Semoga Bukan Kebersamaan yang Terakhir

Seri Kepompong Ramadhan #2

Tak terasa dua hari telah berlalu dalam menghirup udara di bulan Ramadhan. Kita telah merasakan kembali hari-hari bahagia penuh penghambaan,kebersamaan, kedekatan, ketundukan, kekhusyuan pada Alloh yang Maha Rahman, Yang Maha Rahim.

Dalam suasana seperti itu, terasa sekali kesenjangan batin, yang tercipta, yang kita lakukan sendiri. Setelah 11 bulan kita berpisah dengan Ramadhan, terlalu banyak amal ibadah  yang kita tinggalkan, selama 11 bulan lamanya kita telah menyia-nyiakan waktu. Banyak kebaikan yang telah tersemai dalam Ramadhan setahun lalu. Makin lama makin kering dan kini nyaris mati. Kita tenggelam dalam arus kesibukan dan belenggu keinginan yang tak akan pernah selesai dan tak ada ujungnya.

Syukurilah bila kita masih kembali bisa bersama-sama mencapai indahnya hari-hari di bulan suci. Merasakan kembali kedamaian dan kesejukan hati yang sulit dilukiskan di malam-malam Ramadhan. Keindahan makan sahur bersama, nikmatnya menahan makan minum di siang hari bersama, dan kelezatan buka bersama. Subhanallah…Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kebahagiaan kata Rasulullah. Yakni saat berbuka dan saat bertemu Rabbnya. Inilah saat kita menebus semua kelalaian dan kekurangan.

Mari bersimpuh, tunduk, khusyu’ dan menangis ke hadirat-Nya.

Perbanyaklah mohon ampun kepada-Nya. Inilah saat Alloh Yang Maha Pengampun membuka pintu taubat dan maghfirah. Saat Alloh Yang Maha Rahmah mencurahkan kasih sayang-Nya yang tak terbilang. Saat Alloh subhana wata’ala Yang Maha Pemurah menebar pahala amal shalih tanpa batas. Inilah saatnya kita mendekatkan diri pada Alloh dan memperbanyak permohonan ampun atas khilaf. Alloh sungguh-sungguh Maha Penerima taubat.

Perhatikanlah untaian hadits Rasulullah dalam Shahihain yang menjelaskan betapa keMaha Pengampun-Nya Alloh subhana wata’ala, “Sesungguhnya seorang hamba berbuat dosa, lalu ia berkata, “Wahai Tuhanku, saya berbuat dosa maka ampunilah saya,” Alloh berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya, maka Aku ampuni hamba-Ku.” Kemudian ia tinggal dalam masa yang dikehendaki Alloh, dan dia berbuat dosa yang lain, kemudian mengatakan sebagaimana dikatakan yang pertama kali untuk kedua kalinya. Dalam riwayat Muslim, orang itu berkata pada kali yang ketiga dengan perkataan yang sama, dan Alloh berfirman, “Aku telah mengampuni hambu-Ku, maka lakukanlah apa yang ia kehendaki.”

Siapa saja yang melazimkan istighfar secara jujur dan tidak berniat melakukan dosa, maka dosanya akan diampuni oleh Alloh subhana wata’ala. Meskipun pada kesempatan lain orang tersebut melakukan dosa kembali. Kitab Al Wafi yang menguraikan hadits keterangan hadits ini, menyebutkan bahwa istighfar disertai dengan tidak terus menerus melakukan dosa adalah istighfar yang sempurna dan pasti mendapat ampunan. Berbeda dengan istighfar yang kurang diiringi dengan tekad untuk tidak melakukan dosa, yang kedudukannya sama dengan doa. Terserah Alloh, apakah ia akan mengampuni atau menolaknya. Bila dilakukan bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa seperti waktu suhur, setelah adzan, setelah shalat fardhu dan sebagainya, bisa saja doa itu diterima jika Alloh berkehendak. Karenanya, Hasan Al Bashri berkata, “Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kamu, di tempat-tempat makan, di jalan-jalan, di pasar, di majlis-majlis kalian serta di mana saja kalian berada, karena sesungguhnya kalian tidak mengetahui kapan turun ampunan Alloh.”

Kita bukan sedang berbicara betapa murahnya ampunan Alloh agar kita bisa leluasa melakukan dosa. Sikap meringankan istighfar dan dosa, pernah diingatkan oleh sahabat Rasulullah sholallahu ‘alahi wassalam, Hudzaifah ra. “Orang yang berkata, Saya mohon ampun pada Alloh,” kemudian dia mengulangi perbuatannya lagi, sama dengan orang yang takut dihukum berat tapi ia mengerjakan perbuatan yang dapat menjadikannya dihukum. Sama dengan orang yang ingin panen tapi tidak mau menanam. Sama dengan orang yang mengharap anak tapi tidak mau menikah.”

Kita sedang membicarakan istighfar sebagai pintu ampunan Alloh yang harus kita ketuk, kapan pun, terlebih di bulan curahan rahmat seperti bulan Ramadhan.

Tak ada kebutaan yang buruk kecuali orang yang tidak mampu atau tidak mau melihat kekurangan diri. Itulah kebutaan yang sebenarnya. Orang yang buta dengan kealpaan diri, adalah orang yang menyembunyikan aibnya dari matanya sendiri. Orang yang mengubur kesalahan dan dosa-dosanya dari hatinya. Mereka hidup dalam anggapan diri sempurna, baik, dan tidak terlalu banyak dosa sehingga ia terus menerus melakukan kesalahan, kezaliman, kekesatan hati, terus menerus rugi, terus menerus membuang kesempatan hidup yang sudah sangat terbatas.

Astghfirullah, semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang disinggung dalam firman Alloh subhana wata’ala, “Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Berada dalam kubangan kesalahan tapi merasa tak punya salah. Hidup dalam gelap tapi merasa ada di dalam terang. Bahkan, melihat orang lain penuh kesalahan dan berada dalam kegelapan. Itulah kebutaan sesungguhnya. Alloh subhana wata’ala berfirman, “Jika dikatakan pada mereka jangan masuk di bumi, mereka mengatakan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Al Baqarah: 11)

Kuatkanlah tekad kita untuk menghapus, menebus dosa dalam bulan penuh barakah yang akan kita songsong ini. Mengimbangi kekeliruan dan kesalahan kita yang terlalu banyak. Mengisi sisa waktu hidup di bulan suci dengan melakukan amal-amal shalih. Sebanyak-banyaknya.

Siapa yang tahu, jika udara bulan Ramadhan tahun ini merupakan udara yang terakhir kita hirup? Dan kita tak pernah merasakan indah dan nikmatnya pahala Ramadhan lagi? Semoga saja, ini bukan kebersamaan kita dalam bulan Ramadhan yang terakhir. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s