Beramal Shalih di Ujung Usia

Memulai perbuatan baik, membiasakan diri beramal shalih, awalnya selalu berat. Sama seperti memutar sebuah roda, yang pasti memerlukan tenaga lebih besar saat putaran pertama. Tapi untuk putaran kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan akhirnya putaran roda itu bisa berjalan,bahkan tanpa memerlukan tenaga untuk memutarnya.

Bagaimana beratnya memulai bangun malam? Bagaimana beratnya memulai puasa sunnah? Atau bagaimana beratnya memulai melakukan sunnah sebelum atau sesudah shalat fardu? Bagaimana beratnya mengangkat kaki untuk melakukan shalat di awal waktu berjamaah di masjid? Bagaimana beratnya memulai membaca ayat-ayat Al-

Qur’an? Tapi yakinlah, semua itu selalu hanya akan terasa berat pada saat kita baru memulainya. Jika sudah dimulai kondisinya bahkan bisa berbalik, justru kita akan sulit meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik tadi. Tidak heran bila Umar bin Khattab ra. pernah mengatakan, “Saat hati seseorang bersih, maka ia tidak akan merasa puas membaca Al-Qur’an.”

Begitulah, jika suatu amal sudah menjadi rutin, maka perasaan tidak puas seperti yang dikatakan Umar bin Khattab tadi, berarti orang itulah yang justru merasakan tidak nyaman jika harus meninggalkan amal-amal ibadah yang biasa dilakukannya. Subhanallah.

Alloh swt. dan Rasulullah saw. Ternyata juga sangat memuji orang yang merutinkan amal-amal shalih. Sesuatu yang paling disesali Rasulullah adalah bila waktunya terbuang sia-sia. Bila ia lupa mengingat Alloh, maka penyesalan dan keperihan hatinya melebihi kegundahan hati orang yang kehilangan harta.

Rasa sesal itu segera dibayar oleh Rasulullah saw. saat ia bisa melakukannya. Seperti dikisahkan Aisyah ra., “Nabi saw. melakukan ibadah malam dengan teratur. Ketika malamnya tertidur atau sakit, siangnya beliau melakukan shalat dua belas rakaat.” (HR. Ahmad dan Muslim). Rasulullah saw. juga yang mengatakan, “Dijadikan kesenanganku pada saat melakukan shalat.” (HR. Ahmad)

Kita selalu mendapat karunia Alloh yang tak dapat terhitung. Mari berpikir, kepada siapa kita akan selalu mengabdi. Berpikirlah saat ini juga, bahwa kita tak dapat mengabdi pada dua majikan sekaligus. Bila kita adalah hamba Alloh swt., maka bersandarlah pada Alloh dan tunduk patuhlah pada-Nya.

Alloh, satu-satunya, tidak ada sekutu selain-Nya. “Jangan menunda-nunda tanpa melakukan persiapan untuk kematian. Umur kita terlalu singkat. Jadikanlah setiap tarikan nafas adalah udara terakhir yang kita hirup. Lalu kematian akan menjemputmu. Kematian seseorang akan terjadi dalam keadaan di mana ia biasa melakukan  sesuatu ketika hidup. Dan ketika dibangkitkan di akhirat maka ia juga akan dibangkitkan dalam situasi itu juga.” (Ibnu Quddamah, Mukhtashar Minhajil Qashidin)

Apa yang menjadi kebiasaan kita selama menjalani hidup? Apa yang selalu kita utamakan melewati jenak-jenak waktu usia kita hingga saat ini? Jika seseorang akan dimatikan oleh Alloh sesuai dengan kebiasaan yang kita lakukan selama hidup, bagaimanakah akhir hidup kita? Jika seseorang akan dibangkitkan Alloh di akhirat sebagaimana kondisi saat meninggal dunia, bagaimana keadaan kita saat dibangkitkan Alloh di akhirat?

Alloh itu Pencemburu. “Sesungguhnya Alloh cemburu dan seorang mukmin juga cemburu. Kecemburuan Alloh adalah jika seorang mukmin melakukan apa yang dilarang-Nya.” (HR. Bukhari Muslim). Cemburu bila hamba-Nya justru mengutamakan yang lain, selain-Nya. Cemburu bila hamba-Nya enggan dan malas melakukan sekedar bangun malam dan shalat di sepertiga malam. Cemburu bila melihat hamba-Nya justru lebih sering mengingat yang lain, selain-Nya. Cemburu bila mendapati hamba-Nya melakukan kemaksiatan di tengah limpahan nikmat dan karunia-Nya. Cemburu bila mendapati hamba-Nya melanggar perintah-Nya. Hamba yang mencintai Alloh juga akan cemburu sesuai kadar cinta yang ada pada dirinya. Jika rasa cemburu tidak tersisa dalam hati, berarti cinta telah pergi, sekalipun lisan seseorang mengaku cinta hingga mulutnya berbusa.

Adalah dusta, bila ada yang mengaku cinta pada seseorang tapi ia tidak cemburu saat kekasihnya disakiti orang lain atau malah ia yang menyakitinya. Bagaimanapun mungkin seorang hamba mengaku cinta pada Alloh sedang ia tidak cemburu dengan melanggar apa yang diharamkan Alloh?

“Barangsiapa yang menginginkan pertemuan dengan Alloh maka Allohpun menginginkan pertemuan dengannya. Barangsiapa yang enggan bertemu dengan Alloh maka Alloh tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Ahmad)

Tak ada seorangpun yang tahu kapan ia mati. Setiap kita harus berdoa agar ia bisa meraih husnul khatimah. Kebiasaan beribadah dan beramal shalih, akan sangat menolong kita untuk bisa merasakan akhir hidup yang baik. Simaklah nasihat Rasulullah saw., “Barangsiapa yang berangkat peraduan dengan niat shalat malam, namun ia dikalahkan oleh kantuk kedua matanya hingga subuh, maka Alloh akan mencatatkan pahala atas niatnya dan tidurnya dinilai sebagai sedekah.” (HR. Nasa’i)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s