Ujian Masuk Surga

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” Surah al Mulk: 1-2


Tak ada satupun makhluk manusia yang berangan-angan dan bercita-cita ingin menjadi manusia sewaktu belum terlahir kedunia. Ia lahir dan hidup bukan atas inisiatif dan kehendaknya sendiri. Ia lahir, tiba-tiba bernafas, menghirup udara segar, tiba-tiba seorang ibu sudah siap merawatnya hingga dewasa, seluruh tubuhnya dilengkapi dengan organ-organ yang amat diperlukan dalam hidupnya, dan fasilitas hidup berupa alam dan dimanfaatkan.

Jika semua itu bukan atas inisiatif dan kehendak manusia, lantas siapa yang berinisiatif dan berkehendak atas hidup manusia didunia ini?

Pertanyaan itu tidak akan pernah mampu dijawab oleh filosof kaliber dunia manapun dan kapanpun. Yang mampu menjawab hanyalah Yang Maha Tahu, yakni Allah Yang Maha Berkehendak.

AlQuran Menguak Tabir Misteri
Tuhan Yang Maha Berkehendak menurut AlQuran bernama Allah. Dimasa silam, sebelum manusia pertama tercipta, Allah berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”. (al Baqarah: 30)

Khalifah mempunyai arti pengganti, yang menggantikan peranan Allah dimuka bumi. Allah Maha Kuasa dan tidak ada kesulitan bagiNya mengelola dan memakmurkan bumi dengan baik. Namun Allah memberikan suatu kehormatan dan kepercayaan kepada manusia untuk mengemban peranan pengganti diriNya.

Padahal amanah dan kepercayaan itu pernah ditawarkan kepada makhluk-makhluk Allah yang lain, namun mereka menyatakan diri tidak sanggup. (al Ahzab: 27)

Sebagai manusia pertama yang menerima amanah itu adalah Nabi Adam as. Mula-mula ia ditempatkan di suatu negeri yang elok penuh kenikmatan, surga namanya. (al Baqarah: 35)

Surga merupakan tempat kediaman yang paling layak bagi Adam dan anak cucunya. Allah membuatnya semata-mata disediakan untuk manusia yang diridlai-Nya. Adapun yang pantas menghuni surga adalah manusia yang berkualitas
surgawi.

Iblis pernah menghuni surga, namun akhirnya terusir gara-gara ia menyombongkan diri dihadirat ilahi (al A’raaf: 13). Menyombongkan diri jelas bukan kualitas surgawi dan surga tak pantas dihuni oleh oknum yang seperti itu kualitasnya.

Tes Masuk Surga
Pada waktu Nabi Adam as. mulai bernafas, ia sudah menempati surga. Menurut program ilahi, ia akan segera ditempatkan di bumi sebagai khalifah. Untuk menempati surga, seseorang harus berkualitas surgawi (mendapat ridla Allah) terlebih dahulu. Padahal saat itu Nabi Adam as. belum dites dan diuji coba oleh Allah, apakah berkualitas surgawi atau sebaliknya. Untuk mengetahui itu secara konkrit, maka Allah menjadikan lokal khusus berupa bumi. Disitulah nanti Nabi Adam as. dan anak cucunya ditugaskan menggarap tes uji ilahi dengan berperan sebagai khalifah fil ardh mengelola dan memakmurkan bumi sesuai dengan tata aturannya. Adapun disurga Nabi Adam as. terbujuk goda rayuan Iblis, itu memang kekhalifan manusia yang harus dipertanggung jawabkan. Dan barangkali dengan tragedi buah terlarang itu, Nabi Adam as. tak terlalu kaget, sewaktu disuruh pindah tempat di bumi, yang tentu sangat terlalu jauh keadaannya dibandingkan dengan surga dahulu.

Konon kabarnya masuk PTN, AKABRI,pegawai negeri sipil, dan lain-lain sangat sulit dan melalui seleksi yang cukup ketat. Bukankah surga tidak bisa dibandingkan dengan AKABRI, PTN dan pegawai negeri sipil?

Masing-masing kita akan mengakui surga lebih bergengsi. Karena itu, logis manakala tes ujian masuk surga akan lebih berat dan ketat seleksinya.Setiap manusia akan mempunyai kesempatan yang sama untuk mendaftarkan diri tes masuk surga dan tujuan Allah menempatkan manusia di bumi ini untuk ujian.
“Apakah ia nanti berkualitas surga atau tidak?” bilamana jawabnya “ya” maka boleh baginya menempat tempat bergengsi itu, bila jawabnya “tidak”, maka Allah tidak bisa diganggu gugat manakala menempatkannya diperkampungan api.

Tes ujian Allah kepada manusia sangat beraneka ragam, diantaranya berupa perintah yang harus dijalankan, dan larangan yang harus ditinggalkan. Keduanya cukup berat dihadapi, perintah Allah cukup berat dikerjakan dan larangan Allah amat sulit dihindarkan.
Semuanya itu sekali lagi, ujian dan ujian. Tapi kita yakin Allah itu pengasih penyayang. Kita diberi batas umur yang cukup, fasilitas ujian yang memadai, literatur yang tak banyak, cukup dua saja, yaitu AlQuran dan Al Hadits.

Marilah kita melihat model Allah menguji kita yang insya Allah tak banyak beda dengan tes ujian semester disekolah kita. Contoh tes ujian Allah berupa perintah:
1. Diwajibkan atas kamu “Shalat”, jawablah!
a. ya b. tidak c. kadang ya, kadang tidak

2. Diharamkan atas kamu “Korupsi”, jawablah!
a. ya b. tidak c. kadang ya, kadang tidak

Contoh ujian Allah berupa larangan:
1. Diharamkan atas kamu “Zina”, jawablah!
a. ya b. tidak c. kadang ya, kadang tidak

2. Diwajibkan atas kamu “Berpuasa”, jawablah!
a. ya b. tidak c. masih pikir-pikir

Itulah satu di antara macam tes ujian Allah yang beraneka ragam. Tentu saja cara menghadapinya perlu keseriusan tersendiri, lebih serius ketimbang menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Ujian Allah setiap detik selalu ada, dan ia tugaskan dua malaikat pengawas ujian untuk setiap orang, mereka adalah Roqib dan Atid (Qaaf: 18). Setiap tindakan manusia baik dan buruk sekecil apapun, akan ia lihat akibatnya di akhirat kelak (al Zalzalah: 7-8)

Penutup
Kini kita masih sibuk menghadapi ujian ilahi, dan belum tahu secara pasti hasilnya, lulus atau tidak. Berbahagialah hamba Allah yang serius dan berhati-hati serta bersungguh-sungguh mengarap ujian ini, dan celaka serta merugilah hamba Allah yang lalai, main-main dan sembrono menggarap ujian-Nya (Yunus: 30).

Kesudahan hasil ujian itu sangat berbeda dengan kesudahan hasil ujian yang diadakan oleh pak guru. Tes ujian guru masih mungkin berkesempatan her atau ujian ulang. Sedangkan tes ilahi hanya terjadi sekali saja, tidak mengenal her atau ujian ulang. Namun demikian masih ada juga golongan manusia-manusia celaka dan mendustakan ayat-ayat Allah, mohon ujian ulang (her) pada Allah, padahal mereka sudah dihadapkan ke neraka (al An’am: 27-28).

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s