Hiasan Dunia, Ujian Bagi Manusia

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” QS. Yusuf: 23.

Nabi Yusuf as. adalah salah satu hamba Alloh yang dianugerahi kecerdasan iman. Peristiwa yang menimpa dirinya bisa melemparkannya ke lembah nista. Ia akan menjadi makhluk berkualitas sampah. Untung dan bahagia dia mampu mengambil sikap dan keputusan yang jitu. Padahal ranjau telah siap meledak. Inilah salah satu gambaran kesuksesan seorang manusia yang mampu mempertahankan syahadatnya.

Syahadat pengakuan bahwa satu-satunya Rabbinnas (Tuhan manusia) hanyalah Alloh, pernah diikarkan mantap oleh seluruh calon penghuni bumi. Tempat ikrar itu di ‘Arasy. Mereka tak ragu bersaksi (bersyahadat): ‘Bala syahidna.’ QS. Al ‘Araaf: 172.

Ruh Nabi Yusuf as. tidak membutuhkan sandang, pangan, papan, dan termasuk tak tertarik wanita semacam Zulaikha. Di samping alam ruh itu tidak ada apa-apa, manusiapun belum punya jasad. Maka dapat dimengerti manakala setiap ruh menyatakan kesaksian dengan nada mantap tanpa ragu. Semakin bisa dipahami, ternyata satu-satunya yang menarik perhatian manusia saat itu hanyalah Alloh, tanpa saingan dan tandingan.

Di muka bumi kini keadaannya jauh berlainan dengan di alam arwah. Jika dulu Alloh tanpa saingan, kini pelbagi saingan mengepung manusia. Saingan itu sengaja Alloh ciptakan sendiri sebagai sarana uji kualitas syahadat yang pernah mereka ucapkan.

Wanita dan harta kekayaan jadi menarik, sekaligus menjadi kebutuhan hidup, Pada saat Yusuf digoda rayu oleh ibu asuhnya sendiri, diapun sesungguhnya tertarik kepada wanita ayu itu.

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya[750]. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Al ‘Araaf: 24).

Sebagai manusia normal, kita maklum manakala Nabi Yusuf as. tertarik kepada tawaran Zulaikha untuk melayani nafsu birahinya yang selama menjadi permainsuri Qithfir tak terpenuhi sama sekali. Di saat yang sama Nabi Yusuf as. pun masih tertarik untuk memperhatikan Alloh, dan bertekad mempertahankan syahadat yang pernah diikarkan baik di dunia maupun di alam arwah dulu. Memang terlalu berat. Tapi harus bagaimana lagi, kenyataan hidup demikian adanya.

Zulaikha, adalah lambang seorang wanita yang memiliki daya pesona tinggi. Sewaktu-waktu bisa merontokkan iman seorang lelaki. Demikian pula sebaiknya seorang Nabi Yusuf as. pun bisa menggusur iman di kalangan wanita. Dan pralambang itupun kini terulang kembali, dalam bentuknya yang lebih canggih.

Oleh kelompok tertentu, wanita sewaktu-waktu bisa diperalat untuk menggencarkan promosi. Wanita dieksploitasi dengan amat halus demi menyedot minat beli barang dagangan. Wanitapun terkadang dengan rela dan tulus melakukannya, sekalipun harus mejeng mempertontonkan aurat gawat.

Memang, wanita itu serba menarik kalau ditinjau dari pelbagi sudut. Dari kaki sampai ke rambut senantiasa menarik perhatian. Maka tepat benar jika Al-Qur’an meletakkan wanita di ranking pertama dalam deretan sesuatu yang menyenangkan. (QS. Ali Imran: 14).

Rasulullah pun pernah menasihati kaum lelaki bahwa fitnah (bahaya) yang paling berat bagi lelaki mukmin berat bagi lelaki mukmin sepeninggal Nabi adalah wanita. Ini bukan selalu berarti bahwa wanita adalah sumber malapetaka bagi kaum lelaki. Toh Qur’an bukan hanya menampilkan figur Zulaikha seorang. Masih banyak wanita yang berakhlak mulia seperti Maryam, Asyiyah, dan lain-lain ikut tampil di panggung sejarah Al-Qur’an. Mereka inilah yang kata Rasulullah menjadi perhiasan yang membuat indah alam dunia. Mereka bukan manusia yang memporak-porandakan syahafat laki-laki, tetapi malah membangun  dan mengembangkan syahadat generasi penerus, baik laki-laki maupun perempuan. Maryam mendidik putranya yang bernama ‘Isa Al Masih, Asyiyah mengantarkan anak asuhnya menjadi manusia besar, yang bernama Musa as.

21 April bagi wanita Indonesia adalah hari bersejarah, lahirnya emansipator wanita R.A. Kartini. yang kira-kira tebersit di hati para wanita di saat mengenang detik-detik peringatan hari Kartini, figur Kartini adalah tokoh nasional, sehingga bisa dilihat dari aneka aspek pandang. Sebagai muslimah beliau pandai membaca kitab suci Al-Qur’an. Secara umum beliau ingin menyadarkan wanita Indonesia agar mengetahui kewajiban dan haknya sebagai wanita.

Tentu Kartini akan bersedih hati bila melihat kaumnya lebih mementingkan karir tinimbang mendidik anak. Bila Kartini tahu bahwa banyak wanita yang bangga berlimpah harta daripada mempunyai anak shaleh, sekalipun bersemayam di kubur, beliau akan menangis. “Begitukah kaumku, memandangku dengan segala sepak terjangku dari kaca mata wanita Barat yang gencar menggebu bersaingan dengan kaum lelaki di segala aspek kehidupan?”

Berbondong-bondongnya wanita ke segala sudut kehidupan negeri ini membuat laki-laki harus sering bertatap muka dengan mereka. Satu tantangan berat bagi Mujahid. Utamanya dalam mempertahankan syahadat dan merealisasikan syahadat itu sendiri dalam kehidupan yang nyata.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s