Surga ataukah Neraka

Orang-orang Khawarij yang mengagungkan pendapat akal bertanya kepada Imam Hanafi, “Di muka terbaring dua sosok jenazah. Yang satu jenazah seorang pria yang mati akibat terlalu  banyak menenggak minuman keras. Yang lainnya adalah mayat seorang wanita yang mati bunuh diri setelah merasa dirinya hamil di luar nikah. Ia seorang pezina yang nista. Bagaimanakah nasib mereka di akhirat kelak menurut pendapat Tuan?”

Imam Hanafi balik bertanya, “Nasib macam mana yang Saudara-saudara maksudkan?”

Kaum Khawarij itu menjawab, “Ya. Bagaimanakah kelanjutan perjalanan mereka sesudah mati?”

Imam Hanafi masih juga berkilah, “Apakah kedua orang mendiang itu beragama Yahudi?”

“Tidak,” sahut orang-orang Khawarij.

“Apakah mereka beragama Nasrani?”

“Tidak, “ sanggah mereka dengan tegas.

“Atau mungkin mereka beragama Majusi, penyembah api?”

“Tidak juga.”

“Jadi, beragama apakah mereka?” desak Imam Hanafi.

Orang-orang Khawarij itu dengan ragu-ragu menjelaskan, “Mereka beragama yang mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh, dan Muhammad adalah utusan Alloh.”

“Lalu, bagaimana pendapat kalian, apakah syahadat semacam itu merupakan separuh iman, sepertiga, seperempat, atau seperlima?”

Tanpa mengerti kemana arah pertanyaan tersebut, mereka menjawab, iman tidak terbagi-bagi menjadi separuh, sepertiga, seperempat, ataupun seperlima.”

“Jika demikian, dalam peringkat apakah mutu iman mereka?” desak Imam Hanafi makin menyudutkan lawan-lawannya tanpa bisa berdalih-dalih.

Dengan sejujurnya orang-orang Khawarij itu menjawab, “Iman adalah suatu kesatuan.”

Oleh karena itu, Imam Hanafi lantas berkata, “Kalau begitu, apa gunanya kalian bertanya kepadaku tentang nasib dan kelanjutan perjalanan kedua jenazah tersebut?”

“Kami ingin tahu, apakah mereka bakal masuk surga atau neraka?”

“Seraya tersenyum, Imam Hanafi menjawab, “Kalian tentu ingat, bukan, manakala Nabi Ibrahim berhadapan dengan suatu kaum yang melakukan dosa melebihi kadar maksiat kedua jenazah itu? Dalam surat Ibrahim ayat 36, Al-Qur’an menceritakan, bagaimana Ibrahim berkata kepada kaum itu: “Barang siapa mengikuti agamaku, mereka adalah golonganku. Dan barang siapa mendurhakaiku, maka Engkau Alloh Maha Pengampun lagi Penyayang.”

Atau seperti ucapan Nabi Nuh kepada kaumnya yang durhaka, sebagaimana termuat dalam surat Asy-Syu’ara ayat 11 sampai dengan 14: “Mereka berkata, ‘Apakah kami akan beriman pula kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu hanyalah orang-orang hina dina?’ kala itu Nuh menjawab, ‘Aku tidak tahu apa yang dikerjakan mereka. Sebab perhitungan mereka hanya terpulang kepada Tuhanku jika kamu mau mengerti. Aku sekali-kali tak kan mengusir kaum yang beriman.’”

Mendengar ucapan Imam Hanafi ini, orang-orang Khawarij itu Cuma bisa menganggukkan kepala meskipun terpaksa. Lantaran begitulah adanya. Hanya Alloh yang berhak menilai iman dan perbuatan hamba-hamba-Nya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s