Ibumu, Kunci Surgamu

Al-Qamah sedang meregang nyawa. Wajahnya mengernyit menahan nyeri sedang badannya tak kuasa lagi ditegakkan. Lidahnya tiba-tiba menjadi kaku Tak sedikitpun kata-kata dapat terucap, hanya helaan nafas dan sesekali suara mendesis yang keluar dari bibirnya.

Para sahabat keheranan, mengapa Al-Qamah dalam sekarat mautnya tak mampu mengucapkan kalimat tauhid sedikitpun padahal ia termasuk sahabat yang cukup taat beribadah? Beberapa dugaan pada sahabat yang negative tentang tidak sedikitpun Al-Qamah tidak satupun terbukti, kecuali bahwa ia pernah menyakiti hati ibunya. Setelah ditemukan sebabnya, Rasulullah mengirim utusan guna menghadap ibu Al-Qamah di desa untuk mengabarkan keadaan ini.

Di hadapan ibu yang renta itu, Rasulullah saw. Memohon maaf bagi Al-Qamah tetapi ditolak dengan tegas. Ibu itu menceritakan, betapa Al-Qamah telah tega mengusir dirinya dari rumah. Demi memperturutkan kemauan istrinya, ia tega menyakiti hatinya.

Mendengar penuturan ibu ini Rasulullah cukup mengerti, tapi beliu tidak tega melihat Al-Qamah menemui nasib yang demikian tragis, maka beliau membujuk ibunya agar mau memaafkannya. Setelah berbagai bujukkan tidak berhasil menggoyahkan hatinya, maka Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar guna membakar Al-Qamah agar segera mati dan penderitaanya terhenti.

Ketika niat itu hamper terlaksana tergugahlah rasa keibuan ibunya. Berteriaklah si ibu bahwa ia telah memaafkan Al-Qamah. Mendadak wajah Al-Qamah memerah dan meluncurlah ucapan tauhid dari bibirnya, disusul helaan nafasnya yang terakhir kali.

Kisah Al-Qamah yang popular ini memang sudah cukup bisa menggambarkan betapa tingginya kedudukan ibu di dalam Islam. Kisah itu membuktikan pula kebenaran penuturan Rasulullah, “Ridha Alloh terletak di atas ridha orang tua, dan kemurkaan-Nya terletak pada kemurkaan mereka.”

Ibu, di dalam Islam adalah sebuah figur yang mulia. Melambangkan kasih sayang yang begitu indah, menyejukkan jiwa setiap orang dan menggetarkan butir-butir perasaan yang paling dalam.

Tidak ada seorangpun manusia yang tidak sempat mereguk cinta kasih murni seorang ibu. Walau lahir dalam keadaan piatu karena ibunya wafat dalam perjuangan melahirkan, si bayi telah menikmati hangatnya cinta kasih ibu selama 9 bulan di dalam rahim. Bahkan kematian itu adalah satu bukti kasih sayang yang tak ternilai harganya.

Walaupun seorang ibu tega membunuh bayinya lantaran lahir tanpa dikehendaki, jangan dikira bahwa ia tidak pernah menyesali perbuatannya. Tidak ada ibu yang tidak mempunyai cinta kasih terhadap janin yang berlindung hangat dalam rahimnya. Hanya saja ada yang gagal menepis godaan setan sehingga tega membunuh bayinya sendiri hanya untuk menjaga nama baik.

Kelemahan fisik ibu selama kehamilan, digambarkan Alloh dalam firma-Nya yang artinya:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Perjuangan saat melahirkan, bukan main beratnya. Wajar bila mereka yang harus berkorban nyawa saat berjuang memberikan kehidupan baru bagi bayinya, dianggap sebagai mati syahid. Jerih payah sang ibu merawat anak-anaknya, mendidik mereka, menciptakan pribadi-pribadi yang shalih, juga sebuah pekerjaan besar yang melelehkan. Wajar bila cinta kasih ibu yang begitu dalam dan indah mampu mengangkatnya menjadi figur yang sangat patut dihormati. Bahkan ia berhak memegang kunci pintu surga bagi anak-anaknya, seperti dijelaskan Rasulullah, “Surga terletak di bawah telapak kaki ibu.”

Satu penghormatan istimewa.

Meresapi makna kedudukan yang begitu tinggi, semestinya tidak ada wanita yang malu menjadi wanita. Tak ada ibu yang tidak bangga menjadi ibu. Tak perlu ada  yang menuntut persamaan hak dengan kaum pria.

Bukankah penghormatan terhadap ibu setingkat di atas penghormatan kepada ayah? Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, bimbinglah saya kepada siapa saya harus berbuat baik agar saya dapat menikmati seluruh perbuatan baik saya itu?”

Rasulullah menjawab, “Berbuatlah baik kepada ibumu.”

“Sesudah itu, siapa lagi?”

“Ibumu.”

“Dan siapa lagi sesudahnya?”

“Ibumu.”

“Kepada orang lain, siapa lagi?”

“Bapakmu.”

Adakah kedudukan orang lain yang menyamai tingginya kedudukan ibu? Sesungguhnya penghormatan setinggi apapun belum seimbang dengan besarnya jasa seorang ibu terhadap anaknya.

Umar bin Khattab, karena penghormatannya yang sangat besar kepada ibunya sampai-sampai tak mau makan bersama, apalagi mendahuluinya. Alasannya, jangan sampai makanan yang disukai ibunya terlebih dahulu disantapnya, sehingga ibunya tak kebagian, dan merasa kecewa.

Kalau kekecewaan yang sekecil ini telah dijaga oleh Umar bin Khattab, lalu bagaimana dengan kenakalan remaja sekarang? Sungguh ironis dan keterlaluan.

Terakhir, kalau kita membuka-buka Al-Qur’an akan kita dapati seruan Alloh kepada kita untuk berbuat baik kepada ibu bapak, bersyukur keduanya, dan tidak berkata kasar walau sekedar ucapan ‘ah’.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s