tak jarang seorang ibu yang sedang sibuk bekerja di rumah merasa terganggu karena seribu satu macam pertanyaan yang diajukan anaknya. Akhirnya si ibu hanya menjawab sekenanya saja. Barangkali Cuma diam dan berkata, “Tak tahu ya…” atau bahkan membentak menyuruh anak menutup mulut.
Jelas tindakan ini salah. Jika kita mau punya anak, kita harus mau direpoti. Tak ada salahnya kita tetap memberi perhatian kepada nak ketika sibuk bekerja. Sambil memasak kita harus meluangkan waktu untuk tetap menjawab pertanyaan mereka. Sambil membersihkan rumah toh bisa juga terus mengobrol dengan mereka.

Memang dibutuhkan kesabaran tinggi. Dalam menjawab pun kita harus menunjukkan perhatian. Mimik muka penuh perhatian dan jawaban dengan nada bersungguh-sungguh.

Ibu tidak memberikan jawaban panjang. Apalagi yang berbelit dengan bahasa yang sulit dimengerti anak. Cukup dengan jawaban pendek dan disesuaikan dengan pemahaman anak. Dan tentu saja tidak boleh sembarangan. Harus dengan jawaban yang benar. Kalau orang tua tidak tahu apa jawaban yang benar tak usahlah coba berbohong. Lebih baik katakan tak tahu dan cobalah untuk menerangkan di lain waktu bila jawaban sudah didapat.

Suatu saat Rida bertanya pada ibunya,”Bu, hujan itu turun dari mana?” Ibu pun menjawab,”Dari langit.” Kembali Rida melanjutkan,”Memangnya di langit ada air?” Ibu memberikan jawaban,”Ya sekumpulan air di langit namanya awan.” Merasa penasaran Rida terus mengajutkan pertanyaan,”Mengapa tak pernah ada hujan uang atau jajan, bu?”
Sambil tertawa ibu pun berkata dengan sabar,”Tentu saja, di langit hanya ada udara dan awan. Tak ada uang atau jajan sama sekali.”
Nah, jawaban ibu kepada Rida pendek dan tidak berbelit-belit, bukan? Penjelasan ibu akan memuaskan hati anak dan bisa tertangkap oleh kemampuannya berpikir. Lain halnya ketika Beni bertanya kepada ayahnya tentang apa sebenarnya guruh dan petir itu. Spontan ayah memberi jawaban,”Ada raksasa sedang marah di langit. Kilat itu cahaya dari kapak raksasa yang ditebaskan dan suaranya yang keras dinamakan guruh.”
Jawaban semacam ini tentu tak bermanfaat. Mungkin saja Beni puas dengan keterangan itu tetapi pemahaman keliru jelas tak menambah perbedaharaan pengetahuannya. Bukankah lebih baik dijelaskan sedikit,”Jika awan yang satu bertabrakan dengan awan yang lain, awan itu akan meledak. Cahaya ledakan itu disebut kilat dan suara yang terdengar disebut guruh.”
Ketika anak masih terus merongrong dengan pertanyaan membingungkan seperti tanya Rida,”Lho, awan itu kan air, kok bisa meledak, bu?” dan ibu kebingungan mencari jawaban, sementara ibu bisa berhenti. Lebih baik dikatakan,”Iya ya, air kok bisa meledak. Ibu tak tahu. Coba kapan-kapan ibu tanya pada bapak dulu ya.”

Setelah memikirkan jawaban yang pantas, di lain waktu ibu menerangkan,”Air di langit tak sama di bumi.” Air yang di langit mengandung listrik. Jadi kalau bersenggolan bisa meledak. Seperti kawat listriknya bapak itu lho Rid.”

Apa sih faedahnya memberi jawaban secara tepat? Toh Beni sudah puas dengan jawaban ayahnya tentang raksasa itu, begitu mungkin pendapat Anda. Memang, anak sudah cukup puas mendapat sebuah keterangan dan kepuasan ini sangat berarti bagi dirinya. Tetapi bukankah ada alternatif yang lebih baik?

Lihat saja Rida. Selain puas mendapat jawaban ia pun memperoleh tambahan pengetahuan. Apakah Anda mengira pengetahuan seperti ini hanya sia-sia bagi anak usia 3-4 tahun seperti Rida?
Sekilas anak-anak itu seperti bodoh dan tak tahu apa-apa tentang alam beserta kehidupannya. Tetapi mereka sebenarnya memiliki daya tangkap dan daya ingat jauh lebih hebat dari perkiraan kita. Dari sekian banyak tanya yang mereka ajukan dalam sehari, pasti ada yang masuk dan direkam baik-baik dalam otaknya.

Tidak seperti banyak diduga orang, anak balita (di bawah lima tahun) sebenarnya memiliki kemampuan menangkap pengetahuan dan menghafalnya dengan hebat. Wajar saja, karena otak mereka belum pernah dipergunakan untuk memikirkan hal-hal lain.
Yang dikhawatirkan justru jika seorang anak begitu pendiam dan tak terangsang dengan adanya benda baru. Tak ada keinginan pula untuk bertanya. Kepada anak pasif ini orang tua harus berinisiatif membangkitkan rasa ingin tahunya.

Ibu bisa memulai pertanyaan misalnya,”Ayo Adi, mengapa burung bisa terbang, kamu kok tidak!?” Atau dengan umpan lain,”Adi sayang sama nenek, kan. Kenapa nenek bisa mati, Di?”
Dengan pertanyaan menarik seperti ini, bukan tidak mungkin anak akan terangsang untuk kemudian menanyakan segala sesuatu. Semakin sering orang tua memancing dengan berbagai pertanyaan menarik, tentu anak akan meniru tindakan orang tua.
Memang bukan pekerjaan mudah bagi orang tua, khususnya ibu. Diperlukan kesabaran dan ketelatenan tingkat wahid untuk bisa melayani keberondongan tanda tanya anak-anak dengan baik. Ibu harus bisa menekan emosinya demi anak. Tentu ini lebih afdhal dilakukan oleh ibu yang tidak sering keluar rumah, untuk bekerja misalnya. Karena bagi kebanyakan ibu pekerja, walaupun mereka mempunyai sisa waktu untuk anak-anak di rumah, ketenangan jiwa mereka seringkali terusik oleh urusan pekerjaan yang membuat emosi relatif lebih labil.

[]

2 thoughts on “Biarkan Mereka Bebas Bertanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s