Fitrah Kewanitaan Hilang di Bangku Kuliah?

Problem serius para mahasiswi yang merasa keliru memilih jurusan.

Nurul memang tak lebih seorang mahasiswi. Kuliah tingkat akhir pada jurusan Teknik Fisika di sebuah perguruan tinggi negeri, gadis manis berjilbab ini sedang bingung. Apa pasal? Seorang pria telah datang melamar, mengajaknya hidup berumah tangga seperti akhir-akhir ini diidamkannya! Lantas apa yang membuatnya bingung? Tak lain adalah syarat yang diajukan sang jejaka, bahwa kelak Nurul harus 100% menjadi ibu rumah tangga. Tak usah payah ikut bekerja mencari nafkah, yang lebih utama adalah mengurus rumah, melayani suami, dan yang terpenting mendidik anak-anaknya. Nurul bergidik membayangkan semua itu. Bukannya karena tidak setuju, tetapi lantaran ia tidak yakin, bisakah ia memenuhi harapan suaminya kelak.  Nurul memang bukan tipe wanita karir, bukan pula tipe wanita materialis. Dia sadar sepenuhnya, bahwa tugas utama wanita memang mengurus keluarga dan membina keturunan. Bahkan sebagai aktivis masjid kampus, ia sempat menyuntikkan pendapat ini kepada adik-adik kelas lewat keahliannya berbicara di podium.

Kalau Nurul memilih jurusan Teknik Fisika, ia sadar bahwa ia telah salah pilih. Tetapi karena sudah terlanjur, jurusan yang tergolong ‘keras’ inipun ditempuhnya hingga kini. Setumpuk keraguan masih membalut erat di hati Nurul. Bisakah ia menjadi ibu rumah tangga yang baik kelak? Selama ini ia belum pernah merasa mencintai pekerjaan masak-memasak. Bertahun-tahun hidup di kost, Nurul selalu menggantungkan pilihan menu sehari-hari pada makanan rantangan yang di pasangnya 2 kali sehari. Bahkan jika saatnya ia pulang kampung, pekerjaan yang membuatnya jengkel adalah membantu ibu memasak di rumah. Beramis-amis menyisik ikan sering membuatnya merasa mual. Menggoreng ikan bandeng yang selalu memercik-mercikkan minyakpun membuatnya sebal. Sekedar menghaluskan bumbu dan memarut kelapa saja sudah membuatnya mengomel tak sabar, yang namanya sayur lodehpun ia tak tahu bumbunya. Sementara lidahnya terasa tak lagi peka merasakan asin tidaknya masakan. Lantas bagaimana? Nurul amat takut betapa tersiksanya kelak,  tatkala ia harus berjam-jam berada di dapur yang amat menyebalkan.

Sama seperti Nurul, Anna pun kini tengah dilanda dilema. Dua bulan lalu gelar Sarjana Sipil telah disandangnya. Tapi sampai kini ia menganggur di rumah ibunya di desa. Anna merasa tersiksa dengan keadaanya sekarang. Bukan karena ia tak laku kerja. Prestasinya yang memuaskan di bangku kuliah membuat beberapa perusahaan berebut menawarkan jabatan kepadanya. Sementara Anna sadar bahwa sebaik-baiknya tempat kerja bagi wanita adalah di dalam rumah. Tetapi sampai kini belum datang juga pria yang mengajaknya berumah tangga. Untuk sementara Anna menampik tawaran kerja itu dan memilih alternatif tinggal di rumah sambil mengajar anak-anak mengaji.

Sebenarnya, banyak pekerjaan bisa ia selesaikan di sana. Ibunya adalah pengusaha konveksi, yang walau tak terlalu besar namun cukup luas pemasarannya. Andaikan Anna mau menekuni bisnis ini, bukannya tak mungkin akan semakin pesat perkembangannya. Tetapi sayang, karena ternyata Anna bukanlah gadis yang menyukai keterampilan dalam bidang ini. Baginya, duduk berjam-jam di depan mesin jahit sangatlah menyebalkan dan membosankan. Ia tak memiliki cukup kesabaran dan ketelatenan untuk itu, maka Anna memilih untuk tidak campur tangan dengan usaha ibunya. Terpaksa kini ia hanya menunggu, walau menganggur seperti ini pun amat dibencinya. Sampai kapan dilema seperti itu akan menjeratnya, Anna tak tahu.

