Kagum Dunia, Lupa Akhirat

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat (as-sama’aaddun ya) dengan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syetan, dan kami sediakan siksa neraka yang menyala-nyala.” (67: 5)

Langit dunia artinya langit yang dekat. Kehidupan dunia artinya kehidupan yang dekat. Memang arti addun-ya menurut ayat di atas ialah ‘dekat’, akhirat artinya akhir. Kehidupan akhirat artinya kehidupan tahap akhir yang jaraknya cukup jauh dari sekarang.

Alloh mengabarkan bahwa bintang-bintang adalah hiasan yang letaknya di langit pertama (dekat). Mafhumnya, Alloh tak menghiasi langit kedua sampai langit ketujuh dengan bintang-bintang itu.

Banyak manusia terpesona dan terkagum-kagum menyaksikan gemerlap bintang yang terlihat dengan mata yang telanjang. Jumlahnya kira-kira tiga ribu buah. Padahal dibalik taburan gemerlap itu, jutaan bahkan miliaran bintang menghuni angkasa langit pertama. Sedikit manusia yang menyakini bahwa di balik tiga ribu itu, terdapat miliaran rahasia yang lain.

Ternyata benar di balik yang nampak mata, tersimpan miliaran yang jauh lebih mempesona. Diketemukan bintang-bintang yang ukurannya jauh lebih besar daripada matahari, dengan jarak miliaran kali lebih jauh. Sementara cahaya matahari saja dengan kecepatan seperti itu untuk mencapai bumi membutuhkan waktu sekitar delapan menit. Dapat dibayangkan berapa jauh  jarak antara bintang itu, hingga sejumlah astronom dibuat gemas dan penasaran.

Memahami kehidupan bintang tentu berbeda dengan memahami kehidupan manusia. Namun di sisi kehidupan tertentu ada persamaannya, yaitu menyangkut rahasia di balik apa yang nampak. Orang enggan membayangkan bahwa di atas langit dengan berbagai hiasan itu masih ada langit kedua, ketiga hingga ketujuh, bahkan masih ada Sidratul Muntaha, mustawaa, dan seterusnya yang hanya Alloh yang mengetahuinya.

Bila bersulit-sulit memahami fenomena alam saja enggan, maka bagaimana mau memahami fenomena manusia yang permasalahannya lebih rumit? Kebanyakan manusia memandang hidup hanyalah apa yang bisa mereka rasakan dan saksikan di sekitar diri mereka sendiri.

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (45: 14)

Firman Alloh itu merupakan gambaran pola pandang orang-orang kafir tulen. Mereka mengingkari sama sekali keberadaan alam akhirat. Pandangan seperti ini besar pengaruhnya pada model kehidupan sehari-hari, karena bagi mereka tidak jadi soal melakukan dosa-dosa bear semacam zina, asalkan secara pragmatis menimbulkan kesenangan dunia dan kenikmatan hidup. Mereka dibebani perasaan berdosa, karena aqidah mereka mendukungnya. Mereka bilang, bila diakhirat kelak mendapatkan sanksi berat, itu urusan nanti. Yang penting bagaimana hari ini bisa enjoy. Aqidah yang terakhir ini dimiliki orang-orang kafir yang masih sedikit agak mempercayai adanya alam akhirat. Sejumlah orang muslim munafik juga dekat sekali dengan paham semacam itu.

Mereka bisa mempercayai bahwa Alloh senantiasa mengawasi hamba-Nya, tapi di saat yang sama mereka bisa pula bercumbu rayu dengan wanita bukan mahram di tempat khalwat. Mereka bisa, sehabis menangis tersedu-sedu sambil mencoba menyesali dan beristigfar, tetapi gilirang berikutnya, dosa besar itu masih lagi mereka lakukan.

Kekuatan apakah yang bisa menjebol aqidah dalam dada seseorang, sehingga mereka yang dulunya aktivis pejuang Islam, sekarang jadi biasa meninggalkan sholat lima waktu, malah berjalin akrab khamar dan zina?

Jawabannya sederhana, karena mereka berani mencoba-coba bergaul dengan syetan di lingkungan yang tidak Islami. Secara otomatis, pelan tapi pasti, pelan tapi pasti, Alloh yang pernah dekat dengan mereka, mereka jauhi. Semula mereka dekat dengan berita-berita akhirat sehingga enggan melakukan dosa. Tetapi setelah bersahabat dengan masyarakat syetan, mareka lebih banyak membaca dan mendengar berita-berita dunia. Pengaruhnya besar sekali. Mereka tertarik dengan berita itu dan ingin menjadi pelaku berita. Di saat itu pada sholatnya tak ada lagi sisa kekhusyu’an. Sibuk berbaur dan berhura-hura dengan teman-teman syetannya, dan mereka merasakan nikmat. Maka perasaan dosa pun beralih menjadi rasa gembira bila melakukan berbagai tindak pelanggaran. Sekalipun terkadang timbul perasaan rasa sesal, lumuran dosa itu terulang lagi di saat lain.

Muslim munafik itu patut disantuni dengan sejumlah belas kasih oleh muslim beriman. Ajaklah mereka ke jalan mustaqim yang pernah mereka tapaki. Jika tak mau, itu urusan mereka, dan segeralah kita santuni diri kita sendiri agar jangan ikut-ikutan melakukan apa yang mereka kerjakan. Berdzikirlah kepada Alloh. Baca Al Quran, dan pahami maknanya. Sebab siapa saja mudah sekali menjadi seperti mereka, manakala tadarrus Al Quran tersaingi oleh tadarrus majalah-majalah hiburan.

Al Quran tahu benar bagaimana perimbangan berita tentang Alloh dan berita tentang manusia, berita tentang akhirat dan berita tentang dunia. Sungguh beda dengan bacaan-bacaan dunia yang hanya memburu pembacanya senang, terhibur, di samping mendapatkan informasi-informasi penting dalam kehidupan ini. Mereka tak merasa perlu bertanggungjawab apakah para pembacanya kelak di akhirat bahagia atau tidak, karena hari ini adalah urusan hari ini.

Dunia…kau begitu akrab dengan penghunimu. Sampai-sampai saudara kembarmu yang bernama akhirat kehilangan jutaan pengagum dan pecinta. Wallahu a’alam.[]

4 thoughts on “Kagum Dunia, Lupa Akhirat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s