Tidak Mudah Mengatakan Saya Telah Beriman

Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab mempunyai kebiasaan langka. Ia suka melakukan perjalanan malam untuk tafakkur, merenungkan kehidupan yang seharusnya dijalani dan senyatanya dialami, khususnya di negeri Islam yang ia pimpin. Karena kesibukannya denga tugas penghambaan dan kekhalifahan, perjalanannya harus diatur sedemikian rupa, dipilihnya sehabis shalatullail hingga menjelang subuh. Karena dua puluh empat jam harus ia bagi sedemikian rapi dan telitinya, hingga tiada yang terbuang percuma.

Suatu hari, di tengah perjalanan, Umar mendengar sayup suara perempuan dari arah rumah tepi jalan. Ia mendekat, ternyata dua wanita sedang berbincang serius, seorang ibu dan anaknya. Amirul Mukminin memasang telinga baik-baik., Rupanya sang ibu menyuruh anaknya mencampur susu yang hendak dijual dengan air. Alasannya, orang lain juga melakukan begitu juga. Tapi si anak menolak dengan tegas, karena ia yakin, meski Amirul Mukminin yang melarang perbuatan itu tidak melihat, Allah yang menciptakan Amirul Mukminin pasti menyaksikannya.

Maka berderailah air mata Amirul Mukminin. Ia tak kuasa menahan tangis yang menyesakkan dadanya. Yang berderai itu bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata bangga dan kegembiraan.

Sekilas terkesan sang ibu kurang memahami kemahatahuan Allah dibandingkan puterinya, sehingga ia tak merasa takut sewaktu menyuruh anaknya melakukan kecurangan demi meraih keuntungan. Padahal tidaklah demikian. Kemungkinan besar sang ibulah yang telah mengajarkan dan mengenalkan Allah kepada puterinya yang beriman itu. Hanya si ibu kalah dalam menampilkan peran hamba yang beriman. Anaknyalah yang mampu menunjukkan iman mempesona, hingga Umarpun dibuatnya terisak, antara haru dan bangga.

Akan tetapi, bolehkah kita katakan bahwa sang ibu bukan orang beriman, atau katakanlah kafir? Di sini persoalannya bukan iman atau kafir itu. Sesungguhnya pada saat Allah seseorang mulai mengerti tentang wujud Allah dan tidak mengingkarinya, maka iman sekalipun seberat zarrah telah bersarang di dadanya. Lebih-lebih bila kemudian secara formal mau membaca dua kalimat syahadat, secara yuridis ia sudah bisa dikategorikan sebagai muslim dan bukan kafir.

Yang menjadi persoalan, bersediakah ia mengembangkan, membina dan mengontrol imannya terus menerus. Sebab ada satu kendala yang merintangi seseorang untuk meningkatkan imannya sampai pada taraf yang tak terbatas. Kendala itu berupa tagha’ (kesombongan diri dan merasa dirinya sudah cukup beriman). Faktor penyebab sombong sungguh beraneka macam. Mungkin gelar doktor, mungkin prestasi yang hebat, bahkan tidak menutup kemungkinan juga sebutan ulama yang disandang, dan masih berjuta lagi yang lain.

Lihatlah Bilal, seorang budak hina, negro Ethopia yang miskin. Dengan keadaannya seperti itu, Bilal telah berperan banyak dalam memperjuangkan terwujudnya masyarakat

yang Islam. Apa rahasianya? Kesombongan itu. Bilal benar-benar jauh dari sifat thagha’. Meski miskin harta, ia kaya iman.

Lain halnya dengan mereka yang miskin iman tapi kaya ketakabburan. Dengan berbagai gelar di depan namanya, dengan berbagai buku tentang iman y ang telah dilahap, mereka telah merasa benar-benar beriman. Tetapi dasar kesombongan belum lenyap bahkan tumbuh menjadi-jadi, iman pun kian menjauh. Bilal, tak banyak yang dibacanya. Barangkali hanya Al Qur’an bacaan sehari-harinya. Tetapi ia selalu mengontrol imannya, di samping kontrol dari Rasululloh. Maka semakin berkualitaslah imannya. Ia sadar bahwa iman bukan hanya cukup diyakini dalam hati dan diikrarkan dengan lisan. Iman harus ada bukti berupa perubahan total dalam sikap dan tindak. Dari jahiliyah menuju taqwa. Dari taqwa menuju semakin taqwa sampai batas usia penghabisan.

Iman Bilal dan para sahabat pada umumnya adalah iman yang mencari dan mengalir deras. Sehingga memungkinkan Nabi Muhammad saw. menatanya dalam bentuk bangunan yang indah. Rasululloh juga mudah merapikannya dalam shaf yang siap maju meraih kemenangan. Hingga kebenaran Ilahi berkibar, membawa angin sejuk sejahtera rahmatan lil’alamin. Kibaran ajaran Ilahi membuat perubahan total yang damai, tentram, dan tentu didambakan oleh setiap insan yang budiman.

Seolah-olah setiap sahabat Rasululloh memiliki pembangkit listrik tenaga iman. Dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, mereka sadar penting dan harusnya memwujudkan power iman dalam realita. Terbukti dalam sejarah, mereka semua telah menampilkan karya nyata yang berguna. Arus listrik iman mereka cukup kuat, sehingga menimbulkan cahaya amal yang menerangi kegelapan di sekelilingnya.

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s