Kecerdikan Orang Kecil (2)

Pada kisah terdahulu diceritakan sekelumit kecerdikan orang kecil yang tidak punya ilmu, harta, maupun kekuasaan. Otaknya bisa berputar lancar dalam keadaan terpaksa untuk mencari keselamatan dan jalan keluar.

Sama seperti yang dialami oleh seseorang jamaah haji dari Sunda di Tanah Suci Makkah. Ia tersesat ketika hendak tawaf mengitari Ka’bah. Ia telah mencari-cari, di manakah Masjidil Haram. Mau bertanya-tanya ia hanya bisa berbahasa Sunda. Padahal dari tadi tidak dijumpainya orang sekampung.

Alangkah gembiranya orang Sunda itu ketika bertemu dengan jamaah lain yang kulitnya sama. Disangkanya orang itu berasal sedaerah dengannya. Maka dengan bahasa Sunda yang lancar ia bertanya:

Punten. Palih mana nu bade ka Masjidil Haram?” Maksudnya menanyakan arah menuju Masjidil Haram.

Tahu-tahu jamaah yang ditanya bukan orang Sunda. Kulitnya sama, tetapi bahasanya berbeda. Sebab ia orang Jawa totok yang hanya mengerti bahasa Jawa. Karena itu orang tersebut menggeleng seraya menjawab, “Lhah. Boten ngertos.” Artinya, tidak mengerti apa yang ditanyakan.

Tetapi orang Sunda itu tidak kehabisan akal. Ia pikir, orang Jawa itu toh biasa shalat, dan pasti mengerti bahasa Jawa surah Al-Fatihah, sebab surah itu wajib dibaca dalam shalat.

Ia pun lantas berkata, “Punten, Ihdina Masjidil Haram.” (Ihdina adalah salah satu kalimat dalam Al-Fatihah yang maknanya berilah kami petunjuk).

Betul juga. Orang Jawa itu paham maksudnya. Maka sambil tertawa orang itu menjawab, “Shiratal mustaqim.” (Ini juga terdapat dalam Al-Fatihah yang bahasa kitanya berarti jalan lurus).

Orang Sunda itu dengan suka cita mengucapkan terima kasih, lalu berjalan lurus ke depan. Beberapa langkah di muka ia agak kebingungan. Yang lurus jalannya kecil, sedangkan yang lebar jalannya ke sebelah kiri. Jadi ia menempuh jalan agak ke kiri itu karena lebih lebar.

Dari kejauhan orang Jawa tadi berteriak, “Waladl dlollin. Mustaqim. Jangan tersesat. Lurus saja.”

Dengan peringatan terakhir itu, orang Sunda tersebut berhasil mencapai tempat yang dituju, Masjidil Haram, yang tengahnya Ka’bah, tempat ia akan melakukan tawaf tujuh kali berputar.[]

One thought on “Kecerdikan Orang Kecil (2)

  1. hehehe ; saya agak mengerti maksudnya; jalan yg lurus terkadang tidak sesuai dg apa yg logika kita katakan ; tetapi di balik itu ada kelapangan hehehhehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s