Shalat, Dzikir Paling Utama

 Kualitas iman bisa diukur dari shalatnya

Sulit dimengerti, kenapa banyak orang melaksanakan shalat dengan begitu tergesa-gesa. Kecepatannya super, sementara itu telah dilakukannya sekian lama. Kenapa tidak ada usaha meningkatkan kualitas shalat itu dengan mencoba sedikit pelan sehingga dapat menghayati makna segala doa yang diucapkan?

Bagaimana mungkin bisa mempertajam doa kalau tidak didukung oleh semua instrument dalam diri baik pikiran, perasaan, hati serta jiwa? Bukankah pemahaman dan penghayatan terhadap isi doa itu merupakan permulaan dari munajat seseorang?

Lebih sulit lagi bila shalatnya memang terlalu cepat. Pengalaman berkata, sedang ditahan agar lebih pelan sedikit dari yang lazim saja masih cukup direpotkan oleh gangguan dan rayuan setan; sekali-sekali pikiran masih lepas dan sempat ke mana-mana. Kadang bahkan bisa terkaget-kaget setelah sekian lama pikiran dibawa ke jalur lain, dan baru kita sadar belakangan. Tetapi itu masih lumayan bila shalat dilaksanakan dengan penuh ketenangan. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Tetapi bagaimana bila –saking cepatnya- kita baru sadar di saat shalat hampir usai?

Apakah tidak timbul penyesalan dan perasaan rugi, sayang karena kesempatan terlepas begitu saja? Kira-kira apa yang kita dapatkan dari shalat dengan pikiran melayang-layang, bahkan asyik menikmati materi yang disodorkan setan, dan belum sempat kembali hingga salam? Doa mana yang telah kita minta dengan sungguh-sungguh? Dan ijabah mana yang kira-kira akan diberikan Allah?

Adakah jaminan shalat yang dilakukan 100% khusuk? Ketika Nabi saw didatangi para sahabat, yang mengadu bahwa dalam shalat mereka tidak dapat khusuk sepenuhnya. Sering kali mereka masih teringat akan hal-hal lain di dalam shalatnya, termasuk urusan rumah tangga, utang piutang, dan sebagainya.

Nabi saw. menjawab, “ Tidak ada orang yang dapat khusuk sepenuhnya dengan sempurna dari awal hingga akhir.”

Tiba-tiba Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyanggah, “Saya bisa, ya Rasululloh.”

“Betul?” tanya Nabi.

“Betul, “jawab Ali dengan yakin.

“Jika memang betul dapat sempurna khusuk dari awal hingga akhir, aku akan berikan surbanku yang terbagus untukmu sebagai hadiah.”

Maka Ali lalu mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Setelah selesai ia ditanya oleh Nabi, “Bagaimana? Bisa khusuk dengan sempurna?”

Ali dengan muka murung menjawab, “Pada rakaat yang pertama saya khusuk sekali? Begitu pula dalam rakaat yang kedua. Ketika sujud yang terakhir saya tetap khusuk hingga duduk tasyahud. Sampai mendekati salam, barukah hati saya berubah, teringat akan janjimu, ya Rasululloh, bahwa engkau akan memberikan hadiah surban terbagus untuk saya. Jadi rusaklah khusuk saya.”

Tidak dapat disangkal, upaya mengkoordinasikan seluruh instrument (pikiran, perasaan dan ucapan) untuk berada pada satu jalur konsentrasi bukanlah pekerjaan gampang. Tidak bisa dilakukan sekejap, dan tidak bisa asal-asalan. Perlu penyetelan ulang, perlu control kalau-kalau ada penyimpangan, perlu penghayatan dan penyerapan, dan seterusnya. Tentu saja pikiran yang tergesa-gesa tidak akan bisa melakukannya.

