Jangan Lepaskan Kendalinya

Kita coba lihat ke belakang beberapa bulan lalu. Kenangan akan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah. Ketika itu sebagian kita mungkin mampu melakukan shalat malam hampir setiap perguliran hari. Mampu bangun di waktu sahur menyongsong fajar. Ketika di antara kita ternyata, bisa menyempatkan diri shalat berjamaah di masjid, lebih banyak ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Mampu lebih memperhatikan masalah keakhiratan, dan hadir di majlis dzikir. Mampu berinfak dan bersedekah lebih banyak. Mampu lebih banyak berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Mampu memelihara lidah, memelihara nafsu, dan memelihara diri dari dosa.

Bagaimana dengan kita ketika itu? Kita telah berusaha mengisi Ramadhan tersebut dengan amal-amal seperti yang di atas. Tetapi, kita tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari dzikir. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Qur’an, menyebut asma Alloh, atau menghibur hamba-hamba-Nya. Telinga kita, mata kita, lebih banyak digunakan dalam kerangka yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Seluruh anggota badan kita lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Alloh swt. Meski ketika itu kita berada di bulan penuh rahmat dan maghfirah.

Bagaimanapun sekarang bulan penuh rahmat dan ampunan itu telah lewat. Bulan turunnya Al-Qur’an yang penuh barakah dan limpahan pahala itu telah pergi. Meninggalkan kita di sini, memulai hari demi hari, sendiri. Semoga Alloh senantiasa menghimpun diri kita dalam kasih sayang-Nya. Jangan tinggalkan rutinitas yang pernah kita lakukan di bulan Ramadhan. Sebab, perbedaan antara orang shâdiq (benar) dengan orang yang kâdzib (bohong) menurut Imam Athillah As Sakandari dalam kitab Al Hikam adalah, “Apabila engkau ingin mengetahui perbedaan antara shâdiq dan kâdzib maka lihatlah ciri-cirinya. Ciri orang yang shâdiq adalah ia beramal terus menerus karena Alloh dalam berbagai situasi dan kondisi. Sementara orang yang kâdzib beramal satu atau dua hari, lalu jika berduyun-duyun orang datang menyambutnya maka ia teruskan amalnya. Tapi jika tidak, ia pun meninggalkan amalnya.”

Mari syukuri limpahan pertolongan dan bantuan Alloh swt. kepada kita hingga saat ini. Kita berusaha memiliki bekal dan mengendalikan nafsu  makan dan minum selama satu bulan. Tujuannya tentu bukan agar kita siap hidup dalam keadaan lapar, tapi pada kemampuan kita mengatur nafsu makan. Orang yang terbiasa lapar akan bisa mengatur nafsu makan dan minumnya. Sementara ketidakmampuan mengendalilan nafsu makan dan minum, banyak menyebabkan orang melakukan kemaksiatan dan dosa.

Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu istirahat tidur. Tujuannya, bukan agar kita sedikit atau bahkan tidak tidur. Tapi agar kita mampu mengatur tidur sehingga tidak dikalahkan oleh rasa kantuk saat menjalankan kewajiban. “Membiasakan diri untuk tidak tidur bukan tujuan, tapi agar orang bisa menguasai dan mengendalikan tidurnya, sehingga ketika menunaikan kewajiban tidak dilalaikan oleh tidurnya,” demikian ujar Ibnu Athaililah.

Terkadang, ada orang yang jarang tidur tapi ternyata ia tak mampu bangun shalat shubuh di awal waktu. Tidak dapat mampu bangun sebelum fajar untu beristighfar dan tahajud. Begitulah.

Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu syahwat di bulan Ramadhan. Bukan untuk menghilangkan nafsu syahwat, tapi agar dalam diri kita muncul kemampuan mengontrol dan menahan nafsu syahwat. Sebab ketidakmampuan mengontrol dan mengendalikan nafsu syahwat telah banyak menenggelamkan orang dalam kubangan dosa yang sangat mengelisahkan.

Berdoalah dan selalu memperbanyak doa. Kita sangat membutuhkan bantuan dan kekuatan dari Alloh swt. dalam menjalani semua ini. Sejauh mana kadar perasaan kita dalam membutuhkan Alloh, sejauh itulah jenjang kedekatan kita kepada Alloh. Perasaan butuh kepada Alloh bergerak pararel dengan jenjang kedekatan seorang hamba kepada-Nya. Setiap kali rasa fakir dan kebutuhan kepada Alloh semakin kuat, setiap itu pula bertambah perasaan kita terhadap makna lâ haula wa lâ quwwata illâ billah. Tidak ada daya upaya untuk menghindar maksiat terhadap Alloh kecuali dengan pertolongan-Nya. Tidak ada daya untuk tetap taat kepada Alloh, kecuali dengan pertolongan-Nya Tidak ada gerak, tidak ada diam kecuali dengan pertolongan-Nya.

Mari lebih mendekat kepada Alloh dengan memperbanyak berdoa. Doa adalah bentuk praktis dari rasa membutuhkan. Doa adalah suasana jiwa paling puncak dari seseorang yang menyakini bahwa Alloh Maha Kaya dan Maha Pemberi Yang Menguasai. Bukankah ibadah shalat yang kita laksana seluruhnya berisi doa? Hanya Alloh sajalah yang bisa membimbing dan memberi kekuatan batin untuk kita sehingga tetap sabar menunaikan berbagai kewajiban dalam hidup.

“Ya Alloh, para pengemis tengah berhenti di pintu-Mu. Orang-orang fakir tengah berlindung di hadapan-Mu. Perahu orang-orang miskin tengah berlabuh pada tepian lautan kemurahan-Mu dan keluasan-Mu , berharap dapat singgah  di halaman kasih-Mu dan anugerah-Mu. Tuhanku, jika di bulan mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang yang menjalankan puasa dan shalat malamnya dengan penuh keikhlasan, maka siapa lagi yang akan menyayangi pendosa yang kurang beribadah, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan.”

“Ya Alloh jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang taat, maka siapa lagi yang akan mengasihi orang yang durhaka. Sekiranya Engkau hanya akan menerima orang-orang yang banyak amalnya saja, maka siapa lagi yang akan menerima orang yang sedikit amalnya. Ilahi, bantulah orang-orang yang berpuasa. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam. Selamat sejahteralah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang berlumuran dosa. Sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan maaf-Mu. Ampuni dosa-dosa kami dengan kasih-Mu, wahai yang paling Pengasih dari segala yang mengasihi.”

Kendali hawa nafsu yang pernah kita upayakan untuk memilikinya jangan dilepas. Hawa nafsu itu ada kendalinya, jangan biarkan dia lepas dengan liar kembali. Ingatlah selalu perkataan seorang salafusshalih, “Pangkal segala maksiat, kelalaianm dan syahwat adalah ridha terhadap nafsu. Sedangkan sumber ketaatan, kesadaran, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang, adalah tidak adanya keridhaan terhadap nafsu.”[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s