Hasbunâllôhu wa Ni’mal Wakîl

Ketika Namrudz, tiran dzalim yang berdaulat penuh saat itu, pada klimaks kemarahannya setelah menyaksikan dengan kepalanya sendiri berhala-hala pujaan bangsanya dibantai habis oleh Ibrahim a.s., maka seluruh penduduk negeri diinstruksikan untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Ia kemudian memerintahkan serdadu dan algojonya membakar hidup-hidup si biang keladi, Ibrahim. Dengan wajah yang tenang, langkah yang tegap, dan sikap yang simpatik, Ibrahim melangkah menuju tiang eksekusi, tanpa penyesalan, tanpa permohonan amnesti atau grasi. Ia hanya berucap: Hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl.

Ucapan Ibrahim yang penuh kepasrahan diri disambut Allah dengan memberikan instruksi kepada api yang berkobar membumbung tinggi ke angkasa itu dengan qoul singkatnya:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Q.S. al-Anbiya’: 69.

Ketika jumlah kaum muslimin belum terbilang banyak, di saat itu Nabi Muhammad Saw. dan segenap kaum muslimin bersiap-siap menghadang serangan kaum kuffar. Dalam kondisi genting itu orang-orang munafik mengadakan teror mental. Mereka menakut-nakuti kaum muslimin dengan menyebarkan isu bahwa kaum kuffar telah hendak mengerahkan bala tentaranya dalam jumlah yang sangat banyak disertai bekal dan peralatan yang serba lebih. Mereka juga dikabarkan mempunyai serdadu yang sangat terlatih. Kaum munafik mengajak sanak-saudara yang sudah terlanjur masuk Islam untuk menggagalkan rencana ikut perang bersama Muhammad. Mereka hadang setiap orang yang mereka jumpai dan mereka seru untuk mengurungkan niatnya dengan bujukan agar selamat dari kematian. Berkat gemblengan iman yang ditanamkan oleh Nabi, mereka yang betul-betul beriman hanya berucap singkat: Hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl.

yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Q.S. ali-Imran: 173.

Ketika Rasulullah Saw. berlindung di kerimbunan pohon di saat terik matahari, sambil duduk setengah berbaring, sementara pedangnya digantungkan di atas salah satu ranting, tiba-tiba datang seorang Badui, sambil menodongkan pedangnya ke leher beliau, ia menggertak: “Kini siapa yang dapat melindungi engkau?” Dengan tenang Rasulullah menjawab: “Allah!” Jawaban ini diulangnya tiga kali sehingga pedang si Badui terjatuh. Kini Rasulullah berbalik menodongkan pedang itu ke leher si Badui, sambil menggertak, “Siapa yang akan menyelamatkanmu?” Si Badui tak menjawab, kecuali minta pengampunan dan balas budi.

Suatu ketika Thariq bin Ziyad mendapat kepercayaan memimpin pasukan Islam menggempur kerajaan Spanyol. Dengan bekal yang hanya pas-pasan dan jumlah tentara yang tak berimbang, mereka menyusur padang pasir, berkilo-kilo meter, panas kering, dan tentu saja melelahkan. Tidak hanya itu, mereka pun harus menyeberangi lautan yang memisahkan kedua negeri itu. Ketika semua tentara muslimin telah sampai di negeri musuh, segera sang panglima perang, Thariq bin Ziyad mengeluarkan komando, “Hancurkan seluruh kapal yang telah kita pakai untuk menyeberang!”

Sejenak kaum muslimin terbengong. Tapi segera menyadari bahwa itu adalah perintah pimpinan, maka segera mereka kerjakan. Setelah pekerjaan itu selesai, Thariq kembali mengumpulkan seluruh tentara untuk memberi beberapa instruksi dan teknis penyerangan, tentu yang lebih utama membangkitkan semangat juang. Saat itu Thariq berpidato, “Wahai kaum muslimin! Di belakang kita adalah lautan luas yang siap menenggelamkan kita semua, sedang di depan kita adalah musuh yang siap mencabik-cabik tubuh kita. Mundur berarti bunuh diri dan neraka adalah tempat kita selama-lamanya. Kini, tinggal satu alternatif, yaitu maju. Kalah atau menang, Allah telah menyediakan surga-Nya.”

Dengan ucapan hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl yang disambut gelegar takbir Allôhu Akbar, mereka maju berperang, dan menang.

Dari kisah-kisah di atas, maka benarlah sabda Rasulullah Saw., “Andaikan kau bertawakkal (menyerah) kepada Allah dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan memberi rezeki kepadamu sebagaimana burung yang keluar di pagi hari dengan perut kosong (lapar) dan kembali di senja hari dalam keadaan kenyang.” (H.R. at-Tirmidzi).

“Akan masuk surga orang yang hatinya bagaikan hati burung.” (H.R. Muslim). Faedah dari hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl (yang juga disebut hasbanah) disebutkan dalam sebuah hadits. “Sesungguhnya Nabi apabila datang susah yang berat beliau dengan kedua tangannya mengusap kepala dan rambut di dagunya sambil menarik napas dan berdoa, ‘Hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl.’” (H.R. Ibnu Abid Dunya). Hadist yang lain, “Apabila kamu terlibat pada urusan yang pelik, maka ucapkanlah, ‘Hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl.’” (H.R. Ibnu Marduyah). Dan juga, “Hasbunâllôhu wa ni’mal wakîl sebagai keamanan dari segala ketakutan.” (H.R. Abu Nuaim).

Teknik membaca hasbanah ini oleh Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani dalam Abwâbul Faroj hal. 138 menerangkan bahwa para ulama menertibkan hitungan membacanya. Di antaranya hasbanah dibaca sebanyak 450 kali, sebagian menyebutkan 950 kali, 4000 kali dan lainnya. Paling tidak hasbanah ini dibaca 40 kali dalam satu hari. Merutinkan bacaan hasbanah akan berbuah ketika kita dihadapkan masalah yang berat. Ibarat senjata tajam, bila tidak pernah diasah akan tumpul juga. Agar bacaan lebih berkesan, hadirkanlah dalam hati, tidak hanya lisan, dalam wirid hasbanah ini.

Wallôhu a’lam. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s