Kedua gadis jilbab tersebut adalah sedikit dari banyak gadis yang mengalami dilema serupa. Sebagai mahasiswi yang aktif mengikuti aneka kegiatan ruhani, mereka paham bagaimana kedudukan dan kewajiban seorang muslimah di dalam Islam. Tetapi ketika datang kesempatan untuk memperoleh kedudukan itu, mereka menemukan kenyataan bahwa ternyata mereka sudah begitu jauh terlempar dari dunia wanita.

Pekerjaan-pekerjaan alamiah bagi wanita sebenarnya sesuai dengan naluri dan kodrat makhluk yang namanya wanita, ternyata amat menyebalkan mereka. Kesabaran dan ketelatenan yang jadi modal awal bagi seorang muslimah untuk bergelut dalam dunianya pun menjadi momok yang menakutkan. Apa sebenarnya yang terjadi? Nurul dan Anna sama-sama menjadi korban sebuah sistem. Memang benar bahwa pemahaman keduanya tentang teori kebenaran kedudukan wanita menurut Islam terus berkembang. Tetapi sistem yang mengukung hari demi harinya di kampus ternyata tidak membimbing mereka untuk siap melakukan teori kebenaran itu.

Jurusan Teknik Fisika yang dipilih Nurul maupun Teknik Sipil yang ditekuni Anna, sama-sama tergolong jurusan ‘keras’, dan menuntut pengorbanan tenaga fisika yang sama sekali tidak ringan. Bahkan tak dibedakan antara mahasiswa dan mahasiswi. Bila para mahasiswa dituntut bisa mengelas, begitu pula bagi para mahasiswi. Saat para mahasiswa sibuk menggergaji dan memukulkan martil di sana-sini, hal itu pulalah yang harus dikerjakan para mahasiswi.

Belasan bahkan puluhan jam dalam seminggu putra-putri manis itu harus terpanggang sinar matahari bersama rekan-rekan prianya demi melakukan percobaan demi percobaan. Lebih banyak lagi waktu harus mereka habiskan untuk bergelut dengan angka demi angka, untuk menyelesaikan perhitungan yang amat rumit. Dunia angka kini telah menjadi dunia mereka. Otak mereka terasah dengan hebatnya hingga tanpa terasa menggeser dominasi perasaan yang menjadi naluri tiap wanita. Pikiran mereka selalu terfokus pada segala sesuatu yang harus sesuai dengan logika. Mereka telah akrab dengan terik yang menyengat maupun peluh yang mengucur dan sekian banyak pekerjaan berat lainnya. Semua telah jadi kebiasaan dan justru akan sangat menyiksa jika mereka tak memperoleh kesempatan mengerjakan itu semua. Wajar saja, jika Anna menjadi tak betah lagi duduk menunggu rempeyek yang harus digoreng kering di penggorengan satu demi satu?

Jauh sebelum semua ini, adalah lebih baik untuk menghindari kemungkinan ini. Tak ada gunanya menyalahkan sistem, sementara kita membiarkan saja diri kita larut dan hancur di dalamnya. Andaikata kita belum mampu melepaskan diri secara total dari belitannya, tentu ada cara untuk sedikit mengurangi akibat buruknya. Memilih dunia ilmu pengetahuan yang sesuai dengan dunia wanita, adalah alternatif terbaik. Kesempatan untuk ini terbuka amat luas, mudah dan murah. Hanya saja pandangan sebagian masyarakat kita yang awam menganggap pilihan ini kurang bergengsi. Padahal inilah yang kelak mendukung suksesnya seorang wanita berkarya dalam rumah tangganya, maupun dalam urusan bisnis yang Islami.

Kalaupun gadis-gadis muslimah kita terlanjur terjun dalam dunia ilmu yang ‘kasar dan keras’, masih ada yang bisa untuk dilakukan demi menjaga keseimbangan, antara kekerasan dan kelembutan. Jangan biarkan kebiasaan-kebiasaan untuk bertingkah kasar dan keras sampai mendarah daging. Menetralkannya dengan meluangkan waktu untuk tetap mengenal dunia wanita, seperti memasak maupun menjahit serta pekerjaan-pekerjaan semacamnya akan banyak membantu untuk mempertahankan adanya sifat sabar dan telaten. Hak lain adalah dengan meluangkan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman wanita, guna mendiskusikan berbagai hal tentang dunia wanita, tentang kehidupan kelak dalam rumah tangga, tentang pengetahuan masak memasak, tentang suka duka mengasuh anak dan masih banyak lagi. Cara ini setidaknya menghindarkan kemungkinan otak yang terus menerus terfokus pada masalah logika dan perhitungan angka. Sementara dalam dunia wanita yang sebenarnya, lebih dibutuhkan tebalnya perasaan yang tak jarang mengesampingkan pertimbangan akal dan logika.

