Jangan Coba Langkahi Kodrat

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” QS. Al-An’am: 116

Begitu perlu dan pentingnya manusia merambah jalan hidup di atas jalur yang didesain oleh Alloh. Karena Dia sebagai arsitek tunggal alam semesta pasti tahu benar bagaimana seharusnya setiap komponen alam meniti fungsi dan keberadaannya. Agak tak jauh berbeda dengan seperangkat alat komputer. Yang memberikan aturan cara kerja dan penggunaannya adalah desainernya sendiri.

Manusia terlalu mulia bila dibandingkan dengan komputer. Seorang pakar berpendapat, kepala manusia adalah peralatan tercanggih di antara komputer yang canggih. Sehingga untuk membuat komputer secanggih kepala manusia itu, diperlukan perangkat sebesar bola bumi? Itu sama dengan sebuah ketidakmungkinan.

Sungguh luar biasa? Tentunya sesuatu yang luar biasa harus ditangani oleh Yang Maha Luar Biasa, yaitu Alloh, Pencipta alam semesta. Sudah pasti bahwa bagaimana manusia hidup dan berkehidupan tidak mungkin hanya diatasi oleh sesuatu yang biasa-biasa saja yaitu manusia. Yang ahli di bidang kemanusiaan dan pemanusiaan hanya Alloh sendiri tanpa sekutu saingan.

Oleh sebab itu manusia sepantasnya mengakui kelemahannya dengan jujur. Semestinyalah manusia tidak mudah menyerahkan tata hidupnya kepada kebanyakan manusia. Karena kebanyakan dari mereka hanyalah mengikuti  nafsu dan prasangka belaka. Mereka bukan ahlinya. Jika masalah penting berupa tata hidup diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu saja detik-detik kehancurannya. Demikian kata Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Contoh konkritnya adalah ajaran Marxisme. Berpuluh tahun paham tersebut ditimang-timang oleh pendukungnya, sebagai alternative kapitalisme. Ternyata toh saat ini sudah tidak didengar lagi dengungnya, tumbang berantakan. Ajaran itu ternyata tidak lebih baik dengan pendahulunya.

Namun bukan berarti ajaran kapitalisme, yang masih bisa eksis hingga kini itu baik, apalagi benar. Kedua-duanya sama-sama batil. Tunggulah barang sebentar. Kapitalisme akan segera menyusul ke liang kubur. Persoalannya hanyalah waktu saja. Kenapa begitu? Sebab ajaran kapitalisme tidak menjanjikan kebahagiaan dan kedamaian. Yang bisa dilakukan hanyalah menjanjikan  kesenangan dan hal itu terbukti. Faktor inilah yang membuatnya lebih unggul dari komunisme yang hanya membuahkan kesengsaraan.

Di saat-saat kritis seperti ini dan di saat manusia kebingungan mencari pegangan hidup yang membahagiakan, maka kita tentu tidak ragu menyodorkan Al-Islam sebagai nominator. Hanya yang menjadi kendala adalah bagaimana mempromosikan Al-Islam di tengah khalayak dunia. Bagaimanapun Islam perlu pendukung yang benar-benar menyakininya sebagai jalan kehidupan yang baik dan benar. Pendukung itulah yang dicari dan dihimpun serta dirakit Rasulullah selama masa dakwahnya. Dan hasilnya, Islam berkibar memancarkan damai kebahagiaan ke segala arah.

Tentu saja hal itu tidak datang dengan sendirinya. Perlu keseriusan jihad, kerja nyata tak kenal menyerah. Di sinilah lagi-lagi terasa perlunya mengkaji ulang dan napak tilas perjalanan Rasulullah. Yang jelas dan tak diragukan lagi bahwa Rasulullah ber-Islam berpedoman Al-Qur’an dengan metode sistematika wahyu.

Bagaimanapun setiap muslim tentu bercita-cita mengibarkan Islam di bumi Alloh ini. Mengibarkan Islam berarti mengibarkan kebahagiaan. Dan memang ini yang sedang ditunggu oleh segenap manusia. Islam datang untuk menghadirkan kebahagiaan. Bagi saja, bagi seluruh umat manusia.

Mungkin ada yang bertanya, apakah kebahagiaan baru terwujud setelah Islam nyata-nyata berkibar? Apakah itu bukan berarti penundaan kebahagiaan hingga waktu yang tentu kapan?

Sebenarnya kebahagiaan yang dijanjikan oleh Alloh sudah mulai dirasakan sejak seorang menyatakan ber-Islam dalam arti pasrah diatur menurut dan kehendak Alloh. Sekalipun belum mampu melaksanakan secara menyeluruh karena situasi dan kondisi, namun upayanya sekuat tenaga untuk menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari telah memberikan nilai tersendiri.

Ibarat benih, Islam memerlukan lading subur agar sempurna. Jika ladang subur belum ada, maka benih tetap kita tabur. Apapun hasilnya, itulah kebahagiaan yang kita petik. Sementara itu usaha menata petak lahan subur senantiasa kita lakukan tanpa henti dan tak mengenal lelah. Insya Allah di situ masih menetes kebahagiaan dambaan manusia, dari pada kita tabur benih ajaran nafsu rakitan manusia.

Di antara caranya adalah memperbanyak istighfar atas khilaf baik yang sengaja ataupun tidak, dalam mengemban perjuangan li I’la kalimatillah. Entah itu kekuranghatiaan, kekurangseriusan, kelalaian, kebodohan dan seterusnya. Dengan itu, mudah-mudahan kita tetap bisa menjaga agar Alloh tersenyum pada kita. Senyum Alloh berarti kebahagiaan bagi yang disenyumi. Senyum Alloh menimbulkan getaran bahagia ke segala penjuru jiwa. Cemberut Alloh akan mengakibatkan keresahan dan kegersangan jiwa.

Senyum dan cemberut hanyalah lambang. Senyum Alloh berarti ridha dan cemberut-Nya adalah ghadhab. Istighfar merupakan jalan pintas menuju ridha dan ampunan-Nya. Cara yang cukup cepat agar Alloh sudi dekat setelah kita jauhi dengan dosa-dosa adalah taubat. Salah satu unsurnya dengan memperbanyak istighfar. Betapa bahagianya bila kita bisa menjaga kestabilan hubungan dengan-Nya. Jika Dia selalu tersenyum, jiwa kita pun akan senyum bahagia. Sementara Al-Islam belum berkibar, jiwa kita sudah mengibar bahagia sekalipun sekelumit.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s