Kebajikan dan Kesabaran

Lelaki itu betul-betul seorang pejahat kambuhan. Ia belum pernah berbuat baik sejak kecil. Tetapi, pada suatu hari ia terkesan oleh cerita Nabi saw. tentang seorang dermawan yang diterima ibadahnya lantaran bila bersedekah, diberikannya kepada sampah masyarakat, atau orang yang tercela sifatnya.

Kata Nabi, “Orang itu tidak putus-putusnya berderma. Dan selalu didahului niat pada malam sebelumnya. Pertama-tama ia berkata akan bersedekah kepada pencuri, pencopet, atau perampok. Maka setelah tiba waktunya, ia pun mendatangi rumah mereka satu persatu, dan diberikannya sedekah yang memadai.  Tentu saja masyarakat geger. Mereka saling kasak kusuk. “Masakan pencuri dibaik-baiki?” Tetapi si dermawan malah mengucap, “Terpujilah nama Alloh bagi pencuri.” Malam berikutnya ia berkata, “Besok akan aku bersedekah kepada para pelacur.” Itu pula yang dilakukan keesokan harinya.

Ia mendatangi rumah para pelacur, dan diserahkannya derma bagi mereka. Masyarakat kembali geger. “Orang gila. Masakan bersedekah kepada para pelacur?” Dan si dermawan tetap tidak peduli. Ia malahan berkata, “Terpujilah nama Alloh bagi para pelacur.” Tidak sampai di situ saja “kesintingannya”! Malam selanjutnya ia berkata, “Besok aku akan bersedekah kepada orang kaya.” Kabar itu pun tersebar dan membuat masyarakat tambah geleng-geleng kepala. “Orang kaya kok diberi sedekah.” Namun, untuk kesekian kalinya, sesudah dibagikannya derma kepada sejumlah orang kaya, ia berkata, “Terpujilah nama Alloh bagi orang kaya.” “Kelak,” ucap Nabi di hadapan para sahabat dan umat yang berkumpul di masjid, “akan terdengar suara gaib dalam pengadilan Alloh: “Sedekahmu diterima seluruhnya.” Mengapa demikian?” sela Nabi. “Karena dengan bersedekah kepada para pencuri, ia berharap mereka bakal berhenti mencuri. Sedangkan dengan sedekah kepada para pelacur, ia berharap mereka bakal berhenti melakukan zina. Adapun sedekah kepada orang kaya dimaksudkan supaya mereka mau menafkahkan sebagian hartanya untuk berderma seperi yang ia lakukan.”

Mendengar kisah yang diceritakan Nabi tersebut, si penjahat kambuhan mulai rajin menghadiri majelis-majelis pengajaran yang diberikan hampir setiap hari. Sampai pada suatu saat ia mendengar Nabi bersabda:

“Barang siapa meninggalkan sesuatu ketika masih haram, ia akan memperolehnya sesudah menjadi halal.”

Ucapan Nabi itu selalu terngiang-ngiang di telinga si penjahat kambuhan. Ia ingin bertobat, tetapi nafsunya hendak mencuri kadang-kadang datang lagi dan tak dapat dipupusnya sama sekali. Maka pada suatu malam yang gelap dan dingin, ia mengendap-endap memasuki rumah seorang janda muda yang sudah lama ditinggal mati suaminya. Begitu berada di dalam, ia menjumpai makanan yang lezat-lezat di meja. Ia berniat akan menyantapnya. Tetapi suara Nabi bergaung di dadanya. “Jangan kaulakukan, sebab makanan itu masih haram bagimu. Tinggalkan. Nanti kamu akan mendapatnya setelah menjadi halal.” Suara gaib itu pun dipatuhi.

Lalu ia membuka lemari. Dilhatnya banyak sekali perhiasan yang mahal-mahal. Ia bermaksud menggantunginya, namun kembali suara Nabi bergema di dadanya. “Urungkan niat burukmu itu supaya kamu memperolehnya setelah halal nanti.” Lagi-lagi ditaatinya bisikan rahasia itu.

Tetapi, pada waktu ia memasuki kamar si janda muda, nafsu birahinya tidak tertahan melihat kecantikan dan keindahan tubuh perempuan itu. Ia berbulat tekad hendak memperkosanya, apapun yang terjadi. Manakala ia sudah siap melaksanakan niat jahatnya, seolah Nabi memperingatkannya: “Barang siapa meninggalkan sesuatu ketika masih haram, ia akan memperolehnya sesudah menjadi halal.” Kali ini ia batal melampiaskan keinginannya. Dan ia segera pulang sebelum setan berhasil membujuknya kembali.

Keesokan harinya ia pergi ke masjid untuk ikut berjamaah subuh bersama Nabi. Sesuai sholat ia duduk terpisah dari yang lain karena merasa dirinya masih banyak dosa. Tiba-tiba janda muda yang cantik itu masuk ke dalam masjid dan menghadap Nabi, “Ya Rasulullah. Tadi malam rupanya seorang penjahat telah menyatroni rumah saya. Tapi ia keluar tanpa mengambil sepotong barang pun milik saya. Meskipun begitu, saya takut, ya Rasulullah, jangan-jangan ia datang lagi nanti malam. Padahal saya di rumah sedirian.”

Nabi heran dan bertanya, “Mengapa engkau hidup sendirian?”
“Suami saya sudah meninggal dunia.”
“Kalau begitu, kamu harus bersuami lagi. Maukah kau kunikahkan?”

Perempuan itu mengangguk. Maka Nabi mencari-cari, siapa di antara yang hadir pada pagi hari itu yang belum punya istri. Pilihannya jatuh kepada si pejahat kambuhan. Orang itu pun dipanggil dan ditanya tentang kesediaannya menjadi teman hidup janda muda yang cantik dan kaya itu.

Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Lelaki itu memang sedang murung karena tidak seorang pun yang bersedia menerimanya menjadi suami atau menantu mengingat kelakuannya yang dikenal buruk dan panjang tangan. Maka tentu saja tawaran itu diterima dengan suka cita. Dan pada saat itu juga Rasulullah menikahkan mereka secara resmi sehingga pada waktu pulang, penjahat kambuhan itu sudah menjadi suami si janda muda. Dengan demikian, semua yang tadinya diinginkannya dalam keadaan haram, kini bakal dinikmatinya secara halal.

Riwayat tersebut adalah tamsil yang dijadikan pegangan oleh para sufi untuk melatih kesabaran dalam mencapai cita-cita yang diridhoi Alloh. Sebab pada hakikatnya, meskipun kesabaran itu berat dilakukan, hasilnya akan menjadi kenikmatan yang langgeng dan lestari sebagaimana dinyatakan dalam sebuah makalah:

“Sabar itu pahit rasanya seperti jadam. Tetapi akibatnya manis melebihi madu.” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s