Datanglah Engkau Wahai Ramadhan

Selama bulan Ramadhan ini, saya akan menampilkan tulisan-tulisan setiap harinya. Insya Alloh. Ikuti terus.

========

Datanglah Engkau Wahai Ramadhan

Saya punya tetangga, orangnya masih muda, rumahnya gedung bertingkat, mobilnya ada empat, istrinya cantik, badannya tinggi besar dan sehat walafiat. Tetapi, tiap kali datang bulan Ramadhan, ia tidak pernah puasa karena takut jatuh sakit walaupun dalam catatan kelurahan, tercantum agamanya Islam.

Saya juga ada tetangga, seorang kakek, umurnya sudah enam puluh lima tahun, rumahnya gubuk reyot, masuk gang becek, pekerjaannya sebagai tukang becak. Namun,  tiap kali datang bulan Ramadhan, ia menyambutnya dengan gembira, dan sambil mengayuh becak seharian ia tetap menjalankan ibadah puasa.

Apa yang terjadi kemudian?

Pengusaha kaya-raya, yang umurnya belum genap tiga puluh tahun, yang rumahnya gedung bertingkat yang mobilnya ada empat, yang istrinya cantik, yang badannya segar bugar, tetapi tiap bulan Ramadhan datang tidak mau berpuasa karena takut jatuh sakit, setengah tahun yang lalu, inna lillahi wainna ilaihi rajiun, ia meninggal dunia.

Sebaliknya, lelaki tua yang kakek itu, yang rumahnya gubuk reyot masuk gang becek, yang badannya kerempeng dan batuk-batuk, tetapi selama bulan Ramadhan terus berpuasa sambil mengayuh becaknya di tengah hujan dan panas, alhamdulillah, dua bulan yang lalu istrinya melahirkan anak yang ketiga belas. Hebat bukan?

Nyatanya memang begitu kok. Puasa tidak merusak metabolisme jasmani, bahkan memperkuat metabolisme rohani. Padahal kita semua tahu, ketegaran rohani merupakan penopang bagi kebugaran jasmani.

Seorang tabib Nasrani dari Mesir bertanya kepada Nabi saw., “Saya heran, sepanjang saya bertugas di Madinah atas perintah raja saya, Muqauqis, mengapa tidak seorang pun penduduknya yang berobat kepada saya? Apa sebabnya?

Nabi menjawab, “Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit-sakitan.”

Untuk membuktikan kebenaran ucapan Nabi ini, sang tabib mengadakan perjalanan keliling, memasuki kampung demi kampung, betulkah penduduk Madinah tidak ada yang sakit-sakitan. Ternyata bukan omong kosong. Maka dengan keheranan tabib itu bertanya pula, “Apa rahasianya sampai kalian sehat walafiat?”

Nabi menjawab, “Kami adalah suatu kaum yang tidak makan sebelum lapar, dan kalaupun kami makan, tidak sampai terlalu kenyang.”

Karena itu, tiap kali bulan Ramadhan mulai datang, selalu teringat akan suatu peristiwa yang mengharukan, namun sangat membesarkan hati.

Ada orang Inggris yang menetap di Australia, namanya Clive Wilmot. Dia seorang ahli fisika dan tidak mau tahu terhadap agama atau Tuhan walaupun sewaktu kecil pernah dibaptis sebagai pemeluk agama Nasrani.

Suatu ketika, ia mengajar di Tasmania. Dalam bulan Ramadhan ia menyaksikan orang-orang Islam yang tinggal di sana menjalankan puasa dari pagi sampai petang. Padahal waktu itu sedang musim panas. Clive Wilmot memberi komentar pendek. “Crazy,” artinya, “Gila.”

Memang, menurut batok kepalanya adalah perbuatan sinting menahan lapar dan haus seharian di tengah  panas terik yang kejam itu bukannya loyo atau ringsek, malahan tampaknya lebih segar dan bahagia. Clive Wilmot tergerak ingin merasakanm bagaimanakah puasa itu. Maklum, selaku ilmuwan, semua perkara ingin dijajakinya supaya ia dapat memberikan penilaian yang adil dan jujur.

