Menjaring Kedalaman

Tatkala Alloh berfirman, “Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka,” sebagaimana tercantum dalam surat Al-Fath ayat 11, kita pun terhenyak tidak mengerti, mengapa Alloh mempunyai tangan? Padahal Ia suci dari kesamaan dengan makhluk-Nya? Bukankah dengan demikian Alloh telah menodai citra kemaha-tunggalan-Nya sendiri?

Tentu saja apabila kita menyerap firman itu melalui penalaran manusia, dan tidak bertolak dari jiwa tauhid yang menyakini akan tidak serupanya Alloh dengan semua makhluk-Nya. Namun, kalau kita kembali kepada akidah tauhid, sudah pasti kita akan tahu bahwa tangan Alloh yang dimaksud-Nya tidak seperti tangan kita.

Begitu pula seandainya kita menerjemahkan bahagia kesufian yang selalu bersayap dengan bahasa kaum awam. Kita akan terjerumus ke dalam salah paham dan naik pitam. Sebab kaum sufi kadang-kadang berbicara dengan pendalaman hati sehingga tidak terungkapkan dengan bahasa lisan sepanjang bahasa lisan itu ditafsirkan dalam citra harfiah.

Dengarlah ucapan Abu Nawas yang bijak ketika ia hendak memohon ampunan Alloh. Ia mengatakan, “Tuhanku, tidaklah aku ini pantas menjadi penghuni surga.“ Berhentilah kita di sini. Apa yang terkesan? Abu Nawas adalah orang yang sombong, berani menentang kurnia Alloh yang menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang beriman. Mengapa ia tidak berkata, “Tuhanku, masukanlah aku ke dalam surga-Mu”, sambil beribadah dan beramal saleh?”

Lalu Abu Nawas melanjutkan ucapannya, “Tetapi, aku tidak kuat menghadapi api neraka.” Bagaimana pula orang alim itu? Seharusnya ia cukup mengatakan, “Tuhanku, janganlah Kau masukkan aku ke dalam neraka,” sambil menghindari maksiat dan menjauhi dosa.

Baru kita memahami kerendahan hatinya tatkala membaca ucapan berikutnya, “Maka terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun terhadap dosa yang besar.” Mengapa begitu?

“Saya sudah mendatangi semua tabib dan dukun yang tersohor untuk mencarikan obat buat suami saya. Tetapi, tidak ada yang berhasil. Tolonglah Tuan, bagaimana caranya agar batuk suami saya bisa reda,” ujar perempuan itu.

Abu Nawas berpikir sejenak. Kemudian ia memberikan segelas air bening kepada wanita tersebut. “Minumkan air ini kepada suamimu.”

“Apakah hanya dengan air ini batuk suami saya akan sembuh?” tanya wanita agak ragu-ragu.

“Pasti sembuh,” jawab Abu Nawas seolah ia mempunyai kuasa untuk menyembuhkan penyakit.

Maka sambil membungkuk-bungkuk tanda berterimakasih, wanita itu membawa air tersebut pulang ke rumahnya, dan meminumkannya kepada suaminya.

Beberapa minggu kemudian, perempuan itu datang lagi kepada Abu Nawas seraya marah-marah, “Setelah menghabiskan air pemberian Tuan, suami saya bukannya sehat kembali, bahkan meninggal dunia. Tuan pembohong licik.”

Abu Nawas terdiam. Sesudah wanita yang tengah berbela sungkawa itu kelihatan tenang lagi, Abu Nawas berkata, “Maaf, Bu. Soal mati itu bukan wewenang saya. Sebab ajal berada di tangan Alloh. Saya cuma menyatakan, dengan meminum air saya, penyakit batuk suami ibu pasti sembuh.”

“Tapi  nyatanya suami saya meninggal dunia.” sergah si wanita.

“Sabar dulu, Bu,” ujar Abu Nawas. “Setelah suami Ibu meninggal, apakah ia masih batuk?”

“Tidak. Mana ada orang mati bisa batuk!”

“Nah. Itulah maksud saya. Batuknya sembuh, bukan? Adapun akhirnya suami ibu meninggal dunia, begitulah memang akhir hidup setiap insan. Saya dan Ibu pun bakal meninggal, bagaimana pula seorang Abu Nawas dapat mencegah kematian kalau takdir Alloh telah menentukan ajalnya?”

Sudah tentu, hanya orang-orang yang beriman kuat saja yang mampu menjaring kedalaman ucapan para bestari.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s