Ujian Iman

Seri Kepompong Ramadhan #3

Pada suatu hari seorang ayah menyembelih kambing untuk aqiqoh anak bungsunya, disaksikan sendiri oleh istri dan anak-anaknya. Sehari kemudian, setelah selesai hajatannya, ayah tersebut berangkat ke Baghdad untuk berniaga.

Keluarga itu termasuk yang paling rukun dan serasi di antara keluarga-keluarga lainnya. Anak-anaknya patuh dan taat kepada orang tua. Yang sulung, seorang gadis, baru berusia dua belas tahun. Adiknya laki-laki, saat itu menjelang enam tahun. Nomornya tiganya juga laki-laki, sedang memasuki usia tiga tahun. Sedangkan yang bungsu masih menyusu kepada ibunya.

Sungguh bahagia kehidupan keluarga itu, seolah kegembiraan tak kan pergi dari rumah mereka. Namun, alangkah malangnya nasib keluarga tersebut. Ibu setengah tua itu berjalan tergogoh-gopoh menuju rumah Imam Hasan Al-Basri seraya air matanya mengucur deras. Dengan tersedu-sedu ia minta izin untuk menghadap, disambut sang Imam dengan penuh iba dan tanda tanya.

“Mengapa? Adakah sebarang musibah menimpa diri ibu?” tanya sang Imam.

Sambil menghapus air matanya ibu itu lalu bercerita. “Saya tadi siang pergi ke pasar. Yang saya ajak hanya anak yang masih menyusui. Ketika saya pulang, saya dapati anak laki-laki saya yang berumur tiga telah berkubang darah, lehernya digorong oleh abangnya sendiri. Agaknya, setelah melihat anaknya menyembelih aqiqoh, anak itu menirukan semua apa yang dilakukan ayahnya. Dan ia mempratekkan terhadap adiknya sendiri. Terlihat dari darah yang berceceran sampai ke kamarnya. Anak itu bersembunyi, barangkali takut kepada saya. Ia mengendap-endap di halaman rumah. Saya melihatnya. Lalu saya panggil dia supaya pulang. Anak itu bukannya buru-buru datang, malahan dia kabur ketakutan karena mengira saya akan menghukumnya. Saya kejar dia agar jangan lari. Ia makin ketakutan, dan larinya kian kencang. Entalah, di mana dia sekarang, saya belum berhasil menemukannya.

Imam Hasan Al-Basri ikut berduka, terbawa oleh kemalangan yang menimpa wanita itu.

“Cukup lama saya mencari anak itu, sementara anak yang masih menyusui saya tinggalkan di rumah, saya titipkan kepada anak sulung saya yang sudah menjadi gadis berumur dua belas tahun. Namun, apa yang saya temukan setelah saya pulang?” ujar wanita itu makin murung. “Rupanya, kakaknya asyik bermain sendiri dan adiknya dibiarkan merangkak ke sana-kemari sampai akhirnya masuk ke dapur. Ketika saya cari-cari anak susuan saya itu sudah hangus terbakar. Dan kakaknya yang merasa bersalah, menghilang dari rumah, sampai saat ini tak ketahuan rimbanya.

Imam Hasan Al-Basri tidak mampu berbicara sepatah katapun. Ia bisa merasakan, alangkah hancurnya hati wanita itu. Dari sebuah keluarga bahagia, mendadak berubah menjadi seorang ibu yang kehilangan semua anaknya. Belum lagi nanti, kalau suaminya pulang, dan mendapati musibah yang mengerikan itu, bagaimana pula nasib sang ibu? Bukankah suaminya akan marah dan boleh saja menimpakan kesalahan itu kepadanya? Tidakkah ia akan lebih terlunta-lunta dan sengsara?

“Dosa apa yang telah saya lakukan, wahai Tuan Imam, sampai saya menerima cobaan seberat ini?” tanya wanita itu tersedu-sedu, seolah mengiringi deru angin dari berbagai penjuru. Tampaknya segenap penghuni bumi yang mengalami nasib serupa ikut mengadu dan menuntut. “Kutuk apa yang menimpa kami, sampai bencana beruntun menimpa kami? Bukankah kami menyembahMu, ya Alloh, menaati perintahMu, dan menjauhi laranganMu?”

Imam Hasan Al-Basri hampir tidak mampu membuka suara. Akan tetapi, kemudia ia menguatkan dirinya dan berkata, “Saya hanya bisa mengutip firman Alloh. Dengarkanlah janjiNya. “Pasti akan kamu uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, pangan dan jiwa. Maka berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang bila tertimpa musibah, dengan tabah berkata: Kami berasal dari Alloh dan bakal kembali kepada Alloh”

Wanita bernasib buruk itu menunduk. Dengan suara lebih lantang ia menyanggah, “Lalu, mengapa musibah itu harus menimpa saya? Tidak cukupkah ibadah saya selama ini kepadaNya? Tengoklah, Tuan Imam mereka yang menentang Alloh bahkan hidup bersenang-senang.”

Sang Imam yang arif itu menatap wanita di depannya dan menjawab, “Bolehlah pertanyaan ibu saya jawan dengan ucapan Nabi shallallhu ‘alahi wasalam yang dalam hadits beliau bersabda, “Sesungguhnya sebesar-besar ganjaran itu disediakan di dalam ujian yang lebih besar. Dan sesungguhnya, bila Alloh mencintai hambaNya, diujiNya hamba itu dengan berbagai musibah.”

Barangkali logika ini tidak tercerna oleh mereka yang tidak mengenal apa dan siapa manusia serta apa dan siapa Sang Pencipta, bahwa Alloh berhak mutlak berbuat sekehendakNya, dan manusia mempunyai wewenang untuk berusaha. Namun, Alloh senantiasa setia kepada hukum alam yang telah ditetapkanNya sebagai sunnatullah, yaitu tentang sebab dan akibat. Artinya, betapapun manusia telah menghamba kepada Alloh sepenuhnya, ia tidak seharusnya lalai akan perubahan nasib yang bisa terjadi akibat keteledoran dan kesembronoannya sendiri, sebagaimana ia harus tahu bahwa tidak mungkin mencapai peruntungan dan kedudukan yang lebih baik tanpa ikhtiar dan daya upaya. Adapun kalau sudah berusaha, ternyata masih juga tertimpa kemalangan, di situlah letaknya martabat keimanan seseorang. Siapa yang tabah dan pasrah, dialah yang berhak menempati derajat mulia di sisi Alloh.

Mendengar penjelasan Sang Imam, wanita itu makin surut kesedihannya. Dengan kepala runduk namun hatinya berbunga, ia pun melangkah lebih tegar untuk menghadapi suasana yang boleh jadi akan sangat tegang dengan suaminya, ayah kandung anak-anak itu. Tetapi, ia yakin, Alloh bukan sedang murka kepadanya, melainkan tengah mengujinya. Jika ia lulus, pasti rahmat yang bakal dipetiknya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s