Kebahagian itu Ada di Sini

Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syaikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, “Orang-orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (ubudiyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya’. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.” Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul karena semakin besarnya tuntutan kesempurnaan dalam diri seseorang. “Semakin tinggi tuntunan dalam hatimu, maka semakin kecillah kamu memandang dirimu sendiri. Dan akan semakin mahal harga yang harus ditunaikan untuk memperoleh tuntutan hatimu itu.”

Maka, janganlah hentikan perenungan dan muhasabah diri kita masing-masing. Sungguh banyak lubang yang harus kita waspadai di tengah hidup yang penuh fitnah dan tipu daya ini.

Manusia, diciptakan dalam keadaan susah payah. Memang itulah ketentuan Alloh swt. Al-Qur’an menyinggung masalah ini dalam firman-Nya, “Laqad khalaq nal insaana fii kabad.” “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan kabad (susah payah). (QS. Al Balad: 4). Kata ‘kabad’ dalam kamus Mu’jma Al Washit didefinisikan dengan kata masyaqqah wa ‘ana artinya kesulitan dan kesusahan. Ya, sulit dan susah. Itulah yang pasti akan menghiasi hidup semua.

Jangan merasa heran dengan kenyataan hidup. Jangan heran dengan terpaan masalah hidup. Sudah terlampau banyak firman Alloh swt. dan petunjuk Rasulullah saw. yang menuntun kita untuk memahami realitas itu. Hidup itu memang tempat kita ditempa, diuji dengan semua keadaannya. “Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Begitulah Alloh berfirman dalam surat Al Anbiya ayat 35.

Banyaknya peringatan Al-Qur’an tentang kehidupan adalah agar kita tidak kaget dengan bencana, musibah, dan ragam masalah hidup. Orang yang telah mengetahui sebelum merasakan sesuatu yang berat, tentu akan lebih ringan tatkala ia merasakannya. Orang yang belum mengetahui sesuatu yang sulit pasti akan terkejut dan merasa terlalu payah saat ia mengalami kesulitan. Begitulah.

Abu Sa’id Al Khudri ra. dahulu pernah menjenguk Rasulullah saw. saat beliau menderita demam, menjelang wafatnya.  “Kuletakkan tanganku di badan beliau. Aku merasakan panas di tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini.” Rasul mengatakan, “Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?” Rasul mengatakan, “Orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, adalah sampai salah diuji seorang mereka diuji tidak mendapatkan apapun kecuali mantel yang dikumpulkan. Tapi, bila seorang di antara mereka diberi ujian kesenangan, adalah sebagaimana salah seorang di antara kalian senang karena kemewahan.”

Kita pasti ingin hidup bahagia, jauh dari kesulitan dan kesedihan. Tak ada masalah yang memberikan. Ya, kita semua ingin bahagia. Dan kebahagiaan hidup yang sejati itu, hanya bisa dicapai melalui kedekatan kepada Alloh, melalui amal-amal ibadah dan kesalihan. Hanya itu jalannya.

Coba renungkan, bagaimana kondisi hati, ketika kita melakukan aktivitas ibadah kepada Alloh swt. Renungkan juga, bagaimana suasana kalbu saat kita melakukan ibadah shalat yang dilakukan dengan berjamaah. Gembirakah? Senangkah? Bercahayakah? Jawabannya, iya. Pasti. Dengarlah, bagaimana bunyi doa yang dianjurkan oleh Rasul saw. untuk dibaca kala kita melangkah ke masjid, “Ya Alloh, jadikanlah di dalam hatiku cahaya. Di dalam ucapanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya. Jadikanlah pada penglihatanku cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya dan dari bawahku cahaya. Ya Alloh berikanlah kepadaku cahaya, dan jadikanlah aku cahaya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Cahaya itu yang akan menerangi jiwa. Jiwa yang bercahaya pasti akan merasakan kebahagian dan ketenangan. Itulah inti kehidupan yang sering dilupakan manusia. Mungkin oleh kita juga. Kita banyak yang mencari-cari suplai kebahagian dari sumber yang tidak memiliki kebahagian yang memberi ketenangan. Kita sering menggantungkan kebahagian dari keadaan dan kondisi yang sebenarnya tidak menyusupkan kebahagian yang menentramkan hati.

Ibnul Qayyim mengistilahkan keadaan rasa bahagia dan tenang dalam jiwa dengan istilah rahmah bathiniyah (kasih sayang batin), yang Alloh berikan kepada hamba-Nya yang melakukan ketaatan. Kasih sayang batin itu adalah sentuhan perasaan dalam hati seseorang, yang mendapat musibah berupa ketenangan dan ketentraman. Tidak resah dan tidak khawatir. Perhatikan kata-katanya menggambarkan keadaan seseorang yang mendapat kasih sayang batin itu, “Seorang hamba bisa justru menjadi sangat sibuk merasakan kasih sayang-Nya, saat ia menghadapi penderitaan yang berat. Dia berpikir seperti itu, karena yakin bahwa itu adalah pilihan terbaik yang ditetapkan kepada-Nya.”

Di sinilah hakikat kebahagiaan hidup, yang kita cari.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s