Yang Lebih Besar dari Samudera, Bumi, Langit dan Dosa

Kisah ini diceritakan oleh penyair Jalaluddin Rumi, penyair besar dan sufi dari Parsi yang hidup di Abad ke-13. Cerita ini ada dalam kumpulan karyanya, Masnawi. Yang ditulisnya sampai pujangga itu wafat pada umur 67 tahun.

Kisah alegoris itu berjudul ; Nabi Musa dan Tukang Cuci. Begini ceritanya:

Pada suatu malam, ketika Nabi Musa shalat, dia berdoa meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan orang yang paling kejam dan jadi sumber kemarahan orang banyak.

Keinginan itu dikabulkan Tuhan. Dia mesti pergi ke tepi sungai besok pagi-pagi sekali. Dan orang pertama yang dijumpainya besok itulah orang paling kejam.

Nabi Musa subuh-subuh telah sampai di batang air. Dia menanti, lalu muncul seorang tukang cuci, pendek gemuk orangnya, menggiring keledai. Di punggung keledai itu bertumpuk cucian basah dan berat. Lelaki itu memukuli keledainya dengan tongkat, berkali-kali dan keras seraya berteriak memaki-maki. Tampangnya sungguh kriminal, matanya merah bekas bertanggang larut malam dan mulutnya bau arak. Wajahnya nampak penuh nafsu dan garang.

Nabi Musa puas dan pulanglah ia.

Malam itu, ketika shalat Nabi Musa memohon kepada Tuhan agar dipertemukan dengan hamba-Nya yang shaleh, hamba-Nya yang dikaruniai rahmat dan ampunan-Nya. Tuhan menyuruhnya pergi ke tepi sungai itu juga, pagi-pagi lagi.

Keesokan subuh Musa mengulang kepergiannya ke tepiannya.

Musa terperanjat melihat lelaku kemarin subuh itu kembali. Tetapi kali ini si Tukang cuci pakaian itu tidak membawa tongkat pelecut keledai lagi. Beban cucian di punggung keledainya nampak ringan. Dia menepuk-nepuk leher keledainya dengan sayangnya. Dia berjalan menundukkan kepala, menyebut nama Allah.

Allah, Allah, Allah, gumamnya.
Air mata menetes-netes di pipinya.
Musa sangat heran.

Dia cari rumah tukang cuci itu, ketemu. Musa bertemu istri si Tukang cuci. Sang Nabi berkata, bahwa dia heran melihat perubahan sifat begitu cepat terjadi pada lelaki itu. Musa bertanya mengapa. Apa gerangan pergolakan batin si Tukang cuci yang merubah wataknya secara dramatik itu?

Sang istri berceritalah:

Sampai dengan dua hari yang silam, suaminya sudah tigapuluh tahun lamanya, menjadi orang yang kejam, suka menipu, judi, minum, kata-kata kasar, dan dibenci masyarakat. Jadi dua hari yang lalu, sepulang mencuci di tepi sungai, dia keletihan. Sambil capek dia memaki-maki istrinya yang menyediakan sarapan. Sesudah kenyang, dia tidur-tiduran dan istrinya memijit-mijit kakinya. Sambil memijit kakinya itu, air mata si istri bertetesan. Sang Suami bertanya, mengapa dia menangis.

Kata istrinya, “Aku ingin bertanya kepadamu.”

Jawab suami, “Bertanyalah.”

Tanya istri lagi, “Benda apa yang paling besar?”

Jawab suami, “Bumi.”

Tanya si istri lagi, “Yang lebih besar dari Bumi?”

Jawab suami, “Samudera raya.”

Tanya si istri pula, “Yang lebih besar dari samudera raya?”

Jawab suami, “Langit.”

Tanya si istri terus, “Yang lebih besar dari langit?”

Tiba-tiba lelaki kejam itu menggigil, jawabnya, “Dosa-dosaku.”

Tanya si istri lagi, “Yang lebih besar dari dosa-dosamu?”

Jawab suami sambil tersedu, “Keampunan Tuhan.”

Lelaki itu menangis dan meratap. Tersedu-sedu.

“Sejak itu,” demikian sang istri menutup kisahnya, “Suami saya selalu menyebut asma Allah.Ia menyesali dosa-dosanya. Pipinya basah karena dilinangi air mata. Dia pergi berkeliling sekarang, minta maaf kepada semua keluarga dan handai taulannya.” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s