Nikmat Itu

“Pergunakanlah (rebutlah) masa sehatmu (dengan amal-amal shaleh) untuk bekal (antisipasi) masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal (antisipasi) masa matimu.” HR. Bukhari.

Hadits tersebut akrab sekali terdengar ditelinga kita. Berulang-ulang kali diucapkan setiap khutbah Jumat, majelis taklim. Namun, saya baru benar-benar merasakan kebenaran hadits tersebut tiga minggu terakhir. Ya tiga minggu akibat darah tinggi saya 200 dan harus istirahat total. Tentunya saya tidak dapat melakukan update blog saya. Akibat dari itu, mulut saya tidak dapat berkumur dan mata saya berair terus dan kelopak mata tidak dapat tertutup sempurna. Ditambah lagi saya saat ini menjalani terapi wajah sebelah kanan dikarenakan darah tinggi yang saya alami berakibat syaraf ketujuh mengalami kelumpuhan. Alis sebelah kanan tidak dapat naik sesempurna sebelah kiri. Meringis dan mencucu (bahasa Jawa) terlihat lucu. Tidak seimbang antara kiri dan kanan.

Kenikmatan berkumur ketika wudhu sementara ini tidak dapat saya rasakan. Saya kangen merasakan berkumur kembali. Kenikmatan memejamkan mata secara sempurna tidak lagi mampir disetiap tidur saya. Oh, betapa nikmatnya tidur dengan mata tertutup sempurna.

Nikmat memang akan terasa setelah hilang dari sisi kita. Nikmat mata. Nikmat kaki. Dan nikmat organ tubuh yang lain baru terasa bila tidak lagi berfungsi. Cobalah rasakan nikmat mata, dengan memejamkan mata sekarang selama dua menit. Gelap. Apalagi dibayangkan kita bila kita tidak dapat melihat seterusnya. Apakah kita siap menerima keadaan tersebut? Saya jadi teringat seorang jamaah subuh dimasjid jami’ di dekat kontrakan di kota Tuban. Orang itu kedua matanya buta, tetapi dia tidak pernah absen shalat jamaah subuh. Selalu duduk dishaf terdepan menunggu adzan subuh. Lalu, kemana perginya orang-orang yang memiliki mata sempurna, menatap dunia penuh dengan warna-warni? Tidak salah satu mensyukuri nikmat dengan berbuat amal saleh? Bukankah datang ke masjid shalat berjamaah itu amal saleh?

Semoga saya dapat mengambil hikmah dari semua ini, saya masih bersyukur kepada Alloh Ta’ala beristigfar dan merenungi ke belakang perjalanan hidup yang tersisa ini. Amin.

“Dan jadikanlah kami hambu-Mu yang pandai bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu, memuji atas nikmat-Mu itu. Ya, Alloh sempurnakanlah nikmat-nikmat untuk kami, ya Alloh sebagaimana telah Engkau berikan kepada kami nikmat itu, maka tambahkanlah. Tiada kehidupan hakiki kecuali kehidupan akhirat.”

“Ya, Alloh ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, anak-anak kami, guru-guru kami, saudara-saudara seagama kami, sahabat-sahabat karib kami, orang-orang yang mencintai kami karena Engkau, orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kami, dari kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, wahai Tuhan yang mengatur alam semesta.” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s