Konspirasi Syetan dan Nafsu

Ada suasana yang hilang setelah Ramadhan berlalu. Ibadah yang dilaksanakan di bulan suci itu terasa mudah dan mengasyikkan tiba-tiba terasa berat untuk ditunaikan. Sebaliknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat kok justru terasa ringan, bahkan menyenangkan? Ada apa gerangan?

Setidak-tidaknya ada dua hal penyebabnya. Pertama, pasca Ramadhan belenggu syetan telah dilepas oleh Alloh. Selama Ramadhan syetan memang dibelenggu hingga ruang geraknya sangat terbatas atau malah tidak bisa bergerak sama sekali. Syetan yang kegiatan utamanya menggoda dan membujuk manusia, saat itu berdiam diri. Manusia berkesempatan untuk berlaku baik seperti pengendara yang sedang menjalankan mobilnya di jalan yang mulus. Mudah dan menyenangkan. Perjalanannya tidak diwarnai tanjakan-tanjakan yang berarti. Jebakan-jebakan maut juga jarang dijumpai. Itulah gambaran orang yang melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Kini hambatan-hambatan itu telah dipasang kembali.

Yang kedua, pada waktu yang bersamaan kendali nafsu mulai kita kendorkan, bahkan ada yang dilepas sama sekali. Akibatnya sudah dapat diduga, kemaksiatan kembali merajalela.

Dasar memang nafsu. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Dzat Yang Menciptakannya, nafsu itu selalu cenderung pada kerusakan dan kerendahan.

“…Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku…” QS. Yusuf: 53.

Apalagi sifatnya nafsu itu seperti anak kecil, sekali dituruti akan minta kedua, ketiga, dan seterusnya. Ketagihan atau mabuk kepayang. Sekali disusui, maunya tak lepas-lepas. Sekali diajak main, mintanya main terus-terusan. Sekali jajan, jadinya keterusan. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Sesungguhnya nafsu itu seperti anak kecil. Kalau dibiarkan, akan tetap menyusu selama-lamanya.”

Masih ditunjang lagi dengan sifatnya yang tak pernah puas dan tak pernah kenyang. Menuruti kemauannya bukan berarti menghentikan permintaannya, justru sebaliknya. Sekali diberi hati dia akan merogoh rempolo. Ibarat orang minum air garam, semakin diminum semakin membuat kehausan.

Barangkali pembaca pernah atau sampai sekarang masih termasuk penghisap rokok. Apa yang kita rasakan pada saat pertama kali melakukannya? Kita akan bersepekat untuk menjawab, mual-mual dan membuat kepala pusing. Ketika itu kita memang hanya coba-coba, ‘Sesekali tidak mengapa, barangkali begitu pikiran kita. Tapi setelah dicoba dan hasilnya juga sangat negatif apakah kemudian berhenti dan tidak ingin mengulanginya? Tidak, buktinya sampai sekarang kita masih merokok. Jutaan bungkus rokok habis kita hisab setiap bulan.

Lebih parah lagi, bila nafsu sudah menguasai diri kita, perhitungan lain tidak digunakan, kecuali kepuasan nafsu saja. Otak yang sehat tiba-tiba harus tunduk pada kemauan.

Tengok tingkah laku seorang ayah yang mana mungkin ini terjadi pada diri kita. Seorang ayah menyuruh anaknya beli rokok, sementara dia tahu bahwa anaknya baru saja menangis minta dibelikan makanan. Tindakannya memancing amarah dan dendam anaknya. Ada yang malah berprinsip lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Urusan keluarga nomor dua,  yang pertama adalah rokok.

Sebenarnya Ramadhan yang lalu bisa dijadikan sebagai latihan untuk tidak merokok. Siang hari yang biasanya berbatang-batang rokok habis terhisab, saat itu ditinggalkan. Kenyataan juga membuktikan bahwa saat itu kita tetap juga sehat, tidak pusing-pusing, dan tetap bisa berpikir waras.

Ramadhan telah mematahkan argumentasi para pecandu rokok yang berpikiran bahwa tanpa rokok hidup menjadi sepi dan sepoh. Seorang seniman terkadang merasa tanpa rokok inspirasinya tak bakal muncul, pikirannya tiba-tiba mandek. Yang penulis juga begitu. Betulkah? Ramadhan kemarin sudah kita jalani. Hasilnya sudah juga kita rasakan. Yang jelas argumentasi itu terlalu dibuat-buat sebagai hasil rekayasa nafsu.

Nafsu adalah musuh kita dari dalam, sementara syetan dari luar. Syetan akan masuk ke dalam diri kita manakala nafsu telah membuka jalannya. Bila syetan telah masuk ke dalam diri kita, maka penyebarannya bagai darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Virus ini lebih gawat dari HIV yang menyerang para penderita AIDS.

Apalagi syetan berkekuatan penuh, dengan dukungan bala tentara yang patuh dan disiplin. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung. Ada yang berbentuk jin, ada pula yang berjasad manusia.

Bila syetan sudah masuk ke dalam diri manusia, kemudian merayap ke mata, maka dibuat indah seluruh pandangan maksiat. Ada wanita lewat di depannya, birahi tergerak. Mata melotot atau malah berkedip-kedip memberi isyarat. Mulut pun ikut memberi andil, menyapa atau sekedar iseng ngomong apa saja. Kakinya disuruh mendekatkan anggota tubuh lainnya. Bahkan tangannya juga mulai beraktivitas. Bila demikian sempurnalah tugas syetan.

Siapakah wanita tadi? Jika dia memang sengaja tampil dengan pakaian yang aduhai, jalan dengan lenggak-lenggok penuh sexy, parfum dan make-upnya dipasang aksi, maka tak diragukan lagi bahwa dia adalah tentara syetan. Dialah sukarelawan syetan.

Antara  dia dan syetan yang asli tidak ada bedanya, sama-sama menggoda iman manusia. Dalam bahasa Al-Qur’an disebut yuwaswisu fii shuduurin-naas.

Inilah media yang paling ampuh, sejak dulu hingga kini. Syetan akan berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan atau lebih tepatnya mengeksploitir wanita, sementara nafsu mereka terus dibuat haus dan bertambah haus. Targetnya jelas, kalau tidak jadi syetan, ya jadi sukarelawannya. Kalau itu juga belum berhasil, ya asal mengiyakan saja.

Kalau benteng pertahanan iman yang dimiliki seseorang tidak kuat, pasti jebol. Kalau Alloh tidak secara intensif terlibat dalam membendung serangan syetan dan bala tentaranya, dapat dipastikan ambruk, rata dengan tanah. Mati atau jadi tawanan syetan adalah alternatifnya.

Siapa yang berani berkata dirinya bebas dari syetan? Umar bin Khatthab yang bergelar al-Faruq pun belum terbebas dari gangguannya. Memang banyak yang menyebut bahwa syetan sangat takut dekat dengannya, tapi apakah demikian juga bala tentara dan sukarelawannya? Buktinya, Umar tak lepas dari berbuat khilaf dan dosa.

Jangankan Umar, Nabi Yusuf as. yang nyata-nyata nabi hampir saja terjebak perangkap syetan. Kalau bukan pertolongan Alloh, tentu saja tawaran Zulaikha, wanita cantik jelita itu diterimanya. Tapi dasar masih ada iman, sehingga Nabi Yusuf as. mampu berkata, “Saya takut Alloh.”

Apalagi kita yang bukan apa-apa. Tetapi jangan putus asa. Yang penting kita sadari dan waspadai kehebatan serangan syetan sembari kita memohon perlindungan Alloh swt. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s