Dosa itu Sayatan Luka

Siklus hidup kita ternyata memang tak menentu. Kondisi keimanan dan amal shalih kita yang tidak stabil, naik turun, tertambah dan berkurang. Ada banyak kezaliman yang kita lakukan, beriring kebaikan. Sebaliknya ada banyak kebaikan kita yang juga kita selingi dengan kezaliman. Kita semua sedang menjalani sebuah proses hidup, yang belum tentu arah akhirnya. Kita sendiri yang akan menjalaninya. Dan kita sendiri yang mengatur arahnya.

Simaklah perkataan Ibnu Athillah As Sakandari dalam Al Hikam Al Athaiyah. Katanya, “Mungkin saja Alloh membukakan untukmu pintu ketaatan tapi Alloh tidak membukakan untukmu pintu penerimaannya. Mungkin saja Alloh menetapkan atasmu suatu kesalahan yang justru menjadi sebab engkau sampai pada keinginanmu. (Yaitu) Kemaksiatan yang memberi bekas rasa hina dan hancur di hadapan-Nya karena kemaksiatan, lebih baik dari pada ketaatan yang meninggalkan rasa sombong dan bangga.”

Lihatlah kisah orang yang peminum minuman keras dan mabuk, tapi ia lalu merengek-rengek meminta pada Rasulullah untuk diterapkan hukum hudud atasnya. Lihatlah saudaraku, bagaimana kekuatan iman dan keyakinan orang tersebut, bagaimana kecintaannya pada Alloh dan Rasulullah dan bagaimana rasa kehinaan hatinya di hadapan Alloh, sampai-sampai Rasulullah melarang para sahabatnya untuk melaknati orang tersebut. Begitu Maha luasnya rahmat Alloh swt. Begitu Maha Agung dan kasih sayang Alloh swt. Memang ada banyak lubang ketergelinciran yang kita hadapi di sini. Ada banyak sekali jerat yang bisa menjatuhkan kita di sini. Tapi begitu luas dan agungnya kasih sayang Alloh swt.

Kita telah diselamatkan, menjadi hamba-Nya. Syukurilah, hingga kini syetan masih tidak berhasil menguasai dan merasuki kita untuk tidak menjadi hamba-hamba Alloh. Syukurilah, sampai detik ini kita masih merasakan nikmat kembali kepada Alloh. Sampai saat ini kita masih memendam kerinduan beribadah dan bermunajat kepada-Nya.

Tapi jangan lalai, karena keadaan ini bukan berarti syetan telah menyerah. Keadaan ini bukan berarti syetan gagal dan tidak berupaya menundukkan lalu membuat kita menyembah pada keinginan-keinginannya. Syetan, bahkan kita bisa saja sengaja membiarkan satu keadaan yang baik untuk kita, tapi itu semu belaka karena di sisi lain ia tengah merasuki kita lagi dari lubang yang lain. Ibnul Qayyim menyebutkan dua keadaan yang bisa mencabut kenikmatan hidup di dunia dan akhirat dari diri seseorang. Dua kondisi itu adalah ghoflah (kelalaian) dan kasal (kemalasan). Ghoflah sebagai lawan dari ilmu, kasal lawan dari iradah atau semangat. “Lalai dan malas adalah dua faktor utama yang menyebabkan seorang hamba terhalang dari kebahagiaan di dunia dan akhirat serta memudahkan syetan menyerangnya.” (Miftah Darus Saadah, I/112)

Kita harus sadar bahwa masih banyak kemungkinan kita jatuh dalam dosa. Kekhawatiran seperti inilah yang menjadikan Hasan Al Bashri menduga dirinya termasuk dalam kelompok orang-orang yang paling terakhir keluar dari neraka. Suatu ketika, ia pernah mengatakan, “Di akhirat nanti, ada seseorang yang keluar dari neraka setelah seribu tahun. Duhai seandainya aku menjadi orang itu.” Imam Hasan Al Bashri mengatakan hal itu di antara ketinggian prestasi ibadahnya yang diakui oleh banyak orang-orang shalih di zamannya.

Seorang salafushalih di zamannya menyifatkan Hasan Al Bashri, “Jika engkau melihatnya sedang duduk, ia seperti binatang yang datang siap dipotong lehernya. Jika bicara ia seperti telah melihat akhirat dan memberitakan persaksiannya tentang akhirat. Jika diam sepertinya neraka ada di depan matanya.” Tapi bagi Imam Hasan Al Bashri, menjadi orang yang terakhir keluar dari neraka bagaimanapun karunia yang sangat disyukuri karena itu pertanda ia tidak abadi di neraka.

Gemuruh ketakutan dan kesedihan seperti itu juga dirasakan oleh banyak salafushalih. Antara lain Abu Hafsh yang mengatakan, “Sejak 40 tahun ada kenyakinan dalam diriku bahwa Alloh memandangku dengan pandangan marah karena perilakuku.”

Orang-orang shalih adalah cermin dan lentera bagi kita dalam menjalani hidup ini. Ketinggian derajat mereka, telah membentuk kerendahan hati yang sangat mengagumkan. Kekuatan ruhani mereka melahirkan perasaan “kurang” yang begitu mulia meski mereka bergelimang prestasi amal shalih. Kemuliaan mereka di mata Alloh menjadikan mereka merasa tak layak memperoleh pahala dari-Nya. Mereka mempunyai semangat yang sangat kuat untuk menyerupai orang-orang shalih yang mendahului mereka.

Abu Muslim Al Khaulani, salah seorang ahli ibadah dari zaman generasi Tabiin mempunyai ambisi besar untuk mendapat kemuliaan sebagaimana para sahabat Rasulullah saw. Ia pernah mengatakan, “Apakah para sahabat Nabi Muhammad saw. Mengira bahwa mereka mendapat keutamaan dari Rasulullah, sementara kami tidak? Demi Alloh, aku akan berusaha berdesakan dengan mereka agar mereka tahu bahwa sepeninggal mereka, ada generasi yang tangguh seperti mereka.”

Ada pula kisah dari Ibrahim bin Adham yang bercerita, “Aku pernah mendatangi beberapa orang ahli ibadah yang tengah sakit dan menangis. Salah satu mereka menangis sambil memandang dua kakinya. Aku bertanya padanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku belum mengotori kakiku dalam berjuang di jalan Alloh.” Ada juga seorang ahli ibadah yang lain yang menangis, dan aku bertanya hal yang sama padanya. Ia mengatakan, “Aku menangisi hari-hari yang aku tidak puasa di hari itu, dan pada malam-malam yang aku tidak shalat di saat itu.”

Jangan pernah berpikir ada perbuatan dosa yang remeh, selama hal itu dapat membuka pintu untuk syetan. Karena ketika syetan diberi pijakan, ia akan segera menggunakan kesempatan untuk menghancurkan. Inilah yang dimaksud dalam sebuah pepatah, jangan sesekali memberi kesempatan seekor unta untuk memasukkan kepalanya ke dalam kemah, karena setelah itu ia akan memasukkan seluruh anggota badannya dan akhirnya Anda akan diusirnya keluar dari kemah.

Ya Alloh, jangan masukkan kami dalam golongan orang yang disinggung oleh Ibnul Qayyim rahimullah, “Dosa itu ibarat sayatan luka. Berapa banyak sayatan luka yang tak terasa lagi oleh orang yang sudah mati.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s