Amal-amal Batin

Seri Kepompong Ramadhan #1

Terkadang kebosanan dan kejenuhan menyergap kita dalam berusaha memelihara amal-amal yang kita lakukan sehari-hari. Terasa berat dan tidak bersemangat lagi untuk meneruskan amal shalih yang telah terukir dalam hidup. Padahal amal shalih itu seharusnya menambah kuat energi pelakunya untuk terus melakukan lebih banyak lagi keshalihan. Semestinya amal-amal ketaatan itu sejatinya membuat hidup kita lebih indah dan kita lebih bersemangat.

Hasan Al Basri rahimahullah memberi nasihat tentang kenapa amal-amal shalih dan ketaatan itu suatu saat bisa tidak memberi pengaruh dan menambah semangat pelakunya. “Carilah kemanisan hidup ini dalam tiga perkara, dalam shalat, dalam dzikir dan dalam membaca Al-Qur’an” demikian beliau berucap. “Jika kalian tidak dapat mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa pintunya dalam keadaan tertutup,” lanjut beliau.

Imam Hasan Al Basri mengatakan hal itu, tentu karena beliau sudah mengecap kenikmatan hidup yang diperoleh dari tiga perkara itu. Beliau tentu sudah mengalami bagaimana hidup menjadi indah dan penuh semangat dengan tiga amal itu. Dan beliau juga mengerti, ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan amal-amal yang seharusnya memberi kenikmatan, menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Itulah kondisi ‘pintu tertutup’ yang beliau maksud.

Pintu tertutup itu adalah pintu hati yang ditutup oleh pemiliknya sendiri. Al Basri mengibaratkan dzikir kepada Alloh adalah pintu lebar dan besar, yang selalu terbuka dan menghubungkan antara Alloh dan hamba-Nya. Pintu itu akan terbuka selama tidak ditutup sendiri oleh hamba-Nya dengan kelalaiannya.

Mungkin, suasana seperti inilah yang terjadi pada diri kita. Yang merasa sulit mendapatkan ‘tenaga’ dari amal-amal shalih yang kita lakukan. Yang merasa susah mendapatkan ruh yang hidup tatkala melakukan amal shalih. Yang justru merasa berat menumbuhkan rasa ‘dekat’ dengan Alloh melalui amal-amal ibadah.

Banyak keadaan yang menyebabkan hal demikian, antara lain kita lalai, tidak melihat unsur batin dalam mengerjakan amal-amal ketaatan. Kita melakukan ibadah pada kulitnya saja, tidak sampai menghayati isinya. Kita melakukannya hanya sebatas gerakan-gerakan saja, tanpa menghadirkan hati, perasaan, dan pikiran kita di sana. Lalu, amal-amal ibadah kita menjadi kering.

Imam Al Ghazali banyak menguraikan makna-makna batin yang seharusnya ada dalam hati kita, saat melakukan amal ibadah. Beliau mengatakan hendaknya setiap amal ibadah dilakukan dengan suasana hudhurul qalb (kehadiran hati). Atau dengan kata lain, berusaha menyertai amal-amal shalih secara lahir, dengan amal-amal batin.

Saat melakuan ruku dan sujud dalam shalat misalnya, Al Ghazali mengatakan, “Rasakanlah kerendahan saat engkau ruku dalam shalat. Karena engkau meletakkan jiwamu pada asalnya, yakni tanah. Mengembalikan cabang ke pokoknya, dengan cara bersujud ke tanah yang darinya engkau diciptakan.”

Resapilah nasihat ini saat kita ruku dan sujud. Kita pasti akan benar-benar merasakan diri sebagai mahluk yang sangat rendah dan hina di hadapan Alloh. Kondisi seperti inilah yang menghasilkan kekhusyuan dalam shalat dan kekhusyuan itulah yang mempengaruhi amal-amal lahir kita di dalam maupun di luar shalat.

Seperti itulah pola berpikir dan beramal para salafushalih. Mereka tidak terkungkung pada bentuk-bentuk lahir sebuah amal maupun perintah. Mereka tidak hanya memandang suatu amal atau perintah Alloh, sebagian amalan fisik yang harus dikerjakan saja. Tapi mereka berusaha mengaitkan itu semua dengan keadaan lain melalui sentuhan tafakur dan hati yang hidup.

Perhatikanlah bagaimana keterangan Ibnu Taimiyah tentang hadits Rasulullah, bahwa para malaikat tidak masuk suatu rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar. Beliau mengatakan, “Jika para malaikat yang termasuk jenis makhluk merasa terhalang untuk masuk rumah yang ada anjing dan gambarnya, maka bagaimana mungkin hati yang berisi pikiran buruk bisa diisi oleh makrifat tentang Alloh, cinta kepada-Nya dan kejinakan berdekatan dengan-Nya?”

Pola perenungan yang dilakukan muridnya, Ibnul Qayyim rahimahullah juga tidak berbeda. Dalam kitab Madarijus Salikin, beliau mengatakan, “Bila kesucian pakaian atau badan merupakan syarat sahnya shalat dan persiapan sebelum shalat, yang tanpanya shalat seseorang dianggap batal dan rusak. Lalu bagaimana jika hati seseorang yang kotor dan pelakunya tidak mensucikannya? Bagaimana mungkin hati itu siap untuk shalat? Bukankah kesucian zahir hanya bisa disempurnakan dengan kesucian batin?”

Sebagaimana juga uraian Al Ghazali, “Jika seseorang menutup auratnya secara lahir dari pandangan orang lain, hendaklah ia juga menyadari ada banyak aib-aib batinnya yang disembuyikan dari orang lain yang tidak diketahui kecuali Alloh semata. “Hal ini seharusnya membuat dia merasa menyesal, malu dan takut kepada Alloh…”

Makna-makna batin seperti ini yang menjadikan para salafushalih begitu bertenaga dan menikmati amal-amal ibadah yang mereka lakukan. Hingga menjadikan Abdullah bin Zubair ra. jika mendirikan shalat laksana ‘pohon’ karena kekhusyuannya. Maimun bin Yassar ra. yang tidak terpengaruh dengan runtuhnya sebagian dinding masjid saat ia shalat. Ali bin Al Hasan ra. Yang wajahnya berubah menjadi kekuning-kuningan saat mengambil wudhu. Saat ada seseorang bertanya, “Mengapa hal ini menjadi kebiasaan yang terjadi pada dirimu saat engkau wudhu?” Ia menjawab, “Tahukan kalian, di hadapan siapakah aku akan mendirikan shalat?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menasehati kita, “Malulah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benarnya…” (HR. Tirmidzi). Malu, karena banyak mengenal petunjuk Alloh, tapi banyak petunjuk-Nya yang tidak kita gunakan. Malu, karena kita berulangkali lalai dari Alloh, berulangkali mendahulukan nafsu daripada petunjuk, berulangkali mengutamakan dunia daripada akhirat, berulangkali mementingkan makhluk daripada Al Khaliq.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s