Ada kalanya penyesalan datang terlambat. Seperti Anna yang terkungkung dalam dunianya yang keras dan penuh tantangan. Bila Anna memilih alternatif untuk menerima saja tawaran kerja di kota, itu berarti semakin menjauhkan diri dari dunia kewanitaannya.
Bisa saja ia beralasan bahwa ia memilih kerja demi mengamalkan ilmunya, dan memang alasan inilah yang kerap diajukan gadis-gadis yang mengalami dilema seperti ini, dimana hal tersebut  akan semakin menjauhkan diri dari kodratnya sebagai wanita. Sebab dunia kerja lebih banyak memunculkan egosentris yang membuat sosok wanita seolah mandiri yang pada akhirnya melenyapkan fungsi perasaan , dimana kelak akan dibutuhkan bila ingin menjadi ibu yang baik bagi suami dan anak-anak.

Masih ada kesempatan untuk berbenah diri, jika Anna mau memilih membantu usaha ibunya di rumah. Awalnya jelas ini sebuah perjuangan berat. Tetapi bukankah perjuangan semacam ini tahun-tahun awal kuliahnya?

Kala itu, ia masih benar-benar gadis desa yang berparas cantik, berkulit lembut dan halus perangai serta tutur katanya. Masa-masa itu, ia merasakan percobaan demi percobaan yang memaksanya terpanggang matahari selama berjam-jam sebagai sebuah siksaan berat. Tetapi lambat laun ia pun merasa terbiasa. Bila selama di desa ia tak suka berpergian jauh-jauh, kini tak ada masalah untuk pergi sendiri bersepeda motor dari satu sudut kota ke sudut yang lain sampai seharian penuh, demi kepentingan studinya. Hingga sekarang, Anna sudah berubah menjadi gadis kota yang selalu berbicara dengan nada intelektual.

Perjuangan yang serupa harus dilakukan jika ia ingin kembali akrab dengan dunianya sebagai wanita. Berhasil tidaknya, sama tergantung niat. Pengorbanan sebesar apapun bisa dikerjakan asal ada niat baja yang menyertainya.

Bukannya tak mungkin, perjuangan Anna untuk bersabar mengerjakan tusuk demi dengan penuh ketelitian, bisa mengembalikan lagi kesabaran dan ketelatenan yang dulu sempat sirna dari dirinya. Kelak, inilah yang dia perlukan untuk membangun keluarga bahagia sejahtera.Bagi seorang ibu yang tak lagi memiliki kesabaran dan ketelatenan, adalah satu hal mustahil untuk sukses dalam tugasnya mendampingi suami dan mendidik anak.

[]

2 thoughts on “Fitrah Kewanitaan Hilang di Bangku Kuliah?

  1. Sangat menarik tulisan nya,khususnya utk para wanita agar menyimak n menyikapi hikmahnya.Menurut saya para wanita sekolah dg jurusan apapun yang diminati tetaplah sesuatu yg baik.Sekolah adalah menuntut ilmu,bukankah menuntut ilmu wajib hukumnya.Tapi jg jgn lupa akan fitrahnya,ilmu yg kita peroleh dr kuliah tetaplah ada manfaatnya apapun posisi kita.Ilmu yg kita peroleh akan membentuk mental dan pola pikir yg baik shg bisa kita ajarkan ke anak2 & keluarga kita,jadi tdk hrs utk cari pekerjaan & kedudukan. tks

    Like

    • Benar. Menurut hemat kami sebaiknya wanita mencari ilmu yang berkaitan dengan pelayanan public dimana wanita seharusnya dilayani oleh wanita pula. Contoh, dokter kandungan. Sebaiknya dokter kandungan wanita, yang semua yang berhubungan dengan kandungan kan wanita, lucu malah jika ada pria yang mengandung.

      Semoga Alloh memberikan kemudahan pada setiap muslimah menuntut ilmu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s