Banyak orang mengakui, bahwa dzikir mereka terutama shalat, sebagai wadah dzikir yang efektif nyaris tidak terasakan hasilnya. Buah dzikir itu saja tidak, apalagi seperti yang Allah janjikan. Kalau diusut lebih jauh, ini sebenarnya berkait erat dengan nilai syahadat seseorang. Sebab syahadat yang benar akan menghasilkan pengakuan akan seluruh nilai kesempurnaan Allah, menghasilkan cinta, harapan dan kerinduan, penghormatan, rasa takut, serta keyakinan perlindungan di tangan-Nya. Kalau isi dan makna syahadat sudah seperti itu, pasti ada dorongan keras untuk selalu melakukan kontak dengan-Nya, minimal mengingat dan menyebut asma-Nya, meminta perlindungan-Nya. Sehingga wajar bila acara dan perjumpaan formal dengan-Nya menjadi begitu mengasikkan, menyenangkan bahkan bisa memabukkan dalam arti positif. Begitu pula dalam menyebut nama-Nya, sangat pantas bila menimbulkan kenikmatan yang orang lain sulit mengertinya, kecuali bagi orang yang biasa mengalaminya.

Karena persoalaan kembali kepada nilai syahadat, bila ada yang merasakan shalatnya tidak nikmat, bahkan merasa sumpek, tidak senang, malas, pendeknya tidak simpati, ingin segera mengakhiri. Nilai syahadat terpaksa dipertanyakan sehubungan dengan penilaian dan pemahaman eksistensi Tuhan. Seperti apa anggapannya terhadap Tuhan, akan terbaca dalam pertemuan shalat itu. Kadar dan mutu imannya dapat diukur dari dzikirnya, terutamanya shalat.

Setiap orang dapat menarik kesimpulan untuk dirinya sendiri secara diam-diam dan rahasia. Kalau memang merasa shalat belum nikmat, belum menimbulkan keasikan, belum memberikan buah dalam kehidupan sehari-hari, cepat-cepatlah simpulkan bahwa iman dan mutu syahadat dalam kondisi kurang beres. Kondisi yang tidak menguntungkan, bahkan berbahaya.

Perlu ada usaha menambah tingkat pemahaman akan kesempurnaan dan peran Allah swt di dunia ini dan ketergantungan kita kepada-Nya, sambil terus menumbuhkan kesadaran akan kelemahan, keterbatasan, dan ketidakberdayaan kita dalam menghadapi sekian banyak persoalan. Itu akan mempertajam kesimpulan bahwa kita sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin dan restu-Nya. Kalau ini sudah mantap, mulailah sering menyebut-nyebut nama-Nya, menghayati betapa pemurahnya Allah swt.

Setelah itu, artinya sudah yakin dan paham betul kedudukan, fungsi, dan peran Allah dalam kehidupan ini, baru ideal untuk segera menunaikan shalat. Karena di samping shalat dalam hubungan ini sebagai wujud pengakuan kita kepada-Nya Yang Maha Kuasa, juga wujud rasa syukur akan karunia dan rezeki yang diberikan tanpa batas. Tetapi lebih dari itu, ada perasaan punya kebutuhan dan kepentingan untuk melaporkan kepada Allah, sekaligus ada dorongan cinta dan rindu berkomunikasi langsung dengan-Nya.

Dzikir dan shalat, di samping perwujudan dan pencerminan kualitas iman, juga berfungsi sebagai alat gosok dan alat asah yang paling efektif. Semua itu akan lebih jelas bila segera dicoba diupayakan pelaksanaannya. Yakini, ada sesuatu yang nikmat di balik dzikir utamanya shalat. Dan tentu bukan sekedar untuk dirasakan dan berakhir di situ saja, tetapi selanjutnya kenikmatan itu dapat di gunakan sebagai kekuatan untuk banyak kepentingan, tergantung tuntunan serta ketrampilan manajemen kita.

Karenanya penting, utamanya bagi remaja Islam yang dituntut berperan lebih banyak dewasa ini, agar mulai membenahi dzikir dan shalatnya, memanfaatkan potensi yang diperoleh dari sana. Itu akan sangat menolong keberhasilan menyedot kekuatan ilahi.

Nampaknya problema yang dihadapi di masa datang sangat memerlukan potensi hasil dzikir dan shalat, sebagai kekuatan dasar yang mendukung ketrampilan dan kemampuan di berbagai bidang. Sangat menkhawatirkan kalau sampai disepelekan hal ini, karena nasib yang melanda umat sekarang hingga sulit dibawa ke posisi yang lebih ideal, salah satunya berakar pada kelalailan memanfaatkan potensi dzikir dan shalat. Ini nampak pada penampilan fungsionaris generasi kemarin, dan bahkan masih ada yang berlanjut hingga kini.

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s