Menyongsong Bahagia dengan Ketaatan

Dua ekor berperilaku berbeda dalam menikmati kelezatan sepotong ikan asin. Yang satu duduk tenang melahap cepat-cepat, yang lain sambil gelisah bahkan lari terbirit ketakutan jika berpapasan dengan manusia, hingga tak dapat menikmati dengan nyaman. Kenapa demikian? Musababnya, kucing pertama merasa dirinya tidak bersalah. Ia memakan sepotong ikan asin pemberian tuannya. Sementara kucing kedua, gelisah karena ikan asin yang ia bawa lari adalah hasil curian.

Kucing tak memiliki kecerdasan akal dan jiwa layaknya manusia. Namun ia masih memiliki naluri yang sehat, yakni merasa tak tentram manakala melakukan tindakan salah. Lebih-lebih manusia.

Dengan anugerah Allah swt. berupa kepekaan jiwa, manusia akan dengan mudah dan segera meyadari apa yang dirasakan salah dalam tingkahnya, untuk kemudian beralih kepada yang benar. Amatlah disayangkan manusia yang tak segera mengubah langkahnya padahal menyadari kekeliruannya. Dan lebih disayangkan lagi mereka tidak sempat mengasah kepekaannya sehingga tidak mampu menyadari kekhilafannya. Orang yang demikian kalah unggul dihadapan kucing, bahkan jauh lebih hina daripadanya, bal hum adhallun…(7: 179). Merekalah orang-orang yang perlu dikasihani dan diberi santunan. Hakekatnya mereka hidup tidak tenang, resah, dan menderita, namun tak menyadarinya.

Persoalan yang dihadapi manusia bukan sebatas sepotong ikan asin. Dampaknya pun tidak sekejap sebagaimana kesalahan seekor kucing yang memang tak harus mempertanggungjawabkan dosanya, baik didunia maupun diakhirat. Tindakan dosa seorang manusia akan berakibat fatal, bagi dirinya dan bagi orang lain. Ia juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya itu didunia dan akhirat. Kesengsaraannya itu bisa berlangsung abadi.

Persoalan yang dihadapi manusia berhubungan tugas kehambaan dan kekhalifaan, abdullah dan khalifatullah. Bukankah dua hal itu merupakan sesuatu yang tidak pernah lepas dari benak ingatan kita setiap saat? Bukankah peran abdullah dan khalifah sudah menjadi takdir Ilahi dizaman azali sebagai maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia dimuka bumi?

Semua itu demi kepentingan manusia semata. Demi kebahagian manusia, bukan kebahagian Allah. Allah tidak butuh dibahagiakan manusia. Justru manusia itu yang wajib merasa butuh dibahagiakan Allah. Dialah sumber kebahagian. Sudah sepantasnya Allah bertakabur diri sesumbar kepada seluruh makhluk alam bahwa Dia tak sedikitpun punya kepentingan dan ambisi pribadi terhadap keberadaan seluruh alam semesta. Ada dan tidak adanya alam tak mempengaruhi keagungan-Nya. Tunduk dan tidaknya alam untuk sujud kepada-Nya tidak sedikitpun menambah atau mengurangi kebesaran-Nya. Jika Allah memberikan tugas kepada masing-masing alam, semuanya demi kebahagian alam itu sendiri, khususnya alam yang berupa manusia. Kalau toh terpaksa kita menyebut Allah mempunyai dalam penciptaan alam semesta, maka kita barangkali akan menyebut bahwa kepentingan dalam penciptaan alam semesta, maka kita barangkali akan menyebut bahwa kepentingan-Nya ialah untuk kebahagian manusia. Kenapa Allah terkesan punya ambisi membahagiakan manusia? Sebaiknya kita menjawab “Allahu a’alamu bish-shawab,” hanya Allah yang tahu tentang hakekat kebenaran. Yang jelas semua itu hanya karena rahmat-Nya belaka. Bukti kasih sayang-Nya membuat kita kewalahan mencatatnya.

Manusia dituntun menuju bahagia dunia dan akhirat. Disaat manusia enggan pun, Allah masih sabar melimpahkan kasih sayang-Nya berupa kesempatan bertaubat atas kesalahannya mendurhaki Tuhan-Nya. Allah juga menyediakan saat-saat istimewa, bahkan bulan istimewa, Ramadhan, sebagai kesempatan tambahan bagi manusia. Namun masih banyak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Bagi yang berbahagia lantaran memfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, hingga berhak meraih idul fitri, hendaklah mempertahankan sekuat tenaga. Mempertahankan fitrah berarti mempertahakan kebahagian. Tentu tidak ringan dan butuh pengorbanan yang besar. Sebab syetan dengan segenap jamaahnya yang terdiri dari jin dan manusia akan senantiasa tekun merongrong dan menggoda.

Kita mencoba melangkah ke depan menuju hadirat Allah dengan langkah pasti. Kita hindari gerakan monoton statis, yaitu mengulang rute perjalanan persis dengan tahun-tahun lampau. Pasca idul fitri hendaknya kita tinggalkan dosa tradisional dalam bentuk sembrono menjalankan tugas abdullah dan khalifahtullah. Akan lucu jadinya bila sampai ajal tiba pekerjaan kita hanya itu ke itu, idul fitri mengulang dosa lagi, idul fitri lagi, dosa lagi, dan seterusnya.

Insya Allah hari depan kita cerah gemilang. Secerah mentari menyinari bumi dan rembulan. Disiang hari bumi terang, dimalam hari rembulan memantulkan sinar untuk kita. Langit pun dihiasi milyaran bintang. Bumi, rembulan, matahari, dan segenap bintang adalah makhluk Allah. Mereka menjalin hubungan silaturrahim, persaudaraan, dan kekeluargaan begitu mesranya. Betapa rukun dan bahagianya mereka. Tak pernah bertengkar, saling membenci, hasud, berperang, dan lain-lain. Apa resep dan konsepnya? Konsepnya jelas. Mereka mau tunduk kepada tata aturan alam yang berasal dari Pencipta alam itu sendiri, bukan tunduk pada aturan ciptaan mereka sendiri.

Tunduk dan taat kepada-Nya berarti menyongsong bahagia.

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s