Maka ia pun mulai menjalankan ibadah puasa, tentu saja bukan karena iman, cuma sekedar coba-coba. Hari pertama, waduh, payahnya bukan main. Sampai tangan dan kakinya gemetar. Hari kedua masih payah. Hari ketiga mulai terbiasa. Hari keempat ia sudah merasakan nikmatnya. Badannya ringan, pikirannya jernihm dan terbebas dari rangsangan dan keinginan yang macam-macam.

Ia lantas tertarik ingin mengetahui, apa sebetulnya puasa itu menurut ajaran Islam sampai tuntas. Ditekuninya Al Quran dengan teliti. Akhirnya ia berseru gembira, “Inilah dia, agama yang kucari-cari selama ini.” Sejak itulah Clive Wilmot masuk Islam, dan namanya dirubah menjadi Fadlullah Clive Wilmot. Sekarang ia dakwah tentang Islam ke segenap pelosok dunia dengan bermarkas besar di Kuala Lumpur.

Begitulah biasanya. Orang yang belum pernah berpuasa, disangkanya ibadah itu menyiksa. Bayangkan orang lain makan-minum seenaknya, kita hanya bengong, dan kadang-kadang menelan air liur sendiri tanpa sengaja. Tetapi, kalau sudah dijalani, ya Alloh, rasanya nikmat sekali. Apalagi pada waktu berbuka. Tidak pernah air begitu enak, kecuali pada saat berbuka.

Karenanya Nabi saw. mengatakan:
“Berpuasalah kamu, niscaya menjadi sehat.”

Sebab puasa betul-betul merupakan kurnia buat kita. Pahala amal di dalamnya berlipat ganda, dan membikin sehat orang yang sehat.

Lho, betul. Karena hanya orang sehat saja yang diwajibkan puasa, sehat jasmani dan sehat pikiran tapi, jangan sampai salah ucap bahwa orang yang  tidak berpuasa semuanya penderita sakit ingatan. Sebab memang ketentuannya begitu. Orang yang sakit malah dianjurkan tidak sah puasa dulu, dan boleh menggantinya pada hari-hari yang lain.

Jadi, kalau ada ibu-ibu sedang diopname di rumah sakit, suster datang dan mengatakan, “Bu, buburnya dimakan ya, lalu obatnya diminum.”
Sambil napasnya megap-megap, ibu itu menggeleng, “Tidak mau, ah.”
“Kenapa tidak mau?” tanya suster keheranan.
“Saya sedang berpuasa,” jawab sang ibu. Ini namanya bukan takwa, melainkan nekat. Lantaran Alloh sudah memberi dispensasi: bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan, boleh berpuasa di bulan berikutnya. Dan lagi mereka yang tidak mungkin berpuasa, seperti sudah lanjut usia, atau para pekerja kasar, malahan boleh mengganti puasa dengan membayar fidyah, yakni memberi makan kepada fakir miskin.

Untuk itu, dalam menghadapi bulan Ramadhan ini, hendaknya kita selalu mawas diri, menghitung-hitung perbuatan kita selama ini, sudahlah sesuai dengan ajaran Islam yang kita anut. Sehingga pada waktu memasuki bulan Ramadhan nanti, kita sudah bertobat dan membersihkan semua kekotoran kita agar ibadah kita diterima dan dosa kita diampuni.

Dan, kaum ibu jangan suka “memanfaatkan” puasa. Mentang-mentang kaum perempuan diberi keistimewaan dengan datangnya tamu bulanan, lantas dipakai alasan untuk berpuasa. Kalau ditanya, “Kok tidak puasa?” jawabnya, “Sedang datang bulan.” Aneh, datang bulan bisa terus-terusan, kapan berhentinya? Barangkali seribu mertua dapat dikelabui, namun Alloh selalu mengetahui.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s