Mimpi

Sebelum di rumahnya ada tivi berwarna yang kreditannnya baru lunas sebelas bulan lagi, Boim tidak pernah habis pikir, mengapa Tuhan mengatakan, “Kalian telah dilenakan oleh berbanyak-banyak.” Sebab, ketika itu Boim sudah merasa cukup asal perutnya terisi, istrinya agak kenyang, dan kedua anaknya tidak menangis kelaparan. Barangkali lantaran pekerjaannya sebagai pedagang keliling telah menguras tenaganya sampai ludas, ia tidak pernah mempunyai waktu untuk bermimpi. Dan ia menikmati alangkah tenang kehidupannya meskipun rumahnya mirip gubuk gelandangan dan penghasilannya jauh dari mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Apalagi jika melihat istrinya pagi-pagi sudah bangun dan mencuci pakaian bertumpuk-tumpuk kepunyaan para pelanggan, sungguh tidak ada yang lebih mulia di dunia ini kecuali Rahimah. Ia selalu merasa rindu kepada istrinya, kepada kedua anaknya, walaupun sepulang kerja ia tidak pernah ke mana-mana. Lalu sambil menunggu mata terpejam, seraya berbincang-bincang di tempat tidur dengan Rahimah, ia mendengarkan uyon-uyon dari radio butut dua band peninggalan ayahnya. Oh, seakan dunia ini miliknya sendiri.

Suatu ketika ia ketiban rezeki nomplok. Permohonannya dikabulkan Bank Desa untuk mendapatkan pinjaman buat memperbesar dagangannya. Dan ia menyisihkan sebagian uang itu untuk membayar uang panjar mengkredit tivi berwarna 14 inci.

Ya, Gusti. Alangkah berbunga hatinya menyaksikan kedua anaknya berjingkrakan dan istrinya merasa seolah telah menjadi paling berwibawa di kampung itu, sebab memiliki tivi berwarna cuma dua orang, Haji Dolah dan ia sendiri. Mulailah awal kehidupan yang berubah, Kini mereka telah berani menyusun mimpi.

“Kang. Padahal, dibandingkan dengan Titik Puspa yang sudah nenek, Imah jauh lebih cakep, ya Kang?” ucap Rahimah setengah melayang.

“Ya,” ujar Boim sambil mengkhayalkan rumah mewah dalam film akhir pecan dan sepatu mengkilat yang dipakai bapak-bapak.

‘Pakaianku saja yang kalah, ya Kang?”

“Iya, “ jawab Boim sembari angannya melambung seakan ia sedang naik pesawat terbang menjinjing tas Samsonite. Apa salahnya menggantungkan cita-cita di puncak langit, bukan? Tuhan juga menganjurkan agar tiap orang bekerja keras mengubah nasibnya. Tidak, tidak ada yang salah, bahkan wajib. Tentu akan begitulah jawaban semua ajengan yang ditanya. Dan memang begitu.

Masalahnya adalah jika kemudian cita-cita itu dikaitkan dengan klenik dan takhyul, atau perhitungan yang tidak realistis dan rasional. Mencari kaya silahkan, tetapi bukan di Gunung Kawi. Ingin terkabul cita-cita, sumonggo kerso, namun bukan kepada dukun. Oleh karena itu, Rosululloh saw. mengingatkan, di antara yang bakal menghancurkan manusia ialah terlalu panjangnya angan-angan, jauh di atas kemampuan sebab, lantaran masyarakat yang sudah tidak berpijak lagi pada kenyataan, berarti telah dihinggapi penyakit rawan. Dan masyarakat yang sakit biasanya akan lari kepada hal-hal yang mustahil walaupun mereka tahu dengan akalnya hal-hal itu memang mustahil. Lihatlah pasien yang sudah putus asa. Meminum air kencing sendiri pun akan dikerjakan. Lihatlah pejabat yang takut dijatuhkan. Menyembah keris yang dibuat manusia dari bahan logam biasa pun akan dilaksanakan asal tidak dipindah ke jabatan kering. Malah, kalau perlu, menjegal kawan seiring.

Kita pernah dilanda ciamsi, kertas-kertas ramalan yang dilukis sembarang pada zaman ramai-ramainya wabah Hwa Hwee. Dan orang-orang gila pernah dicari-cari serta dihormati tatkala judi buntut sedang merajalela. Semuanya demi memuaskan mimpi-mimpi. Malah kotoran kambing yang kebetulan berbentuk aneh dihitung berapa jumlahnya untuk memasang nomor undian. Bahkan sampai ada yang menginap di kuburan-kuburan yang dianggap dapat memberikan isyarat nomor undian yang keluar esok harinya. Begitu pula di masa Porkas dan KSOB. Banyak yang keblinger menjadi tukang ramal gara-gara buntutnya. Celakanya, mimpi orang-orang kecil yang tengah sakit itu justru dikeruk hasilnya untuk memuaskan mimpi orang-orang gedean. Yang untung beberapa orang, yang rugi jutaan. Lalu, apakah ini termasuk mimpi juga, mimpi kaum gedongan? Wallahu a’lam. Yang jelas, Ralp Waldo Emerson pernah menulis, “When faith ia lost, honour dies, the man is dead.” Jika iman sudah lenyap harga diri sudah padam, manusia itu sebenarnya sudah mati.

Jadi? Silahkan pilih. Anda hidup di alam merdeka. Tidak ada yang berwenang untuk memaksa atau menghalangi. Kecuali diri sendiri. Take it or leave it.

[]

2 thoughts on “Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s