Kejujuran Berdarah

Dalam suatu perangkap yang curang, Khubaib bin Adi ditangkap orang-orang suku Huzail bersama lima sahabat lainnya yang ditegaskan oleh Rasulullah untuk menjalankan dakwah di lingkungan kaum Badui, atas permintaan suku Huzail sendiri.

Khubaib kemudian dijual oleh orang-orang Huzail kepada kaum Quraisy di Makkah. Di bawah pimpinan Abu Sufyan, pemuka kaum Quraisy, diputuskan daam rapat untuk menjatuhkan hukuman mati atas Khubaib.

Jauh-jauh sebelum pelaksanaan eksekusi, Khubaib sudah sudah diberi tahu, dengan tujuan agar Khubaib menangis-nangis memohon keringanan hukuman. Dengan demikian, orang-orang musyrik bisa menyebarkannya kepada masyarakat luas agar nama pengikut Rasulullah jatuh di mata umum.

Ternyata Khubain mengeluh pun tidak. Berkali-kali kurir kaum musyrikin mendatangi Khubaib di rumah keluarga Uqbah bin Al-Harits supaya memohon ampun kepada kaum Quraisy dan murtad dari Islam untuk kembali memeluk kepercayaan nenek moyang.

Khubaib tidak bergeming. Ia tetap tenang menantikan detik-detik hukuman matinya. Malah ia meminta kesempatan untuk bercukur bersih, seolah bakal bertemu menghadap calon mertua.

Istri Uqbah bin Al-Harits meminjamkan sebilah pisau yang tajam. Ia tidak kuatir Khubaib akan mencelakan dirinya, sebab tawanan itu diikat kencang dan tidak mungkin melakukan penyerangan. Untuk mencukur sendiri memang bisa karena tangan kanannya dibiarkan agar bebas supaya bisa makan dan buang air sendiri, tanpa orang-orang Quraisy harus menolongnya.

Tiba-tiba anak pemilik rumah yang masih bocah dan baru bisa berjalan tertatih-tatih, mendatangi Khubaib yang sedang menggenggam pisau cukur. Dengan kemauan sendiri bocah cilik itu naik ke pangkuan Khubaib, sebab selama berada di situ, Khubaib bersikap lucu dan akrab dengannya. Dalam keadaan demikian, Khubaib bisa saja menguasai anak tidak berdosa itu untuk dijadikan rungguran atau sandera bagi kebebasannya.

Dan itulah yang dicemaskan oleh istri Uqbah bin Harits ketika mengetahui anaknya duduk di pangkuan Khubaib. Dengan ketakutan ia berseru, “Lepaskan anakku. Jangan dibunuh.”

Khubaib tersenyum. Istri Uqbah kian kuatir. Khubaib mengangkat pisaunya. Istri Uqbah menjerit dan memejamkan mata.

Ketika ia melek kembali, bocah cilik itu sudah berdiri di dekatnya. Khubaib lantas berkata, “Sedangkan Firaun pun tidak membunuh Musa yang waktu itu masih kanak-kanak. Padahal Firaun sangat kejam dan ganas. Apalagi saya, seorang penganut ajaran Islam. Agama saya mengharamkan pengikutnya berbuat khianat. Engkau telah percaya kepadaku dengan menyerahkan pisau ini. Masakan aku harus tega bertindak licik? Lebih baik kehilangan nyawa daripada kehilangan harga diri.

Istri Uqbah terharu. Dan ia menangis duka manakala keesokan harinya Khubaib disiksa dan dibunuh di Tan’im oleh suami dan konco-konconya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s